
Yanxun membelalakkan matanya, sungguh kebenaran yang berada di luar dugaan. Sebelumnya dia hanya mengira Zhu Zhishu dan Master Shi memiliki hubungan yang baik, namun siapa yang akan menduganya jika mereka adalah orang yang sama.
Zhishu mengangkat sudut bibirnya, dia menikmati raut wajah Yanxun yang terlihat lucu saat terkejut.
" Aku kira kau sudah menyadarinya, Xun'er.. " ujar Zhishu.
" Jadi... Selama ini--
" Benar, seperti dugaanmu.. " potong Zhishu.
Yanxun benar-benar tidak berfikir sampai ke titik ini. Namun, dia masih terkejut hingga tak berkutik sedikitpun.
Tak lama setelah itu, Diwei Ling datang menghampiri mereka berdua. Dia berdiri di belakang Zhishu, lalu terkejut saat menyadari orang yang datang menemui Masternya adalah orang yang sangat ia kenal.
' Kakak Xiao Xun.. ' Ucap Ling dalam hati.
Namun, setelah mengingat kembali pesannya, Diwei Ling langsung menepis pikirannya dan segera mengingatkan Sang Master mengenai waktu mereka.
" Master, hari sudah mulai gelap.. Kita harus segera masuk ke hutan sebelum mereka menerobos kota lebih dulu.. " Ucap Ling.
Zhishu tersenyum.
" Bagaimana, Xun- ah, tidak.. Tuan Muda Huang.. Apa kau datang untuk meminta bantuan ku? Aku akan memberi harga teman, tenang saja! " tanya Zhishu.
Yanxun masih terdiam, dia kembali berfikir keras mengenai hal ini, terlebih waktu sudah sangat sedikit, dia juga tidak mempunyai pilihan selain menerima tawarannya.
' Ini demi kota.. Aku akan membayarnya dengan nyawaku sendiri, tidak akan ku biarkan dia melibatkan kota dan klan suci ku! ' Gumam batin Yanxun.
" Katakan.. " ujar Yanxun dingin.
" Jangan terburu-buru, aku akan membantumu, sebagai gantinya kau juga akan membantuku! Bagaimana? " tawar Zhishu.
" Setuju! " balas Yanxun mantap.
Dia tidak perlu waktu untuk berfikir dua kali mengenai tawaran yang di berikan oleh Zhishu, saat ini ia lebih mengutamakan keselamatan penduduk dan klan nya.
Zhishu tersenyum sekilas.
" Kau mau ikut, atau mau duduk manis di rumah? " tanya Zhishu.
" Aku akan ikut bersamamu.. Jadi jangan katakan hal-hal tidak penting lainnya! " balas Yanxun.
Zhishu tidak menanggapinya lagi, dia dengan cepat bergerak masuk ke dalam hutan. Kecepatan ini tentu saja bukan keahlian Yanxun, mengenai kecepatan gerak hanya Klan Fènghuáng yang menguasainya. Klan Báisè de lǎohǔ hanya cepat dalam menggunakan pedang, meskipun demikian hal itu tidak bisa di bandingkan dengan Master Shi.
Hari mulai gelap, Zhishu, Yanxun dan Diwei Ling tengah bersembunyi di dalam hutan.
Diwei Ling memberikan jubah hitam dan juga topeng Pembunuh Malam. Lagi-lagi Yanxun dibuat diam keheranan, dia hanya menatap Ling lalu melihat Zhishu yang tengah menatap lurus ke depan.
Diwei Ling yang mulai kehilangan kesabaran dengan sedikit paksaan memakaikan jubah hitam itu ke tubuh Yanxun.
" Untuk melindungi identitas mu! Pakailah! " ujarnya lalu menyodorkan sebuah topeng hitam.
' Entah ini benar atau tidak, namun jika dilihat dari sikapnya petang tadi, dia menunjukkan bahwa dirinya adalah gadis itu, murid Shingming. Tak ku sangka kau adalah tokoh agung yang diasingkan.. ' Gumam batin Yanxun.
Sementara itu, Zhishu tengah larut dalam pengawasannya sendiri, dia seperti sedang memperhatikan sesuatu sejak tadi. Diam di tempat dan tak berkutik sedikit pun, sorot matanya nampak terlalu serius, pemandangan yang sangat jarang di tunjukkan.
" Mati! " gumam Zhishu pelan namun suaranya masih bisa di tangkap oleh indera pendengaran Yanxun dan juga Diwei Ling.
