Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley

Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley
Perasaan yang Tak di Sadari


__ADS_3

Xishi dengan cepat mengambil kembali masker yang tertancap di anak panah itu, melihat maskernya rusak, dia mengambil anak panahnya lalu melompat ke atap tempat dimana pemanah itu berada.


Namun, saat dirinya sampai, pemanah itu melarikan diri, meskipun begitu, selama bayangannya tertangkap oleh mata Xishi, bukan berarti dia akan selamat. Tanpa memerlukan busurnya, Xishi melemparkan anak panah itu dan mengenai kepalanya. Pemanah itu jatuh terguling dari atap, hal itu membuat Xishi harus turun kembali ke bawah.


Xishi turun dan memeriksa nadi dari pemanah itu, tidak ada detak nadi maupun hembusan nafas. di pergelangan tangannya ada tato bulan sabit, sebuah identitas yang di miliki oleh anggota Pembunuh Yue.


Tatapan jengkelnya perlahan menjadi amarah, Xishi membunuh tanpa menggunakan masker adalah kali pertamanya, setelah sebelumnya dia selalu menggunakan masker ataupun topeng.


Xishi mencabut kembali anak panah yang tertancap di kepala orang itu, lalu menyeret tubuhnya. Namun, saat langkahnya belum jauh, sebuah suara lagi-lagi menghentikannya.


" Siapa kau sebenarnya? " suara yang sama seperti sebelumnya.


Tanpa berbalik, Xishi balik bertanya kepada laki-laki itu.


" Lantas, siapa kau terus mengikutiku? " tanya Xishi.


" Huang Yan Xun.. " sahutnya.


' Ternyata adalah dia, Xiao Xun.. ' gumam batin Xishi.


Tanpa menjawab lagi, Xishi melanjutkan langkahnya sambil menyeret tubuh si pemanah itu. Yanxun masih mengikuti setiap langkah yang di ambil oleh Xishi, hingga akhirnya Xishi tiba-tiba berbalik.


" Berhenti menonton dan bereskan dia!! " tegas Xishi menggunakan suara yang kuat hingga membuat Yanxun terkejut.


Namun, sebelum Yanxun berbicara, seseorang memukulnya dari belakang dan membuatnya kehilangan kesadarannya. Orang itu adalah salah satu dari mata-mata yang di tugaskan Xishi, salah satu sari 50 teratas. Setelah melakukan hal itu, dia langsung berlutut di hadapan Xishi lalu meminta maaf.


" Maaf, Master. A-Ling lalai.. " ujar Ling.


" Sudahlah, biarkan si bodoh itu, bantu aku memenggal si dungu ini! Kita akan menunjukkan betapa tidak berguna nya para Pembunuh Yue itu! " ujar Xishi terdengar kesal.


" Baik! "


Malam semakin larut, Xishi tidak pergi ke penginapan karena memang tidak ada yang buka saat malam tiba. Dia memilih bermalam di bawah sinar bulan, di temani satu kendi arak yang masih penuh. Xishi menatap masker sutra di tangannya, seketika dirinya merasa jengkel tanpa sebab, merasa sesuatu tengah di sayangkan olehnya.


" Haaaahh.. " Xishi menghembuskan nafas beratnya.


Matanya masih terpaku pada masker sutra itu.


' Benar, masker ini adalah masker yang di berikan oleh Liu Xingsheng. Aku memilih masker ini sampai mengabaikan masker yang di berikan oleh Qinsong. Sekarang dia rusak, aku sangat kesal! ' gerutu batin Xishi.


Lagi-lagi Xishi menghela nafasnya, dia memikirkan tentang apa jadinya jika besok wajahnya terekspos dan di saksikan banyak orang. Sedangkan dia memiliki tiga identitas yang saling bertolak belakang.


" Sedang apa? " tanya seseorang.


Xishi memutar kepalanya, menoleh ke arah sumber suara dan melihat sosok pria yang sangat ia kenal disana. Laki-laki itu berjalan perlahan lalu duduk di samping Xishi dan menatap ke arah bulan yang menggantung di langit.


" Mau di lihat sampai kapan? " tanyanya.



^^^(Liu Xingsheng)^^^


Pertanyaan itu menyadarkan Xishi yang larut dalam lamunannya, dia dengan cepat mengalihkan perhatiannya. Dirinya menjadi sangat canggung saat tanpa sadar terus memperhatikan Xingsheng. Namun, saat ini tidak seperti biasanya, kehadiran laki-laki itu tidak di sadari oleh Xishi seperti biasanya.


Xingsheng melirik ke arah kain yang berada dalam genggaman Xishi, tangannya dengan berani meraih kain yang ternyata masker sutra yang pernah ia berikan pada gadis di sebelahnya itu. Namun, masker sutra itu sudah rusak dengan robekan di bagian tengahnya. Xingsheng melirik sekilas ke wajah Xishi yang terlihat sedikit murung.


