
"Tuan, kenapa tuan tidak mau kembali?" tanya Sheila kepada sang kaisar.
"Aku tidak mau kembali, memangnya kenapa?" tanya sang kaisar.
"Bukan apa-apa, cuma..., apa Yang Mulia betah berada di sini?" tanya Sheila kembali.
"Kau kira kalau aku ini adalah seorang pria yang suka merengek karena berkerja keras?" tanya sang kaisar tanpa menatap wajah Sheila.
"Ya sudah kalau begitu." jawab Sheila.
"Kamu..., tidak memasak?" tanya sang kaisar.
"Memangnya Tuan lapar?" tanya Sheila.
"Ying Hua." panggil Kaisar Jung.
"E..," ucap Sheila.
"Bolehkah aku memanggilmu Ying Hua?" tanya sang Kaisar.
"Panggil namaku Sheila, Tuan. aku suka nama itu." jawab Sheila.
"Baiklah kalau begitu, lalu apa yang bisa aku bantu?" tanya sang kaisar.
"Kau bisa membantuku mencari kayu untuk memasak, bisa kan?" tanya Sheila.
"Tentu." jawab Sang Kaisar.
"Ayo." ajak Sheila.
Entah penyakit dari mana yang tiba-tiba menyerang kaisar Jung, pria itu menjadi seorang pria yang begitu penurut kepada Sheila. siang ini Sheila meminta sang kaisar untuk membantunya membelah kayu.
"Yang mulia, coba cicipi masakan ini." pinta Sheila yang kemudian memberikan sesuap masakan yang dia masak ke mulut sang kaisar.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sheila kembali.
Kaisar Han menganggukkan kepalanya, pria itu tersenyum kepada Sheila sambil mengacungkan jempolnya.
"Baiklah kalau begitu, tolong Yang mulia masak air terlebih dahulu. nanti akan ku buatkan sesuatu yang lezat karena hanya di tempat ini ada makanan seperti ini, sedangkan kalau Yang mulia kembali kerajaan Yang mulia tidak akan pernah mendapatkan makanan ini." ucap Sheila.
"Memangnya kenapa?" tanya kaisar Jung kepada Sheila. terlihat pria itu sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Sheila.
"Yang mulia, karena masakan ini hanya ibuku yang memasaknya. tidak pernah ada orang yang bisa memasaknya, yang kedua.., sekarang aku yang bisa masaknya karena hal itu tadi kakak ku memintaku untuk masakan, tapi sayang sekali dia sudah kembali ke kerajaan jadi dia tidak bisa mencicipi masakan ku ini." jawab Sheila sambil tersenyum.
Tak berselang lama datang seorang pemuda ke tempat Sheila dan sang kaisar.
"Nona!!" seru pemuda tersebut.
Sheila memutar tubuhnya menatap seorang pria yang tadi memanggilnya saat berada di dapur rumahnya.
__ADS_1
"Iya ada apa?" tanya Sheila.
"Apakah kau putri dari tuan Liang Ying?" tanya pemuda itu kepada Sheila.
"Tentu, putri dari tuan Liang Ying. adik dari tuan Lian." jawab Sheila.
Terlihat pria itu tersenyum saat memandang wajah Sheila. "Ternyata sudah lama tidak bertemu denganmu, wajahmu benar-benar sangat cantik." ucap pemuda itu.
Sheila menatap pria itu sembari menatap dari atas kepala hingga ke ujung kaki. "Ada apa kau kemari?" tanya Sheila.
"Aku hanya ingin melihat putri dari tuan Liang, seorang pria yang benar-benar sangat baik kepada keluargaku dahulu." jawab pemuda itu.
Sheila menganggukkan kepalanya, "Oh ya, apakah kau itu pemuda yang dulu sering bermain dengan kakakku?" tanya Sheila.
Pemuda itu menganggukkan kepalanya,
"Apakah kau sudah menikah?" tanya Sheila yang membuat pemuda itu langsung terkejut, begitu pula dengan kaisar Jung.
"Apa yang kau katakan, adik. kenapa kau bertanya seperti itu kepada dia?!" seru Kaisar Jung yang berpura-pura menjadi Lian Ying.
"Apaan sih, kak. tentu saja aku bertanya seperti itu kepada dia, memangnya aku harus bertanya apalagi?" tanya Sheila yang membuat kaisar Jung sedikit kesal.
"Siapa kau?" tanya pemuda kepada sang Kaisar.
"Apakah kau sudah lupa kepadaku, wahai pemuda. aku adalah Lian, kakak dari Sheila Ying." jawab sang kaisar.
Pemuda itu menatap sang kaisar dengan begitu intens, karena terlihat wajah Lian Ying yang dahulu sangat berbeda dengan yang sekarang.
