Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley

Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley
Pertemuan Zhan Xishi dan Liu Xingsheng


__ADS_3

Xishi pulang dan sampai begitu waktu mulai petang, telat beberapa menit saja, kecurigaan akan timbul dalam hati Feng. Beruntung Xishi sudah membersihkan diri terlebih dahulu, jadi bau darah dan aroma Gunung Qiyi seharusnya tidak tercium.


Seperti biasa, saat malam tiba keluarga kecil itu akan makan malam bersama, namun kali ini gadis cerewet itu tidak lagi banyak bicara. Dia banyak diam semenjak pulang dari Gunung Qiyi, hal ini sedikit mengganggu Feng dan Qibo yang tidak terbiasa dengan sikap dinginnya ini.


" Xishi, apa ada masalah? " Tanya Feng.


" Tidak ada " jawab Xishi singkat.


Feng teringat akan sesuatu, dia mengeluarkan dua kendi arak Jianyi yang di pesan oleh Xishi sebelum dia berangkat ke Ibukota. Namun, raut wajah Xishi tetap sama meski bibirnya sempat tersenyum setelah mengucapkan terimakasih. Bahkan setelah menerima araknya, dia langsung beranjak dari kursinya.


" Eh, mau kemana? " Tanya Qibo.


" Kakak tertua sudah memberikan araknya, bukankah seharusnya aku sudah boleh minum? " Tanya Xishi yang membuat kedua kakak dan ayahnya tidak bisa berkata-kata lagi.


Xishi pergi keluar rumah, sedangkan tiga lainnya masih menikmati makan malam mereka. Sadar suasana hati Xishi sedang tidak baik, mereka pun tidak berani mengganggu dan membuatnya semakin merasa tidak baik lagi.


Xishi keluar, dia berjalan menelusuri jalanan desa yang mulai sepi, padahal bulan hantu ini belum tiba, namun orang-orang begitu awal menjaga sikapnya. Meskipun begitu, Xishi tetap terus melangkah menuju pintu keluar Desa, setelah sampai barulah dia bergerak cepat melewati hutan, menuju Ibukota Jianyi untuk mengawasi anak didiknya.


Jarak yang terlalu jauh memang cukup merepotkan, namun untungnya Xishi tidak sampai terlambat. Dia sampai begitu orang-orang itu mulai menggantung. Sambil menikmati arak dalam genggamannya, Xishi mengamati gerak-gerik mereka dari atas atap rumah penduduk.


" Di atas atap di bawah sinar rembulan, apa yang sedang di lakukan oleh nona cantik di tengah malam seperti ini? " Tanya seorang laki-laki dengan kipas di tangannya, Liu Xingsheng.


Xishi menoleh sekilas, namun kembali memperhatikan orang-orang di depan gerbang kediaman Li.


" Pembunuh Malam? Siapa yang mereka gantung kali ini? " Tanya Xingsheng mencoba untuk turun.


Namun, dengan cepat Xishi menghentikan langkah Xingsheng untuk turun dan ikut campur.


" Jangan ikut campur dalam urusan orang lain! " Ujar Xishi.


Xingsheng menoleh dan melihat Xishi dalam jarak sedekat itu.


' Mata ini.. ' gumam batin Xishi menyadari sesuatu.


Xishi segera menyadarkan dirinya sendiri lalu melepas tangannya dari bahu Xingsheng. Sekejap, orang-orang itu sudah tidak ada di depan gerbang lagi.


" Nona ini menghentikan ku apa kau juga ada hubungannya dengan mereka? " Tanya Xingsheng.


Xishi membalasnya dengan tatapan datar, tanpa berlama-lama lagi, dia pun pergi melompat dari atap ke atap. Namun, siapa sangka kalau Xingsheng akan mengikutinya. Xishi yang merasa jengkel pun secara mendadak berbalik dan menyerang Xingsheng. Serangan itu dengan mudahnya di hindari Xingsheng.


Pertarungan tak terduga terjadi di atas atap, Xishi yang memberikan serangan dengan tenaganya, Xingsheng malah menghindarinya dengan gemulai, beladiri yang tidak di pahami Xishi dari mana asalnya. Hingga akhirnya Xishi mulai kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh dari atas atap, Xingsheng dengan cepat menariknya dan membawa tubuh Xishi ke dalam pelukannya.


Lagi-lagi kontak mata menyita waktu yang terus berjalan, Xishi cepat sadar dan segera mendorong tubuh Xingsheng menjauh.


