
" Nie Fengyue "
Seperti nama yang tidak asing, Xishi kembali memutar memorinya melihat kembali masa dimana dia mendengar nama ini. Hingga bayangan memperlihatkan saat dirinya di tarik ke pelukan Qibo karena Fengyue mencoba meraih dan membuka topengnya. Namun, saat ini Qibo mengajaknya pergi ke ibukota untuk membantu seorang Fengyue. Cerita seperti apa yang Xishi lewatkan lagi.
" Apa yang terjadi padanya? " Tanya Xishi.
" Dia bertemu dengan Pembunuh Malam sebelum akhirnya gila! " Jawab Qibo.
" Oh "
" Eh, reaksi macam apa itu? " Tanya Qibo.
" Dia bertemu dengan Pembunuh Malam namun masih hidup, bukankah itu sudah bagus. Sembilan puluh tujuh persen orang yang bertemu Pembunuh Malam akan mati, tiga persen lainnya menderita seumur hidup hingga tak ada perbedaan antara hidup atau mati! " Jawab Xishi lalu berlalu begitu saja.
Qibo menatap kepergian Xishi masuk ke dalam rumah, begitu juga dengan Feng. Disisi lain, Qibo takut akan ada kecurigaan dalam diri Feng, namun sepertinya sesuatu telah terjadi pada Xishi. Dia sampai menunjukkan sikapnya sampai ke sisi yang seperti ini.
Qibo memutar kepalanya menatap ke arah Feng yang berdiri di depannya. Feng pun melakukan hal demikian karena merasa ada yang ingin Qibo katakan.
" Kau ingin menanyakan suatu hal? " Tanya Feng.
" Apa yang sebenarnya terjadi? " Tanya Qibo.
" Jalan menuruni gunung tanpa istirahat sangat melelahkan, biarkan dia beristirahat dulu. Dia baru sampai dan kau malah langsung mengajaknya pergi lagi! Tidak heran dia begitu dingin " ujar Feng sebelum akhirnya pergi juga.
Qibo terdiam sejenak, terus bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sikap Kakak Tertuanya juga jelas sangat berbeda, namun mencari waktu yang tepat untuk membahas masalah Pembunuh Malam dengan Feng di sekitar mereka tentu tidaklah mudah.
' Mungkinkah sesuatu telah diketahui? ' Gumam batin Qibo.
Di kamar Xishi, dia menatap cermin yang ada disana. Lalu, mulai memeriksa lukanya dan masih terbalut rapi. Pintu di ketuk, Xishi mempersilahkan seseorang masuk tanpa menanyakan siapa yang datang ke kamarnya.
" Zhan Xishi.. " panggil Feng.
" Jika ada yang ingin di katakan, maka katakanlah! " Sahut Xishi.
" Ini tidak seperti dirimu! " Ujar Feng.
Xishi bangkit dari duduknya lalu berbalik menghadap Feng. Ternyata Xishi baru saja membuka balutan kain yang membungkus lukanya hingga luka tusukan itu terlihat dengan jelas oleh mata kepala Feng. Tatapan Xishi dingin dengan raut wajah yang datar. Xishi memblok kamarnya agar tidak ada siapapun yang menguping pembicaraan mereka. Feng tidak terkejut dengan hal itu, adalah salah satu kelalaiannya.
" Lantas, siapa kau sebenarnya? " Tanya Xishi.
Feng diam, ada sesuatu yang salah dan mungkin harus segera di luruskan.
" Ku pikir kita sudah lama bersembunyi, namun sepertinya aku telah salah. Tidak ada satupun dari kita yang bersembunyi, hanya aku saja yang terus melarikan diri. Melarikan diri dari kenyataan yang begitu menakutkan, kenyataan yang mengatakan bahwa aku adalah makhluk agung yang di anggap mati! " Ujar Xishi.
Feng tersentak hingga kakinya hampir membawanya menjauh dari hadapan Xishi. Entah, siapa yang membuat Xishi mendengar hal ini, namun kini pertahanannya goyah dan membuat Xishi semakin mempercayai kebenaran yang sesungguhnya.
" Xishi.. " suara lirih Feng yang mencoba menenangkan Xishi kalah oleh nada bicara Xishi yang begitu kuat.
" Siapa kau dan siapa aku, kau lah yang paling tahu! Ini belum di pastikan, namun setelah memastikannya, saudara atau lawan adalah pilihan selanjutnya! " Ujar Xishi.
