
Keesokan harinya, Qibo pergi ke kediaman Huang untuk menemui Yanxun. Namun, setelah sampai di tempat, salah satu pengawal mengatakan kalau Yanxun tidak tinggal di kediaman Huang.
Yanxin yang mendengar adanya tamu yang datang pun pergi ke depan dan mendapati Qibo disana. Tahu akan tujuan Qibo yang datang untuk menemui kakaknya, Yanxin pun dengan senang hati membawanya menemui sang kakak.
Yanxun bersama dengan kedua putranya tinggal di sebuah kediaman yang ada di dalam akademi Klan Báisè de lǎohǔ. Tidak heran jika Qibo tidak bisa menemuinya di kediaman Huang.
Selama perjalanan keduanya hening, Qibo tidak terbiasa mendahului pembicaraan dengan orang yang tidak terlalu dekat dengannya, termasuk Huang Yan Xin ini.
Meskipun demikian, Huang Yanxin dikenal sebagai pangeran baik hati dan ramah. Senyumnya tak pernah pupus dari wajahnya, dia memiliki suara yang lembut dan paras yang rupawan. Berbeda dengan Huang Yanxun yang lebih terlihat tegas dan gagah. Sorot mata yang dingin dan selalu mendahului kepentingan kota dan keluarganya.
Sesampainya di kediaman, Qibo tidak bisa langsung bertemu dengan Yanxun. Dia harus menunggu sebentar selagi Yanxin memanggil kakaknya untuk pulang dan menemuinya.
Kediaman ini terlihat lebih sederhana dengan nuansa tradisional yang terlihat nyaman di mata. Tidak ada kemewahan yang mencolok, kebanyakan dari barangnya adalah barang antik.
Lama memanjakan mata dengan kenyamanan yang ada di dalam ruangan ini, seorang anak kecil berlari menuju pintu keluar sambil berteriak hingga sedikit membuat Qibo terkejut.
" Ayaaaahh.. " panggilnya sambil berlari.
Qibo mengekori kemana perginya anak itu sampai dia memeluk sepasang kaki panjang. Itu adalah Yanxun, Qibo terkejut karena anak itu memanggil Yanxun dengan sebutan "Ayah" hingga tanpa dia sadari ada seorang anak lagi yang rupanya tengah mengejar anak kecil yang tengah memeluk Yanxun.
" Ada apa, Yuze? " tanya Yanxun setelah berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan putranya.
Anak kecil itu hanya menunjuk ke arah anak remaja yang berdiri sedikit jauh darinya. Qibo masih menatap bocah yang sedang di tunjuk oleh Yuze.
" Kau mengganggu kakakmu lagi, ya? " ucap Yanxun.
" Sudahlah, masalah ini serahkan padaku, jangan membuat tamu mu menunggu lebih lama lagi.. " ujar Yanxin.
Mendengar hal itu, Yanxun hanya menghela nafas sebelum akhirnya menyuruh kedua putranya untuk ikut bersama Yanxin.
Jika di lihat dari raut wajahnya, Qibo baru mengetahui soal ini. Rumor yang ia dengar adalah Yanxun yang hanya memiliki seorang putra, istrinya menjadi korban pembunuhan sekitar lima tahun yang lalu. Tidak lama setelah tragedi itu terjadi gadis muda mulai menggila dan memimpin pembunuh bayaran. Namun, putra tertua Yanxun termasuk ke dalam pertanyaan Qibo, di usianya yang menginjak masa remaja memberi sedikit kesimpulan kalau dia bukan anak kandung Yanxun.
Yanxun mengajak Qibo menuju ke tempat yang lebih terbuka dan nyaman, karena anak-anak di rumah mungkin pembahasannya akan sedikit menjadi masalah jika sampai di dengar oleh mereka.
" Lama tidak bertemu, Tuan Muda Zhan.. " ujar Yanxun.
" Yah, seperti itu kiranya.. Maksud kedatangan ku ke kota ini adalah untuk menemuimu, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan, jadi, aku harap kalau kau bisa berterus-terang dan terlibat dalam perbincangan mendalam hari ini.. " balas Qibo.
" Pertama-tama, bisakah kita santai dan tidak terlalu formal? " tanya Yanxun.
" Tentu.. " balas Qibo singkat.
" Jadi, apa yang ingin kau pertanyakan? " tanya Yanxun.
" Ini, mengenai Shingming Qianfan.. " jawab Qibo.