" Kau sedih karena tidak ada masker lain, atau sedih karena masker ini pemberianku? " tanya Xingsheng usil.


Xishi yang pandai menyembunyikan situasi pun dengan angkuhnya memalingkan wajahnya dan bersikap santai.


" Jika tidak ada masker lain, aku akan mengurung diri di dalam kamar sampai masker lain tiba, jika itu adalah masker pemberianmu dan kebetulan rusak di saat aku tidak punya masker lain, maka biarlah! Untuk apa sedih? " gumam Xishi.


" Membual! " cibir Xingsheng.


Keduanya sama-sama terdiam setelah itu, Xishi yang berada dalam kecanggungan nya dan Xingsheng yang menikmati pemandangan indah yang mengalahkannya rembulan, Zhan Xishi dengan wajah cantiknya.


" Sudah mau pagi, kau tidak kembali ke penginapan? " tanya Xingsheng.


" Memangnya aku memberitahumu kalau aku menginap? " balas Xishi.


" Kalau begitu ikutlah denganku! " ajak Xingsheng.


" Kemana? "


" Jika kau disini kau butuh masker, namun jika kau di dalam kamar kau tak perlu memakai masker! " ujar Xingsheng.


Mengingat situasinya saat ini, Xishi pun menerima tawaran Xingsheng, jika bukan karena masker, Xishi akan menolak ajakan Xingsheng saat ini. Namun, dia sudah begitu percaya pada laki-laki ini meski belum mengetahui jelas asal-usulnya. Bagi Xishi, Xingsheng adalah seorang teman yang bisa ia percaya saat ini.

__ADS_1


Sejenak, Xishi mengingat tentang laki-laki yang bernama Yanxun itu, wajahnya yang tampan dengan postur tubuh yang gagah membuat Xishi terus mengalihkan pandangannya. Xishi berharap dia tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki itu lagi.


Sedetik kemudian, Xishi menepis pemikiran itu dan mendapati dirinya sudah sampai di depan kediaman, tak sebesar kediaman Zhan namun dari luar saja terlihat begitu mewah. Xingsheng mengantarkan Xishi ke salah satu kamar yang ada, Xishi merasa pusing karena sebagian besar dekorasinya mendominasi warna emas dan merah.


" Kau boleh menggunakan kamar ini, kamarku ada di seberang, kalau kau memerlukan sesuatu boleh datang kesana.. " ujar Xingsheng.


Saat Xingsheng berbicara, pandangan mata Xishi malah turun dan berhenti tepat di bibir Xingsheng. Ingatan itu muncul begitu saja dan membuat wajah Xishi memerah, hatinya masih bertanya-tanya tentang apa maksud dari kejadian hari itu.


" Wajahmu memerah, kau demam? " tanya Xingsheng.


Tangan Xingsheng tak ragu untuk menyentuh dahi Xishi hingga simbol teratai di dahinya perlahan muncul. Hal itu membawa kepanikan tersendiri untuk Xingsheng, saat teratai merah yang ada di dahi Xishi muncul, secara otomatis tanda yang ada di dahinya pun akan muncul. Namun, sebelum hal itu terjadi, Xingsheng langsung mengambil tindakan.


" Xishi, bisakah kau menutup matamu? " pinta Xingsheng.


" Hah? " bentuk keheranan Xishi.


" Sebentar saja.. " ujar Xingsheng pelan.


Xishi pun menurut dan menutup matanya, dengan ragu-ragu Xingsheng mencium Xishi. Tetapi, siapa yang akan menyangka kalau Xishi akan membalas hal itu. Xingsheng membelalakkan matanya saking terkejutnya, namun tidak sampai melepasnya. Ciuman itu perlahan menjadi ******* yang lembut, tangan Xishi tanpa sadar merangkul tubuh Xingsheng.


Saat melihat tanda itu sudah kembali lenyap, Xingsheng melepaskan pautannya, Xishi terkejut saat mendapati tangannya sudah melingkar di tubuh Xingsheng. Dia dengan cepat menarik kembali tangannya, namun Xingsheng malah tertawa kecil menanggapi tingkah lucu Xishi.


" Kemana pandanganmu tertuju? Aku disini! " ujar Xingsheng.


Sepasang tangan Xingsheng meraih kedua bahu' Xishi, membuat pandangan Xishi kembali melihat ke arahnya. Tatapan Xingsheng yang dalam membuat Xishi larut.


" Apa kau sudah merasakannya? " tanya Xingsheng.


" Apa maksudmu? " tanya Xishi dingin seperti biasanya, meski sudah tertangkap basah tengah malu-malu.