' Dari sekte mana dia berasal? Jari-jari lentik dan gerakan gemulai? Terlalu asing! 'Gumam batin Xishi sambil memeluk tubuhnya sendiri.


" Kau cantik tapi juga kejam! " Gumam Xingsheng sambil menunjukan senyumnya.


" Katakan apa maumu? Kenapa mengikutiku? " Tanya Xishi.


" Kau belum menjawab pertanyaan ku! " Ujar Xingsheng santai.


Xishi menghela nafas sebelum akhirnya mulai memberikan jawaban.


" Pembunuh Malam adalah sekumpulan orang mematikan! Mereka tidak akan melepaskan siapapun yang mencoba mencari tahu tentang mereka! Dengan begitu seharusnya kau berterimakasih kepada ku, jika tidak mungkin saja kau jadi yang selanjutnya! " jawab Xishi.


" Namun, aku masih penasaran, apa yang telah di lakukan Keluarga Li sampai menyinggung Pembunuh Malam? " Ujar Xingsheng terdengar seperti tengah menguji.


" Entahlah! " Balas Xishi acuh.


Selang beberapa detik sejak kata itu keluar, beberapa orang dengan pakaian aneh dan topeng rubah mengepung mereka di atap. Xishi dan Xingsheng sampai berdiri berdekatan sambil saling membelakangi.


" Apa ini Pembunuh Malam? " Tanya Xingsheng nyaris berbisik.


" Jelas bukan! Pembunuh Malam tidak menggunakan topeng rubah! " Balas Xishi ikut berbisik.


" Benar! Kau bisa bertarung? " Tanya Xingsheng.


" Menarik! Bagaimana kalau mencobanya? " Balas Xishi.

__ADS_1


" Gadis tengik! " Timpal Xingsheng.


Sekitar sepuluh orang dengan topeng rubah mengepung mereka, Xishi bertarung di atap sedangkan Xingsheng di bawah. Masing-masing menghadapi lima orang, Xishi menggunakan pedangnya dan Xingsheng hanya mengandalkan kipasnya.


Namun, semakin banyak yang terbunuh orang-orang itu semakin banyak. Saat itu, Xingsheng kembali ke atap dan menemui Xishi.


" Orang-orang ini, boneka? " Ujar Xishi.


" Benar! " balas Xingsheng sebelum akhirnya merangkul pinggang Xishi.


Dia melemparkan kipasnya untuk menyerang orang-orang itu, sedangkan dirinya sendiri membawa Xishi pergi dari sana. Saat itu Xishi sadar, tubuh laki-laki yang merangkulnya begitu dingin, dia sempat berfikir kalau penyakit yang di deritanya juga ternyata di alami oleh orang lain. Namun, saat melihat raut wajahnya dia terlihat tenang dan tidak seperti orang kesakitan meski kulitnya sangat pucat.


Ditengah perjalanan mereka berhenti lagi, karena segerombolan orang yang sama tengah menghadang jalan mereka. Kali ini mau tidak mau, mereka harus lebih serius lagi dalam bertarung setelah sebelumnya menganggap ada kesalahpahaman.


Di tepi danau yang tenang, pertarungan kembali terjadi, saat itu Xingsheng menyadari beladiri yang dikuasai Xishi tidak tercatat dalam Klan manapun. Dia cukup ahli dalam kemampuan beladiri dan pedangnya.


Namun, kondisi tubuh Xishi saat itu tidak membantu, rasa sakit itu kembali muncul dan membuat Xishi kehilangan sebagian besar tenaganya. Xishi berlutut dengan pedang yang tertancap ke tanah untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Namun, kali ini rasa sakitnya lebih dari sebelumnya, dia memuntahkan darah selang beberapa menit setelah berlutut.


' Apa sekarang adalah waktunya? Apa pada akhirnya aku mati dengan cara hina seperti ini? Kakiku sudah terasa berat! ' gumam batin Xishi.


Saat orang-orang itu mencoba menyerang Xishi, sebuah kipas berputar dan menggorok mereka satu persatu. Saat itu Xishi pun melihatnya dengan jelas.


' Laki-laki itu.. ' gumam Xishi sambil menengok ke arah Xingsheng berada.


Saat Xishi lengah, orang lain menyerangnya dan membuat tubuhnya terlempar ke danau. Xingsheng yang mengetahui hal itu pun sangat marah, dia mulai membabi buta orang-orang itu hingga tak tersisa. Disisi lain,


' Sial! Aku tidak bisa berenang dalam kondisi seperti ini! 'batin Xishi.