Perlahan luka tusuk yang ada di tubuh Xishi menghilang, kulitnya kembali mulus seolah tidak pernah tergores sedikitpun. Sebuah kekuatan yang tidak bisa di miliki oleh Pendekar Tingkat Atas sekalipun.
Xishi membuka blok, lalu kembali membelakangi Feng. Tak peduli apa yang akan di lakukan Kakak Tertuanya saat ini, di hati Xishi ada kekecewaan yang mengendalikan dirinya kembali menjadi seorang pendendam. Dengan amarah yang menumpuk membuat wajahnya menjadi sangat tebal. Xishi melupakan seperti apa dirinya sebelum dia terluka, dibawa ke Gunung Luo dan menyadari kakaknya memiliki kekuatan yang sama sepertinya.
Feng tak mampu lagi berkata-kata, dia melihat kekecewaan yang mendalam dalam tatapan Xishi. Namun, apa yang di lakukannya bukan tanpa alasan, ada sesuatu yang tidak memungkinkan mereka kembali menjadi Bai Long Qishi yang Agung. Saat ini Feng hanyalah seorang pengkhianat yang melindungi adiknya, sedangkan Xishi adalah ' Sesuatu yang belum terungkap '. Melihat emosinya tidak stabil, Feng pun memilih pergi dan memberi Xishi waktu untuk menyendiri. Setelah tenang, Feng akan mencoba memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Begitu Feng keluar, Xishi mulai menghembuskan nafas sesak yang sejak tadi ia tahan dalam-dalam di dadanya. Ada sesuatu yang tidak bisa di jelaskan, sesuatu yang terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi sebenarnya. Sesuatu yang terus mencari-cari kebenaran dalam setiap celah rahasia tersembunyi.
' Bai Long Qishi adalah aku, jika Feng adalah benar Bai Long Qishi pertama maka aku lah Bai Long Qishi terakhir yang tidak di akui dan di anggap mati. Lalu, mengapa nama itu malah di berikan kepadaku sebagai bentuk kesalahpahaman? Alih-alih bahagia karena mengetahui aku adalah darah daging dewa pedang, aku malah membenci dan ingin membunuh dewa pedang itu! ' Gumam hati Xishi yang meledakkan emosinya.
Waktu berlalu cepat hingga sampai ke hari berikutnya, Xishi keluar rumah dan melihat kuda pemberian Tuan Muda Song ada di depan rumahnya. Xishi mendekat untuk memastikan sekali lagi, ternyata benar adanya.
" Kuda ini menghilang sebelum aku pergi dan bertemu orang-orang sampah itu, semalam ketika aku datang pun tidak melihatnya disini, hari ini tiba-tiba disini bukanlah kebetulan! " Gumam Xishi.
Xishi menatap awas ke area sekitar, mencoba mencari siapapun yang berkaitan dengan hilangnya kuda ini. Namun, nihil, tak ada kejanggalan yang terlihat. Tak lama setelah itu, Qibo datang menghampiri Xishi lalu melihat ke arah kuda yang tengah di usap lembut oleh Xishi. Tak lama setelah itu dia mengalihkan pandangannya ke kandang kuda yang berada tak jauh dari pandangan matanya. Dia menatap bergantian kuda di samping Xishi dengan kuda yang ada di dalam kandang.
__ADS_1
" Itu bukan kudamu? " Tanya Qibo dengan raut wajah heran.
" Benar! "
" Hey! Kau tidak mencuri, 'kan ? " Tanya Qibo.
" Kau menuduhku tanpa rasa curiga! Jangan membohongi dirimu sendiri, aku cukup kaya hanya untuk membeli seekor kuda! " Jawab Qishi ketus.
Qibo tercengang, kali ini dia benar-benar yakin kalau sesuatu terjadi pada Xishi.
" Cepat bersiap! Aku tidak mau tiba terlalu sore! " Ujar Xishi.
" Eh, kemana kita pergi? " Tanya Qibo.
" Kakak yang mengatakannya kepadaku, apa kau setua itu untuk melupakan satu hal dalam semalam? " Ucap Xishi mulai terdengar kesal.
" Ah, aku ingat! Apa kita perlu membawa beberapa obat-obatan? " Tanya Qibo.
" Untuk apa? " Tanya Xishi.
" Eh, bukankah kau datang untuk mengobati Tuan Muda Nie? " Tanya Qibo.