Yanxun membelalakkan matanya, selama ini tidak ada yang pernah menyebut nama itu. Qibo mengenal nama tersebut, ada kemungkinan kalau dia juga mengenal Master Shi, itulah yang ada dalam pikiran Yanxun.
" Aku tidak akan bertanya darimana kau mengenal nama itu, namun aku bisa mengetahui kalau kau juga mengenal gadis yang selalu bersamanya enam tahun silam.. " ujar Yanxun.
" Kau akan menceritakan mengenai kedekatan Shingming dengan gadis itu, sebagai balasannya aku akan menjawab pertanyaan mu mengenai hal-hal tentang gadis itu yang tidak kau ketahui.. " balas Qibo.
Kesepakatan terbentuk, Yanxun menghela nafas sebelum akhirnya membuka kembali lembaran dari saksi kisah antara guru dan muridnya.
Enam Tahun Yang Lalu..
Saat hujan deras menyelimuti malam, seorang gadis berusia empat belas tahun tersesat di sebuah hutan dengan luka tusuk di bagian perutnya.
Rintihan akan dingin dan rasa sakitnya membuatnya terisolasi dalam bisingnya suara hujan yang begitu deras. Tubuhnya yang menggigil membuatnya sulit untuk bergerak, di tambah darah yang tak kunjung berhenti mengalir keluar dari perutnya.
Di ujung keputusasaannya, rasa sakit nya kembali muncul dan menambah penderitaannya.
" Tato naga ini.. Menyebalkan!!!!! " gerutunya.
Gadis itu mencoba bangkit dan melangkah, mencari jalan keluar dari labirin hutan yang sangat menyiksa. Namun, rasa sakitnya semakin lama semakin menggerogoti tenaganya, keseimbangan dan kesadarannya perlahan memudar dan menumbangkan kembali tubuhnya.
Saat ia pikir kalau dia sudah mati, dia malah merasakan kehangatan menyelimuti dirinya. Perlahan, dia mulai membuka matanya, samar, dia melihat sekitar dan menyadari dia berada di sebuah ruangan yang sangat asing.
" Kau sudah bangun? " suara perempuan terdengar begitu lembut di telinga nya.
" Dimana?? " hanya kata itu yang keluar dari mulut si gadis itu.
" Kediaman Shingming.. "
Wanita cantik yang memiliki suara yang lembut itu tersenyum begitu si gadis melihat ke arahnya.
__ADS_1
" Namaku Shingming Nuan.. Siapa namamu? " tanya Nuan.
^^^(Shingming Nuan -^^^
^^^Istri Huang Yan Xun)^^^
Gadis itu terdiam. Nuan mengerti, dan tidak memaksanya untuk mengatakan namanya. Sesuai dengan pesan kakaknya, dia juga akan membiarkan gadis itu untuk beristirahat lebih lama.
" Kakakku memintaku menjagamu, kau tertusuk di bagian perut namun jangan khawatir aku sudah mengobatinya, untuk sementara beristirahatlah dulu sampai luka mu benar-benar membaik.. " ujar Nuan lembut.
Nuan beranjak lalu melihat ke arah gadis itu sambil tersenyum.
" Jika kau membutuhkan sesuatu, kau boleh memanggilku, kamarku ada di sebelah.. " ujar Nuan sebelum akhirnya melangkah.
" Tunggu-- "
" Iya? "
" Apa kau yang menyelamatkan ku? " tanya si gadis lirih.
" Aku hanya mengobati lukamu, kakakku yang menyelamatkan mu, jika dia sudah datang, aku akan memberitahunya kalau kau sudah sadar.. " jawab Nuan.
Gadis itu hanya menatap Nuan tanpa ekspresi, tubuhnya masih terasa begitu lemah hingga untuk duduk pun dia masih belum kuat. Dia hanya bisa menggerakkan matanya untuk menatap sekitar. Saat matanya terpejam, tiga wajah laki-laki dan satu wajah seorang gadis muncul dalam bayang nya.
' Kak Qibo, Kak Hua, Kak Feng, Limei.. Kalian pasti sedang mencari ku sekarang.. Aku bahkan tidak tahu dimana tepatnya kediaman Shingming berada.. Namun, suhu disini cukup dingin, mungkinkah ini pegunungan? ' gumam si gadis.
Di waktu yang bersamaan, dua orang pemuda tengah menuju ke kediaman Shingming yang ada di Gunung Qiyi. Dengan duduk di atas kudanya, keduanya nampak gagah layaknya seorang pangeran.
