
..." Tidak ada alasan untuk tetap tenang, berhati-hatilah, karena kejutan datang di saat yang tak terduga. Ketika tiba saatnya, Dewa pun tidak akan berani campur tangan dalam skenario ku! "...
...- Zhu Zhishu -...
Keadaan menjadi tak terkendali saat semua tamu beserta Tuan Rumah menyadari hal yang mungkin akan terjadi. Mereka kompak meminta Zhu Zhexuan untuk menindaklanjuti hal ini, namun mereka juga tidak bisa menentang Zhu Zhishu. Di lihat dari cara berfikir, pengetahuan dan kekuatannya, dia terlihat lebih bisa di andalkan di bandingkan dengan Zhexuan.
Meskipun begitu, Zhishu akan tetap memberi muka pada Zhexuan dengan sedikit bersandiwara. Namun, tentu saja itu tidak gratis, Zhexuan akan tetap membayar kepada Zhishu untuk hal ini.
" Lantas, jika hal ini terjadi, siapa yang patut di salahkan? " tanya Gaochang.
" Tidak ada yang perlu di salahkan, selama hal itu belum terjadi, aku masih bisa mencegahnya! " jawab Zhishu.
" Kalau begitu, bisakah Nona melakukannya? " tanya Cheng Lu.
" Bai Long Qishi kedua, apa kau bersedia membuat kesepakatan denganku? Bagaimanapun juga kau telah kalah sedangkan segel sudah tidak akan mempan untuk tubuhku! " ujar Zhishu.
' Zhu Zhishu ini benar-benar licik! Sengaja sekali mempermalukan aku sampai memojokkan ku seperti ini? Aku pasti akan membalas mu! ' gumam Zhexuan dalam hati.
" Baiklah, aku akan mengabulkan satu permintaanmu, sebagai gantinya kau membantu manusia-manusia ini menyelesaikan satu permasalahan mereka! " ujar Zhexuan.
" Setuju! "
Zhexuan dan Zhishu berjabat tangan sebagai tanda kalau mereka sama-sama bersepakat. Lalu, keduanya mulai memberikan apa yang diinginkan.
" Katakan kepadaku, apa yang kau inginkan? " tanya Zhexuan.
" Mendekat lah! " ujar Zhishu.
Zhexuan sedikit membungkukkan badannya karena memang tubuh Zhishu lebih pendek darinya. Lalu, Zhishu mulai membisikkan apa yang dia inginkan.
" Sudah ku duga.. Sekarang giliran kalian, masalah apa yang ingin kalian hentikan? " tanya Zhexuan.
Lalu, tamu-tamu itu saling berunding untuk memutuskan hal yang tepat, yang pastinya terlalu mustahil untuk mereka selesaikan sendiri.
" Karena kami tidak memiliki kemampuan dalam dunia bawah, maka kami sudah memutuskan untuk menghentikan penyerangan dari Pasukan Pendekar Hantu.. Mohon Bai Long Qishi ketiga membantu.. " ujar Gaochang mewakili rekan-rekannya.
" Tentu, pastikan Kakak Kedua melakukannya lebih dulu, setelah selesai aku akan memeriksa sendiri untuk memastikan kalau kau sedang tidak mempermainkan aku! " ujar Zhishu.
" Kau pandai meremehkan seseorang.. " timpal Zhexuan.
" Baik, kesepakatan sudah di buat, masalahku sudah selesai! Jadi, aku akan pulang dan beristirahat! " ujar Zhishu.
" Heh, kemana kau pulang, orang ku bisa mengantarkan mu! " ujar Gaochang.
" Aku datang sendiri, pulang sendiri pun tidak masalah, Terimakasih atas perhatian Tuan Song, namun hal apa yang ingin Anda tanyakan? " tanya Zhishu.
" Heh, begini, apa Nona Zhu tahu bagaimana cara menghadapi organisasi pembunuh? " tanya Gaochang.
" Sayangnya aku tidak tahu, namun berdasarkan dengan apa yang terjadi semalam, aku melihat seseorang keluar dari jendela lantai empat lalu terjatuh ke bawah, satu orang yang merupakan anggota Pembunuh Yue tewas, sedangkan satu lainnya adalah Pemimpin Pembunuh Yue atau lebih di kenal Raja Yue.. Mungkin kalian bisa memeriksa setiap rumah bordil yang ada di ibukota! " ujar Zhishu.
Sebagian orang akan menganggap informasi itu menggantung dan belum selesai, namu orang yang paham akan langsung berfikir apa yang ingin di sampaikan oleh Zhishu melalui kalimat itu.