" Siapa? " tanya Yanxun.
" Ling!! " panggil Zhishu.
Diwei Ling yang mengerti langsung menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya melenggang pergi.
Sedangkan, Yanxun masih dalam kondisi bingung memahami situasinya. Dia berpikir keras mengenai hal ini, jelas-jelas dia ada di antara Master dan muridnya, namun bisa-bisanya dia masih kebingungan dan tidak paham dengan apa yang terjadi.
' Apa mereka benar-benar secerdas ini? Menggunakan kode? Gerakan mereka memang benar-benar sulit di tebak, pemahaman situasi, rangkaian strategi, gerakan cepat, beladiri tinggi serta ilmu pedang rahasia mereka sangat tidak bisa di bandingkan dengan lima sekte sekalipun.. Namun, aku penasaran, apa Dewa Pedang bisa di bandingkan dengan Master Shi? ' Gumam batin Yanxun.
" Xiao Xun! " panggil Zhishu.
__ADS_1
" Ada apa? " tanya Yanxun.
" Disaat-saat seperti ini kau masih sempat-sempatnya melamun, sialan! Ikut dan tetap berada di belakangku! Jika tidak kau akan mati terbelah! " ujar Zhishu dengan nada terdengar kesal.
Zhishu melenggang pergi, sebelum akhirnya diikuti oleh Yanxun di belakangnya.
" Apa barusan dia memarahiku? " gumam Yanxun seorang diri.
Di waktu yang bersamaan, Diwei Ling tiba dan mendapati tiga orang tewas dengan tubuh yang terbelah. Wajah terkejut orang-orang di sekitarnya tentu merupakan hiburan tersendiri bagi Diwei Ling.
Orang-orang bertopeng rubah itu cukup peka dengan kehadiran orang lain, mereka langsung waspada setelah menyadarinya. Diwei Ling yang tengah duduk di atas batang pohon yang tidak terlalu tinggi langsung tertawa melihat tingkah para Rubah Pembunuh itu.
" Hahaha.. Tidak, jangan pasang ekspresi seperti itu! Kalian terlihat bodoh! " ucap Ling di sela-sela tawanya.
" Ternyata Pembunuh Malam? Apa yang kau lakukan di wilayah timur? Bukankah kalian sudah lama mundur dari tokoh Pembunuh Bayaran? " tanya seorang laki-laki.
Diwei Ling terdiam sejenak.
' Suara ini? Tidak salah lagi, aku menemukan lawan ku.. Mo Jili.. ' gumam batinnya.
Seringai wajah Diwei Ling menunjukkan kalau dia meremehkan musuh yang ada di depan matanya. Mereka ada sekitar dua puluh orang, namun Diwei Ling datang seorang diri.
" Mo Jili, Mo Jili.. Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu? Apa yang kau lakukan di dalam wilayah ku? Mencari mati? " tanya Ling.
Mo Jili jelas terkejut, sebelumnya tidak ada yang pernah mengenalinya karena wajahnya tertutup topeng rubah.
" Tuan Pembunuh Malam mengenalku, siapa kau sebenarnya? " tanya Jili.
^^^( Mo Jili - Rubah Pembunuh )^^^
" Aku.. Maut mu! " jawab Ling lalu melompat turun sebelum akhirnya menyerang.
Sebelum mencapai tingkat atas, tentu saja harus melewati yang paling bawah dulu. Sebagaimana Diwei Ling yang perlu mengurusi antek-antek Rubah Pembunuh sebelum menyentuh Jili.
Lawan kali ini seharusnya lebih mudah dari Pembunuh Yue, namun karena mereka dalam pengaruh sihir hitam, Diwei Ling sedikit kerepotan karena Pedang Gaib mereka sangat berbahaya.
Meski menggunakan teknik menyerang, Diwei Ling memiliki pantangan tersendiri saat melawan Rubah Pembunuh. Yaitu, dia tidak boleh membunuh dengan pedangnya sendiri, jika tidak maka jumlah mereka akan menjadi berlipat ganda.
Hal itu pernah terjadi, saat Zhan Xishi di pertemukan dengan Liu Xingsheng dan berakhir dalam kerja sama melawan Rubah Pembunuh. Naas setelah mereka membunuh banyak, orang-orang bertopeng rubah itu muncul lebih banyak lagi dan membuat mereka terpojok. Saat itu mereka menyadari hal yang di katakan oleh Pemimpin Rubah Pembunuh, " Kau membunuh satu, maka yang lain akan bangkit! " .
