
Xishi berjalan menerobos kerumunan orang-orang yang menontoni mayat Xiao Bian yang tergantung di depan gerbang kediamannya. Orang-orang ini hanya tau bergosip tanpa menunjukkan rasa kepedulian apapun, hal ini menimbulkan kecurigaan tersendiri di benak Xishi.
' Benarkah Xiao Bian bermarga Li? Mengapa kelihatannya orang-orang tidak suka kepadanya, meski semua pelayan dan pengawalnya sudah di bersihkan, mungkinkah sampai detik ini kediaman Li masih kosong? Atau ada sebuah kesengajaan? ' gumam batin Xishi bertanya-tanya.
Xishi merenggangkan tangan kanannya lalu pedangnya muncul, pedang yang sempat di pakainya untuk menggorok tenggorokan Li Guang saat itu. Sekarang Xishi menggunakannya untuk hal lain, Xishi melemparkan pedangnya ke arah tali itu dan memotongnya hingga tubuh dan kepala Xiao Bian terjatuh. Namun, sebelum sampai ke tanah Xishi lebih dulu menahannya.
Pedang kembali ke tangan Xishi, kemudian Xishi kembali menyimpannya. Saat Xishi berjalan mendekati mayat Xiao Bian semua mata kembali menatapnya dengan tatapan aneh. Meskipun begitu, Xishi terus mengabaikannya dan fokus pada mayat Xiao Bian. Tak lama setelah itu, seseorang datang membawa beberapa pengawal.
Orang yang mengerumuni terdiam dan berlutut saat orang berkuda itu datang. Menunjukan kalau orang berkuda ini bukanlah orang biasa, namun Xishi tetap fokus pada mayat Xiao Bian.
" Nona, apa yang kau lakukan? Kau tidak mau memberi hormat pada Tuan Muda Song? " ujar salah seorang pengawal.
Xishi bangkit lalu berbalik, melihat seperti apa rupanya, setelah melihatnya dia langsung membungkuk memberi hormat.
" Ternyata Tuan Muda Song, mohon maaf kalau Hamba kurang sopan! " ujar Xishi.
" Tidak apa-apa, Nona terlalu sungkan.. " balas Qin Song.
^^^( Song Qin Song - Putra kedua Song Gao Chang, Ketua Klan Shèng yīng )^^^
Qin Song turun dari kudanya lalu mendekat untuk melihat kondisi mayat Xiao Bian. Namun, dua potongan tubuh itu masih terbungkus jaring dan belum di keluarkan. Saat Qin Song mengulurkan tangan berniat membukanya, Xishi dengan cepat menahan tangannya.
" Jangan sembarang sentuh, mayat ini beracun! " ujar Xishi.
Qin Song yang tangannya di sentuh oleh seorang gadis pun terkejut, dia sempat menatap Xishi lama sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya.
" Nona ini sepertinya tahu banyak, kau tahu siapa yang membunuhnya? " tanya Qin Song.
" Pembunuh Malam.. " balas Xishi tanpa ragu.
" Apa yang membuat Nona begitu yakin? " tanya Qin Song lagi.
" Aku akan membantu kalian mengeluarkan mayat dari jaring dan juga membantu kalian menguburkannya, kalau kalian tidak bersedia biarkan aku melakukannya sendiri! " ujar Xishi.
" Tentu saja kami juga akan turut membantu! " balas Qin Song tanpa melepas tatapannya dari Xishi.
Mayat di bawa masuk ke dalam kediaman Li, Xishi menggunakan kesempatan ini untuk memberitahukan sedikit ciri khas mengenai Pembunuh Malam kepada Qin Song. Semua orang keluar dan hanya menyisakan Xishi, Qin Song dan pengawal pribadi Qin Song. Mayat sudah dikeluarkan dari jaring, kepalanya pun sudah di jahit kembali hingga menyatu dengan tubuhnya. Qin Song mulai melemparkan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
" Jadi, sekarang Nona bisa memberitahuku, apa yang membuat kau yakin kalau ini adalah ulah Pembunuh Malam? " tanya Qin Song.
" Sebelumnya, biar ku perkenalkan diri dulu, namaku Zhan Xishi.. Tuan Muda Song boleh memanggil ku Xishi.. " ujar Xishi.
" Baiklah.. " balas Qin Song.
