
Tapi setelah melihat ke arah belakang tak ada yang mobil siapapun, mobilnya dibagian belakang pun nampak baik -bbaik saja. Ken kebingungan melihat sekeliling hanya ada mobilnya saja tak ada mobil lain. Tiba - tiba merasakan kembali sakit dibagian perutnya, lalu dimatanya melihat dirinya yang terkapar di aspal dengan kepalanya penuh dengan darah.
Ken membuka matanya dan sudah terbaring di tempat tidurnya. Dokter mondar mandir terlihat kebinggunga, beberapa saat kemudian dia menjerit kalau sudah mengerti. Lalu duduk dibangkunya mengatakan Sepertinya tahu, alasannya. Ken sudah duduk didepanya terlihat bersemangat.
“Aku tahu apa yang kamu lihat selama ini. Aku mengerti.” ucap Dokter, Ken menatap Dokternya dengan mata memerah dan berkaca - kaca.
Ken berjalan pulang dengan tatapan kosong, seperti memikirkan tentang kata - kata dokter. Yumna yang juga baru pulang berjalan disampingnya, menyapanya yang baru pulang kerja. Lalu memberitahu mau mengambil barangnya hari ini dan barang yang besar akan dibawa oleh perusahaan pindahan. Ken hanya diam saja, Yumna meminta agar menanggapinya. Ken tetap diam saja
“Kamu mau berkata soal apa? Kamu bilang ada yang ingin dibicarakan.” tanya Yumna.
“Uang jaminannya sudah siap.” ucap Ken, Yumna mengucapkan syukur.
“Tapi kenapa kamu sepertinya marah?” tanya Yumna melihat sikap Ken.
“Apa Kamu pacaran lagi dengan lelaki itu?” tanya Ken sinis, Yumna membenarkan. Ken mengejek Yumna itu gampangan sekali. Yumna membenarkan kalau memang gampangan.
“Aku mulai tidak suka padamu. Dia sudah mencampakkanmu, tapi kamu kembali?” ungkap Ken dengan saling menatapm
Yumna menegaskan Harry itu punya alasan yaitu ada di penjara. Ken berteriak tak terima Yumna memaafkannya karena itu, Yumna juga ikut berteriak dengan sikap Ken yang bisa memaafkan Yumna padahal sudah menghancurkan hatinya dan ingin bertemu lagi denganya. Ken menegaskan Yumna itu punya alasan yang jelas.
“Tapi bajingan itu malu mengaku kalau dia bangkrut! Jadi dia menusukmu dengan kata - kata dan melarikan diri. Apa itu lelaki sejati? Kalau dia sungguh cinta padamu, harusnya dia tidak begitu.” tegas Ken.
“Aku juga tahu! Dia lebih mementingkan harga dirinya dibandingkan aku! Saat ini aku tidak masalah dengan siapapun. Aku butuh dia meskipun dia sudah membuangku agar bisa menahan diriku dan tidak melemparkan diriku kepadamu! Aku merasa bingung sekali! Semua karena kamu! Agar hatiku tidak sakit.” teriak Yumna, Ken tak berkomentar memilih untuk pergi, sambil melepaskan jasnya.
“hei, lelaki jahat! Kamu lelaki paling kejam! Kamu paling pengecut!” teriak Yumna penuh amarah.
Ken tak mengubrisnya memilih untuk terus berjalan, Yumna berlari mengejarnya dan langsung memukulnya. Ken menariknya mengumpat Yumna sudah gila. Yumna berteriak marah tak ingin disentuh. Ken tetap ingin memegangnya, Yumna mendorongnya dengan meluapkan rasa kesal sambil memukul dan berteriak.
Akhirnya Ken memeluk pinggang Yumna agar bisa tenang, tapi Yumna merontah meminta untuk melepaskanya, dan mengigit tangan Ken agar bisa terlepas. Tangan Ken pun terlepas sambil mengaduh kesakitan. Yumna ingin memuku lagi tapi tanganya sudah dipegang oleh Ken dan akhirnya hanya bisa menjerit histeris. Ken meminta Yuman untuk menghentikanya.
