
' Apakah aku menyukainya? Zhu Zhishu? '
Fengyue bergumam dalam batinnya sendiri, satu pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab itu membuatnya berpikir berkali-kali.
" Nie Fengyue? "
Panggilan Qinsong menyadarkan Fengyue dari lamunannya, gerak-gerik Fengyue yang terlihat begitu jelas dan mampu mengaduk ketenangan yang ada dalam diri Sang Raja Xiali.
Meskipun demikian, dia tetap tidak bisa menunjukkan dirinya di depan Fengyue.
Tanpa berlama-lama lagi, Qinsong mengajak Fengyue untuk segera kembali ke kediaman Song.
Sementara itu, Xuemei masih dalam perjalanan menuju ke kedai teh yang Zhishu maksud. Sesampainya disana, segera dia masuk dan mencari sosok yang pernah ia lihat sekali.
Meski hanya dalam sekali pertemuan, Xuemei mampu mengingat dengan jelas rupa Xingsheng.
Saat ia baru saja masuk, dia berpapasan dengan Yuwen Huanran yang kebetulan hendak keluar.
Huanran mengingat anak kecil yang berpapasan dengannya adalah anak kecil yang bersama Zhishu, namun, dia tetap tidak menyentuhnya bahkan menyapa pun tidak bisa karena dia sadar dia sedang di awasi.
Mata mereka hanya bertemu, sebelum akhirnya Huanran melenggang melewati Xuemei tanpa berkata-kata.
Se-perginya Huanran, barulah Xingsheng dan Liang datang menghampiri Xuemei.
Melihat wajah Xingsheng, membuat Xuemei berlari dan langsung memeluknya.
" Heh? Siapa? " tanya Xingsheng.
Mendengar pertanyaan itu, segera Xuemei memberikan benda yang di titipkan oleh Master Shi kepadanya.
Xingsheng menerima itu dan membukanya, lalu mendapati sebuah nama master Shi di bawah kainnya.
" Apa kau yang ikut bersama Master Shi kemarin? " tanya Liang.
" Weixian! " balas Xuemei.
" Apa? " tanya Liang.
Xuemei menyuruh Xingsheng membungkuk lalu membisikan sesuatu kepadanya.
Setelah itu, Xingsheng kembali menegakkan tubuhnya dan mulai mengerti situasinya.
" Lalu, dimana Weixian sekarang? " tanya Xingsheng.
Xuemei hanya menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya matanya berkaca-kaca dan mulai menangis.
" Baiklah, aku akan membawamu, Weixian pasti akan menjemputmu di Kediaman ku, siapa namamu? " tanya Xingsheng.
" Bai Xuan Xuemei.. " jawab Xuemei.
' Bai Xuan Zhishu, Bai Xuan Xuemei? Sepertinya desa Bai Xuan memang benar-benar masih ada.. ' gumam batin Xingsheng.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, segera Xingsheng mengajak Zhishu kembali pulang.
Liang yang mengikuti mereka dari belakang masih memasang wajah kesal karena merasa Xuemei tidak menyukainya.
Sementara itu, Zhishu masih dalam pelariannya, tempat yang paling tepat untuk bersembunyi saat ini adalah hutan yang menjadi perbatasan wilayah ibukota dan wilayah Utara.
Tanpa Zhishu sadari, dia terluka di bagian pinggang, dia mulai mengingat dan berfikir kalau dia mendapatkan luka ini saat terlempar dari kamarnya dan jatuh menimpa sebuah tempat kecil yang biasa di jadikan lapak berdagang.
Lukanya tidak terlalu serius, hanya saja melihat darah membuat Zhishu sedikit merasa kesal.
Dia tidak bisa lagi menetralkan lukanya karena Raja Xiali mengambil kemampuan itu.
Zhishu menyandarkan punggungnya pada batang pohon. Dia memejamkan matanya untuk melupakan perih yang terasa di bagian pinggangnya.
Mengenai pertarungannya dengan Zheyan yang merupakan kakak kandungnya, dia benar-benar terkejut.
Kemampuan pedangnya cukup membuat Zhishu tercengang, namun hal itu sudah dilihat oleh Zhishu dengan jelas, akan ada kemungkinan Zhishu akan menguasai kemampuan yang sama dalam pertarungan berikutnya.
Namun, kali ini, kesabaran Zhishu benar-benar diuji, menghadapi satu pendekar, satu pemimpin klan dan satu saudara sekaligus keturunan dewa, terlebih dia tidak bisa mengeluarkan roh penjaganya karena sedang memakai identitas sebagai Master Shi.
