
Xishi di sekap di markas utama Pembunuh Yue, yakni Rumah Rayuan yang merupakan rumah bordil terbesar di kota Mu Lin. Tubuhnya di ikat rantai besi dan mulutnya bungkam menggunakan bola kain. Untuk saat ini bersikap lemah sangat di perlukan, Xishi harus ekstra menahan amarahnya, jika tidak wujudnya akan berubah menjadi Bai Long Qishi.
Terlebih jika hal itu terjadi saat titik puncaknya, orang-orang akan menganggap remeh Bai Long Qishi yang bisa-bisanya di tangkap oleh Pembunuh Yue dan mati di tangannya. Walaupun nantinya nama Xishi bersih dari dugaan Pengkhianat Klan Suci, namun kematian Bai Long Qishi di tangan manusia biasa bisa sangat mencurigai.
Dari pertarungan melawan Zhexuan tempo hari, terlihat jelas Bai Long Qishi Zhu Zhishu lebih kuat dari pada Zhexuan, hal ini akan menjadi janggal dan memungkinkan rencana Xishi terbongkar.
Xishi sendiri menyembunyikan sihirnya, meskipun manusia biasa tidak bisa membedakan makhluk agung, makhluk bawah dan manusia biasa. Tetap saja Xishi tidak boleh gegabah, bagaimanapun juga Pembunuh Yue pernah menjadi pembunuh brutal sebelum akhirnya dia memimpin Sekte Rahasia dan menjadi Pembunuh Bayaran Tersadis menggantikan namanya. Dalam arti lain, masih ada rahasia besar yang belum di bongkar oleh Xishi.
Dua orang bertubuh besar masuk ke ruangan hampa mirip penjara bawah tanah itu, sangat jelas bahwa mereka adalah benar Pembunuh Yue. Dengan pakaian yang mirip seperti ninja, mereka juga menutup wajah mereka dengan baik dan hanya memperlihatkan sepasang mata.
Berbeda dengan Pembunuh berjubah hitam yang di anggap sebagai malaikat maut bagi siapapun yang melihatnya, yakni Pembunuh Malam. Di bandingkan dengan mereka, Pembunuh Yue masih belum ada apa-apanya.
Xishi belum tahu apakah dirinya akan di bunuh atau tidak, dalam dirinya sendiri dia berharap untuk tidak di bunuh. Alih-alih di tusuk di bagian dada, Xishi lebih memilih di penggal atau di bakar. Tubuh abadinya akan tetap hidup, kembali menyatu walau di penggal dan akan kembali utuh selama jantung nya aman, sebuah keistimewaan yang di berikan Raja Xiali sejak Xishi lahir, hanya saja di terlambat delapan belas tahun untuk menyadarinya.
Namun, jika keistimewaan itu di ambil lagi, secara otomatis tubuh Xishi akan hancur. Resiko itu belum di ketahui oleh Xishi, bahkan siapa yang memberikannya pun dia tidak tahu.
Di dalam ruangan itu, salah seorang membuka masker yang di pakai Xishi hingga wajah Xishi terekspos, Xishi tersenyum miring saat mendapati wajah mereka terkejut.
' Ku pastikan kalian yang akan hancur lebih dulu! ' batin Xishi.
Tak lama setelah itu satu orang lainnya masuk, dia laki-laki yang melarikan diri saat Xishi datang untuk menyelamatkan Limei, Yue Baoyu.
" Bawa dia! " titah Baoyu.
' Bagus! ' ucap Xishi dalam hati.
Xishi di bawa menaiki tangga lalu memasuki ruangan yang berisi kolam, di rasakan dari suhunya ini adalah kolam air hangat. Xishi sudah lebih dulu menebak apa yang akan terjadi kedepannya, di dorong hingga tersungkur ke lantai lalu di kunci dari luar.
" Haah, setidaknya lembut lah sedikit, padahal aku sudah memberikan kalian kesempatan untuk menghirup udara selama beberapa waktu, seharusnya sebentar lagi kalian menderita! " gerutu Xishi sambil beranjak bangkit.
Xishi berdiri, lalu berjalan mendekat ke arah kolam, kolam air hangat dengan taburan bunga ini malah terlihat menjijikan di mata Xishi. Dia mencelupkan tangannya ke kolam hingga rasa hangatnya tersalur ke tubuhnya, namun tujuan Xishi bukanlah untuk hal itu.
