Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley

Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley
Penguasa Alam Baka, Raja Xiali


__ADS_3

Malam tiba, bulan malam ini mengingatkan Xishi pada malam itu. Rasa lelah mulai menyerbu tubuh yang selalu terlihat baik-baik saja. Tanpa berlama-lama lagi, Xishi menyerahkan sisanya kepada para muridnya, sedangkan dia akan kembali ke Gunung untuk beristirahat sambil memikirkan cara bagaimana dia menemui Raja Alam Baka itu.


Sesampainya di tempat, seperti biasa kedatangannya akan di sambut oleh murid-murid yang bertekuk lutut sebagai rasa hormat kepada Sang Master.


Di atas kudanya Xishi melewati pintu utama lalu berjalan di jalan Mizong yang akan membawanya menuju menara Tinggi Ye Shashou. Di sepanjang jalan itu juga para muridnya berbaris sambil berlutut dan menundukkan kepalanya. Situasi seperti ini menunjukan kedudukan Xishi yang tinggi dan begitu terhormat di tempat ini.


Sesampainya di depan gerbang pembatas antara Ye Shashou dan Mizong, Xishi turun lalu salah satu murid tingkat atas menghampirinya untuk mengambil alih kudanya.


Setelah itu Xishi melangkah masuk dan pergi menuju kamarnya. Xishi melepas topengnya dan meletakkannya di meja yang ada. Setelah itu dia pergi ke balkon untuk melihat bulan yang nyaris sempurna.


' Di atas atap di bawah sinar rembulan, Alunan nada seruling Xingsheng terdengar begitu sedih? ' gumam batin Xishi.


Seketika dia mengingat sesuatu yang mungkin saja bisa membantunya.


Xishi mengeluarkan Guzheng miliknya, sedikit ragu karena dia tidak tahu apa cara ini akan berhasil atau tidak. Perlahan jari lentiknya mulai memetik senar guzheng, yang semakin lama terdengar seperti alunan nada yang merdu.


Namun, siapa yang akan menyangka kalau nada itu adalah musik pemanggil roh yang pernah Xishi pelajari bersama Ayahnya tiga tahun yang lalu.


Tak lama setelah itu, sebuah wangi tiba-tiba menyeruak, jari-jari Xishi berhenti bermain sebelum akhirnya sebuah angin besar menerpa tubuhnya hingga terlempar ke masuk ke kamar. Sebuah cahaya merah menyilaukan Xishi hingga tak mampu membuka matanya.


' Apa-apaan cahaya itu? Wangi ini, begitu familiar?? Lalu, dari mana datangnya angin tadi?? ' Tanya Xishi dalam hati sambil terus memejamkan matanya.


Wangi itu semakin dekat, namun tidak ada langkah kaki yang terdengar atau apapun yang bergerak mendekati Xishi, hanya saja setelah itu sebuah suara muncul.


" Wahh, sepertinya lain kali aku harus lebih ramah agar kau tidak terkejut seperti ini, maaf membuatmu sampai terlempar.. " ujar suara laki-laki.


" Si-siapa?? " Tanya Xishi.


' Hawanya begitu dingin dan wangi, situasi ini sepertinya pernah aku alami! ' Gumam batin Xishi.


" Apa kau terluka? " Tanyanya.


" Hey, siapa kau? " Tanya Xishi setelah merasa sebuah kain menyentuh kulit tangannya.


" Raja Xiali, kau yang memanggil ku kesini, bagaimana bisa tidak tahu? " Tanya laki-laki itu.


' Raja Xiali? Mungkinkah dia Raja Alam Baka? Mengapa aku merasa sangat akrab dengan suasana ini? Tunggu, ada apa dengan mataku? Mengapa tidak mau terbuka? Apa-apaan juga dengan tubuh ini, terasa begitu berat sampai aku tidak bisa bergerak?! ' Racau Xishi dalam hati.


Laki-laki dengan baju berwarna merah mencolok dengan motif naga berwarna emas dan rambut hitam panjang itu adalah Penguasa Alam Baka, yang mana orang-orang menyebutnya Raja Xiali. Dia datang menggunakan tandu bunga yang di pikul oleh delapan hantu berwajah serupa.


Sayangnya Xishi tidak bisa melihat wajah tampan Raja Xiali yang memiliki mata merah dan simbol teratai merah di dahinya.


" Sampai kapan kau mau duduk di bawah? " Tanya Raja Xiali dengan nada dingin.