" Sudah menyukaiku? " tanya Xingsheng.


" Mengapa aku harus menyukaimu, dungu! Keluarlah, aku ingin tidur! " ujar Xishi.


" Baiklah, katakan kepadaku saat kau menyadarinya, karena aku sudah menyadarinya lebih dulu! " pungkas Xingsheng.


Senyumnya terukir di wajahnya sebelum melangkah keluar dari kamar, Xishi masih terpaku di tempat yang sama sebelum akhirnya kakinya melemas dan nafasnya terengah-engah.


" Dia mengatakan itu dan mencoba membuatku menjadi bodoh! Ah, jantungku, tolong tenanglah.. " gumam Xishi.


" Berikan padaku, kalian kerjakan hal lain.. "


" Baik! "


Suara laki-laki itu jelas adalah suara Xingsheng, jika suara wanita itu adalah pelayan, mengapa Xishi tidak melihat mereka semalam.


Suara pintu di ketuk, hal itu membuat Xishi tersenyum konyol karena merasa ternyata laki-laki ceroboh seperti Xingsheng masih memiliki sedikit dari sopan santunnya.


" Masuklah, aku sudah bangun.. " ujar Xishi menanggapi hal itu.


Xingsheng masuk dengan tenang, tak lupa juga dia menutup kembali pintunya, karena rahasia terindahnya ada di dalam kamar ini.


" Kapan kau bangun? " tanya Xingsheng sambil meletakkan sebuah nampan berisi satu set pakaian.


" Baru saja.. " jawab Xishi.


" Kalau begitu, mandilah, setelah itu makan bersamaku, aku akan menunggumu " ujar Xingsheng sebelum akhirnya pergi.


Xingsheng tidak butuh jawaban dari Xishi, karena perkataan yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak memberikan Xishi pilihan. Meski begitu, Xishi sama sekali tidak merasa terkekang atau apapun sejenisnya, dari lubuk hatinya ada sebuah kenyamanan yang membuatnya merasa dia akan baik-baik saja selama bersama dengan Xingsheng.


' Mungkin, seharusnya aku menyadari hal ini lebih awal, bahwa aku sebenarnya.. Menyukaimu.. '


Setelah beberapa saat, Xishi sudah siap dengan pakaian gantinya, Xingsheng juga ternyata memberikan Xishi masker yang sama persis seperti sebelumnya. Setelah itu, Xishi keluar dan mendapati seorang dayang tengah berdiri di depan kamarnya.


" Nona, Master menunggumu.. Izinkan aku mengantar Nona.. " ujar dayang itu sambil terus menunduk.


" Baik, tolong ya " sahut Xishi.


Xishi mengikuti langkah dayang itu sampai tiba di sebuah ruangan, ada Xingsheng dan pelayan laki-laki yang memang selalu berada di sampingnya. Xishi lupa siapa namanya, namun wajahnya sangat ia kenal.


Xishi masuk dan duduk berhadapan dengan Xingsheng, hanya terhalang meja yang penuh dengan makanan saja. Xingsheng mengangkat tangannya sebagai isyarat kepada para pelayan untuk keluar, tak terkecuali Bei Liang. Pintu di tutup, makan saja sampai berada di tempat tertutup seperti ini. Di ruangan itu hanya ada Xishi dan Xingsheng saja, tidak ada yang lain selain mereka.


" Bukalah.. " celetuk Xingsheng.


" Hah? "


" Apa kau juga menggunakan masker saat makan? " tanya Xingsheng memperjelas.

__ADS_1


Xishi yang sempat merasa ambigu pun akhirnya mengerti, alasan di balik apa yang di lakukan oleh Xingsheng saat ini. Tanpa banyak berpikir, Xishi pun membuka maskernya. Makan mereka berjalan dengan tenang, namun sedikit hal yang membuat Xishi terganggu.


" Sudah puas melihatnya? " gumam Xishi.


" Belum, sebentar lagi.. " balas Xingsheng.


" Setelah ini aku akan pergi mencari Limei, terimakasih atas penginapannya, lagi-lagi kau membuatku berhutang budi! " ujar Xishi dingin.


Xingsheng yang sejak tadi memasang senyuman jadi tertawa kecil mendengar celotehan Xishi.


" Kau berpikir terlalu banyak, cepat atau lambat kau akan menjadi istriku, ingat itu! " balas Xingsheng percaya diri.


Xishi tak menanggapi hal itu dengan serius meski Xingsheng sudah mengatakannya berkali-kali.


" Apa yang membuatmu begitu percaya diri? " tanya Xishi.


" Kau tidak tahu? Kau dilahirkan untuk menjadi kekasihku, kau sudah bertemu denganku sekarang, kemanapun kau pergi, aku adalah rumah tempatmu kembali.. " jawab Xingsheng.