Nafas keduanya terengah - engah, Ken akan berjalan pergi dan Yumna kembali memukul dengan tas bahkan ingin mencengrkamnya. Ken bisa memegangnya dan mendorong ke dinding dengan memegang dua tanganya, Yumna mendorong ingin melepaskanya, tapi tangan Ken lebih kuat dan membuatnya tak bisa bergerak. Ken melihat bibir Yumna yang luka, keduanya terlihat kelelahan dengan nafas yang tak beraturan, mata mereka tiba - tiba bertemu. Ken langsung mencium Yumna dan Yumna pun membalasnya, terlihat keduanya berciuman melampiaskan semua perasaan yang tertahan. Tangan Ken merasa bagian pinggang Yumna seperti merasakan kenyamanan, Yumna pun mengalungkan tanganya di leher Ken.
Keduanya saling berpelukan dengan sangat erat, Yumna pun merasakan seperti kehangatan dipelukan Ken dan Ken pun memeluknya dengan erat lalu matanya tiba - tiba terbuka seperti teringat sesuatu dan langsung melepaskanya. Ia memegang kepalanya dan tertunduk seperti merasa sudah kehilangan pikiranya.
Yumna bingung melihat sikap Ken yang terlihat kebingungan, Ken mengambil jaketnya dan langsung pergi dengan memegang kepalanya. Yumna menatap punggung Ken yang pergi meninggalkanya begitu saja setelah menciumnya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Ken duduk ditaman bermain melihat banyak anak - anak yang sedang bermain ditaman. Tatapan Ken tiba - tiba tertunduk sedih lalu melihat ke taman seperti melihat bayangan dirinya yang digendong oleh ayahnya diatas pundak, lalu berkata, “Ayah, aku sudah mengalahkan kamu!” sang Ayah pun menurunkan Ken.
Lalu Ken bisa mengalungkan kakinya di tiang dengan posisi terbalik dengan memberitahu ayahnya kalau sudah bisa melakukan posisi itu sekarang dan bertanya apakah ayahnya bisa melakukannya. Ayahnya mencobanya, dengan tiang yang lebih tinggi bisa melakukan hal yang sama dengan anaknya.
"Jenis suara apa yang kamu rekam?” tanya Ken kecil.
“Suara ombak, angin, dan orang-orang. Semuanya.” ucap Tuan Alandm
“Ayah, kamu menyukai suara - suara itu?” tanya Ken, Tuan Aland mengangguk. Ken ingin tahu alasanya.
“Karena suara bisa menghilang.” kata Tuan Aland. Ken bertanya balik apakah Ayahnya menyukai hal - hal yang menghilang.
__ADS_1
“Setelah kamu tahu bahwa semua hal bersifat sementara maka kamu tidak membuang energimu untuk hal - hal yang tidak berguna.” jelas Ayahnya.
Ken terdiam mengingat kata - kata Ayahnya yang sudah meninggal, lalu ia melihat kembali dirinya yang mengajak Ayahnya untuk lomba lari dan akan melihat siapa yang menang. Tuan Alan berteriak melihat anaknya yang lebih dulu berlari. Keduanya akhirnya saling mengejar, Ayahnya pun mengendong kembali anaknya sambil berputar - putar, terlihat sangat menyayanginya.
Ken bisa tersenyum melihat kenangan dengan ayahnya, tapi lama kelamaan bayangan kenangan itu menghilang, hanya ada lapangan kosong dan anak-anak kecil yang bermain bola.
❤️❤️❤️❤️❤️
Yumna duduk diam dalam kamarnya, mengingat kejadian kemarin saat Ken mencengkram tanganya dan menahanya dinding, mata mereka sempat menatap dan setelah itu Ken yang menciumnya, dan keduanya melampiaskan semua perasaanya dengan berciuman dan berpelukan, tapi setelah itu meninggalkan begitu saja seperti merasa menyesal.
