Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley

Destiny Chief Assasins And Lord Of The Ghost Valley
Segel Pengikat Takdir


__ADS_3

..." Ketika seseorang memutuskan untuk mengikuti dan setia kepadaku, maka dia sudah termasuk bagian dariku, apapun statusnya, selama aku berjalan di depannya, takkan ku biarkan orang lain menyentuh satu inci pun dari tubuhnya! "...


..._Master Shi_...


 


Waktu sudah lewat tengah malam, orang-orang yang seharusnya sedang berkelana dalam alam mimpinya, kini malah sibuk memadamkan api yang tengah melahap rumah bordil tadi, yakni Rumah Cinta.


Sebagian dari murid Klan Shèng yīng membantu penduduk memadamkan api, sedangkan sisanya mencari keberadaan Nie Fengyue yang menghilang saat tengah berpatroli.


Saat itu, Yan Xun juga ikut serta dalam patroli karena merasa sedikit bosan saat minum bersama adik dan juga Qinsong. Begitu mendengar Pembunuh Yue dan Pembunuh Malam terlibat dalam kebakaran dan insiden lainnya, dia langsung pergi ke atap dan melihat Fengyue terkapar di salah satu atap sebuah kedai.


Dengan segera, Yan Xun pun pergi ke sana dan mendapati luka segar di bagian perut Fengyue. Tanpa berlama-lama lagi, dia segera membawa Fengyue kembali ke Kediaman untuk segera di obati, lukanya tidak selebar yang Yan Xun kira, namun darahnya yang terus mengalir keluar membuat Yan Xun panik.


Sedangkan, disisi lain, Xishi pergi ke penginapan langganannya untuk beristirahat sejenak. Kamar ini sebenarnya sudah di beli oleh dirinya dan hanya khusus untuk dia seorang, sehingga jika dia tidak ada dan tiba-tiba datang, dia selalu punya kamar untuk di tempati. Meskipun demikian, kehadirannya perlu di ketahui oleh pemilik, karena pemilik sudah berjanji akan menindaklanjuti siapapun yang berusaha menempati kamar ini selain Xishi.


Bahkan dia sudah hampir melakukan pembunuhan sebanyak tiga kali karena Qibo dan Limei menyelinap diam-diam.


Kali ini Xishi datang lewat jendela, sebelumnya Diwei Ling membantunya memberitahu pemilik penginapan kalau Xishi akan datang malam ini, namun tidak perlu di sambut dan melarangnya untuk mengganggu sampai pagi tiba. Jadi, mengenai percobaan pembunuhan sebagai bentuk kewaspadaan pemilik bisa di hindarkan.


Xishi meletakkan pedangnya di atas meja, lalu membuka topengnya, tanpa perlu mengganti baju, pakaian yang ia pakai saat ini berubah menjadi pakaian yang biasa ia pakai dalam sekejap. Terakhir, Xishi juga meletakkan maskernya di antara topeng hitam dan topeng putih. Ketiganya adalah ciri khas dari tiga identitas Xishi yang berbeda.


Ketiga identitas itu juga memiliki kepribadian yang berbeda, masker sebagai Zhan Xishi yang cerewet dan nakal, topeng hitam dengan ukiran bunga sakura hitam sebagai Master Shi yang dingin, tegas dan keji. Terakhir topeng putih dengan motif naga adalah hal yang baru meski Xishi sempat menggunakan namanya, namun besok adalah harinya. Dimana dia akan muncul menggunakan Identitas aslinya sebagai Bai Long Qishi.


Xishi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kejadian barusan tidak merasuk ke dalam pikirannya. Dia hanya bernafas lega mengetahui Limei masih baik-baik saja, saat kembali nanti dia akan membicarakannya, jadi hal yang masih absurd ini tentu tidak akan di buat repot di dalam pikiran Xishi.


Sebagai gantinya, bayangan Xingsheng malah muncul dalam benak Xishi. Muncul tanpa sebab dan alasan yang tepat, sedikit membingungkan namun juga memercikan sesuatu yang aneh. Di samping itu, wajah yang sudah lama tidak muncul kembali muncul, menggugah memori yang telah lama terkubur dengan rasa sakit dan dendam yang begitu dalam. Suatu hal yang membuat Xishi menggila dan kehilangan arah dalam semalam.