Saat Xishi mulai kehilangan pandangannya, dia melihat sosok laki-laki yang tidak di kenalnya itu menyelam dan menghampirinya. Xingsheng tentu tidak akan diam saja saat Xishi tak kunjung muncul ke permukaan air, dia ikut terjun ke air dan menyelamatkan Xishi.


Pagi harinya, Xishi terbangun dan mendapati dirinya berada di sebuah kamar. Kepalanya agak pusing, pandangannya masih sedikit remang. Dia mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang ada sebelum akhirnya seseorang menutup jendela kamar.


" Sudah bangun? " tanya suara laki-laki.


' Suara ini cukup familiar! ' Gumam batin Xishi.


Xishi mengubah posisinya menjadi duduk, perlahan dia memperjelas penglihatannya, dugaannya benar, lelaki yang sama seperti semalam.


" Kau sengaja membuatku berhutang budi? " tanya Xishi dingin.


" Tidak juga, namun membiarkan gadis mati tenggelam setelah bertemu denganku sepertinya tidak baik! " balas Xingsheng.


" Begitu ya, kalau begitu aku akan mengingat budi ini, tunggu waktu yang tepat untuk membalasnya! " ujar Xishi.


Xishi merapikan bantalnya dan bersiap untuk melanjutkan tidurnya, namun seketika ia tersadar akan sesuatu. Belum ada dua detik kepalanya menyentuh bantal dia kembali terbangun dan melihat ke arah pakaiannya. Lalu menatap datar ke arah Xingsheng yang masih duduk ditempat yang sama.


" Tunggu, kau menolongku semalam? " tanya Xishi.


" Benar! " balas Xingsheng enteng.


" Lalu, bajuku, kau juga yang ganti? Kau sudah melihatnya?? Semuanya?? " tanya Xishi lagi.


Sesaat wajah Xingsheng memerah, dirinya menjadi salah tingkah namun terlihat berusaha mengontrolnya.


" Ekhemm, menurutmu? " balas Xingsheng.


Xishi memejamkan matanya rapat-rapat, kedua tangannya mengepal kuat mencoba menahan emosinya.


" Bagaimana? " tanya Xishi lagi.


" A-Apa?? " Xingsheng mulai gugup dan tidak bisa mengendalikan dirinya.


Xishi meraih leher Xingsheng lalu mendorongnya hingga terjatuh ke tempat tidur, kemudian dia menindihnya dengan posisi tangan masih mencekik leher Xingsheng.


" Bagus tidak? " tanya Xishi nyaris berbisik.


Xingsheng melawan dan mengubah posisinya hingga berbalik, Xishi berada di bawahnya. Lengan bawahnya menahan leher Xishi hingga dia tidak bisa bergerak lagi.


" Kau mau jawaban jujur atau bohong? Bagaimanapun juga aku adalah pria normal, melakukan itu sambil menahannya tentu saja terlalu berat, bahkan sampai sejauh ini kau tidak mengucapkan terima kasih sedikit pun! " balas Xingsheng dengan suara beratnya.

__ADS_1


Xishi bersusah payah menelan salivanya saat itu, wajahnya seperti terbakar, namun tenaga orang ini sangat kuat. Menindihnya sampai dia tidak bisa bergerak sedikitpun, namun sesuatu yang aneh muncul di benak Xishi.


" Master!!! Makananmu sud-- "


Pintu tiba-tiba di buka dan seorang laki-laki masuk dengan begitu semangat. Membuat orang di dalam terkejut dan segera membenarkan posisi dengan saling berjauhan. Namun, setelah itu dia buru-buru keluar lagi dan menutup pintu.


" Ah, maaf aku tidak tahu!!!?? " teriak Bei Liang.



^^^( Bei Liang - Orang kepercayaan^^^


^^^Liu Xingsheng )^^^


Begitu Liang keluar, suasana malah menjadi canggung antara Xishi dan Xingsheng. Bahkan Xishi pun lama sekali untuk bangkit dari posisinya, mereka berdua diam dan saling membisu hingga Xingsheng memecahkan keheningan dengan alasannya.


" A-aku akan turun, rapihkan bajumu, makan dulu sebelum pergi! " ujar Xingsheng terbata sebelum akhirnya berlari keluar kamar.


" Tentu saja, siapa yang mau tinggal lama dengan laki-laki cabul seperti mu! " gerutu Xishi saat Xingsheng keluar.


Namun, baju yang di berikan Xingsheng ini terlalu feminim, dia tidak nyaman dengan warna merah muda yang di pakainya, lantaran semua baju yang sering di pakainya hanya ada dua warna. Putih sebagai penduduk biasa desa Luo dan Hitam sebagai peringatan tanda bahaya.