" Qianfan, kau terus diam semenjak kita naik gunung, apa kau merajuk karena aku akan membawa Nuan pulang bersamaku? " tanya Yanxun.
Qianfan terkekeh mendengar celetukan Yanxun yang terdengar konyol baginya
" Jangan samakan aku dengan Shizui.. " balas Qianfan.
^^^(Shingming Qianfan -^^^
" Aku akan membawa Sizhui juga jika dia menolak untuk berpisah dengan Nuan.. " ujar Yanxun.
" Ah, kau salah pengertian, dia sebenarnya lebih tidak rela jauh dengan Yuze di bandingkan dengan Nuan.. " balas Qianfan.
" Sepertinya begitu.. " gumam Yanxun.
Sisa perjalanan mereka mulai diisi dengan perbincangan tidak bermanfaat. Namun, saat jarak mereka semakin dekat dengan Kediaman Shingming, Yanxun malah masuk ke dalam pembahasan yang serius.
" Ngomong-ngomong, Qianfan.. Kapan kau akan menikah? " tanya Yanxun.
Qianfan terdiam.
" Pertanyaan ini terlalu tiba-tiba.. " jawab Qianfan dengan rona merah di wajahnya.
" Heh, mengapa begitu mengulur waktu, gadis yang kau selamatkan itu lumayan juga lho, tidak mau di jadikan istri saja? " goda Yanxun.
" Xiao xun, apa kau tidak lihat, dia masih begitu muda aku tidak mungkin mengacaukan masa mudanya.. " jawab Qianfan sambil menggerutu.
" Heh, jadi kau mau menunggu sampai waktu yang cukup untuk menikahinya? Wah, kau inisiatif sekali.. " goda Yanxun sekali lagi .
" Huang Yan Xun!!! "
Melihat raut wajah Qianfan yang kesal, Yanxun pun langsung memacu kudanya lebih cepat agar bisa lari dari ledakan kekesalan Qianfan. Setelah sampai di kediaman, segera dia bersembunyi di balik tubuh istrinya yang ternyata sudah menunggu mereka sejak tadi.
" Kakak, gadis itu sudah sadar.. " ujar Nuan.
Qianfan turun dari kudanya lalu melangkah masuk menuju ke kamarnya. Yanxun dan Nuan juga mengikutinya dari belakang.
Setelah pintu terbuka, Qianfan melihat gadis itu tengah duduk di tepi tempat tidur, mata mereka saling bertemu dan bertatapan dalam waktu yang cukup lama. Namun, hal itu segera di sadarkan oleh tangisan anak kecil yang berasal dari kamar sebelah.
" Yuze.. " gumam Yanxun sebelum akhirnya berlari ke arah sumber suara, disusul oleh sang istri, Nuan.
Qianfan masuk dan membiarkan pintunya agar tetap terbuka, dia mengambil langkah tanpa ragu dan terus mendekatkan diri dengan gadis itu.
" Bagaimana keadaanmu? " tanya Qianfan dengan suara lembut.
__ADS_1
" Tidak baik, namun tidak seburuk saat itu.. " balas si gadis.
" Siapa namamu? " tanya Qianfan.
" Aku akan memberitahumu, namun bisa kah kau tidak memberitahu mereka? " tanya si gadis.
" Baik.. "
" Zhu Zhishu.. Aku rasa itu adalah nama asliku.. " ujar gadis itu.
" Kau bermarga Zhu? " tanya Qianfan.
Zhishu mengangguk pelan, wajahnya masih sama tanpa ekspresi.
" Apapun yang kau tahu mengenai marga itu, ku harap kau tidak mengatakannya padaku. Lebih tepatnya aku sedang menghindari kenyataan dan menjalani kehidupan sebagai Zhan Xishi.. " ucap Zhishu.
' Aku tidak mengerti apa maksudnya.. Namun, jika tidak salah marga Zhu adalah marga terhormat, dia mengatakan ingin hidup sebagai Zhan Xishi, apa maksudnya dia telah di buang atau di asingkan? Dari matanya aku mampu melihat kebencian yang terpendam.. ' gumam batin Qianfan.
" Kau kakak wanita tadi? Jika benar, maka kau adalah orang yang menyelamatkan ku.. Terima Kasih.. " sambung Zhishu.
Sudut bibir Qianfan terangkat saat mendengar hal itu.