" Karena sudah selesai, Aku, Zhu Zhishu mohon pamit kepada para tamu dan Tuan Song beserta Tuan Muda Song.. Kedepannya mungkin kita tidak akan bertemu lagi, jadi jaga diri baik-baik.. Kejutan akan selalu datang di saat yang tak terduga.. " pungkasnya lalu pergi begitu saja.
Mereka semua kompak menatap kepergian Zhu Zhishu yang kian menjauh dari pandangan. Di samping itu, Yan Xun masih mencoba mencerna apa yang Zhishu katakan.
' Raja Yue melompat dari Jendela lantai empat, satu anggotanya tewas di tempat! Meski beruntung, seharusnya ada luka dan cidera berat di tubuhnya, Zhu Zhishu meminta kami untuk pergi ke setiap rumah bordil karena menganggap bahwa markas mereka tidak hanya satu, ketika satu markas terbongkar maka sisanya akan pergi ke markas lainnya karena tidak punya waktu untuk bergerak atau kabur lebih jauh! Pintar sekali! ' gumam batin Yan Xun.
" Paman Song, tolong izinkan aku berpatroli untuk memeriksa kembali jejak Pembunuh Yue, sesuai yang di katakan oleh Nona Zhu, Raja Yue terjatuh dari lantai empat, kemungkinan kaki atau lengannya akan patah meski jatuh di atas tubuh bawahannya.. " ujar Yan Xun.
" Waah, Kakak Xiao Xun sangat cepat, bolehkah aku ikut? " tanya Qinsong setelah memuji Yan Xun.
" Baiklah, aku akan mengizinkanmu pergi, namun aku tidak akan mengizinkan Fengyue keluar sebelum lukanya pulih! " jawab Gaochang.
" Eh, Paman, aku bahkan belum berbicara.. " ujar Fengyue.
" Belum berarti akan, patuh dan beristirahat lah! Xiao Xun aku menitipkan Qin Song kepadamu, jika dia berulah ikat saja lalu seret dia pulang! " ujar Gaochang yang seketika memecahkan suasana.
__ADS_1
" Ayah, apa aku terlihat seperti bocah Lima tahun dimata mu? " tanya Qinsong dengan raut wajah cemberutnya.
" Hm, kalau begitu aku akan pergi juga, namun aku butuh seseorang untuk memimpin jalan.. " celetuk Yan Xin.
" Tuan muda Yan, Hua'er siap menemanimu.. " ujar Hua menawarkan diri.
" Qibo juga akan ikut pergi, mohon Guru mengizinkan.. " ucap Qibo.
Para pemuda keluar untuk berpatroli, kecuali Song Qing Lian yang memang tengah sibuk mengurusi masalah internal sekte. Namun, sebelum itu, dirinya sempat memergoki Chen Li tengah memperhatikan Qinsong. Meski Qinsong nampak acuh kepada gadis itu, entah mengapa dirinya tidak terima saat Chen Li lebih memperhatikan Qinsong daripada dirinya.
Disaat yang lain berpatroli, para pemimpin mulai beristirahat setelah membahas masalah berat yang di tambah dengan masalah internal keluarga Dewa Pedang yang ternyata berkaitan dengan kehidupan manusia. Mereka memaklumi hal ini karena mungkin Dewa Pedang tidak ingin menambah beban pikiran para pemimpin klan hingga memutuskan untuk mengemban beban itu sendirian.
Walaupun berniat untuk menyelamatkan dunia manusia dari serangan makhluk dunia bawah, namun mereka juga keberatan karena Dewa Pedang justru mengorbankan kehidupan putri bungsunya demi menghentikan kegilaan dari Penguasa Alam Baka.
Padahal di lihat dari bibirnya saja, terlihat jelas kalau Zhu Zhishu sangat cantik dan sangat baik dalam beladiri. Berikut seni pedang yang indah dan elegan, kecepatan yang tak dimiliki oleh yang lainnya, yang mungkin Dewa Pedang pun tidak bisa menandinginya.
Siapa sangka kalau apa yang Zhishu tunjukan hari ini adalah didikan dari Zhu Zheyan, putra tertua Zhu Zhaoyang, Sang Dewa Pedang.
Hal itu menyadarkan Cheng pada satu hal, Zhu Zhishu berhasil mengembalikan nama baik Zhu Zheyan yang hampir di lupakan. Sekarang Zheyan bisa di kenal dengan baik dan di hormati sebagai putra tertua Zhu berkat Zhishu.
Tetapi, Cheng masih belum tahu mengenai rencana apa yang tengah di buat oleh putri kesayangannya. Mungkinkah mereka benar-benar tidak akan bertemu lagi, lalu bagaimana cara Cheng menjelaskan hal ini pada Qibo dan Hua. Meski sering sekali ribut saat dipersatukan, tetap tidak bisa di pungkiri kalau mereka saling menyayangi satu sama lain.