Sebelum Xishi menjawab, Raja Xiali itu langsung mengulurkan tangannya dan menggendong Xishi.


" Hey!! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!! Atau aku-- " ucapan Xishi terhenti seketika.


" Atau kau akan membunuhku? Begitu 'kah? " celetuk Raja Xiali menebak secara tepat.


Xishi di letakkan di atas tempat tidur, lalu tali jubahnya di lepas tanpa permisi oleh Raja Xiali yang datang untuk memenuhi panggilan Xishi.


" Apa lagi sekarang??? " tanya Xishi dengan menahan suaranya agar tidak terlalu keras.


" Apa alasanmu memanggilku, jika bukan untuk melakukannya? " tanya Raja Xiali.


" Tunggu melakukan apa maksudmu? Aku memanggilmu untuk membicarakan sesuatu!! " ujar Xishi yang mulai tidak bisa mengendalikan suaranya.


" Tentu saja, kita akan membicarakannya baik-baik.. " ucap Raja Xiali seraya melepas ikat pinggang Xishi.


' Sial! Apa Raja Alam Baka Se mesum ini??? ' gumam Xishi dalam hati.


Sedetik kemudian, Xishi merasa ada sentuhan di area perutnya. Tidak hanya itu, hembusan nafas dingin menyapu wajahnya lalu turun menerpa leher. Hal itu membuat Xishi merinding, sensasi yang asing tengah ia rasakan saat ini. Ada rasa yang bergejolak namun dengan segera Xishi menyadarkan kembali dirinya yang hampir terhipnotis oleh suasana aneh ini.


" Mengenai Desa Luo, apakah benar kau yang membakar nya?? " pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Xishi.


Namun, berhasil membuat Raja Xiali menghentikan aktivitasnya, meskipun demikian, Xishi masih merasa jarak wajahnya dengan wajah Raja Xiali masih sangat dekat.


" Siapa yang memberitahumu hal itu? " tanya Raja Xiali.

__ADS_1


" Orang-orang Klan Hēilóng? " jawab Xishi.


" Mereka benar-benar suka cari perkara, ya? Membakar desa tidak menghasilkan keuntungan apapun untukku. Aku memang bisa membuat api semakin besar, namun orang-orang ku tak bergaul dengan api! " jawab Raja Xiali yang tidur di samping Xishi dengan posisi miring dan tangan yang menahan kepalanya.


" Lantas, apakah kau akan menyerang kehidupan manusia jika Dewa Pedang melanggar kesepakatan? " tanya Xishi mulai membahas inti pembicaraannya.


" Mengapa? Kau ingin mencegahku? " tanya Raja Xiali.


" Aku telah membuat kesepakatan dengan Zhexuan. Aku meminta Zhexuan mengembalikan gelar Bai Long Qishi pada Zheyan, lalu aku akan menghentikan teror pendekar hantu pada kehidupan manusia.. Bisakah kau membantuku? " tanya Xishi.


" Heh, kau pikir aku akan dengan senang hati menuruti perkataan mu? " ujar Raja Xiali.


" Manusia itu tidak bersalah, yang pantas di hapus dari kehidupan adalah Dewa Pedang, jika kau bersedia, aku pun tidak akan membiarkan orang yang meremehkan mu menghirup udara bebas, sekalipun dia adalah pemimpin sekte aku pasti akan membunuhny--


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, mulut Xishi di bungkam dengan ciuman manis disana. Lagi-lagi tidak bisa memberontak, Xishi selalu kewalahan saat menghadapi situasi seperti ini. Tidak menolak dan tidak menghindari, dia hanya diam sampai Raja Xiali menjauhkan wajahnya.


" Perhatikan kata-kata mu, aku tidak suka pembohong apalagi pengkhianat! Dan satu lagi, siapa sebenarnya yang ada di dalam hatimu? Mengapa kau tak membiarkan aku masuk? " tanya Raja Xiali.


" Maaf, sepertinya aku menyukai laki-laki lain.. " gumam Xishi.


" Siapa? "


" Liu Xingsheng.. "


Hening seketika.


" Heh, berhenti mendekatinya atau aku akan membunuhnya! Camkan itu baik-baik " ujar Raja Xiali.


Raut wajahnya berubah menjadi begitu marah, ancamannya seolah bukan sesuatu yang bisa di abaikan begitu saja. Xishi bahkan bisa merasakan betapa marahnya laki-laki yang sedang bersamanya saat ini.