" Sesuai dengan apa yang di temukan pada tubuh mayat ini, ada sebuah Shuriken yang menancap di lututnya, senjata seperti ini hanya di miliki oleh Pembunuh Malam selain itu Pembunuh Malam adalah satu-satunya kelompok pembunuh yang menguasai Racun paling mematikan! " ujar Xishi.
Qin Song terlihat mendengarkan ucapan Xishi secara seksama. Pelan-pelan Xishi akan memainkan dramanya dan membuat nama Bai Long Qishi bersih dari dugaan pembantaian.
" Sekarang biar ku tanya, kau mengenal laki-laki ini? " pertanyaan Xishi merujuk kepada Xiao Bian.
" Tentu saja, meski telah lama menghilang, namun dia tetaplah Xiao Bian, Li Xiao Bian putra bungsu keluarga Li! " jawab Qin Song.
' Ternyata benar adanya! 'hati Xishi berbisik.
" Tidak heran, Pembunuh Malam itu bahkan tidak melepaskan satu nyawa pun! " celetuk Xishi.
" Namun, kenapa Pembunuh Malam mau menghabisi seluruh Keluarga Li? " tanya Qin Song.
' Dia bertanya seolah-olah dia benar-benar lugu! Bocah dungu ini apa benar sedang mengujiku? ' tanya batin Xishi sedikit geram.
__ADS_1
" Seharusnya hal ini ku tanyakan padamu, apa yang telah di lakukan oleh Keluarga Li sampai menyinggung Pembunuh Malam itu?! " ujar Xishi datar.
" Eh, apa kau marah? " tanya Qin Song.
" Aku tidak punya banyak waktu, aku akan segera melakukan pemakamannya lalu pergi! " balas Xishi.
Pemakaman berjalan lancar, dari awal hingga akhir hanya mengandalkan tenaga dalam Xishi, setidaknya ini menjadi balas budi Xishi kepada Xiao Bian. Dengan ini kedepannya tidak ada lagi hubungan antara Guru dan Murid.
Setelah menyelesaikan pemakaman, Xishi pun segera pamit pada Qin Song. Mengingat dia terlalu lama di luar, dia khawatir kakak dan ayahnya akan mencarinya. Namun, lagi-lagi Qin Song ini mempersulit dan mengulur waktunya.
" Nona Zhan, kemana kau akan pergi? " tanya Qin Song.
" Pertanyaan pribadi ini bukankah kurang pantas? " ujar Xishi.
Qin Song tersenyum, lalu dia mengeluarkan plat namanya dan memberikannya kepada Xishi.
" Ini.. "
" Ini plat namaku, kau bisa menggunakannya saat datang lagi kesini, aku akan memberikan penginapan untuk mu sebagai balas budi atas bantuanmu hari ini! " ujar Qin Song lembut.
' Balas Budi? ' gumam batin Xishi.
" Tidak perlu menunggu nanti, berikan aku seekor kuda, maka tidak ada hutang budi diantara kita! " ujar Xishi.
" Ah, tentu saja! " balas Qin Song.
Qin Song langsung memerintahkan pengawalnya untuk membawakan kuda.
' Gadis misterius ini, sebagian wajahnya terus tertutup masker. Sepertinya benar-benar enggan memperlihatkan wajahnya, aku penasaran rahasia seperti apa yang ada di balik maskernya? ' gumam batin Qin Song.
Tak lama kemudian, kuda pun datang dan langsung diberikan kepada Xishi. Xishi pun segera pamit lalu memacu kudanya menjauh dari pandangan Qin Song.
" Tuan Muda, berdasarkan saksi penduduk, Nona Zhan menggunakan Pedang berlogo Naga Putih saat melepaskan tali yang menggantung tubuh dan kepala Tuan Muda Li! " ujar seorang pengawal.
' Pedang Naga Putih, mungkinkah dia.. ' sesaat Qin Song seperti menyesal melepaskan Xishi begitu saja.
" Apa perlu di kejar? " tanya Pengawal.
" Tidak perlu, dia pasti akan datang lagi! " balas Qin Song sebelum akhirnya kembali ke kediaman.
Hari semakin gelap, perjalanan jauh tanpa henti berhasil di lewati Xishi. Xishi sampai di desa dengan selamat, hari sudah mulai petang, semua warga buru-buru kembali ke rumah saat Xishi masih dengan santainya menelusuri jalan.
