
Yumna mengangguk, lalu Melisa berkomentar tak ada toko diujung jalan. Yumna tak bisa berkata - kata lagi. Melisa pikir Yumna takut kalau Ia akan menerobos masuk ke tempatnya jadi tak ingin memberitahunya, lalu mengebrak meja berteriak ia juga tidak mau menemui di rumahnya. Yumna pun hanya bisa diam saja sambil makan cumi kering. Melisa kesusahan ketika akan makan cumi kering lalu bertanya apakah Yumna bisa mengunyahnya, Yumna mengatakan kalau ia hanya mengemutnya dan sekrang tidak bisa makan karena terlalu kembung dan keras.
“Sebagai orang yang bekerja di industri makanan, kamu pasti punya kelas ketika membeli makanan.” ucap Yumna.
“Itu sikap yang buruk untuk ribut - ribut soal makanan. Sepertinya terlalu kekanak - kanakan. Berusaha terlihat mewah dengan memilih makanan. Bukannya makan itu hal yang spontan? Ketika lapar, makanan jadi enak. Ketika kenyangan, makananmu jadi tidak enak. Siapa yang peduli tentang seberapa enak rasanya ketika kamu terlalu kenyang untuk makan?” ucap Yumna mengejek.
“Orang-orang sepertimu memang buta rasa.” ejek Melisa.
“Aku tahu bagaimana rasa makanan-makanan itu, bahkan tahu yang mana rasanya enak dan tidak enak.” ucap Yumna.
"Banyak orang menunggu makanan yang enak dan unik diciptakan. Apa lagi selain makanan yang membuat masyarakat menjadi begitu senang? Apa dengan Berlibur dengan jet pribadi mereka atau berbelanja sampai mereka muak? Apakah mereka akan menjadi jutawan? Apakah ada sesuatu yang lebih murah daripada makan? Yang bisa membawa begitu banyak kepuasan? Apakah ada sesuatu yang lebih menghibur dari hidangan lezat?” ucap Melisa.
Yumna terdiam mendengarnya lalu menjawab kalau itu “Cinta” Melisa membeku sejenak, Yumna menjelaskan Jatuh cinta lebih menyenangkan dari pada makan dan itu membuatnya sejuta kali lipat lebih bahagia, mereka akan senang bahkan ketika kelaparan. Melisa terliha jatuh lemas di tempat duduknya.
“Orang yang sedang jatuh cinta, tidak tergila - gila pada hidangan yang lezat. Mereka juga tidak ribut - ribut soal hidangan yang tidak enak. Karena mereka sudah cukup bahagia.” jelas Yumna.
“Jadi, apa itu sebabnya kamu selalu tetap menjual nasi? Kamu selalu menempatkan nasi di dalam menu ketika yang lain yang terobsesi dengan hidangan maha karya kita. Dasar, gadis nasi! Gadis nasi! Nasi! Nasi!” ejek Melisa berkali - kali.
💜💜💜💜💜
Brian baru pulang melihat di lantai atas masih gelap berarti temanya belum pulang, sambil mengeluh sulit sekali mau melihat wajah temanya itu. Akhirnya ia masuk ke dalam rumah melihat sedang ada tamu lalu menyapanya lebih dulu. Yumna pun berdiri, Brian melihat wanita itu bukan teman Yumna.
Melisa memberitahu Brian itu yang bekerja di perusahaannya. Brian heran karena Melisa biasanya tidak pernah membawa rekan kerja ke rumah. Melisa menceritakan Yumna adalah rekan kerja yang tak pernah takut dan yang selalu memanggil dengan nama ejekan di tempat kerja. Brian bertanya apa panggilan untuk Melisa.
Brian bisa tahu kakak temanya selalu mengawasi bawahanmu 24 jam sehari seperti penjaga keamanan, lalu teringat Melisa itu punya sindrom iritasi usus besar jadi terus ke kamar mandi sepanjang waktu, lalu menceritakan mereka memanggilnya dengan nama kampungnya.
“Rambut berantakan dan tutupi tubuhmu.” pinta Brian yang melihat gaya Melisa berubah saat mabuk dengan menutupi wajahnya yang rambut kerinting. Keduanya tertawa tapi Yumna melirik sinis sambil meminum airnya.
“Tunggu. Kamu kenapa ini? Rambutmu masih rapi padahal ini sudah larut malam. Pada malam hari, rambutnya sangat berantakan.” ucap Brian, Yumna mengaku juga sudah melihatnya. Brian tak percaya Yumna sudah melihatnya sambil menceritakan Melisa itu menakutkan sekali.