Kejadian ini pasti sangat mengejutkan Qibo dan Hua yang sejak awal tidak tahu kalau Feng sebenarnya adalah Zhu Zheyan. Meski tidak pernah membantah dan selalu menghormatinya sebagai Kakak Tertua, mereka tetap merasa bersalah karena tidak memperlakukannya dengan baik.
Zheyan dan Zhexuan kini tengah beristirahat, pernapasan Zhexuan terganggu setelah di cekik kuat oleh Zhishu. Namun, sudah sedikit lebih baik setelah di obati oleh Cheng. Sedangkan, Zhishu pergi dengan luka sayat di tangannya. Walaupun acuh, namun Zheyan sebenarnya merasa bersalah karena memberikan hukuman yang sampai meneteskan darah, sebagai gantinya dia juga menyayat lengannya sendiri agar merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan oleh adik kesayangannya.
Di penginapan Xishi, seseorang mengetuk pintu kamarnya, saat di buka Xishi mendapati Qibo berdiri di depan pintu. Tanpa mengatakan apapun, Qibo langsung memeluk tubuhnya. Xishi yang terkenal juag tidak bisa menolaknya, dia membalas pelukan yang mungkin selanjutnya tidak akan dia dapatkan lagi.
" Oh, Zhan Xishi, mengapa aku begitu merindukanmu? " gumam Qibo.
Xishi tidak menjawab, wajahnya tenggelam dalam dekapan hangat kakaknya itu. Setelah pelukan di lepas, barulah Xishi melihat sosok Zhiyu di belakang Qibo.
" Tuan Muda Luo? " gumam Xishi.
" Benar, kau masih mengingatku adik Zhan.. " ujar Zhiyu.
" Apa yang terjadi? Bukankah kakak pergi ke barat? Mengapa tiba-tiba berada di Ibukota dengan Tuan Muda Luo? " tanya Xishi.
" Saat kau pergi, Desa Luo mengalami kebakaran, beruntung tidak ada korban jiwa, saat ini mereka tengah dalam proses pembangunan ulang, berharap Adik Zhan bisa pulang dan membantu para wanita disana.. " ujar Zhiyu.
" Kebakaran? Siapa yang melakukannya? " tanya Xishi.
" Pembunuh Malam yang bekerja sama dengan Pendekar hantu. " jawab Zhiyu.
" PEMBUNUH MALAM?? " ujar Qibo dan Xishi serentak.
" Eh, ada apa? Mengapa begitu terkejut? " tanya Zhiyu.
" Tuan, namun Pembunuh Malam begitu keji, mereka tidak mungkin memerlukan bantuan Pendekar Hantu hanya untuk sekedar membakar sebuah Desa! Apa kejadiannya malam hari? " tanya Xishi.
" Sore.. " jawab Zhiyu.
" Meskipun sore, para hantu tetap tidak akan keluar selama matahari masih memancarkan cahaya! Apa itu masuk akal jika mereka yang melakukannya? " tanya Qibo.
" Kalian benar, mengapa hal ini tidak terpikirkan olehku? Adik Zhan, apa kau akan pulang? " tanya Zhiyu.
" Maaf, namun aku akan pergi berguru, jadi sepertinya aku tidak bisa kembali.. " jawab Xishi.
" Heh, dimana kau bergu--
" Nona, seseorang datang mencari mu.. " potong salah seorang pelayan.
Hal ini adalah kesempatan bagus untuk menghindari topik berat ini, Namun, Xishi tetap harus mengatakan sesuatu agar Zhiyu tidak menyelidikinya.
"Aku akan menemuinya.. " ujar Xishi.
Xishi melirik ke arah Qibo untuk mengisyaratkan agar dia mengatakan sesuatu yang bisa membantunya, beruntung Kakaknya sangat bisa di andalkan, jadi dia tidak perlu berlebihan memberi sebuah kode.
" Ini sudah tiga tahun, apa kau benar-benar ingin kembali? " tanya Qibo.
__ADS_1
' Sungguh di luar ekspektasi!! Sia-sia Author memujimu!! ' gumam batin Xishi.
" Keadaan menjadi sangat berbahaya untuk tinggal di kota maupun desa! Aku hanya bisa berlindung di bawah kungkungan guru, aku mohon Kakak Kedua mengizinkanku! " ujar Xishi sambil menjatuhkan lututnya untuk bentuk memohon.
' Heh, apa aku terlalu berlebihan? ' tanya Xishi dalam hati.
