Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley

Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley
Pengkhianat Sekte Àn Shān


__ADS_3

Setelah memasuki wilayah hutan Luoxia, Qibo menghentikan perjalanan mereka sejenak untuk sekedar mengobati adik perempuannya, Xishi. Meski sebenarnya tidak benar-benar menyembuhkan, setidaknya bisa mengurangi rasa sakit Xishi sampai beberapa waktu ke depan.


Rasa sakit itu datang dari sebuah tato naga di punggungnya, sebuah rasa dingin yang amat sangat sampai menimbulkan rasa sakit. Terkadang rasa sakit itu seperti melukai organ dalamnya yang membuat Xishi sampai batuk bahkan sampai muntah darah. Sejauh ini belum di temukan penawar yang tepat untuk hal ini, Qibo sendiri beranggapan kalau ini adalah penyakit bawaan sejak lahir.


Selama ini hanya sang ayah yang tahu cara mengobatinya, namun saat mencoba memberitahu, Xishi menghentikannya dan tidak mau mendengarnya. Dia memilih menikmati rasa sakitnya dan terus bersama dengan ayahnya dari pada memilih sembuh namun harus berpisah dengan ayahnya, hal itu juga akan membuatnya berpisah dengan sekte rahasia yang ia dirikan bersama sang kakak.


" Bagaimana? Sudah lebih baik? " Tanya Qibo.


Xishi mengangguk.


" Kakak, cari orang yang menyebutku, bawa kepalanya padaku! Jika ada yang menyebutnya lagi, langsung bunuh saja! " Pinta Xishi.


" Tak perlu kau meminta, aku akan langsung melakukannya! " Balas Qibo.


" Master, kalau boleh biar Limei saja yang pergi " ujar Limei.


" Kau mau pergi? " Tanya Xishi.


" Benar! "


" Kalau begitu, pergilah, tak perlu membawakan kepala, cukup bunuh semua yang menyebutku! " Ujar Xishi.


" Baik! " Balas Limei lalu beranjak.


Limei kembali ke ibukota hari itu juga, tidak ada keraguan di matanya, meski Qibo sedikit khawatir namun melihat sikap Limei yang percaya diri di tambah watak adiknya dia tidak mampu mencegahnya.


" Kakak tidak pergi? " Tanya Xishi.


" Eh, bukankah Limei saja yang pergi? " Balas Qibo bingung.


" Siapa yang menyuruhmu pergi bersama Limei? " Tanya Xishi semakin membingungkan Qibo.


" Lalu kau mau memintaku pergi kemana? " Tanya Qibo.


" Gunung Qiyi, apa kau akan membiarkan anak gadisku itu pergi sendirian? "


" Ah baiklah, berapa banyak pasukan yang di butuhkan? " Tanya Qibo.


" Dia hanya membunuh orang kecil, kirim dua orang saja untuk mengikutinya diam-diam! Bawa satu orang kelas atas dan satu orang kelas bawah! Ingat, mengikutinya diam-diam.. " jawab Xishi.


" Baiklah, aku akan pergi, jadi adikku ini harus sudah sampai di rumah sebelum aku pulang! " Ujar Qibo seraya menunggangi kudanya.


" Siap, Tuan Muda Zhan " balas Xishi sambil memposisikan tangannya kedepan.


" Aih, kau terlalu sungkan, Nona Zhan. Pergi dulu! " Pungkas Qibo yang ikut membalas salam dari adiknya itu.


" Hati-hati! "


Qibo sudah pergi, kini tinggal Xishi yang masih terduduk di bawah pohon persik. Sesaat dia berpikir mengenai orang-orang yang bergosip itu, dia bertanya-tanya siapa yang berani menguping nya dan bahkan tidak tertangkap oleh orang-orangnya. Padahal saat itu dia jelas berada di ruang temu keluarga Li, seharusnya kediaman itu sudah di kelilingi oleh Pembunuh Malam. Sangat tidak mungkin orang menguping.


" Mungkinkah pengkhianatnya ada di antara orang ku? Bagaimana bisa aku kecolongan seperti ini? " Gumam Xishi.


Xishi beranjak dan menunggangi kudanya lalu segera pergi. Hatinya bertanya-tanya memutari hal yang sama, jika saja benar pengkhianat itu, Xishi tentu saja akan sangat murka.


Sesampainya di kediaman Zhan, Xishi segera turun lalu pergi, dia bahkan tidak menyadari keberadaan ayahnya yang sedang minum teh di teras. Dia begitu terburu-buru pergi ke arah ruang belajar.