" Kamu, mengapa muncul lagi setelah sekian lama? " gumam Xishi seorang diri sebelum akhirnya memaksa untuk menutup mata dan tidur.


Keesokan harinya, di kediaman Song mulai di sibukkan dengan persiapan Pertemuan Ikatan Lima Klan, yang mana para pemimpin Klan besar akan datang untuk berpartisipasi dalam pertemuan tersebut.


Di waktu yang bersamaan, Zhan Cheng tiba di Ibukota. Namun, dia tidak langsung pergi ke kediaman Song, melainkan pergi ke penginapan, tempat dimana Xishi berada saat ini. Saat pagi buta, Xishi memang sempat mengirimkan surat kepada Sang Ayah menggunakan gagak hitam sebagai media pengantar suratnya.


Tak butuh waktu lama untuk Cheng tiba di sana, dia di sambut oleh pemilik penginapan juga karena Xishi sudah mengatakan kepadanya kalau Sang Ayah akan datang.


Cheng mengetuk pintu sebelum akhirnya orang di dalam kamar itu mempersilahkannya masuk. Cheng masuk dan terlihat Xishi menggunakan pakaian yang biasa ia pakai, namun tidak menggunakan masker.


" Ayah sudah makan? " tanya Xishi begitu Cheng memasuki kamarnya.


" Aku tidak akan pergi dengan perut kosong sepertimu, tidak perlu khawatir, aku sudah makan.. " balas Cheng yang di akhiri dengan senyuman.


" Hmm, Ayah,.sebelumnya, maafkan aku karena pergi begitu saja. " ucap Xishi sambil menundukkan kepalanya.


" Tidak apa-apa, aku mengerti, kau sudah besar sekarang. Mau pergi kemana pun aku tidak akan mencegahnya, asal kau bisa menjaga dirimu baik-baik, aku tidak akan menyeret mu pulang ke rumah.. " balas Cheng dengan lembut.


" Namun, sesuatu terus mengganjal di hatiku, aku ingin tahu hal yang sebenarnya sebelum aku benar-benar pergi.. " gumam Xishi .


" Apa itu? Kau bisa bertanya kepadaku, aku akan memberitahumu hal yang aku tahu.. " ujar Cheng.


" Ayah, apa kau tahu mengapa laki-laki berambut putih itu ingin menyegel ku? Lalu, mengapa Kakak tertua menghalanginya? " tanya Xishi.


Cheng terdiam, meski sudah menduganya, lidahnya seolah tertahan ketika ingin menjawabnya. Zhan Feng sudah mengatakan ini sejak pertama kali mereka bertemu dan Cheng mulai mengadopsi mereka, namun, pertanyaan ini adalah pertama kalinya keluar dan dia harus menjawabnya sendiri.

__ADS_1


" Kau benar-benar ingin tau? " tanya Cheng hati-hati.


" Ayah tahu 'kan? Kau bisa mengatakannya kepadaku, Ayah. Dengan begitu aku akan tenang.. " ujar Xishi.


" Baik, dengarkan aku baik-baik.. Zhu Zheyan pernah memberitahuku alasan mengapa dia pergi dari Kediamannya, dia menjawab karena dia tidak bisa meninggalkan adik kecilnya sendirian. Ketika dia baru saja lahir, Dewa Pedang sudah langsung memberikan hukuman berat kepadanya, hukuman itu berupa di hapus dari daftar ketiga Bai Long Qishi yang Agung, dan di asing kan selamanya dari Gunung Shu. " jelas Cheng.


" Zhu Zheyan adalah Kakak Tertua? Lalu, mengapa demikian, apa kesalahan ku? Dan apa jawaban atas pertanyaan ku tadi? " tanya Xishi.


" Alasan kau di asing kan adalah karena sejak lahir, takdirmu sudah terikat dengan Raja Hantu yang memegang kendali atas kematian seseorang, Ibumu menjual takdirmu demi menyelamatkan mu dari kematian. Jadi, setelah menginjak usia dua puluh tahun, hidupmu adalah milik Raja Hantu itu.