Yumna melirik ponselnya yang tak juga berdering, akhirnya hanya bisa berteriak kesal.
“Bagaimana kamu bisa menciumku seperti itu dan tidak menghubungiku?” teriak Yumna pada ponselnya sendiri lalu membantingnya.
Akhirnya, Yumna mencuci selimut dengan kakinya, sambil mengumpat Ken bajingan dan berjanji pada dirinya tak akan menelpnya duluan, dengan menatap ponselnya apapun yang terjadi tak akan pernah menelpnya lebih dulu.
“Ibu! Apa cuma segini cuciannya?” teriak Yumna kesal.
Ayahya yang ada di dalam rumah menyuruh istrinya untuk memberikan selimut lainya. Ibu Yumna dengan wajah menahan amarah menarik selimut dari lemari lalu melemparkan pada anaknya. Yumna mengeluh Ibunya hanya memberikan cucian saja terlihat kesal lalu mulai menginjak kembali.
“Jika dia tidak menghubungiku hari ini, berarti sudah berakhir! Aku akan mengakhirinya duluan!” teriak Yumna pada ponselnya yang ada diatas kursi.
Tiba - tiba ponsel Yumna berdering, mata Yumna melotot, langsung berlari dan terlihat sangat bersemangat. Wajahnya langsung berubah melihat nama yang terlihat dilayar ponselnya. Dengan wajah datar menerima telp dari Harry.
“Cuaca di luar bagus. Ayo kita makan. Aku tidak ingin menyia - nyiakan satu hari pun. Berada di penjara telah mengajarkanku beberapa hal. Apa Kamu sibuk?” tanya Harry.
“Ada yang harus kulakukan.” ucap Yumna, Harry lalu bertanya apa yang sedang dilakukanya.
Yumna menarik cucian dengan ember yang sangat besar ke dalam rumah, Ibunya mendekatinya lalu bertanya siapa orangnya, Karena siapa anaknya bertingkah seperti sekarang, apa karena Harry atau tetangganya. Yumna sempat terdiam mendengar Ibunya bisa menebaknya.
“Harry atau tetanggamu?” tanya ibunya penasaran
“Aku harus pergi keluar Ibu, peras ini dan jemurkan.” ucap Yumna lalu masuk kamar.
“Aku tidak mau menerima mereka berdua! Aku akan membunuhmu jika kamu berpacaran dengan mereka!” teriak Ibu Yumna pada anaknya. Tuan Abraham hanya bisa menghela nafas, Ibu Yumna melirik sinis ke arah kamar anaknya.
❤️❤️❤️❤️
Perawat memberikan laporan kalau Kenzo juga tidak mau angkat teleponnya. Dokter terlihat gelisah meminta agar perawat memberikan alamat rumahnya saja, setelah itu melepaska jas dokternya dan keluar ruangan prakteknya.
Ken baru pulang ke rumah, langkahnya terhenti melihat sosok orang yang dikenalnya dengan kacamata hitam sedang mencium bunga didepan rumahnya. Dokternya tersenyum melihat pasiennya lalu Ken berjalan mendekatinya.
“Kurasa ada sesuatu yang terjadi padamu. Kenapa kau tidak datang hari ini?” ucap Dokter lalu meninju dada Ken layaknya teman. Ken hanya menatap datar dokternya.
Keduanya bertemu di cafe, Dokternya melepaskan jaketnya mengatakan bukan lagi dokternya untuk hari ini, tapi dirinya sekarang hanya seorang teman dari lingkungan rumahnya. Dengan menyakinkan mengatakan tinggal didekat rumah Ken jadi bisa berbicara santai saja, Ken pun mempersilahkanya.
“Aku sudah berpikir sepanjang malam bagaimana harus menjelaskan hal ini padamu. Dengar baik-baik, kamu saat ini mengalami kecelakaan mobil dan kamu berbaring di jalan.” ucap Dokter, Ken melirik mendengarnya.