Semakin lama semakin tidak ada aktivitas apapun di luar, jalanan semakin sepi dan hanya di lalui oleh Xishi dan kudanya saja. Membuat suasana desa ini seperti tak berpenghuni. Sesajen mulai terlihat di sepanjang tepi jalan, termasuk di depan kediaman Zhan.
" Aku pulang!!!! " teriak Xishi begitu memasuki kediaman.
Namun, rumahnya terlihat begitu kosong, tak seperti biasanya teras rumah kosong seperti ini. Ayahnya selalu duduk di teras sambil menikmati tehnya untuk menunggunya pulang, namun kali ini bahkan rumah pun terlihat begitu gelap.
" Kemana semua orang pergi? " tanya Xishi.
Xishi masuk ke dalam rumah dan mendapati pintunya tidak di kunci, sama sekali tidak ada pencahayaan, Xishi mendatangi kamar setiap anggota keluarga nya, namun sepertinya rumah ini benar-benar kosong. Xishi kembali keluar, dia dengan cepat menyadari kudanya sudah tidak ada lagi disana, padahal dia sudah mengikatnya sebelum memasuki rumah.
" Ayah?? Kakak Tertua?? Kakak kedua??? " panggil Xishi berkali-kali namun tak ada yang menyahut.
Xishi pergi keluar kediaman, suasana jalan sudah seperti tidak ada aura kehidupan. Hanya ada sinar bulan yang menembus kepulan asap dupa.
' Kemana semua orang pergi? Dan juga, kuda ku? Ada yang tidak beres! Aku hanya pergi semalam dan semua langsung berubah drastis, Ayah dan Kakak tidak akan pergi begitu saja bukan? ' gumam batin Xishi.
Tanpa banyak berfikir lagi, Xishi langsung pergi mengelilingi desa mencari keberadaan keluarganya. Dia tidak peduli pantangan saat bulan hantu tiba, lebih tepatnya dia tidak percaya pada hantu. Namun, lama ia berjalan desa ini benar-benar sangat sepi, bahkan Xishi tidak bertemu dengan seorang pun di jalan.
Setelah beberapa saat, terdengar alunan musik kecapi yang sangat aneh. Xishi bahkan tidak pernah mendengarnya selama ini, karena penasaran Xishi mengikuti alunannya. Sampai langkah kaki membawanya ke arah makam leluhur yang terletak di ujung desa.
__ADS_1
Disana Xishi melihat banyak kerumunan orang-orang, terlihat familiar namun juga samar. Xishi mencoba mengingat kembali dimana dia melihat orang-orang ini.
' Benar, orang bertopeng rubah ini.. ! ' Xishi mengingat kejadian kemarin malam, saat dia dan Xingsheng melawan mereka yang hampir saja membunuhnya.
Meski melihat mereka bukan tandingannya, Xishi tetap memilih mundur karena mengetahui mereka benar-benar boneka yang di kendalikan oleh sihir. Namun, begitu berbalik, Xishi malah di kejutkan oleh kerumunan orang-orang dengan topeng yang sama. Mata Xishi terbelalak, dia berusaha memantapkan hatinya.
' Karena sudah di undang ke arena pertempuran, maka biar ku cari tahu siapa yang mengendalikan boneka sampah ini! ' gumam batin Xishi sambil menatap tajam.
Pedang Naga Putihnya kembali muncul, siap bertarung dengan puluhan boneka misterius ini. Musiknya semakin aneh, orang-orang bertopeng rubah ini mulai menyerang Xishi tanpa melihat Xishi seorang diri, namun lagi-lagi Xishi meyakinkan hatinya kalau mereka bukan tandingannya.
Pertarungan terus berlangsung, seperti yang di alami Xishi kemarin, semakin banyak yang terbunuh maka jumlahnya akan semakin banyak. Satu-satunya cara agar memenangkan pertarungan ini hanya satu.
" Membunuh dalangnya! "
Xishi bergerak cepat menerobos barisan depan, semakin dekat semakin keras musiknya. Xishi menggunakan ilmu terlarangnya saat menerobos kerumunan orang-orang itu, hingga ' Si Dalang ' ini sadar akan sesuatu.