" Kau bilang aku harus membantu Fengyue Gila itu, alih-alih menyembuhkannya, bunuh saja sekalian! Dengan begitu dia tak perlu menanggung rasa sakit akibat malu! " Jawab Xishi dengan suara rendah.
" Eh??? " Qibo membelalakkan matanya.
Mulutnya seketika kaku mendengar jawaban dari Xishi, dia berpikir apakah telah salah memberitahukan hal ini kepada adik keempatnya itu. Sebenarnya tidak ada masalah jika dia ingin membunuh seseorang, namun jika dia menjadikan Nie Fengyue targetnya pasti seluruh kota akan habis di bakar oleh Nie Han Rong.
" Kau pikirkanlah baik-baik, dia adalah anak semata wayangnya Nie Hanrong.. " ujar Qibo mencoba memulai negoisasi.
" Kalau begitu diam di rumah dan berdoa saja! " Balas Xishi .
Xishi menunggangi kudanya lalu pergi meninggalkan kediaman, merasa perang dunia selanjutnya sudah ada di depan mata. Qibo segera mengambil kudanya lalu bergerak menyusul Xishi.
" Main, kakak tunggu ayah pulang dan jangan kemana-mana! " Jawab Qibo sebelum akhirnya memacu kudanya menjauh.
Kalimat itu jelas-jelas menahan Feng agar dia tidak mengikuti kedua adiknya itu. Namun, begitu mereka kembali Feng akan tahu kemana mereka pergi dan apa saja yang telah di lakukannya.
Qibo tertinggal jauh oleh Xishi. Adik ke empatnya sudah mulai keluar dari hutan Luoxia sedangkan dirinya baru sampai setengah jalan. Padahal, dahulu Xishi belajar memacu kuda dari dirinya, tak terasa kini Xishi tumbuh besar dan bahkan mengalahkan setiap hal yang Qibo ajarkan sendiri kepadanya.
Xishi sendiri berhenti sejenak, dia melihat kebelakang namun tidak ada siapapun disana. Setelah itu dia kembali menatap ke depan, jembatan yang di pijaknya saat ini adalah pembatas antara kawasan Hutan Luoxia dan juga Ibukota Jian Yi. Dari luar saja, terlihat suasana Ibukota yang begitu ramai, Xishi menghela nafas sebelum akhirnya masuk ke kawasan Ibukota dengan menunggangi kudanya.
Banyak mata menatap ke arahnya, bisikan demi bisikan terdengar, namun Xishi yang acuh tidak menangkap apa yang mereka bicarakan. Maskernya masih setia menutupi setengah wajahnya, pandangannya lurus ke depan menatap jalur yang akan di lewatinya.
Xishi berhenti sejenak di sebuah kedai teh, dia duduk disana seorang diri dengan suguhan teh dan beberapa camilan. Sesaat dia merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya, sekali mengarah ke sudut, dia langsung menemukan siapa orangnya.
Matanya terbelalak, merasa kebetulan ini terlalu janggal. Laki-laki yang pernah di temuinya sekarang di temukan nya lagi. Tengah menatap ke arahnya dengan senyuman tipis yang terukir di wajah tampannya.
' Liu Xingsheng.. 'gumam batin Xishi yang langsung memalingkan wajahnya.
Selang beberapa detik saja saat Xishi hendak meminum tehnya, laki-laki itu sudah duduk di depannya.
' Eh, sejak kapan dia disini? Aku tak mendengar suara langkahnya, baunya juga tiba-tiba tercium! ' Gumam batin Xishi lagi.
Kulit yang ada di antara kedua alisnya mengerut, tanda kalau dirinya benar-benar tidak paham dengan kejadian yang sebenarnya.
" Nona, kita bertemu lagi, mungkinkah berjodoh? " Tanya Xingsheng.
" Omong kosong! " Balas Xishi ketus.
" Eh, kau begitu galak, hati-hati tidak ada yang mau! " Gumam Xingsheng.
" Siapa yang tidak mau dengan siapa? " Balas Xishi sebelum akhirnya beranjak.
Tetapi, begitu Xishi beranjak salah seorang pelayan kedai menghentikannya dan menagih bayarannya.
__ADS_1
" Nona, kau sudah minum teh dan mau pergi begitu saja? Bayar dulu tagihannya! " Ujar si Pelayan.
Xishi memutar tubuhnya dan menatap tajam ke arah pelayan itu, tangannya bersandar ke bahu pelayan itu.