Alasan mengapa kau di segel adalah untuk terus mengikatmu dalam takdir itu, dengan begitu para hantu tidak akan menyerang kehidupan manusia lagi. Sedangkan, Feng melepas segel mu adalah untuk membebaskan hidupmu dari ketidakadilan yang di berikan oleh Dewa Pedang. " jelas Cheng panjang lebar.


" Aku mengerti sekarang, Raja Hantu adalah rival sejatinya Dewa Pedang. Takdir ku terikat dengan Raja Hantu tentu saja tidak bisa di terima oleh Dewa Pedang. Namun, hukuman yang terlalu melenceng dan benar tidak adil, harus di bereskan! Ayah, apa pihak Dewa Pedang akan datang? " tanya Xishi.


" Ya, Zhu Zhexuan dan Zhu Zheyan akan datang mewakili Dewa Pedang! " jawab Cheng.


" Apa? Jadi, kakak tertua tidak datang bersama Klan Hēilóng ataupun Ayah? Tapi, mengapa? " tanya Xishi.


" Zhu Zheyan akan datang untuk menemani Bai Long Qishi kedua, bagaimanapun juga Zhu Zheyan sudah tidak menduduki posisi putra tertua Dewa Pedang untuk saat ini.. " ujar Cheng.


" Heh, apanya yang Agung? Mereka benar-benar licik! Ayah, kau pergilah, aku juga akan datang nanti! " ujar Xishi.


" Apa yang ingin kau lakukan? " tanya Cheng.


" Ayah akan tahu nanti, " balas Xishi.


Setelah banyak berbincang dengan putri kesayangannya, Cheng pun pamit dan pergi ke Kediaman Song.


Disana dia di sambut oleh Putra kedua Song, yakni Song Qin Song. Laki-laki muda tampan dengan senyuman yang selalu nampak di wajahnya, sikap ramah dan lembut ini jelas berbeda dengan putra-putra penerus lainnya. Qinsong yang paling tidak mencolok dalam setiap pertarungan, bahkan hampir tak pernah terlibat.


" Benar, aku hanya sendiri.. " jawab Cheng.


" Dimana putra-putri Anda, mereka tidak menemanimu? " tanya Qinsong.


" Tuan Muda Song, apakah sedang menanyakan Putriku? " Goda Cheng.


" Ah, sepertinya aku juga bermaksud menanyakannya.. " gumam Qinsong sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Begini, ketiga putraku mereka pergi ke akademinya masing-masing, sedangkan Putriku, dia sedang berpergian jadi tidak ada satupun yang bisa menemaniku.. " ujar Cheng.


" Tidak usah khawatir, Tuan Luo dan Tuan Muda Luo ada di dalam, mereka sedang menunggumu.. " ujar Qinsong.


" Tentu.. Kalau begitu aku akan masuk.. " pungkas Cheng lalu masuk di antarkan oleh salah satu pelayan kediaman.


Tak lama setelah itu, rombongan dari Klan Besar Barat tiba, Klan Jīn Shī. Ini adalah kali pertamanya Qinsong menyambut mereka, karena memang Klan Jīn Shī sebelumnya selalu menjadi Tuan Rumah.


Zhan Qibo juga ikut serta dalam rombongan itu, Tuan Jiang dan Nona Jiang adalah dua tokoh yang paling mencolok dalam rombongan itu.


Saat turun dari kereta kudanya, Jiang Chen Li yang merupakan satu-satunya keturunan dari Keluarga Jiang, tak sengaja bertukar pandang dengan Qinsong. Ini adalah kali pertama mereka bertemu, namun sepertinya Chen Li menyukai Qinsong.


" Selamat Datang Tuan Jian, Nona Jiang dan juga Tuan Muda Zhan.. " ucap Qinsong menyambut mereka.


" Wah, ternyata benar apa yang telah lama di rumor kan, Tuan Muda Kedua Song memang sangat tampan.. " puji Jiang Cheng Lu.

__ADS_1


" Ah, Anda terlalu berlebihan Tuan, akan ada banyak lagi Tuan Muda yang lebih tampan, mereka sudah berkumpul di Aula.. " balas Qinsong.


" Hmm, karena ini pertemuan pertama, jadi ku perkenalkan secara khusus, ini adalah Putriku satu-satunya, Jiang Chen Li.. Chen Li ini adalah Tuan Muda Kedua, Song Qin Song.. " ujar Cheng Lu.