Setelah itu Brian lebih dulu mengulurkan tanganya sambil memperkenalkan diri, Yumna menyambutnya dengan menyebutkan namanya, Brian langsung jatuh lemas mendengarnya. Yumna heran melihatnya karena menurutnya nama Yumna itu pasaran dan bisa ada dimana - mana, Brian berusaha berdiri dengan wajah gugup mengangguk setuju kalau memang nama Yumna pasaran.
“Ada lima Yumna saat aku masih SMA. Yang terpenting, ada dua Yumna dalam kelas.” cerita Yumna, Brian makin gugup mengingat wajah keduanya didalam buku tahunan dengan nama yang sama.
Akhirnya Ia berpura - pura ada urusan lagi lalu keluar rumah sambil menelpon, tapi Ken sudah masuk ke dalam rumahnya bertanya apa yang terjadi. Brian pun berjalan mundur masuk ke dalam rumah, Yumna dan Ken pun saling menatap untuk pertama kalinya didalam rumah, keduanya nampak kaget. Brian menyuruh Ken menyapanya dengan memperkenalkan kalau Yumna yang bekerja di perusahaannya kakaknya.
Yumna melonggo mengetahui Ken itu adik dari Melisa yaitu atasanya, lalu berusaha untuk tetap tenang dengan menyapa Ken lebih dulu. Setelah itu memastikan kalau mereka itu saudara kandung. Melisa mendekatkan wajahnya merasa kalau mereka itu mirip, Yumna kebinggungan mengatakanya lalu memberitahu tempat tinggalnya itu sangat jauh dan memberikan kode dengan matanya. Ken seperti tak begitu mengerti, Yumna berdeham lalu memilih untuk pamit pergi lebih dulu.
“Keluargamu pasti kaya sekali. Lihatlah kamu membawa tas mahal ini.” ucap Melisa melihat tas yang dipakai anak buahnya.
“Ini hadiah pernikahan, tapi aku tidak jadi menikah. Kami membatalkannya sehari sebelumnya dan Aku yang membatalkannya.” ucap Yumna, Ken dan Brian nampak binggung.
“Kenapa kamu membatalkannya?” tanya Melisa penasaran langsung berdiri didepan Yumna.
__ADS_1
“Kurasa aku sudah menjelaskannya padamu ribuan kali.” ucap Yumna.
Tapi Melisa yakin Yumna tidak memberitahunya. Brian mulai melepaskan dasinya karena panik, Yumna nampak kebinggungan menjelaskan kalau semua bukan masalah besar, karena Ia hanya belum yakin kalau sudah cukup mencintainya, mungkin karena gegabah dan sudah tua, seperti saat umur yang tak biasa dilakukan selain menikah. Melisa tak percaya kalau hanya untuk alasan yang menyedihkan itu.
Yumna mengaku kalau pembatalan pernikahanya itu karena merasa muak melihat cara makan calon suaminya, Melisa mengangkat jempol memberikan pujian, Ken yang tahu kebenarnya memilih untuk meninggalkan ruangan makan.
Melisa teriak di depan pintu agar mengantar pulang, dengan menunjuk rumahnya ada di ujung jalan sana. Yumna hanya bisa menunduk untuk pamit pergi. Keduanya pun berjalan bersama, Yuman masih tak percaya dengan yang terjadi ternyata kakak Ken adalah atasanya.
“Direktur Ken, aku tidak punya hubungan yang baik kakak mu. Akulah yang sering dihina oleh dia. Jadi aku cuma bilang kalau aku tinggal diujung jalan sana. Aku tidak mau dia jadi tahu rumahku, tapi Kurasa aku harus pindah.” ucap Yumna
“Kamu sangat membenci kakakku yah?” tanya Ken.
“Bukan berarti aku membencinya. Hanya saja aku lebih suka tidak melihat dia di rumah.” ungkap Yumna lalu melihat Melisa terus melihatnya dari depan pintu rumah.
Ketika mereka berbelok, Yumna memilih untuk pergi sendiri saja, lalu bilang pada kakaknya kalau Ia ingin pulang sendiri, dan akan jalan-jalan sebentar setelah itu langsung pulang ke rumahnya. Tiba - tiba keduanya terdiam melihat sepasang pria dan wanita yang sedang berciuman di dinding sangat hot, keduanya terpaku melihatnya. Kenzo meminta waktu sebentar karena tidak bisa bernapas.
“Apa yang kalian lihat? Apa ini pertama kalinya kalian melihat orang berciuman?” ucap Kenzo melihat keduanya terlihat melonggo.