"Benarkah kamu Lian Ying? kenapa wajahmu tidak sama seperti dahulu, padahal waktu itu kita sama-sama sudah dewasa?" tanya pemuda kepada sang kaisar.
"Waktu itu umurku berapa bersamamu? sedangkan aku sudah pergi dari sini sudah 8 tahun, tentu saja aku sudah banyak berubah." jawab kaisar Jung yang mengalihkan pembicaraan.
"Benarkah? tapi kenapa aku serasa tidak mengenalmu?" tanya si pemuda.
"Sudah, sudah pergi sana jangan mengganggu aku dan adikku. kami mau memasak!!" seru sang kaisar yang mengusir pemuda itu.
"Apaan sih, kak. mengusir dia, dia itu kan temanmu biarkan dia makan bersama kita, mau kan?" tanya Sheila yang membuat pemuda itu tersenyum.
"Tidak, tidak boleh." jawab sang kaisar.
Tentu saja sang kaisar tidak akan memperbolehkan pemuda itu, itu berada di di tempatnya dengan begitu kaisar Jung akan bersama Sheila untuk waktu yang lama.
Terlihat sekali kalau si pemuda benar-benar membuat Kaisar Jung sedikit terusik, pria itu selalu menatap seorang pemuda yang selalu menatap Sheila.
"Aku kan sudah tanya, Apakah kau sudah menikah?" tanya Sheila kembali.
"Belum." jawab pemuda itu.
"Oh ya, Siapa namamu, Aku lupa?" tanya Sheila.
__ADS_1
"Namaku aku, aku..,aku wong si." jawab si pemuda.
"Oh, jadi namamu wong si ya?" tanya Sheila yang membuat wong si menganggukkan kepalanya.
"Kalau kau sudah selesai? Lebih baik kau segera kembali, aku harus makan bersama adikku." perintah sang Kaisar.
"Tapi Lian Ying, aku kan temanmu. Aku ingin berada disini bersamamu, aku ingin menghabiskan waktuku denganmu. karena sudah 8 tahun Aku tidak pernah mendengar mengenai kabarmu." jawab si pemuda.
Perkataan pria itu hanyalah sebuah alasan saja, karena pria itu Mencari alasan agar dia tetap bersama dengan Sahila.
"Sudah pergi kau jangan mengganggu!!" seru Kaisar Jung.
"Tidak bisa, aku tidak bisa pergi karena Sheila sudah mengundangku ke sini." jawab Wong si.
"Pergilah!" perintah sang Kaisar kembali.
Wong si menatap Kaisar Jung yang terlihat sedikit aneh, biasanya pria itu tidak pernah menghiraukan apapun yang dilakukan oleh orang lain. tapi sekarang dia terlihat terus mengusir seseorang yang bersama dengan dirinya.
"Kakak, kenapa Kakak mengusir Wong si. Bukankah dia ingin berkunjung ke tempat kita?" tanya Sheila sambil memandang wajah sang Kaisar.
"Sudah, tidak usah banyak bicara. dia harus segera pergi dari sini aku sedikit tidak menyukai kehadirannya. Aku mau beristirahat!" jawab Kaisar Jung yang kemudian membawa makanan.
Akhirnya Sheila mau tidak mau meminta Wong si untuk segera pergi dari rumahnya.
"Maaf ya Wong sih, karena Kakakku memintamu pergi." ucap Sheila.
"Tidak apa-apa, kemungkinan karena kami sudah lama tidak pernah bertemu." jawab Sheila.
Akhirnya Wong si pergi, tak berselang lama terlihat Sheila masuk kedalam rumahnya. sang Kaisar nampak sedang menunggu Sheila di meja makan.
"Kenapa kau lama sekali, kau dari mana saja?" tanya sang Kaisar.
"Tentu saja aku mengantarkan Wong sih." Jawab Sheila.
"Ngapain juga kamu mengatarkan dia, kau kira dia itu raja mu?" ucap Kaisar Jung yang membuat Sheila menatap pria itu.
"Yang mulia, kenapa Yang Mulia dari tadi terus berkata seperti itu. Kenapa juga kau harus marah-marah kepada Wong si? Bukankah dia itu teman kakak ku?" tanya Sheila.
"Sudah jangan banyak bicara, lebih baik Kalau Segera makan bersamaku!" seru sang Kaisar.
Sesaat kemudian terlihat suara rengek tangis anak kecil dari luar rumah Sheila.
"Hiks..hiks..hiks.., tangis seorang anak di luar rumah Sheila.
"Suara siapa itu?" tanya Sheila.
"Aku tidak tahu." jawab sang Kaisar
Terlihat berdiri Gadis itu ingin melihat Siapa yang sedang menangis di luar rumahnya, tatapan mata Sheila terus mencari Siapa yang menangis di depan rumahnya. kedua bola mata pria itu menatap seorang anak kecil yang menangis di depan rumahnya.
__ADS_1
*** bersambung ***