Xishi berhasil tembus ke barisan depan tanpa luka sedikitpun, namun saat melihat wajah ' Si Dalang ' ini, tatapan tajam Xishi berubah menjadi sendu. Matanya mulai berkaca-kaca, bahkan Pedang yang mengarah tepat ke leher ' Si Dalang ' ini Xishi turunkan perlahan.
" Xuan Yin.. " panggil Xishi lirih.
Namun, selang beberapa detik saja salah satu orang bertopeng rubah yang di kendalikan Xuan Yin berhasil menusuk Xishi. Mata Xuan Yin yang berkaca-kaca semakin memerah dan berubah menjadi tatapan marah. Xishi memuntahkan darahnya di depan mata Xuan Yin. Xuan Yin sendiri langsung berlari menghampiri Xishi dan memeluknya, dengan tatapan marahnya dia melenyapkan semua pasukannya sendiri.
^^^( Xuan Yin - ( Bai Xin - Ketua^^^
^^^Rubah Pembunuh - Hutan Xin) )^^^
Xuan Yin membuka masker yang di gunakan Xishi, memastikan lagi, namun gadis yang berada di pelukannya benar-benar Xishi. Dia kini terluka oleh tangannya sendiri, pedang yang menusuk Xishi terkikis bersamaan dengan para pasukan bertopeng rubah, namun luka yang di derita oleh Xishi cukup parah.
" Xishi.. Maaf.. Sungguh aku tidak tahu itu adalah kau.. Maaf! " ucap Xuan Yin sambil sesenggukan.
Belum sempat Xuan Yin membawa Xishi pergi, langkah kaki orang terdengar, bahkan tidak hanya satu orang. Mau tidak mau dia harus meninggalkan Xishi di tempat. Dia tidak langsung pergi, melainkan bersembunyi di balik pohon untuk melihat siapa yang datang.
Beberapa orang datang dari arah yang sama dengan jalan yang di lalui Xishi sebelumnya. Begitu melihat Xishi tergeletak, mereka buru-buru menghampirinya. Salah seorang dengan aura yang lebih menonjol mendekati Xishi, dia melihat luka tusuk di tubuh Xishi masih baru. Lalu, salah seorang lainnya memberikan masker milik Xishi ke orang itu.
" Zhan Xishi? " gumamnya..
^^^( Luo Zhiyu - Adik dari Luo Bei Yang, Ketua Klan Hēilóng, Gunung Luo )^^^
" Benar, dia adik dari Kakak Feng! " ujar salah satu murid.
" Dia terluka, bawa dulu! " ujar Zhiyu.
Mereka membawa Xishi ke gunung, tempat dimana Klan Hēilóng berada. Meski tidak ada satupun perempuan disana, namun kondisi Xishi yang terluka parah membuat pengecualian untuk dirinya. Dia juga termasuk anggota keluarga murid, seharusnya Bei Yang yang keras pada peraturan dapat memakluminya.
Xuan Yin yang melihat hal itu pun muncul, dia jelas merasa sangat bersalah pada teman masa kecilnya itu Meski saat itu Xishi meninggalkannya dengan penuh amarah, namun begitu melihat wajahnya Xishi menurunkan pedangnya. Dia tetap tidak membunuh Xuan Yin meski pernah mengecewakannya.
Disisi lain, kedatangan gadis ke gunung tentu saja sedikit mengusik Bei Yang, namun dengan cepat Zhiyu mengungkapkan alasannya.
" Bagaimana bisa kau membawa seorang gadis kesini? " tanya Bei Yang dengan nada datarnya.
" Kakak, Dia adalah Zhan Xishi, putri bungsu Paman Zhan, adik dari Zhang Feng. Dia terluka sedangkan di kediamannya tidak ada seorang pun, biarkan dia disini untuk mengobati lukanya, besok aku akan mengirim surat kepada A-Feng untuk menjemputnya! " ujar Zhiyu.
" Begitu kah? Tidak ada pemalsuan identitas bukan? " tanya Bei Yang sedikit curiga.
" Zhiyu tidak berani, Xishi menggunakan masker yang biasa di gunakan nya, disana tertera namanya. Dan satu lagi, Zhiyu sempat melihat Pedang Naga Putih sebelum menghilang secara misterius, mungkin saja Nona Zhan tahu sesuatu tentang Bai Long Qishi.. " ujar Zhiyu.
" Bai Long Qishi? "..
__ADS_1