Xishi menuliskan sesuatu di dua buah kain kecil, isi yang berbeda juga untuk orang yang berbeda. Setelah itu dia keluar dan memanggil merpati hitamnya untuk mengirimkan surat itu ke Limei dan Qibo. Setelah memastikan merpati itu sudah terbang menjauh, Xishi menurunkan pandangannya dan baru sadar ayahnya tengah memperhatikannya sejak tadi.


" Ayah.. " panggilnya lirih lalu mendekati ayahnya.


" Masalah mendesak seperti apa yang membuatmu sampai tidak melihat ayah disini? " Tanya Zhan Cheng.


Zhan Cheng, seorang pemimpin Desa Luo yang sangat di percaya karena kebajikan dan kerendahan hatinya. Dia adalah ayah dari Qibo dan Xishi. Meski Xishi bukan anak kandungnya, namun dia menjadikan Xishi sebagai putri kesayangannya, bahkan perhatiannya pada anak gadisnya itu sering kali membuat Qibo iri. Selain Qibo, dia juga memiliki seorang anak pertama dan ketiga, yakni Zhan Feng dan Zhan Hua.


Zhan Feng saat ini tengah berguru di Klan Hēilóng, tepatnya di Gunung Luo, sedangkan desa Luo sendiri berada tepat di kaki gunung. Sedangkan Zhan Hua, dia di kirim ke Utara untuk berguru di Klan Fènghuáng, di Kota Tang.


" Ayah, nama Bai Long Qishi tersebar! Xishi menduga adanya pengkhianat dalam Sekte Àn shān! " Ujar Xishi.

__ADS_1


Sekte Àn Shān adalah sebuah sekte rahasia yang terdiri dari 1500 murid dalam tiga tingkatan dan di pimpin oleh Master Shi. Sekte itu mempelajari beberapa strategi yang membutuhkan sedikit ilmu hitam untuk menggunakannya. Selain itu, mereka juga ahli dalam berbagai racun dan pengobatan. Hal menarik lainnya, mereka semua termasuk anggota Pembunuh Malam.


" Duduk dulu, lalu ceritakan perlahan! " Ujar Zhan Cheng.


Xishi pun duduk lalu mulai menceritakan apa yang terjadi saat mereka akan pergi meninggalkan ibukota. Zhan Cheng mendengarkannya dengan seksama, mencoba mencermati ceritanya.


" Ayah, kakak tertua dan kakak ketiga mengetahui kalau Bai Long Qishi adalah aku, namun mereka berdua tidak tahu kalau sekte Pembunuh itu aku yang mendirikannya! " Ucap Xishi khawatir.


" Tenanglah, ada orang lain yang di sebut Bai Long Qishi. Jadi mereka tidak akan langsung membenarkan kalau dia adalah kamu! " Ujar Sang ayah mencoba menenangkan.


" Namun, saat anak dari pemimpin sekte Phoenix ini mendengar hal itu, dia terlihat sangat marah, mungkinkah Bai Long Qishi yang lain lebih kejam? Bagaimana jika dia mencari ku? " Tanya Xishi.


" Ini untuk pertama kalinya kau ketakutan, sebenarnya apa yang membuatmu takut? " Tanya Zhan Cheng.


" Tidak di percaya oleh orang yang aku percayai, bukan hanya takut, aku khawatir ketakutan itu akan menjadi benci tak terobati! " Jawab Xishi.


" Sudahlah, bukankah Qibo dan Limei sedang mengurusnya? Kau tenangkan dirimu sebelum Zhan Feng pulang.. " ujar Zhan Cheng.


" Kakak tertua akan pulang? Tapi, bagaimana ayah bisa tahu kalau kakak kedua dan Limei sedang mengurusnya? " Tanya Xishi.


" Seharusnya pertanyaan mu itu menanyakan tentang apa yang tidak di ketahui oleh ayah di dunia ini! " Balas Zhan Cheng.


" Ayah mulai lagi! " Gerutu Xishi.


Zhan Cheng hanya tertawa menanggapi perkataan anaknya, setelah lama bersenda gurau dia pun mengajak anaknya untuk masuk karena hari semakin gelap. Namun, saat mereka baru mengambil beberapa langkah sebuah suara yang familiar menyapa mereka dari belakang.


" Apa kedatangan Putra Tertua Zhan tidak akan di sambut baik? Mengapa sudah beranjak sebelum aku datang? " ..


Zhan Cheng dan putri kesayangannya berbalik, melihat siapa yang datang petang ini. Mata Xishi berbinar saat tahu siapa yang datang, dia langsung berlari menghampiri lalu memeluknya.


" Kakak.. " panggilnya setelah sampai di pelukan sang kakak.