“Apa itu membingungkan karena aku mengatakan "Saat ini"? Yah, aku mengerti. Memang membingungkan. Kamu pikir urutan waktu adalah urutan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan kan? Tapi ternyata tidak benar.” Kata Dokter
__ADS_1
“Jika kamu menghipnotis seseorang berumur 30 tahun dan membawanya ke 100 tahun yang lalu suara yang berbeda muncul dari dirinya. Artinya dia dalam kehidupan yang berbeda. Begitu pun sebaliknya. Jika kamu membawanya ke 100 tahun yang akan datang suara yang berbeda muncul dari dirinya.” Jelas Dokter.
Dokter mengartikan pikiran Ken tidak dibatasi oleh waktu. Hanya tubuhnya yang dibatasi oleh waktu, sementara pikirannya tahu cerita lengkap hidupnya dan dalam pikiran Ken. Kehidupan itu seperti skenario yang sudah lengkap. Ken terdiam dengan tatapan menerawang, Dokter merasa Ken melihatnya itu seperti orang gila
Ken hanya diam saja, Dokter pikir pasti akan dianggap gila jadi lebih baik menghentinya. Ken mengaku penjelasannya itu menarik dan meneruskanya. Dokter menegaskan hampir mati untk membicarakanya karena takut akan dianggap sebagai orang aneh, jadi meminta Ken untuk mendengakan baik - baik.
“Orang spiritual biasanya sensitif terhadap pikiran mereka. Tapi kamu tidak spiritual. Kamu punya kasus berbeda. Kamu tidak bisa melihat segala sesuatu dari masa depan tapi kamu hanya melihat beberapa bagian tertentu. Hanya seorang wanita.” Ucap Dokter.
Ken mengingat saat di pengelihatanya hanya melihat Yumna di banyak orang yang berjalan lalu mereka berpapasan, senyuman Yumna dan saat Yumna mengambil dompetnya yang menyeberangi jalan tanpa takut tertabrak.
Saat ini kau berada dalam sebuah kecelakaan mobil dan kamu merindukan wanita itu sebelum kamu mati. Aku membingungkan lagi dengan istilah "Saat ini" kan ?Baiklah. Anggap saja "Tidak lama lagi." ucap Dokter.
“Meskipun pikiran tidak dibatasi oleh waktu, kita melihat hal - hal dari perspektif tubuh kita. Untuk membuatnya lebih mudah, anggap saja "Tidak lama lagi." Kamu tidak lama lagi berada dalam kecelakaan mobil dan saat sekarat kamu menatap langit diatas dan merindukan wanita itu." Jelas Dokter, Ken merasakan kepalanya berdarah dan tergeletak di aspal, terdengar bunyi sirine dan dilangit terlihat lampu jalan.
“Karena perasaanmu pada wanita itu begitu dalam, maka kamu mulai melihat visi wanita itu, bahkan sebelum kamu berjumpa dengan dirinya di kehidupan nyata. Kenapa seperti itu? Karena pikiran kita tahu segalanya tentang kisah hidup kita, tidak sulit bagi pikiran kita melakukan ini.” kata Dokter dengan mengembu - gebu.
“Kesimpulannya, aku tidak lama lagi akan meninggal saat aku sekarat merindukan wanita itu?” ucap Ken dengan mengetuk - ngetuk jari di meja.
Dokter mengangguk membenarkan, Ken dengan memanggilnya Kakak mengumpat kalau Dokternya itu memang gila. Dokter hanya bisa menghela nafas sambil memukul kepalanya.
Yumna menaiki bus sambil menatap ke jendela dengan tangan yang disatukan terlihat gugup. Lalu ia menekan bus untuk berhenti dan turun dari pintu belakang.
Ia menelp Harry meminta maaf karena Hari ini sepertinya tidak bisa, dengan alasan ada ada urusan pekerjaan mendadak. Harry seperti ingin menunggu, Yumna mengatakan kalau mungkin akan lama dan kembali meminta maaf.
Harry sudah duduk direstoran menunggu Yumna datang, dimeja sudah disiapkan piring seperti candle light dinner. Wajahnya sedih karena Yumna menolak ajakan makanan, tak seperti sebelumnya.