" Kolam ini terlalu suram, aku akan membantu mengindahkannya dengan mengubah kolam ini menjadi kolam kematian! Siapa yang masuk, maka matilah! " ucap Xishi.
Dia menyebarkan racun melalui jari-jari tangannya yang ia masukan ke kolam. Tak lama setelah itu seseorang masuk, tak salah lagi dia adalah Yue Baoyu. Dia mendapati Xishi tengah bermain air, hal itu ternyata mampu membodohi laki-laki yang mengaku sebagai Raja Yue.
" Mengapa kau malah bermain di tepi, masuklah! " ujar Baoyu.
" Tidak mau! Kau saja yang masuk! " balas Xishi dingin.
" Jangan begitu dingin, kau milikku malam ini! " ujar Baoyu.
" Heh, benarkah? Kau tidak tahu siapa aku? " tanya Xishi.
" Kau wanita yang menghabisi orang-orang ku di ibukota, padahal hampir mati tak ku sangka saat bertemu lagi kau malah sehat! " jawab Baoyu.
Xishi tersenyum,
" Aku tersanjung, hanya saja serangga menjengkelkan seperti itu tak akan membuatku mati! " balas Xishi.
" Heh, selain dingin kau juga besar kepala ya! " gumam Baoyu sambil mendekat ke arah Xishi.
Setelah duduk di samping Xishi, dia juga mencoba untuk menciumnya, Xishi masih tenang seperti biasanya, namun sebelum hal itu terjadi sesuatu mengganggu Baoyu.
" Apa tanganmu tidak lelah bermain air seperti itu? " tanya Baoyu.
" Hah, benar! Aku terlalu terbawa suasana, " ucap Xishi lalu beranjak.
Saat Baoyu mencoba meraih tangannya, Xishi lebih dulu menghindar dan menggagalkan niatnya.
' Benarkah seorang Raja? Mengapa rasanya dia begitu bodoh dan tidak waspada? ' gumam Xishi dalam hati.
" Heh, buka bajumu! " ujar Baoyu.
" Kau pikir siapa kau? Berani sekali memerintahkan ku? " balas Xishi.
" Pelan kan suaramu! Aku adalah Raja Yue, kau tidak pantas meninggikan suaramu! " ujar Baoyu.
__ADS_1
" Benarkah seorang Raja? Mengapa aku tidak yakin? " gumam Xishi.
" Sepertinya aku sendiri yang harus memberitahumu! " ujar Baoyu.
Lalu, secara tiba-tiba Baoyu menyerang Xishi dengan pedang yang entah kapan ia keluarkan. Xishi yang tengah bersantai menikmati alurnya hampir saja tergores karena lengah. Namun, beruntung tubuhnya dapat menghindar.
" Heh, tiba-tiba menyerang? Taktik kuno, apakah Pemimpin Pembunuh Yue serendah itu? " cibir Xishi.
" Berisik! Setelah kalah, kau akan menjadi makanan para bawahan ku! " balas Baiyu percaya diri.
" Heh, hanya seorang bayangan saja bisa begitu bangga? " ujar Xishi tak mau kalah.
Keahlian pedang Baoyu perlu di akui, namun disaat seperti ini Xishi tidak bisa menggunakan salah satu pedangnya. Kedua pedangnya akan mengubah wujudnya secara otomatis, keduanya sudah melekat dalam diri Xishi yang lain, jika terpaksa di keluarkan, maka Baoyu akan tahu keberadaannya.
Hal yang bisa di andalkan saat ini hanyalah tipuan, menjatuhkan dan mengambil alih pedang lawan. Seperti yang di katakan, Baoyu tidak waspada hingga bisa dengan mudah masuk ke dalam tipu muslihat Xishi.
Xishi menabur racun yang bisa membuat siapapun yang kena racun itu tidak melihat dengan jelas, mereka akan melihat lawan di depannya menjadi banyak, teknik manipulasi penglihatan ini hanya di kuasai oleh Xishi, sedangkan yang di berikan kepada Limei hanya teknik racun mematikan dan yang merenggut kewarasan musuh.
Baoyu yang terkena efek racun itu melihat banyak Xishi di depannya, terlebih dia tidak bisa melihat mana yang asli hingga dirinya sembarang mengayunkan pedang.
Xishi yang dengan tatapan dinginnya menghampiri lalu menangkis tangan Baoyu hingga dia menjatuhkan pedangnya, dengan begitu Xishi bisa mengambil alih pedangnya.
" Sialan! Siapa kau sebenarnya? " sarkas Baoyu.