" Kau, tidak lihat siapa yang duduk di meja itu? " Tanya Xishi.
Pelayan itu memiringkan bahu yang di tekan Xishi, dia merasakan tangan mungil Xishi begitu kuat mencengkeram bahunya.
" Ba-ba-baiklah.. tolong lepaskan dulu.. " ujar si pelayan.
Xishi perlahan melepaskan tangannya, lalu kembali berbalik untuk berjalan keluar, namun lagi-lagi satu hal menghentikan langkahnya. Xingsheng yang merasa sesuatu merujuk padanya pun mengambil tindakan, dia beranjak lalu mendekati pelayan itu.
" Mohon maafkan istriku, dia memang tempramental namun hatinya sangat lembut, simpan saja sisanya " ujarnya sambil memberikan satu tael emas.
Dalam diam Xishi mengumpat.
" Tuan muda memang bijaksana, soal tadi tidak perlu di bahas lagi! " Ujar si pelayan itu lalu pergi.
Xingsheng berjalan mendekati Xishi, namun siapa sangka kalau Xishi ternyata menunggunya. Saat Xingsheng sampai di samping Xishi, Xishi segera menyerangnya, dia mendorong tubuh Xingsheng ke pintu, lalu menahan leher Xingsheng menggunakan lengannya. Lengannya kecil namun begitu kuat hingga Xingsheng tak berkutik.
Lagi-lagi sesuatu dalam tubuh Xingsheng di rasakan dengan jelas, kejanggalan yang sama seperti saat pertama kali mereka bersentuhan, namun kali ini sesuatu yang lain lebih penting untuk di bahas.
" Siapa istrimu? " Tanya Xishi dengan tatapan mata yang tajam.
" Menurutmu? "
" Jangan mengatakan hal-hal bodoh! " Tekan Xishi.
" Aku hanya mengatakan tentang masa depan! " Balas Xingsheng.
" Masa depan apanya! Kau dukun? " Tanya Xishi mulai kesal.
" Maka kau adalah istri dukun! " Balas Xingsheng.
" Kau dungu? Aku adalah permaisuri! " Ketus Xishi.
" Maka aku adalah rajanya! " Jawab Xingsheng.
Xishi tak mampu berkata-kata lagi, dia menekan lebih kuat lengannya, namun Xingsheng ini terlihat biasa saja.
" Sayang, banyak pasang mata yang memperhatikan kita! " Celetuk Xingsheng tiba-tiba membuat Xishi cepat-cepat melepaskan lengannya.
Xishi tercengang, ucapan macam apa yang baru saja di dengarnya sampai rasanya wajah Xishi mulai terbakar. Di samping itu seseorang dari luar mencoba menyerang di antara Xishi dan Xingsheng.
Melihat hal itu dengan cepat Xishi mendorong tubuh Xingsheng menjauh, lalu menendang tangan yang membawa pedang itu hingga membentur pintu. Sebelum wajahnya terlihat Xishi dengan cepat meraih lehernya lalu membantingnya ke lantai. Tangannya yang menekan leher itu perlahan melonggar, mata Xishi menangkap sosok yang menyerang tadi.
" Kakak kedua? " gumam Xishi pelan.
" Apa kau benar-benar ingin membunuhku? " tanya Qibo yang masih terbaring di lantai.
Xishi dengan cepat membantunya bangkit, terlihat Qibo yang masih mengatur nafasnya. Dia merasakan sendiri apa yang di rasakan oleh orang-orang yang sebelumnya mati di tangan Xishi.
" Tenagamu sekuat itu ya, tidak heran kau melakukan hal itu dengan mudahnya! " celetuk Qibo.
Xishi menunduk dengan rasa salah, namun dia tidak mengerti siapa yang sebenarnya dia serang.
" Sebenarnya kau ingin membunuh siapa? " tanya Xishi lirih dengan pandangan menatap ke bawah.
Qibo menatap heran ke arah Xishi, lalu melihat ke arah laki-laki yang sebelumnya di cekik oleh Xishi.
' Apa aku membuatnya menjadi merasa bersalah? Dia terus menunduk? ' batin Qibo bertanya-tanya.
" Laki-laki ini.. "
Belum sempat berbicara Xishi membawa Qibo keluar dari kedai teh dan pergi dari sana, Qibo sempat melihat laki-laki yang tidak di kenalnya itu tersenyum ke arahnya.
__ADS_1