Xishi tercengang.


" Tidak ada yang bisa mengambil mu dari ku, jika itu adalah kau yang berusaha melepaskan diri, pada akhirnya kau akan tetap kembali padaku. Kau boleh menganggap hal ini adalah lelucon dariku, namun kau bisa mengingat apa yang aku katakan hari ini, saat kau sadar, aku selalu berada di tempat yang sama untuk menunggumu.. " ujar Xingsheng.


Xishi merasa janggal, dia dengan cepat beranjak dan pamit pada Xingsheng dengan alasan yang sama, dia perlu mencari Limei. Namun, sebelum Xishi melangkah keluar, Xingsheng kembali berbicara padanya.


" Panggil aku saat kau butuh bantuan, aku akan datang! " ucapnya.


Xishi hanya membalasnya dengan senyuman lalu melenggang pergi dari sana. Hatinya tidak karuan saat Xingsheng membicarakan hal demikian, Xishi merasa ada sesuatu yang familiar, sesuatu mengusiknya tanpa alasan dan membuat dirinya merasa tidak nyaman berada dalam topik tersebut.


Xishi melangkah dengan pandangan yang tak fokus hingga dirinya tak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Xishi buru-buru meminta maaf sebelum akhirnya mendongak karena suara laki-laki yang sepertinya ia kenal.


" Xishi? "


Begitu mendongak, Xishi terkejut mendapati laki-laki ini berada di hadapannya.


" Xuan Yin? " gumam Xishi.


Begitu Xishi menyebutkan namanya, Xuan Yin dengan beraninya menarik tubuh Xishi ke dalam pelukannya, membuat Xishi terkejut hingga sulit berfikir.


" Kau baik-baik saja.. " ucap Xuan Yin lirih.



^^^(Xuan Yin {Bai Xin})^^^


Saat Xuan Yin mengatakan hal itu, netra Xishi menangkap sosok Yan Xun yang berjalan ke arahnya, tanpa pikir panjang, Xishi melepas paksa pelukan itu dan menarik Xuan Yin pergi dari tempat itu.


Lagi dan lagi, ajang kejar-kejaran terjadi lagi, hal ini membuat Xishi seolah suka di kejar. Namun, saat ini bertemu dengan Xuan Yin bukanlah hal yang tepat. Xuan Yin menoleh ke belakang dan mendapati beberapa pengawal mengejar mereka, dengan inisiatif nya, Xuan Yin mengalihkan tangan Xishi dan berbalik menggenggamnya. Memimpin jalur pelarian terbaik dengan teknik manipulasi.


Mereka berdua berhasil lepas dari kejaran pengawal kediaman Song itu, Xishi mengatur nafasnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Di samping itu tangannya masih berada dalam genggaman Xuan Yin.


" Xishi, apa yang kau lakukan sampai menyinggung putra dari pemimpin sekte Harimau Putih? " tanya Xuan Yin.


Xishi menarik tangannya.


" Aku menyelamatkan nyawanya, apa itu mampu membuatnya tersinggung? Sungguh orang aneh! " balas Xishi.


" Apa aku melukaimu terlalu parah saat itu? " tanya Xuan Yin.


Seketika Xishi teringat waktu dimana dia di tusuk oleh pedang gaib. Namun, hal itu cukup menguntungkan bagi Xishi.


" Lupakan hal itu! " balas Xishi.


Xishi melihat penampilan Xuan Yin dari atas sampai bawah, sangat berbeda dengan Xuan Yin yang ia kenal.


" Heh, kau menyamar? Mengapa rambutmu bisa panjang dalam waktu singkat? " tanya Xishi.


" Ada suatu hal yang harus aku lakukan. " jawab Xuan Yin.


" Apa itu? Meneror penduduk kota? Agar bisa mendapat posisi tertinggi di dalam organisasi pembunuh? " tanya Xishi dengan nada mencibir.


" Mencari Pembunuh Malam.. " jawab Xuan Yin tegas.


" Cih. Kau pikir Pembunuh Malam itu apa? Pergerakan mereka sangat sulit di tebak dan tidak ada yang tahu kapan mereka akan muncul! " ujar Xishi.


" Mereka datang semalam, membunuh seorang anggota Pembunuh Yue, memenggal dan menggantungnya di depan pintu barat! Kemungkinan besar mereka akan datang lagi malam ini, " balas Xuan Yin yakin.


' Benar, mereka memang ada di sini. Tapi, sayangnya mereka tidak akan muncul malam ini, kau memberitahukan hal ini padaku, tentu saja aku tidak akan tinggal diam! Kau mencari ku? Aku akan menemukanmu lebih dulu! ' _ Gumam Xishi.

__ADS_1


__ADS_2