" Malaikat Maut! " bisik Xishi yang seketika membuat penglihatan Baoyu kembali normal.
Namun, saat dia membuka kembali matanya, dia mendapati dirinya berada tepat di tepi kolam, Xishi yang berdiri di hadapannya sedang menodongkan pedang milik dirinya sendiri. Dengan senyum manisnya, Xishi mencoba mengambil langkah maju.
" Ketika kau jatuh ke kolam, tubuhmu akan hancur dan usus mu akan meledak keluar! Kolam kematian ini aku berikan padamu, namun jika kau ingin cara mematikan yang lain mungkin aku bisa memberikannya! " ujar Xishi sebelum akhirnya mendorong pedangnya lebih dekat.
Tubuh Baoyu tepat berada di atas kolam, jika dia jatuh dia akan hancur namun jika dia beranjak dia akan tertusuk oleh pedangnya sendiri.
Namun, sebelum hal itu terjadi, anak buahnya yang sadar akan bahaya menerobos masuk. Xishi melompati Baoyu dan menuju tepi lain. Baoyu berhasil bangkit dan selamat dari dua pilihan sesat barusan.
" Ada wabah aneh di markas bawah tanah, beberapa orang mati disana! " ujar salah seorang pembunuh Yue.
" Heh, sudah bekerja ya? " tanya Xishi dengan diiringi tawa kecil.
" Sialan! Bunuh wanita gila itu!! " titah Baoyu dengan emosi meledak.
Senyum Xishi melebar, dia menyayat tangannya sendiri ke pedang lalu melemparkan pedangnya hingga mengenai orang-orang disana. Baoyu lolos, namun Xishi berhasil kabur dengan menghancurkan dinding.
Orang-orang yang terkena sayatan pedang itu jatuh ke kolam dan hancur hingga warna kolam berubah menjadi merah.
Disisi lain, Xishi yang berhasil keluar dari rumah bordil itu kembali mengeluarkan maskernya. Sejenak terlintas dalam benaknya, sosok Liu Xingsheng yang sebelumnya selalu datang membantunya.
" Tuan Muda Liu, sayang sekali mungkin aku akan kembali merusak masker sutra ini, maafkan aku.. "
Padahal, yang ia ucapkan sama sekali berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya.
' Setelah ini, mungkin kau benar-benar akan hilang dari hidupku? Dapatkah kau memenuhi harapan yang aku katakan saat terakhir kali berbincang?
{Flashback:
Xishi :“Aku harap kau dapat mengingatku dan menagih hutang budi begitu kita bertemu lagi”}
Aku sungguh berharap kau akan melakukan hal demikian, aku mengharapkan itu darimu, Liu Xingsheng '
Saat sedang larut dalam lamunannya, sebuah anak panah menancap tepat di batang pohon yang Xishi gunakan untuk bersandar. Fokusnya langsung kembali ke rencananya barusan.
" Eh, ketemu ya? Kau akan selamat jika bisa menangkap ku hidup-hidup! " gumam Xishi sambil tersenyum padahal air matanya baru saja menetes.
Xishi kembali melanjutkan rencananya untuk memancing mereka ke hutan sebelum malam gelap, hari sudah sore seperti ini seharusnya para pendekar sudah sampai di barat.
Disisi lain, Song Qing Lian bertemu dengan Huang Yan Xun di gerbang timur kota Mu Lin. Keduanya sama-sama tidak tahu kalau mereka sama-sama di undang Pembunuh Yue ke hutan barat, keduanya berbincang sambil melanjutkan perjalanan, setelah itu barulah mereka tahu kalau tidak hanya mereka yang di undang ke hutan barat.
" Sebenarnya apa maksud Pembunuh Yue mengirim undangan kepada kita? " tanya Qing Lian.
__ADS_1
^^^(Song Qing Lian - Putra pertama^^^
^^^Song Gaochang)^^^
Yan Xun terdiam, dia pun sama-sama tidak tahu jawabannya, namun setelah memikirkan perkataan yang di ucapkan Bai Long Qishi Zhu Zhishu, mungkin ini ada hubungannya dengan target. Dengan kata lain, ada kemungkinan mereka memiliki sandera.
" Mungkinkah putri Tuan Zhan sedang di sandera? " tanya Yan Xun.
^^^(Huang Yan Xun - Putra Pertama^^^
^^^Huang Ming Ling)^^^
" Maksudmu, Zhan Xishi? " tanya Qing Lian.