Meskipun begitu, tidak ada pilihan lain, Xishi akan membuat pengecualian untuk hari ini. Dia beranjak dari duduknya lalu segera keluar kamar, saat keluar dia baru menyadari dirinya berada di sebuah penginapan dan bukan kediaman. Setidaknya itu lebih baik daripada mendapat tatapan aneh dari orang dalam.


Xishi mulai menuruni tangga dan melihat Xingsheng dan laki-laki yang sebelumnya masuk ke kamar tanpa permisi. Tatapan tajam Xishi di takuti oleh Liang, namun tidak dengan Xingsheng. Xishi berjalan menghampiri mereka dan hanya untuk berpamitan.


" Maaf sudah merepotkan dan juga terima kasih kepada..


" Liu Xingsheng.. " ucap Xingsheng.


" ah Terima kasih untuk Tuan Muda Liu karena sudah menyelamatkan hidupku, seperti yang aku bilang aku akan membalas budi pada waktunya, karena tidak bisa berlama-lama lagi, aku akan pamit! " ujar Xishi.


Tanpa menunggu jawaban apapun Xishi langsung berbalik, namun dugaannya selalu tepat, Xingsheng menghentikannya untuk menanyakan namanya. Hal ini menjadi kesempatan untuk melakukan penyebaran rumor baru.


" Tunggu, siapa namamu.. ? " tanya Xingsheng.


" Nama sungguh tidak perlu, namun kau harus ingat ini, Aku, Bai Long Qishi! " ujar Xishi tanpa berbalik.


Setelah mengucapkan hal itu Xishi melanjutkan langkahnya dan segera pergi dari penginapan itu. Langkahnya di barengi dengan obrolan orang-orang yang mulai menanggapi perkataannya tentang Bai Long Qishi.


Di satu sisi, Xingsheng tersenyum mendengar jawaban Xishi. Meski tidak mendapatkan namanya, namun Xingsheng sebenarnya sudah tahu jelas siapa gadis yang baru saja di tolong nya.


" Master, dia menyebutkan Bai Long Qishi, bukankah jelas dia berbohong? " tanya Liang.


" Bagaimana jika itu kebenarannya? " tanya Xingsheng.


" Eh, bagaimana cara Master mengetahuinya? " tanya Liang lagi.


" Tubuh Bai Long Qishi punya keistimewaan yang lebih menonjol dari manusia biasa, bisa di katakan dia adalah manusia setengah dewa! " ujar Xingsheng.


" Manusia setengah dewa? " gumam Liang.


" Benar, ketika ilmunya lebih tinggi dari beladiri dan ilmu pedang Klan manapun! " ujar Xingsheng.


" Apa mereka memiliki sihir seperti kita? " tanya Liang.


" Seharusnya begitu! " balas Xingsheng mengecewakan.


Di sisi lain, begitu Xishi melewati pintu, pakaian feminim berwarna merah muda sekarang berubah menjadi pakaian putih lengkap dengan masker. Meski tak berniat menguping, ternyata rencana semalam berhasil dan membuat semua orang membicarakan ' Master Shi ', walaupun sedikit mengganggu telinga, setidaknya mereka tidak menyebut Bai Long Qishi sebanyak kemarin.


Waktu masih pagi, sekarang tujuan Xishi adalah memeriksa kembali ke Kediaman Li, melihat kehebohan seperti apa yang ada di sana, bagaimanapun juga, Pelaku yang sebenarnya akan kembali ke tempat yang sama.


" Membunuhmu kemarin membuatku lupa akan sesuatu, sekarang aku akan datang sebagai master mu dan turut berdukacita atas kematian Murid Tingkat Atas, Li Xiao Bian! "


Banyak pasang mata yang tertuju pada Xishi, namun pandangan Xishi tetap fokus pada jalan. Lagipula, pedangnya tidak ia tunjukan secara terang-terangan, seharusnya tidak ada yang berfikir kalau dirinya berbahaya.


Belum sampai di depan gerbang saja sudah terlihat banyak orang yang mengerumuni, dari kejauhan sudah terlihat kalau mayat Xiao Bian masih tergantung di depan gerbang. Ternyata di dunia ini masih banyak makhluk tak berhati nurani selain Master Shi.


' Anak yang malang, Master datang untuk memberikan pemakaman yang layak untuk mu, setidaknya setelah ini, pergilah dengan tenang, temui keluarga mu! ' gumam batin Xishi dengan senyuman terukir di balik maskernya.

__ADS_1


__ADS_2