Dia tidak tahu akan sampai kapan dia menyembunyikan identitas aslinya, dia sadar sebesar apapun usahanya menutupi identitasnya, suatu hari nanti pasti akan terbongkar juga.
Sementara itu, Zhishu akan genap dua puluh tahun dalam beberapa hari lagi, ketika tiba saatnya, dia akan menikah dengan Raja Xiali pada hari itu juga.
Sedangkan, Zhishu sendiri menyadari kalau perasaannya pada Raja Xiali masih terlalu dangkal, dia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk terus berusaha agar bisa membuka hatinya untuk sang takdir, sesulit apapun dia ingin egois untuk memperdalam perasaannya.
Saat Zhishu lengah, secara mendadak serangan datang kepadanya, meskipun dalam keadaan lengah, bukan berarti Zhishu bisa dilukai dengan mudah.
Saat sebuah pedang melayang ke arahnya, sosok naga emas muncul dan memblokir serangannya.
Zhishu tersadar saat itu juga, dia berdiri dan menyadari ada yang aneh, sekilas dia melihat kilauan pedang yang mirip dengan pedang Bai Long Qishi.
Dia sendiri tidak yakin kalau Zheyan bisa pulih secepat itu, jika bukan Zheyan ada kemungkinan Zhexuan juga turun gunung untuk memburunya.
Sementara itu, pedang berbalik dan kembali ke tangan pemiliknya.
__ADS_1
" Keluar! " ujar Zhishu dengan suara lantang.
Seseorang muncul kehadapan Zhishu dengan tatapan tajam yang terpasang di wajahnya, aura kebencian sampai terlihat begitu jelas oleh Zhishu.
" Entah apa yang membuatmu sampai se benci itu padaku, aura kebencian mu sampai tersebar kemana-mana, Zhu Zhexuan! " ujar Zhishu santai.
" Wah, wah, suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Master Shi.. Siapa yang akan menyangka kalau Master Shi adalah sosok yang sama dengan Bai Long Qishi? " balas Zhexuan.
" Tuan Muda Zhu begitu cerdas, entah kapan kau mulai menyadarinya, namun di mataku, kau sama bodohnya dengan orang-orang di luar sana! " ucap Zhishu.
" Adik, apakah kau hanya di ajarkan cara berdebat saja oleh ayah angkat mu? Alih-alih jadi pembunuh bayaran kenapa tidak jadi juru bicara klan saja? " ujar Zhexuan.
" Terimakasih atas saran Kakak Kedua, namun perlu kau ketahui, yang bisa membuatku bicara banyak hanya kau seorang, selain itu jangankan bicara, menatapku saja bisa berakhir dengan kematian.. " balas Zhishu.
" Kalau begitu, mengapa kau terus bertele-tele, mengapa tidak langsung ke intinya saja? " tanya Zhexuan.
" Sambutan mu tadi menarik juga, namun jika kau ingin sambutan seperti demikian, maka apa boleh buat? Yang terpenting, jangan sampai mati.. Aku tidak mau mengantarkan mayat mu hingga mendaki Gunung Shu.. " jawab Zhishu.
" Tenang saja, jika kau yang mati, aku akan mengantarmu ke tempatmu dalam sekali lemparan.. " balas Zhexuan.
Pertarungan kali ini, Zhishu mengeluarkan pedang Bai Long Qishi nya. Ini adalah pertarungan ketiga antar Bai Long Qishi, tanpa ada mata yang menonton. Hanya ada mereka berdua yang akan bersenang-senang dalam hutan lebat ini.
Tatapan dingin Zhishu lemparkan pada Zhexuan, mereka berdua selalu mengawali pertemuan dengan berbagai macam topik perdebatan, setelah itu mereka akan menjadikan pertarungan sebagai inti pertemuannya.
Jika Zheyan muncul di akhir, maka ketiga pertemuan mereka adalah takdir yang berulang-ulang.
Di dua pertemuan sebelumnya juga demikian.
Pertemuan pertama adalah saat Zhishu memiliki kesadaran Zhan Xishi, dia dalam sesi pelepasan segel yang ada pada dirinya, Zhexuan datang untuk menyegel kembali tubuh Zhishu atas perintah ayahnya, Zhu Zhaoyang. Namun, disaat Zhexuan sedang kemungkinan berhasil, Zheyan tiba-tiba datang dan memblokir serangannya.