" Memangnya ada selain dia? " tanya Yanxun.
" Kurasa tidak ada.. " jawab Qing Lian.
" Mengapa kau jadi mirip Qinsong? " celetuk Yanxun.
" Tolong, jangan di samakan! " balas Qing Lian.
" Jelas berbeda, Qinsong jauh lebih tampan darimu.. " ujar Yanxun sambil terkekeh.
" Dia dan aku jelas berbeda, dia hanya anak angkat, namun meskipun begitu aku tetap menyayanginya sebagai adikku.. " ujar Qing Lian.
" Heh, kau berkata demikian, sepertinya kondisi internal keluarga Song tidak seperti kelihatannya.. " ujar Yanxun.
" Entahlah, mungkin ini terlalu memaksa, namun ayah sepertinya tidak terlalu menanggapi keberadaan Qinsong.. " balas Qing Lian dengan raut wajah sendu.
" Itukah alasan mengapa Qinsong terus bekerja di luar Kediaman dan lebih banyak menghabiskan waktu di Klan " tanya Yanxun.
Qing Lian mengangguk, laki-laki tampan seperti Song Qin Song ternyata bisa di abaikan di dalam keluarganya. Dibalik sikapnya yang Ceria, polos, lugu dan ramah serta perhatian pada orang lain, dia adalah sosok yang kesepian yang bahkan tak terlihat oleh ayahnya sendiri.
Saat sedang asyik berbincang sambil menikmati perjalanan, mereka bertemu lagi dengan Nie Fengyue. Dia sedang beristirahat di sebuah kedai di tepi jalan, Fengyue terkejut karena ternyata mereka berdua mendapatkan undangan yang sama. Tanpa berpikir lebih banyak lagi, mereka pun langsung menuju ke hutan barat karena hari sudah mulai gelap.
Sementara itu, Xishi masih bermain-main di hutan dengan pengejaran Pembunuh Yue, namun hutan yang ia masuki sepertinya merupakan tempat lain dari pembunuh ini. Tak heran yang mengejar Xishi semakin banyak, mereka sudah ada disini sebelum Xishi datang.
Sekilas pandangan Xishi bertemu dengan Zhiyu, sebelum akhirnya seseorang memukul Zhiyu dari belakang hingga dia jatuh tak sadarkan diri.
" Diwei Ling.. " Gumam Xishi sambil melemparkan senyumnya lalu pergi ke tempat terencana.
Disana, sebelas bawahannya termasuk Limei dan Diwei Ling membungkuk memberi hormat, lalu Xishi berjalan masuk ke tengah-tengah kayu yang berjejer melingkar.
Xishi menutup matanya menggunakan kain hitam, lalu Diwei Ling dan Limei membantu mengikat tangan dan kakinya. Setelah selesai kelompok Pembunuh Malam langsung pergi ke persembunyiannya.
Malam semakin larut, Pembunuh Yue datang lebih dulu dan mendapati mangsanya sudah terikat, mereka hanya perlu menyalakan api dengan begitu tugas mereka akan selesai lebih mudah dari yang mereka pikirkan.
Di waktu yang bersamaan, Qing Lian, Yanxun dan Fengyue sampai mereka melihat kerumunan Pembunuh Yue yang mengitari api unggun. Tidak hanya itu, Qibo pun ada di tempat, hanya saja dia datang dari sisi yang berbeda hingga tidak bertemu dengan yang lainnya.
Saat Yanxun pergi ke atas pohon untuk mencari tahu apa yang terjadi, Zhan Cheng tiba-tiba datang dari belakang dan langsung berteriak.
" ZHAN XISHI!!! "
Teriakan itu langsung membuat Yanxun tersentak, bahkan Pembunuh Yue yang mendengar hal itu bisa langsung menyadari sumber suara dan berbalik menyerang mereka.
Yanxun yang masih tersentak tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, begitu juga dengan Fengyue yang masih terkejut.
" Apa? Apa maksudnya? Apa maksudnya Paman Zhan berteriak memanggil Zhan Xishi?? " tanya Fengyue panik.
" Zhan Xishi.. Di-dia.. Di dalam api unggun!! " gumam Qing Lian.
Mendengar hal itu emosi ketiga laki-laki muda dan satu laki-laki paruh baya itu meledak seketika. Mereka kalah jumlah namun masih memantapkan langkah untuk melawan para Pembunuh Yue yang menyerang.
__ADS_1