" Aku ingin menanyakan hal ini padamu, apa yang terjadi padamu, darimana kau mendapatkan luka tusuk itu? " tanya Qianfan.
" Pembunuh Yue.. Orang dengan pakaian serba hitam, topi caping dan masker hitam, dia membawa busur panah di punggungnya, dia menusukku menggunakan sebuah belati.. " jawab Zhishu mendetail.
" Mengapa bisa sampai terlibat dengan Pembunuh bayaran? Kau menyinggung mereka? " tanya Qianfan.
" Daripada itu, bolehkah aku bertanya, berapa lama aku tak sadarkan diri? " tanya Zhishu.
" Ku rasa sepuluh hari.. " jawab Qianfan dengan wajah polosnya.
' Mati!! Zhan Hua akan menggantung ku di atas pohon kalau begini.. ' gumam batin Zhishu.
Zhishu tertunduk, memikirkan alasan apa yang akan ia katakan pada ketiga kakaknya, terlebih dimatanya, Zhan Hua yang merupakan kakak ketiga terlihat lebih menakutkan dari kedua lainnya yang lebih tua.
Suasana kamar menjadi hening, Qianfan terdiam karena tidak tahu harus mengatakan apalagi, sementara itu dia juga tidak tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Zhishu hingga tertunduk begitu lama.
Tak lama setelah itu, Yanxun dan Nuan datang untuk berpamitan. Yanxun juga benar-benar membawa Shizui bersamanya.
" Qianfan, sepertinya kami harus pergi sekarang agar tidak terlambat.. Kau tidak perlu mengantar.. " ujar Yanxun.
" Heh, bukankah seharusnya besok? " tanya Qianfan.
" Cuaca sedang bagus hari ini, lebih cepat lebih baik bukan? " timpal Nuan.
" Oh, iya.. Ngomong-ngomong aku pinjam kudamu untuk menarik keretanya, besok akan ku kembalikan jika tidak hujan. " ujar Yanxun.
Qianfan tidak bisa berkata-kata, dia hanya membalas lambaian tangan Shizui kecil sebagai ungkapan sampai jumpa. Jika semua pergi, itu artinya Qianfan akan tinggal berdua bersama Zhishu, terlebih kuda yang ingin Qianfan pinjamkan pada Zhishu malah di pinjam oleh Yanxun.
' Adik ipar tengil itu benar-benar merencanakan hal ini!! Sempurna sekali! Awas saja kau, Xiao Xun... ' ucap Qianfan dalam hati.
Sementara itu, Zhishu yang tengah memikirkan alasan tidak sempat mendengar perbincangan mereka karena rasa sakit itu kembali muncul. Kali ini batuk saja terasa sangat menyakitkan baginya. Zhishu menekan dadanya yang begitu sakit sambil terus menerus batuk, hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.
Qianfan yang tersadar langsung membalikkan tubuhnya dan melihat Zhishu yang sudah terduduk di lantai dengan darah yang mengotori area bibirnya.
" Heh, ada apa denganmu? Mengapa tiba-tiba?? " tanya Qianfan panik.
Zhishu yang tidak sengaja menyentuh tangan Qianfan, merasakan hangat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, dengan nada lirihnya dia memohon pada Qianfan.
" Bisakah kau.... Memelukku? " tanya Zhishu.
" A-Apa??? "
Qianfan tentu saja terkejut, di saat seperti ini dia malah minta di peluk di bandingkan di obati.
" Ku mohon.. " pinta Zhishu lirih.
Karena bingung harus melakukan apa, dengan sedikit keraguan, dia pun memeluk gadis yang terduduk di hadapannya. Zhishu pun membalas pelukan itu sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang laki-laki yang menyelamatkan nyawanya.
" Ini.... Rasa dingin ini seolah menusuk sampai ke organ dalam ku, terasa begitu menyakitkan.. Aku telah lama tersiksa hingga rasanya hampir mati setiap kali rasa itu datang.. Namun, kehangatan yang ada dalam dirimu, entah mengapa bisa mengusir siksaan itu dalam diriku, sekali lagi, kau menyelamatkan ku.. " ucap Zhishu sebelum akhirnya kembali tak sadarkan diri dalam pelukan Qianfan.
Qianfan yang mendengar hal itu menjadi semakin penasaran, dengan berani dia melihat ke punggung Zhishu dan menemukan sebuah tato naga putih yang indah.
" Kau... Benar-benar Bai Long Qishi? " gumam Qianfan.
__ADS_1