Perlahan hawa dingin dan wangi itu mulai menghilang, tubuh Xishi kembali ringan, dia membuka matanya dan melihat sekitar namun tidak ada siapapun selain dirinya di kamar.


Xishi bangkit dan turun dari tempat tidur dengan pakaian yang hampir terbuka. Dari pintu balkon dia melihat tandu yang di pikul delapan orang melayang di udara.


' Wangi itu, hawa dingin itu, ciuman itu, terlalu familiar. Namun, kau tidak mungkin dia 'kan? ' gumam Xishi sambil menatap tandu bunga yang kian menjauh.


Sementara itu, di kota Mu Lin yang termasuk ke dalam wilayah barat, ada sebuah Rumah Bordil besar yang mana merupakan Markas Utama dari Pembunuh Yue. Di sana terlihat aktivitas seperti biasanya, tidak seperti empat wilayah lainnya yang memberlakukan pantangan untuk beraktivitas di malam hari selama bulan hantu.


Di dalam Rumah Rayuan, rumah bordil yang di merupakan markas utama pembunuh Yue. Yue Baoyu, si Raja Yue tengah berbaring di atas tempat tidur dengan di kelilingi para wanita dengan pakaian tembus pandang, salah seorang anggota masuk dan memberi laporan kepada Yue Baoyu.



^^^(Yue Baoyu - Raja Yue^^^


^^^Pemimpin Pembunuh Yue)^^^


" Katakan! " ujar Baoyu.


" Sekitar lima puluh anggota termasuk dua puluh anggota terbaik hilang di wilayah timur! Bahkan mata-mata yang di tugaskan untuk mengawasi mereka pun ikut hilang tanpa jejak! " ujar anggota Yue.


" Sialan!!! Kau datang untuk memberikan ku kabar tak berguna itu!!?? " sarkas Baoyu.


Baoyu menyuruh pelayannya keluar, sedangkan dia menurunkan kakinya lalu duduk di tepi tempat tidur. Raut wajah marahnya terlihat jelas di wajahnya.


" Kita sudah kehilangan tujuh puluh anggota dan markas rahasia di Ibukota karena Master Shi itu, padahal dia hanya membawa satu muridnya saja!! Penghinaan macam apa yang kalian berikan kepadaku!!! " tanya Baoyu penuh penekanan.


" Pemimpin Pembunuh Malam itu sangat berbahaya! Jika kita terus menentangnya, kita akan rugi besar, dua orang dari Pembunuh Malam saja tidak sebanding dengan tujuh puluh anggota kita! Jika hilangnya anggota adalah ulah Pembunuh Malam, sangat jelas bahwa kita telah di skakmat! " ujar anggota Yue.


" Master Shi! Sepertinya harus aku yang turun tangan!! " gumam Baoyu.


Setelah itu, Baoyu memberikan tugas lain untuk para bawahannya. Rencananya untuk kembali ke posisi awal ternyata tidak semudah yang di bayangkan, Pembunuh Malam benar-benar bukan tandingannya. Baoyu mengakui kekuatan yang di miliki Pembunuh Malam, dengan itu dia berhenti untuk mencari Pembunuh Malam dan beralih ke rencana yang memungkinkan untuk membuat Pembunuh Malam terpojok.


Waktu terus berjalan hingga tiba saatnya pagi untuk menyapa. Para pemimpin ikatan lima sekte masih singgah di kediaman Song, sedangkan para Bai Long Qishi sudah pergi dan akan kembali sore nanti.


Pertemuan akan kembali di adakan untuk membahas teror pendekar hantu di masa mendatang dan juga mengenai 'Target' yang di maksud oleh Hua dan Qibo.


Siang harinya, seorang gadis dengan topeng dan pedang naga putih, tengah melewati jalanan ibukota dengan menunggangi kuda putih miliknya, dia adalah Zhu Zhishu.


Semua mata menatap kagum ke arahnya, namun Zhishu hanya fokus pada jalannya hingga seseorang berdiri di depan dan menghalangi jalannya.

__ADS_1


" Nie Fengyue? " gumam batin Zhishu



^^^(Nie Fengyue)^^^


Mereka bertukar pandang sekilas sebelum akhirnya, Fengyue berlutut memberi salam.


" Salam untuk Bai Long Qishi.. "


Suara lantang itu membuat orang yang berada di sekitar ikut berlutut dan memberi salam pada Zhishu.


" Bangunlah.. " balas Zhishu yang langsung di laksanakan oleh semua orang.