“Tidakkah menurutmu tidak sopan melakukan hal ini di depan rumah seseorang?” tegur Yumna.
“Ini rumahku.” kata Kenzo, Yumna melonggo mendengarnya.
Ken sambil berjalan memberitahu kalau pria itu adalah adiknya, Yumna akhirnya mengikuti Ken tanpa banyak berkata - kata. Nana merasa pernah melihat wanita itu, Kenzo pun juga melihatnya lalu Nana kembali mencium Kenzo tanpa henti.
Yumna nampak binggung memilih untuk jalan lewat kanan saja, Ken mengatakan kalau itu jalan buntu. Keduanya berjalan bersama tanpa banyak berkata - kata, sampai akhirnya Yumna menjerit kalau semuanya itu memalukan. Ken melihat Yumna yang tiba - tiba menjerit seperti orang gila.
“Aku melakukannya untuk menyelamatkanmu dan untuk tidak membuatmu lebih dipermalukan.” ucap Ken lalu kembali berjalan.
“Sudah berapa lama itu sejak kamu dicampakkan pada hari pernikahanmu?” tanya Yumna berjalan disampingnya, Ken menjawab sudah setahun.
“Menyedihkan sekali. Kamu masih merasakan sakit dan sengsara dari kejadian setahun yang lalu.” ucap Yumna.
Ken bertanya siapa yang bilang dirinya itu sengsara, Yumna menjawab kalau itu dirinya karena melihat ada tulisan "Penderitaan" di seluruh tubuhnya dan ada kesengsaraan pada caranya memandang serta dari suara napasnya bahkan pakaiannya pun terlihat menyedihkan ditambah lagi dengan sepatunya.
“Kamu kelihatan menyedihkan dan rapuh. Itu membuatku ingin memberikan pelukan untukmu. Kamu lah satu - satunya yang tidak menyadari hal itu. Rasa emosionalmu itu sudah dinonaktifkan.” ucap Yumna, Ken membela kalau Yumna lebih baik khawatirkan dirinya saja.
“Aku menyadari kalau aku sengsara dan menyedihkan. Setidaknya rasa emosionalku tidak dinonaktifkan.” ucap Yumna, Ken masih tak terima kalau dianggap dirinya itu sengsara.
“Aku tidak pernah melihatmu tertawa.” ucap Yumna.
Ken mengaku bukan tipe orang yang mudah tertawa. Yumna mengejek Ken itu lucu lalu memperingati Ken tak boleh mengikutinya, dan berjalan meninggalkanya.
Melisa langsung meminum sebotol air dalam kulkas, merasakan Ken yang baru pulang, lalu memberitahu Yumna si wanita itu sudah sangat menyiksanya karena namanya lalu mengucapkan selamat malam pada adiknya sebelum masuk kamar.
__ADS_1
Brian mendekati Ken memastikan kalau wanita itu tadi adalah tetangganya yang bernama Yumna, Ken tak banyak bicara memilih untuk berjalan masuk kamar, Brian masih terlihat tak percaya berusaha memanggil temanya, Ken tetap saja berjalan masuk ke dalam kamarnya. Brian merasa badannya langsung merinding dan tiba - tiba merasa panas, lalu tersadar botol minum ada sisa cumi.
Yumna sudah tiba di rumah nya. Ia pun langsung masuk kamarnya, melihat sepatu Ken ada di depan pintu dengan kesal masuk ke dalam rumah melepaskan sepatu semaunya. Tapi akhirnya kembali ke depan pintu agar bisa menyusun sepatunya berdampingan dengan sepatu Ken.
Ketua Jang memberikan sekotak hadiah untuk Nyonya Emilia, wajah Ibu Ken bahagia melihat isinya berupa tas bermerek lalu memeriksa isi tanya hanya ada kertas penganjal saja dan terlihat binggung karena tak ada apapun, ketua Jang bertanya apakah memang harus ada yang lain.
Nyonya Emilia menyangkal tak harus ada, Ketua Jang melihat dari sikap Nyonya Emilia kalau seharusnya ada sesuatu. Nyonya Emilia berusaha tersenyum mengatakan kalau Seharusnya ada surat cek. Ketua Jang tertawa mendengarnya.
Nyonya Emilia masuk ke ruangan sambil melembar sepatunya berteriak marah kalau seharusnya ada uang karena Ia tidak pernah meminta tas itu dan berpikir Ketua Jang itu berusaha mengganggunya, lalu mengumpat Ketua Jang itu Pak tua pelit.