Dokter mengantar Ken sampai ke depan cafe, Ken pamit pergi meninggalkanya. Dokter berteriak mengajak untuk mengatasi bersama - sama dan mungkin ada kesimpulan yang lain. Ken tak peduli memilih untuk terus berjalan, Dokter pun terlihat menyesal dengan membenturkan kepala di dinding.
“Kesimpulannya, aku tidak lama lagi akan mati saat sekarat aku merindukan wanita itu?” gumam Ken berjalan melalui gang.
Langkahnya terhenti melihat dinding saat bertengkar dan akhirnya berciuman dengan Yumna. Ketika akan kembali berjalan, ia melihat sosok waktu yang bersandar di dinding dengan bicara bahasa prancis. Ken memilih untuk mengacuhkan, tapi perasaanya tak tega langsung membalikan badanya melihat kakaknya yang masih bicara sendiri dengan bahasa prancis.
“Apa kamu ditidak ikut?” ucap Ken, Melisa membalas tidak ikut dengan Bahasa Perancis
“Apa tidak pulang kerumah?” teriak Ken kesal, Melisa pun berjalan pulang mengikutinnya. Ken mengomel Melisa mau sampai kapan mabuk - mabukan begitu.
“Kalau aku sadar dan tidak mabuk hidupku terasa sangat memalukan.“ kata Melisa yang menangis sambil menutupi wajahnya dengan topi.
Melisa tak pulang malah berjongkok digang, teringat kembali saat terbangun dari mabuk melihat Brian yang tidur bersamanya hanya mengunakan pakaian dalam saja, lalu ia berusaha untuk melupakan dengan mengeleng - gelengkan kepalanya.
Brian pulang dengan meminum air putih dalam botolnya, melihat Melisa sendirian di gang langsung menghampirinya dengan menyanyikan “Congratulations and celebration.” Melisa bertanya apakah ia akan menikah. Brian kaget bertanya Melisa bisa tahu darimana.
“Kakak kenalanku, ingin menikah dengan Kakak!” ucap Brian nampak sedikit mabuk, Melisa mengumpat Brian itu ingin mati mengatakan hal itu.
“Dengar dulu. Tipe ideal kakak itu adalah wanita yang kuat! Wanita yang bisa memukul, mencakar, memanggang dan menendangnya. Dia tergila - gila dengan wanita seperti itu. Yang paling penting, dia tidur sambil duduk. Hebat kan?!” cerita Brian tertawa bahagia. Melisa menatapnya.
"Dia punya apartemen ukuran 52 lantai. Gaji tahunannya 220 juta. Orang tuanya sudah meninggal dan tidak punya kakak maupun adik. Menurutnya, dia adalah lelaki tampan. Ikuti saja arus yang ada dan menikah. Kakak itu bilang Kakak hanya perlu bawa sendok. Melihat lelaki sempurna untuk Kakak, membuat hatiku senang hari ini. Jadi aku minum - minum.” cerita Brian yang terlihat sedang buang air kecil.
Melisa panik langsung memalingkan wajahnya ketika melihat dari belakang, air mulai mengalir ke arahnya. Melisa mulai mengumpat Brian itu sudah gila. Brian mulai berputar, Melisa pun membalikan badan tak ingin melihatnya dengan kesal karena Brian berpikir dirinya itu laki - laki yang bisa diajak sambil buang air kecil. Brian terlihat binggung.
__ADS_1
“Meskipun kamu tidak melihatku sebagai perempuan. Kamu tidak boleh begini padaku. Aku! Adalah perempuan! Perempuan!” teriak Melisa lalu berlari pergi meninggalkanya.
“Yah, memang kamu perempuan. Ahh dia pasti malu - malu, padahal aku cuma menyuruhnya menikah.” ucap Brian ternyata tadi hanya membuang air minumnya dalam botol dan kembali menyanyikan lagu “Congratulations and celebration. Kakak ku akhirnya akan menikah.”