Qibo justru malah menatap sendu hal itu, dia menjadi khawatir akan kesehatan mental adik kesayangannya itu.
' Apa kau benar-benar sudah lupa? Meskipun kau pergi ke sana, kau tidak akan bisa menemuinya, karna beliau-- '
Qibo tak tahan dan langsung membantu Xishi berdiri lalu memeluknya.
" Kakak bodoh apa yang kau lakukan!!!! Bantu aku keluar atau aku akan menghancurkan masa depanmu!! " bisik Xishi penuh penekanan.
" Hah, jadi maksud mu adalah-- (berbisik)
" Kau benar, disini tidak aman, pergilah aku mengizinkanmu.. " ujar Qibo.
Xishi buru-buru melepaskan pelukannya lalu, langsung berpamitan agar bisa segera pergi dari hadapan Zhiyu yang seolah seperti mata pengintai baginya.
" Baiklah, karena seseorang sudah menunggu ku, jadi aku akan segera pergi! " ucap Xishi.
Setelah berpamitan, Xishi pun segera keluar dengan berlari kecil. Tingkahnya yang terlihat begitu kekanakan sangat memanjakan mata Qibo, namun tidak dengan Zhiyu. Zhiyu menatap tajam ke arah Qibo seolah tahu sesuatu.
" Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan? Apakah Xishi akan pergi ke Pembunuh Malam dan menjadi bagian dari mereka? " tanya Zhiyu.
" Heh, apa maksudmu? " tanya Qibo tidak mengerti karena insiden saat di Desa Luo benar-benar tidak ia ketahui.
" Saat itu Pembunuh Malam keluar dari kediaman mu lalu mengatakan kalau Xishi telah berkhianat! Bagaimana kau menjawabnya? " tanya Zhiyu.
" Tidak mungkin!! " balas Qibo.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Zhiyu pun melompat keluar untuk menghalangi Xishi.
Sedangkan di luar, Diwei Ling tengah menunggu Xishi dengan membawa kudanya. Diwei Ling menyapa sang Master dengan sebutan Weixian sebagai kode rahasia saat memanggil Sang Master dalam kondisi umum atau penyamaran.
^^^( Wéixiǎn ( 危險 ) - Bahaya )^^^
Namun, sebelum sempat Xishi menunggangi kuda, sebuah pedang mengarah ke arahnya beruntung dengan cepat Diwei Ling menariknya untuk menghindari serangan itu.
" Naga Hitam? " gumam Xishi.
Saat Xishi memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang menyerang, Xishi begitu terkejut saat mendapati ternyata Zhiyu bisa sangat berani melakukan itu.
" Jangan menyerang, jebakan! " ujar Xishi nyaris berbisik.
" Dimengerti! " jawab Zhiyu.
Zhiyu menarik kembali pedangnya sebelum sempat Xishi menyentuhnya, tatapan yang memandang seolah Xishi adalah makhluk rendahan begitu menghina dan menjengkelkan. Namun, saat ini Zhan Xishi adalah Zhan Xishi tidak ada alasan untuk menyangkal hal itu.
" Maaf, atas dasar apa Tuan Muda Luo menyerang ku? " tanya Xishi.
" Atas dasar pengkhianatan dan keterkaitan mu dengan Pembunuh Malam! " jawab Zhiyu mantap.
Perkataan itu seketika menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Qibo muncul mencoba untuk menengahi masalah ini namun Zhiyu melarangnya berbicara.
" Weixian " panggil Ling lirih.
" Bagaimana jika tidak hanya Pembunuh Malam? Bagaimana jika ku katakan aku adalah target dari tiga organisasi pembunuh? " tanya Xishi.
" A-Apa? Apa maksudmu? " tanya Zhiyu.
" Pertama, Aku hampir terbunuh oleh Rubah Pembunuh di desa Luo. Kedua, aku tengah di buru oleh Master Shi karena membantu menyelamatkan Tuan muda Song dari racun yang ada di tubuh Xiao Bian. Terakhir, hampir mati di tangan Pembunuh Yue karena menyelamatkan Tuan Muda Huang. Meskipun begitu aku bahkan tidak mendapat perlindungan apapun dari rekan sekte! Sudah seperti ini membuat hidupku semakin terbebani karena penghinaan, apa kau tidak punya hati?!! " ujar Xishi dengan tegas.
" Dasar Pembohong!! " Sarkas Zhiyu.
Merasa apa yang di katakan Xishi adalah omong kosong, Zhiyu yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya, tak ragu untuk menghunuskan pedangnya ke arah Xishi. Seketika semua orang berteriak histeris melihat hal itu.
" ZHAN XISHI!!! " teriak Qibo.
__ADS_1