“Dia seharusnya tahu aku ingin uang. Aku baru memfilmkan sebuah film dengan dia. Seharusnya ada.” ucap Nyonya Emilia mengingat kembali saat memegang dadanya mengatakan pada Ketua Jang kalau Ia butuh sebuah cek.
“Aku malu sekali!” ucap Nyonya Emilia lalu berdiri dari tempat duduknya.
“Beginilah kedangkalan. Apa tidak lucu? Hal ini memalukan dan lucu sekali. Seharusnya ada surat tulisan tangan. Humor datang dari penghinaan. Sejarah manusia semuanya berdasarkan pada penghinaan!” ucap Nyonya Emilia menceritakan pada penulisnya.
Sang penulis hanya bisa diam saja tanpa banyak berkata-kata. Tiba - tiba Nyonya Emilia langsung berdiri dari tempat duduknya dan keluar ruangan, Sang penulis nampak kaget melihatnya.
Kenzo, dkk menonton film blue di dalam ruang studio, Nyonya Emilia mengebrak meja yang membuat semuanya terkejut dan langsung menutup laptopnya. Nyonya Emilia dengan wajah sinis keberadaan Ken, Kenzo dengan gugup berkata tidak ada disini.
Akhirnya Nyonya Emilia masuk ke ruangan Ken, tak melihat anaknya. Kenzo, dkk ikut dibelakangnya. Nyonya Emilia bertanya kemana anaknya pergi, Kenzo menjawab kakaknya sedang pergi ke perusahaan produksi jadi ibunya lebih baik mengubunginya saja.
“Apa kamu pernah melihat dia mengangkat teleponku?” teriak Nyonya Emilia lalu berjalan pergi, Kenzo memberitahu kalau itu bukan dirinya tapi teman-temanya yang melakukan. Semua berusaha untuk menutup mulut Kenzo agar tak ember.
Yumna turun dari bus dengan payung sedikit rusak dibagian ujung, lalu berjalan menyusuri hujan ke arah kantor. Tiba - tiba lewat seorang wanit cantik dengan rok mini, berambut panjang, dengan memakai tas wanita dan terlihat sangat elegan. Yumna terpaku melihat wanita yang nampak cantik dari belakang.
“Pakaiannya kelihatannya mewah. Tapi, darimana dia punya stoking itu? Dan sepatunya?” gumam Yumna melihat bentuk tubuh si wanita dari belakang.
Keduanya sama-sama masuk ke dalam, si wanita pun berjalan lebih dulu dengan plastik yang membungkus Bajunya menuju lift. Yumna agak kesusahan memasukan payung ke dalam plastik karena payungnya agak rusak. Wanita itu masuk lebih dulu ke dalam lift, Yumna sempat berlari mengejarnya lalu terhenti dan wajahnya kaget melihat wanita yang dikaguminya itu adalah Yumna si cantik yang selama ini menjadi saingan, sekarang berada didalam kantornya.
Yumna duduk diam didepan mejanya, mendengar teman yang membahas manager tim baru adalah orang yang membuat masakan Indonesia terkenal di Jerman, dari yang didengar kalau pihak perusahan menawarkan banyak uang supaya wanita itu kerja disini. Semua terlihat tak percaya mendengarnya.
“Aku yakin sekali dia orangnya sombong dan membencinya.” kata temanya, semua juga setuju, Yumna hanya diam saja.
“Meskipun kami hanya tim pendukung, kamu tidak bisa membiarkan dia menginjak harga diri kami.” ucap si wanita mengebu - gebu.
“Ayo jangan khawatirkan ini. Jika tidak, kita akan lebih stres karena ini.” ucap Aria pada anak buahnya, Semua terlihat tak suka dengan ucapan Aria.
Seorang kurir datang membawa pot bunga untuk Yumna, Aria pun menunjuk tempat duduk Yumna. Yumna masih terdiam seperti patung. Semua menjerit bahagia melihat Yumna yang mendapatkan rangkaian bunga.
Hae Young melirik pita yang tertulis, "Yumna, semoga hari pertamamu sukses di tempat kerja."
Flash Back
__ADS_1
Yumna membaca sepucuk surat untuknya, teman dekatnya berkumpul penasaran ingin tahu apa isi suratnya dan dari siapa. Yumna menyembunyikan surat di dadanya, seorang pria tiba - tiba datang dan langsung menarik surat sampai membuat goresan di pipi Yumna.
“Hei! Sampai mana kamu membacanya? Beraninya kamu mengambil surat orang lain?” teriak temanya, lalu berteriak memarahi Nayara yang memberikan surat pada Yumna bukan si cantik Yumna yang dimaksud.