^^^( Zhan Feng - Putra Tertua Zhan Cheng, Murid Klan Hēilóng )^^^


" Apa ini tindakan awal untuk menyangkal perkataan ku tadi? " goda Feng.


" Apa yang kau katakan, aku tidak pernah menyangkal, namun kedatangan mu yang tak terduga membuatku tidak sempat mempersiapkan penyambutannya! " balas Xishi.


" Omong besar! " timpal Feng.


Feng mendekat ke ayahnya, memberi salam lalu memeluknya. Setelah dua tahun lamanya mereka akhirnya di pertemukan kembali, padahal Feng hanya berguru di gunung sedangkan tempat tinggal mereka sendiri berada tepat di kaki gunung. Namun, wilayah Klan Hēilóng itu sangat tertutup dan tidak bisa sembarang orang untuk masuk. Jadi, hanya orang-orang tertentu saja yang boleh memasuki wilayah itu. Sebenarnya Zhan Cheng pernah mengajak Xishi pergi ke gunung Luo sekali, namun kedatangan mereka hanya untuk menyelesaikan urusan desa dan tidak menyempatkan mereka untuk bertemu dengan Zhan Feng.


Mereka bertiga masuk ke dalam untuk makan malam, sejak saat itu Feng sadar akan sesuatu yang kurang.


" Dimana Qibo? " tanya Feng.


" Aku disini! " sahut Qibo yang baru saja memasuki rumah.


Tanpa menunggu lama, dia pun langsung duduk di salah satu kursi kosong di sana. Feng menatap lekat adiknya itu, mencoba menebak dari mana saja dia.


" Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu? " tanya Qibo memasang tatapan takut kepada kakaknya itu.


" Biar ku tebak, kau tidak datang dari rumah besi, kau datang dari tempat yang lain, dari mana itu? " tanya Feng penuh curiga.


" Aku? Hal itu pun kau sampai menatapku begitu lekat? Aku baru saja pulang dari makam! " jawab Qibo enteng.


" MAKAM? " teriak Xishi saking terkejutnya.


" Ada apa? Bulan hantu semakin dekat, orang-orang banyak yang memperbaiki kuburan keluarganya, aku hanya membantunya! " balas Qibo cepat.


" Kau harusnya cuci tangan dulu bodoh! " ujar Xishi setelah memukul bahu Qibo.


Qibo pun membelalakkan matanya lalu beranjak dan segera pergi.


" Zhan Xishi, kau seharusnya tidak berkata demikian, dia kakak kedua mu, kau harus menghormati nya seperti kau menghormati kakak tertua dan kakak ketiga! " ujar Zhan Cheng lembut.

__ADS_1


" Maaf, terbiasa bersama membuat kami seperti seorang teman, Xishi keterlaluan, tidak akan mengulanginya lagi! " ucap Xishi merasa bersalah.


" Tidak apa-apa, ini hanya masalah kecil tidak perlu begitu serius! " ujar Feng.


Sedangkan Qibo, tengah menggerutu sambil mencuci tangannya. Dia benar-benar melupakan sesuatu, namun untung hal ini masih bisa di tutupi.


' Indera penciuman Kakak Tertua memang sangat tajam, tidak heran jika dia mencurigai ku, namun apakah dia bisa mencium aroma gunung Qiyi juga? Kalau iya, semuanya bisa gawat! ' gerutu batin Qibo.


Setelah selesai mencuci tangan, Qibo kembali dan mulai makan malam. Ayah, kakak dan adiknya ternyata menunggunya selesai sebelum menyentuh makanannya. Setelah Qibo kembali barulah mereka semua makan.


Setelah makan malam selesai, Qibo mencari waktu yang tepat untuk membicarakan masalah Gunung Qiyi dengan Xishi, namun sepertinya akan sulit karena Kakak Tertua yang tidak tahu menahu tentang Pembunuh Malam sudah pulang.


Pembunuh malam di dirikan setahun yang lalu, meski begitu muda namun keberadaannya sangat cepat di ketahui oleh ibukota dan begitu di takuti oleh orang-orang. Xishi menargetkan ibukota untuk mengakui keberadaan mereka, meskipun begitu rahasia setidaknya mereka tahu kalau Pembunuh Malam ini sangat berbahaya.


Terlebih kerahasiaan ini tidak di ketahui oleh dua anggota keluarga lainnya. Jadi, Qibo dan Xishi harus berhati-hati dalam membahas sekte rahasia ini.


Malam ini Xishi terlihat mencari sang ayah, dia menemukan ayah tengah bersiap untuk beristirahat. Mengetahui hal itu, Xishi berniat kembali dan menemui nya besok pagi, namun sebelum Xishi pergi Zhan Cheng memanggilnya lebih dulu.