" Senang bertemu denganmu, Tuan Muda Song.. " gumam Chen Li.


Mendengar hal itu, Qinsong hanya membalas dengan senyuman, tanpa banyak basa-basi lagi, mereka pun masuk dan menuju ke Aula pertemuan.


Kini tinggal tamu terhormat yang belum datang. Entah sampai kapan namun ini bisa dikatakan sudah sangat terlambat.


Disisi lain, di dalam Aula pertemuan, disana sudah berkumpul para Tamu yang terdiri dari Pemimpin Lima Klan besar. Berikut, Zhan Cheng yang hadir sebagai penasihat pertemuan.


Nie Han Rong selaku pemimpin Klan Fènghuáng tiba pagi tadi, dia di dampingi oleh anak semata wayangnya, Nie Fengyue dan juga murid kesayangannya, Zhan Hua.


Di samping itu, ada Huang Yan Xun dan di dampingi oleh adiknya, Huang Yan Xin. Mereka berdua hadir untuk mewakilkan Sang Ayah, Huang Xiao Han sang Pemimpin dari Klan Báisè de lǎohǔ dari Timur Jian Yi.


Lalu, di seberang Tuan Nie ada Luo Bei Yang, pemimpin termuda dari lima pemimpin lainnya. Dia memimpin Klan Hēilóng yang ada di Gunung Luo. Dia hadir di temani oleh Sang Adik, Luo Zhiyu.


Sedangkan, di samping Luo Beiyang, ada Jiang Cheng Lu yang hadir di dampingi oleh putrinya, Jiang Chen Li dan juga muridnya Zhan Qibo.


Tak lama setelah itu, Tuan Rumah, Song Gao Chang juga tiba di aula bersama putra tertuanya, yakni Song Qing Lian.


Mereka semua saling memberi salam satu sama lain, setelah selesai, barulah Song Gao Chang duduk di tempat yang tersedia. Kini tinggal menunggu, pihak dari Dewa Pedang.


Sementara itu, di luar Qinsong masih setia menunggu Sang Tamu Terhormat, meski wajahnya sudah terlihat begitu letih, namun dirinya masih tetap berdiri di pintu masuk.


Sampai tak berapa lama, sebuah kereta dengan empat kuda putih tiba di depan pintu. Dua orang laki-laki dengan pakaian putih turun dari kereta kuda, yang satu berambut putih namun wajahnya lebih muda dari yang berambut hitam.


" Tuan Muda Zhan? " gumam Qinsong terkejut saat mendapati Feng turun bersama dengan Bai Long Qishi kedua.


" Tamu mu adalah aku! " tegas Zhexuan.


" Hah, mohon maaf Tuan Muda Zhu, semua tamu sudah menunggu di dalam, Anda bole---


Sebelum Qinsong menyelesaikan bicaranya, Zhexuan yang angkuh melewatinya begitu saja. Qinsong menghentikan bicaranya, Feng membantu Qinsong berdiri lagi, dan memintanya tidak memasukan hal ini kedalam hati. Qinsong mengerti lalu melemparkan senyumnya.


Feng masuk menyusul Zhexuan, sementara sebel Qinsong masuk, seseorang menahan bahunya dan membuat dia kembali berbalik.


Seorang gadis dengan pakaian putih dan topeng putih bermotif naga yang menutupi sebagian wajahnya berdiri disana. Sekilas Qinsong melihat yang berdiri adalah Xishi, namun dia buru-buru menyadarkan dirinya sendiri.


Di lihat dari corak pakaiannya terlihat mirip dengan kain pakaian yang di kenakan oleh Zhexuan dan Feng, namun Qinsong sendiri tidak melihat ada gadis turun dari kereta kuda itu.


" Maaf, Apa Nona membutuhkan sesuatu? " tanya Qinsong.


" Apa kau melihat kedua kakakku? "


" Kakakmu? Siapa namanya? " tanya Qinsong.


" Zhu Zheyan dan Zhu Zhexuan.. "


" Maaf, siapa namamu? "


" Zhu Zhishu.. "

__ADS_1


' Akhirnya ' gumam Qinsong dalam hati.


Tanpa banyak berpikir lagi, Qinsong pun mengizinkan dia masuk serta mengantarkannya ke Aula pertemuan.


__ADS_2