Diwei Ling yang mulai kehilangan fokusnya tidak sengaja menusuk jantung salah satu orang bertopeng rubah itu. Saat tersadar dirinya diam dan menjadi lengah, sampai melupakan fakta bahwa pertarungan masih berlangsung.
Sementara itu, Zhishu dan Yanxun hampir sampai. Namun, sebelum itu secara tiba-tiba Zhishu menarik lengan Yanxun hingga menutup jarak dengannya. Pandangan mereka saling bertemu, namun tatapan Zhishu benar-benar terlihat tajam.
" Hati-hati! " ujar Zhishu dingin.
Saat Yanxun memalingkan pandangannya, dia melihat sesuatu seperti benang tipis yang menghalangi jalan. Sebelum sempat dia bertanya, Zhishu sudah menyadari sesuatu yang lain.
" LING!!! " Teriak Zhishu kuat.
Setelah itu Zhishu melemparkan sebuah shuriken dan menggagalkan serangan yang datang dari belakang Diwei Ling.
Mendengar teriakan itu, Diwei Ling segera tersadar dan kembali ke tugasnya. Sedangkan, Zhishu dan Yanxun masih berada di tempat yang sama.
" Itu benang ku, jangan menyentuhnya! Kau boleh bergabung bersama Ling, namun jangan membunuh mereka! Ladeni saja sampai Ling selesai menaklukan lawannya! Aku akan pergi mencari Rajanya! " ujar Zhishu masih dalam nada bicara yang dingin.
" Kau sendirian? " tanya Yanxun.
" Kau meremehkan Master Shi? Tidak ada yang bisa mengalahkan ku kecuali satu orang! Aku pergi! " pungkas Zhishu sebelum akhirnya melenggang pergi.
Mendengar hal itu, entah mengapa Yanxun mendadak menjadi patuh, rasanya orang yang bisa bicara baik-baik dengan Master Shi akan berakhir dengan obrolan seperti dua orang teman.
Meski sikapnya tempramental, namun sikap dingin selalu mendominasi dirinya. Dia hanya sesekali menunjukkan wajah palsunya dan bersikap seolah-olah memang benar adalah dia, padahal tidak ada yang tahu jelas kebenarannya.
Saat melihat Yanxun datang, Diwei Ling segera mengambil kesempatan untuk menyerang Mo Jili, target buruannya malam ini. Yanxun sendiri tidak punya waktu untuk bertanya-tanya, dia hanya bisa meladeni orang-orang ini seperti yang dikatakan oleh Zhishu sebelumnya.
Disisi lain, Zhishu diam-diam membuntuti beberapa orang yang tengah berjalan menelusuri hutan. Dari pakaian dan topeng yang dipakainya, mereka adalah anggota dari Rubah Pembunuh.
__ADS_1
Ternyata Rubah Pembunuh membawa lebih banyak orang dari yang Zhishu kira, bahkan mereka telah menyebar. Sejenak, Zhishu merasa khawatir pada desa Bai Xuan. Namun, saat ini bukan waktu yang tepat untuk pergi melihat kondisi desa jelas. Zhishu hanya perlu meyakinkan dirinya, kalau murid-muridnya bisa menjaga desa itu baik-baik. Bagaimanapun juga, keselamatan penduduk desa adalah tanggung jawabnya.
Semakin lama langkahnya semakin dekat dengan keramaian, namun bukan keramaian kota, melainkan keramaian Rubah Pembunuh yang tengah berpesta. Zhishu mengamati mereka dalam kegelapan dan membuat dirinya aman dari pandangan mereka. Sekilas, suatu aroma yang menyeruak tertangkap oleh indera penciumannya.
" Sedang melihat apa? " ...
Suara itu benar-benar mengejutkan dan membuat Zhishu hampir melompat. Namun, dia hanya membelalakkan matanya dengan tubuh yang waspada.
Bisikan itu lenyap dan hanya ada suara orang terkekeh pelan. Menyadari kesempatan, Zhishu berbalik dengan kelewang yang siap menggores leher laki-laki itu. Namun, saat melihat wajahnya, Zhishu malah semakin terkejut.
" Song Qin Song? " gumamnya pelan.