Dipertemuan kedua, saat Zhishu hadir dalam pertemuan lima klan besar, dia terpancing emosi dan menyerang. Zhexuan yang sudah terpojok hampir saja kalah, namun Zheyan lagi-lagi datang memblokir serangan Zhishu dan menyelamatkan Zhexuan.
Jika hari ini terjadi kebetulan yang serupa seperti pertemuan pertama dan kedua, maka pertarungan mereka akan terjadi lagi di kemudian hari.
Suara gesekan pedang terdengar renyah, gerakan beladiri masing-masing terlihat begitu elegan.
Bedanya, gerakan Zhexuan lebih mengarah pada gerakan beladiri khas dewa pedang, sedangkan Zhishu, dia mengkombinasikan beladiri setiap klan menjadi satu.
Dia melakukannya saat belum memasuki keadaan yang serius, jika dia sudah serius dalam bertarung ada dua jenis beladiri yang ia gunakan, seperti gerakan beladiri yang ia ciptakan sendiri dan gerakan beladiri khas Klan Shingming.
Zhishu tidak mengerahkan seluruh kekuatannya dalam pertarungan kali ini, namun bisa di lihat dengan jelas ambisi Zhexuan untuk mengalahkan Zhishu sangat besar.
Meskipun demikian, sosok Master Shi tidak terlihat gentar bahkan dalam pertarungan satu lawan satu dengan satu-satunya keturunan pewaris dewa pedang.
Baginya, Zhexuan tetaplah Zhu Zhexuan, sosok lelaki bodoh yang menantang adiknya sendiri.
Sedangkan Zhexuan sendiri adalah sosok tuan muda yang terisolasi dalam kehidupan klan nya yang berada di gunung yang dingin.
Dia menerima pelajaran dan pelatihan pribadi yang langsung diajarkan oleh ayahnya.
Tidak memiliki teman, kurangnya kasih sayang, minimnya perhatian sang ibunda membuatnya merasakan kecemburuan saat Zhong Qian Ling lebih memperhatikan anak yang jauh darinya, tidak pernah sekalipun sang ibunda melihat ataupun memeluk putra yang jelas-jelas hidup di tempat yang sama dengannya.
Mungkin, hal itu juga adalah alasan mengapa Zhexuan sangat membenci Zhishu dan Zheyan.
Tidak ada yang tahu seperti apa sikap sang ayah padanya, jika hal itu hanya dia dan Zhaoyang yang tahu.
Pertarungan masih berlangsung, seperti biasa, Zhexuan selalu terdesak di tengah-tengah pertarungannya. Kemampuannya masih belum bisa mengimbangi Zhishu.
Zhishu masih terlihat santai dan tidak serius dalam bertarung, jika dia serius, kemungkinan besar, pertarungannya akan cepat berakhir dengan pemenang yang sudah jelas.
" Zhu Zhishu!! Jangan mempermainkan ku! " ujar Zhexuan lantang.
" Jika aku serius, kau bisa mati.. Itu sangat merepotkan! " balas Zhishu.
" Kalau begitu, kau saja yang mati! " ucap Zhexuan.
" Kurasa aku sudah mengatakannya, hari ini bukan hari kematian ku! " balas Zhishu lagi.
Tanpa berlama-lama lagi, Zhexuan langsung menyerang Zhishu dengan serius, serangannya dilancarkan bertubi-tubi hingga hampir tidak ada jeda.
Namun, semua serangan itu seolah sudah terbaca oleh Zhishu, hingga semuanya meleset begitu saja.
Sementara itu, saat Zhexuan ingin memberikan pukulan jantung, Zhishu melakukan hal yang sama hingga keduanya sama-sama terluka oleh jurus yang sama.
Masing-masing terlempar ke arah yang berlawanan, juga sama-sama muntah darah karena pukulan jantung berasal dari tenaga inti dalam tubuh, hingga kekuatan serangannya cukup mematikan. Bahkan, jika seorang manusia biasa yang mendapatkan pukulan jantung, kemungkinan untuk meninggal ditempatnya sangat besar.
Namun, siapa yang akan menyangka kalau tubuh Zhexuan lebih lemah di bandingkan dengan tubuh Zhishu yang bahkan tidak pernah di latih oleh Zhu Zhaoyang.
Zhexuan terlempar ke rerumputan, sedangkan Zhishu yang sejak awal terluka di bagian pinggang malah harus membentur batang pohon yang jaraknya sangat dekat hingga benturannya cukup keras.
Bahkan, Zhishu sedikit lebih lama tersungkur di tanah.
Zhexuan bangun, lalu berjalan dengan sedikit tertatih menghampiri Zhishu.