" Zhan Xishi.. " panggil Zhan Cheng setelah membuka pintu kamarnya.


" Ya, Ayah.. " sahut Xishi seraya berbalik.


" Mencari ku? Ada apa? " tanya Zhan Cheng.


" Hanya ingin menanyakan Guzheng milikku.. " jawab Xishi.


" Ada di dalam, ambil lah.. " ujar Zhang Cheng.


Wajah Xishi berseri, dia segera masuk untuk mengambilnya lalu keluar setelah berterimakasih pada ayahnya.


' Kau begitu kejam saat menggunakan jubah hitam mu, namun di dalam rumah ini kau malah bersikap seperti anak kecil, sangat pandai membenahi kepribadian.. ' gumam Zhan Cheng sambil menatap kepergian anaknya itu.


Xishi sendiri pergi ke teras depan, di bawah pohon persik itu dia mulai memetik Guzheng nya. Nada yang sama persis dengan yang di dengarnya malam itu. Qibo mendengar alunan nada itu, dia langsung pergi ke sumber suara dan melihat Xishi di sana. Namun, saat dia hendak menghampiri Xishi, kakak tertuanya, Feng, sudah lebih dulu berjalan mendekati Xishi. Melihat hal itu, Qibo pun mengurungkan niatnya.


" Nona cantik, apa yang membuatmu begitu sedih dan menyampaikan alunan nadanya lewat melodi Guzheng? " tanya Feng.


" Kakak, Kau mendengar nya? " tanya Xishi sedikit terkejut.


" Bahkan mungkin penduduk desa ini bisa mendengarnya kenapa aku yang berada di tempat yang sama tidak bisa? Sekarang katakan dan jangan mengalihkan pembicaraan! " ujar Feng.


" Sebenarnya melodi ini aku dengar dari alunan seruling, aku hanya mengubahnya ke alat musik ini! " balas Xishi.


" Seruling? Apa pria yang meniup seruling itu sangat tampan? Sampai-sampai kau tidak bisa melupakan alunan nadanya? " tanya Feng yang lagi-lagi menggoda.


" Aih, Kenapa Kakak selalu saja menggoda ku? Lagi pula saat itu jarak kami sangat jauh, aku hanya tertarik pada alunan nadanya saja! " jawab Xishi.


" Benarkah? Hati-hati nanti jatuh cinta pada peniup nya! " goda Feng lagi.


" Kakak, hati-hati ya, takutnya aku tidak bisa mengontrol emosiku dan mengeluarkan pedang ku tanpa sadar! " balas Xishi.


" Lihatlah, kau gadis manis namun begitu menakutkan! " pungkas Feng.


Keduanya pun tertawa dan terus saling menjahili lewat ucapan, bahkan Qibo yang berniat pergi pun jadi menguping dan ikut tertawa kecil mendengarnya.


Disisi lain, di Ibukota Jian Yi, Limei tengah memburu orang-orang itu, dia juga menjalankan perintah sesuai dengan pesan yang di sampaikan.


" Siapa namamu? Jika kau mengenal anggota Pembunuh Malam, aku akan melepasmu dan membiarkan mu hidup! " ujar Limei sambil mengarahkan ujung pedangnya ke leher seorang laki-laki yang sudah babak belur.


" A-aku.. Hanya seorang teman dari Xiao Bian.. Dia adalah anggota tingkat atas, dia memberitahukan semua informasi kepadaku.. tolong jangan bunuh aku! " ujarnya ketakutan.


" Siapa lagi yang mengetahui hal ini? " tanya Limei dingin.


Laki-laki itu menunjuk ke arah tiga orang lainnya yang sudah terbunuh lebih dulu, Limei menatap sekilas dan orang itu sudah berusaha kabur. Namun, tetap tidak akan berguna, Limei dengan cepat melemparkan pedangnya dan mendarat tepat di tengkuk leher orang itu. Orang itu tewas seketika, Limei mencabut pedangnya lalu segera pergi dari tempat itu.


Namun, saat dia keluar dari jalan kecil tempatnya membunuh, Nie Fengyue menghadangnya sambil menodongkan pedangnya. Dua orang muncul dari belakang Fengyue, saat Limei mengira orang itu adalah pengawal yang di bawa Fengyue, mereka berdua malah menyuruh Limei pergi.


" Pergilah! Kami akan mengurusnya! " ujar salah seorang berjubah hitam.

__ADS_1


' Pembunuh Malam? tidak dia bawa adik seperguruan! 'gumam Limei.


__ADS_2