Mata Song Qin Song terbelalak, namun sorot matanya tidak menunjukkan ketakutan sedikitpun. Dia hanya diam dan menatap wajah Zhishu yang tertutup topeng.
" Master Shi? " panggilnya.
Namun, setelah ucapan Qinsong selesai, para Rubah Pembunuh itu menyadari sesuatu tengah mengamati mereka. Beberapa dari mereka mulai mendekat dan mencari penyusup nya.
Qinsong dengan beraninya menarik Zhishu dan mendekapnya di balik pohon. Zhishu terkejut sampai jantungnya berdegup kencang, namun anehnya dia tidak dapat mendengar detak jantung Qinsong.
" Beraninya kau! " ucap Zhishu nyaris berbisik.
Namun, dengan cepat Qinsong membungkam mulut Zhishu menggunakan tangannya. Situasi menjadi semakin menegangkan saat langkah anggota Rubah Pembunuh itu mendekat.
Saat menyadari sempitnya waktu yang mereka miliki, Zhishu mengambil kesempatan untuk menebarkan racun mimpi kepada mereka.
Keadaan menjadi berbalik, Zhishu menepis tangan Qinsong lalu membungkam mulutnya sebelum menariknya pergi dari sana.
Rubah Pembunuh yang tiba-tiba tak sadarkan diri membuat yang lainnya menjadi tersadar adanya penyusup. Bahkan pergerakan Zhishu dan Qinsong dilihat oleh mereka.
Setelah menjauh dari tempat awal, Zhishu mulai membuka bungkamnya. Dia juga melepaskan tangannya dari tangan Qinsong. Keadaan menjadi aneh karena Master Shi yang kejam malah melindungi seorang pria.
Mereka saling menatap sekilas, sebelum akhirnya Zhishu mulai membuka pembicaraan.
" Sedang apa kau disini? Tidak tahu 'kah ini sangat berbahaya? " tanya Zhishu.
" Bukankah Pembunuh Malam lebih berbahaya? " ucap Qinsong balik bertanya.
^^^(Song Qin Song)^^^
Pertanyaan itu spontan membuat Zhishu tertampar, seolah dia baru di sadarkan oleh sesuatu yang tidak terduga.
" Lantas, mengapa Master Shi menyelamatkanku? " tanya Qinsong lagi.
Zhishu terdiam.
" Bukankah kau adalah pemimpin Pembunuh Bayaran Tersadis? Aku jadi curiga, apa kau benar-benar Master Shi? " tanya Qinsong.
Pertanyaan bertubi-tubi itu terdengar sangat memalukan untuk Zhishu. Bahkan dia tidak bisa menjawabnya meski bisa di katakan dia sangat marah. Dalam hatinya, dia memaki dirinya sendiri.
' Bagaimana aku bisa lupa kalau aku sedang memakai jubah hitam, Sialan!! Lalu, mengapa aku malah membawa lari bocah dungu ini bersamaku?? Akan terlihat aneh jika seorang Master Shi membawa lari seorang pria! Harga diriku bisa terluka jika sampai hal ini menjadi gosip!! '
Sekilas, Zhishu melihat ke arah Qinsong.
" Kau tidak mempercayai ku, ya? Bagaimanapun juga, mangsaku akan tetap jadi makananku! " ujar Zhishu dingin.
Sangat berbeda nadanya dengan makian yang ia pakai dalam hati.
" M - Maksud mu.. Kau akan membunuhku? " tanya Qinsong terbata.
" Salahmu mengusikku! " balas Zhishu.
" Ah, soal itu.. Mm.. Maafkan aku.. " ujarnya lirih.
" Aku bukan pemaaf! Simpan saja itu dan tunggu waktu kematian mu! " ucap Zhishu dingin lalu berbalik.
Qinsong tertunduk, dia tidak mengatakan apapun setelah itu.
__ADS_1
Ada sedikit kejanggalan yang Zhishu sadari, namun dia juga memilih diam lalu menyelidikinya nanti. Karena sekarang ada hal penting yang perlu ia lakukan.
' Ku pastikan kau akan mati, hanya saja entah mengapa aku tidak bisa membunuhmu. Ada wangi yang menyeruak tepat sebelum kau datang, hal itu membuatku mengingat akan sesuatu. Wangi itu, pakaian merah, tandu bunga yang di pikul oleh delapan hantu berwajah serupa.. Raja Xiali, semoga saja dia bukanlah dirimu.. Song Qin Song.. ' gumam batin Zhishu.