Zhishu turun dari kudanya dan langsung menghampiri Fengyue, salah satu pengawal membantu Zhishu membawakan kudanya sedangkan Zhishu sendiri akan berjalan bersama Fengyue.


" Kakak Fengyue terlalu sungkan, aku masihlah adik kecil yang butuh didikan! Panggil saja aku Zhishu " ujar Zhishu.


" Baiklah.. Kau mau ke kediaman Song? " tanya Fengyue.


" Benar, Aku dengar Ayah asuh kakak tertua adalah tabib, aku banyak mendengar tentangnya, namun aku belum memiliki kesempatan untuk berbincang dengannya, apa Kakak Fengyue bersedia menemaniku bertemu dengannya? " tanya Zhishu.


" Tentu, mengapa tidak! " balas Fengyue yang di akhiri dengan senyuman.


" Jika di lihat-lihat, Fengyue bocah dungu ini memang benar tampan! " gumam Zhishu.


Keduanya berjalan menuju ke Kediaman Song, mereka banyak berbincang dan terlihat begitu dekat. Hingga mungkin kedekatan mereka menimbulkan sedikit kesalahpahaman bagi siapa saja yang melihatnya.


Sesampainya di kediaman, Fengyue langsung mengajak Zhishu ke taman timur. Lalu, beberapa pelayan di tugaskan untuk memanggilkan Cheng dan membawakan teh.


Tak butuh waktu lama, Cheng datang bersama dengan Qinsong yang sejak kemarin memang mendekati Cheng. Keduanya memberi salam pada Zhishu, Zhishu pun dengan ramah membalasnya.


" Kau datang lebih awal dari yang seharusnya, apa itu karena ingin bertemu denganku atau... " ucapan Cheng terhenti dan malah melirik ke arah Fengyue.


Hal itu membuat Qinsong yang lugu salah faham dan menyimpulkan satu hal.


" Eh, apa Nona Zhu dan Fengyue berkencan? " celetuk Qinsong.


" Ahem, sepertinya Kakak Qinsong melupakan sesuatu, selama aku terikat dengan Raja Alam Baka, aku tidak boleh menyukai siapapun, atau orang yang aku sukai akan mati.. " ujar Zhishu.


" Eh, begitukah? Darimana kau tahu? " tanya Cheng.


" Sebelumnya, bolehkah Zhishu memanggilmu Ayah? Di dunia ini tidak ada yang bisa ku panggil Ayah selain dirimu.. " ujar Zhishu.


" Tentu, sekarang aku adalah Ayahmu.. " balas Cheng seraya tersenyum.


" Heh, Paman Zhan, aku jadi teringat pada Xishi.. " gumam Qinsong dengan raut wajah sendu.


" Xishi? " celetuk Zhishu.


" Ah, dia adalah putri bungsuku, dengar-dengar Tuan Muda Kedua Song menyukai nya..." goda Cheng yang langsung membuat Qinsong salah tingkah.


" Heh, begitu yaa.. " Zhishu tidak bisa berkata-kata, seolah Cheng melakukannya dengan sangat sengaja.


" Kalau di lihat-lihat sepertinya dia seumuran denganmu.. Namun, sayangnya dia sekarang sedang pergi ke kediaman gurunya jadi kami tidak bisa mempertemukannya denganmu.. " ujar Fengyue.


" Aku tahu! " balas Zhishu.


Hal itu membuat Qinsong dan Fengyue terkejut, namun tidak dengan Cheng.


" Darimana kau tahu? " tanya Qinsong.


" Aku melihatnya keluar dari Ibukota lalu orang-orang Pembunuh Yue muncul dan pergi ke arah yang sama! " jawab Zhishu.


" Brakk!!! "


Fengyue tiba-tiba bangkit dan menggebrak meja.


" APA? Sebelumnya dia hampir mati saat melawan Pembunuh Yue, berapa banyak orang-orang Pembunuh Yue?? Mengapa kau hanya melihat dan tidak membantunya?? Bagaimana jika dia terluka atau bahkan mati di tangan Pembunuh Yue????!! " tanya Fengyue kuat.

__ADS_1


Kekhawatiran di wajahnya terlihat begitu jelas, bahkan tiga orang lainnya sampai tercengang melihat tingkah Fengyue yang begitu khawatir.


" Fengyue? Apa kau tidak berlebihan? Apa jangan-jangan Kau menyukai Xishi?? " tanya Qinsong.


__ADS_2