" Bangun, Zhu Zhishu.. Kita masih belum selesai.. " ujar Zhexuan.
" Heh, menyebalkan sekali.. Aku ini tidak suka di sakiti lhoo.. Kau benar-benar berniat menghabisi ku, ya? " ujar Zhishu sambil menggerutu.
__ADS_1
" Banguuunn.. " ujar Zhexuan lagi. Kali ini nada suaranya lebih rendah.
Saat Zhishu mencoba beranjak, dia mendengar sebuah suara, netranya dengan cepat menangkap sebuah anak panah yang mengarah ke Zhexuan.
" Zhu Zhexuan, minggir!! " ujar Zhishu dengan mata yang fokus menatap anak panah dari kejauhan.
" Apa kau bilang? " tanya Zhexuan.
" Awas!! Dasar Kakak Bodoh!!!! " teriak Zhishu sambil berusaha beranjak.
Zhishu memeluk Zhexuan secara mendadak dan pasang badan untuk melindungi Zhexuan.
Entah apa yang ada dalam pikirannya, padahal dia tahu apa yang akan terjadi padanya jika dia melindungi Zhexuan. Sesuatu mendorongnya melakukan hal bodoh tersebut.
Anak panah menancap tepat di punggung Zhishu, tangan Zhishu masih merangkul erat tubuh Zhexuan.
Sepasang mata Zhexuan terbelalak, dia bahkan bisa melihat dengan jelas sebuah anak panah itu melesat cepat hingga menusuk punggung Zhishu dalam sekejap.
" Bodoh! " ucap Zhishu lirih.
" K-kenapa? Kenapa.. Kau melindungi ku? " tanya Zhexuan terbata.
Rangkulan Zhishu kian melonggar, tubuhnya perlahan melemah, dia sekali lagi memuntahkan darah sampai mengotori pakaian putih Zhexuan.
" Kau.. Menang, Kakak! " pungkas Zhishu lirih sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Tangan Zhexuan bergerak dengan sendirinya, dia merangkul sosok adik perempuan yang tak pernah ia sentuh sebelumnya.
Untuk yang kesekian kalinya dia memanggil Zhexuan 'Kakak' namun, panggilan terakhirnya sangat-sangat membuat hati Zhexuan bergetar.
Zhexuan memeluk Zhishu erat-erat, dia tidak membiarkan Zhishu terjatuh. Air matanya mengalir, untuk kali pertamanya, Zhexuan benar-benar menangis.
" Zhishu.. Pertarungan belum berakhir, sadarlah.. Kita masih belum menentukan pemenangnya.. Zhishu? Zhishu? Zhu Zhishu???? " ....
Tangis Zhexuan pecah, tanpa adanya respon, membuat lutut Zhexuan melemas hingga hampir terjatuh. Rasanya sesak melihat dia di selamatkan oleh orang yang selalu ingin dia bunuh.
Dia sadar, sesuatu yang telah lama hilang ini sangat berharga.
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
...Bonus!...
Pengenalan Karakter:
...Nie Fengyue...
Putra dari Nie Hanrong, pemimpin klan Fènghuáng dari tanah Timur. Memiliki keahlian beladiri yang bagus dengan gerakan yang cepat, yang merupakan ciri khas Klan Fènghuáng.
Mewarisi gerakan beladiri langkah cepat yang belum pernah ditunjukkan kepada siapapun.
Selain menguasai pedang, Nie Fengyue juga pandai memanah. Namun, karena kehadiran Pembunuh Yue yang menjadi anak panah sebagai ciri khas, Fengyue mendapat larangan untuk menyentuh busur panah, apalagi menggunakannya.
Nie Fengyue adalah pribadi penyendiri namun tegas. Dia dingin pada orang yang tidak ia sukai, namun ketika bersama Zhan Hua atau Song Qinsong, sikapnya akan berubah drastis.
Pertemuannya dengan Zhan Xishi sedikit membuatnya terkesan, karena Zhan Xishi dianggap mencuri ciuman pertamanya, padahal hal itu dilakukan guna untuk menarik racun keluar dari mulutnya.
Sementara itu, diam-diam Fengyue merasakan sesuatu yang asing dalam pertemuan pertamanya dengan Bai Long Qishi Zhu Zhishu.
Dia mengagumi sosok yang diagungkan oleh klan nya, namun sesuatu yang sulit menjadi sebuah halangan untuk dia mengembangkan perasaannya.
Semakin rumit masalah nya, perasaannya kepada Zhu Zhishu semakin dalam hingga menimbulkan sebuah konflik tidak terduga.
__ADS_1