DI PERSIMPANGAN DILEMA

DI PERSIMPANGAN DILEMA
Bagian 48


__ADS_3

Si cantik Yumna berjalan dengan tatapan kosong disebuah area pertokoan, Ken berjalan melihat lebih dulu Yumna lalu menghampirinya, Yumna pun baru menyadari Ken sudah ada didepanya. Ken pun bertanya Yumna mau kemana?


Yumna menjawab akan pergi kencan buta, Ken seperti agak kaget. Yumna sadar dirinya terlalu cepat padahal belum lama ingin mengutarkan perasaanya sangat mencintai Ken, Tapi menurutnya ini memang sudah diatur sebelum kejadian itu dan meminta maaf. Ken merasa senang  karena Yumna ikut kencan buta. Yumna melihat sudah terlambat, Ken pun menyuruh Yumna segera pergi saja.


“Kapan - kapan kita minum dengan Yumna.” ucap Yumna, Ken mengangguk setuju.


Yumna pun pergi lebih dulu dan Ken berjalan ke arah sebaliknya. Setelah cukup jauh Yumna berlari sebuah lorong tangan dan menangis sesunggukan sambil berjongkok karena menahan rasa sedihnya didepan Ken. 


Yumna berjalan sendirian menyusuri jalan sambil bergumam.


“Cinta yang membuat seseorang rela mati, bisa menjadi luka sehingga seseorang ingin mati karena cinta tersebut. Tapi mau bagaiman lagi, aku lebh peduli pada cintaku.”


*********


Di ruang studio, Ken membuat ketukan suara sepatu wanita dan juga bunyi pistol yang memasukan peluru, Yumna tersenyum melihatnya. Ken mulai membuat suara baju yang terkena angin dengan mengibas - ngibaskan jaket didepan mic. Setelah itu membuat gesekan dari bola basket saat sepatu wanita itu bergerak, membalikan badanya. Yumna terpana melihatnya.


Yumna akhirnya duduk bersama didepan mic dan membuat suara angin dari dalam kerang. Lalu mengunakan sepatu heels dan Ken memberi petunjuk membuat bunyi dari gesekan bola basket, lalu membuat suara dari kaset kusut. Yumna kembali mengetukan sepatu heelsnya dan Ken membuat suara dari putaran ban sepeda. Setelah itu Yumna membuat suara sepatu berlari dan Ken mengibaskan baju akhirnya berkata “Oke”. Keduanya tersenyum, Yumna merasa pekerjaan Ken itu menarik sekali.


Keduanya duduk dengan kepala Yumna bersandar pada Ken sambil menonton layar TV yang menampilkan pria yang sedang menyanyi. Ken memeluk erat pacarnya, seperti tak ingin berpisah.


“Aku ingin menelpon semua orang agar mereka tahu bahwa kita sudah berkencan.” ucap Yumna.


Keduanya terus tersenyum menikmati nyanyian yang ada dilayar, setelah malam semakin larut keduanya pun meninggalkannya, dengan berjalan melalui taman dengan sungai disepanjang jalan. tangan Ken mengenggam erat tangan Yumna tak ingin melepaskanya. Yumna juga memengang lengan Ken agar lebih erat. 


***********


Pagi hari


Ken bertemu dengan seseorang didepan rumahnya, pria itu mengaku sebagai anak dari si pria pemilik rumah, lalu membahas Ken sebelumnya berniat untuk membeli rumahnya lalu bertanya apakah masih berminat. Ken terdiam mengingat pengelihatanya.


“Ayahku  baru saja meninggal.” ucap si pria dan sama persis dengan yang diucapkan sekarang.


Mata Ken melotot kaget nafasnya terasa sesak, pengelihatan tentang ibunya kembali datang meminta agar memohon maaf pada Tuan Jang, lalu Harry yang mengatakan, “Memang butuh waktu lama, tapi kita  akan berakhir dengan orang yang semestinya.”


Brian masuk kamar ruanganya sebelahnya, wanita yang dulu tinggal di sini dan adiknya mengatakan “Bukankah tidak sopan bertemu dua kali?” lalu kakakanya yang memberitahu kalau salah satu Yumna keluar dari kantor. Ia bisa melihat Yumna yang berjalan melalui jalan yang sama. 


Yumna terlupa sedang merebus daging, karena panik ia mengangkat panci dengan kain tapi malah membuat makanan tumpah dan kuah panasnya tumpah ke tangannya. Ken menerima telp dari pacarnya, kalau tanganya itu melepuh terkena kuah panas. Dalam pengelihatanya Yumna yang berjalan dengan baju totol coklat.


Akhirnya Yumna datang kerumah Ken, dengan senyuman memperlihatkan kalau tangan kirinya yang harus dibalut perban bukan tangan kanannya. Ken seperti merasakan tubuhnya akan terbaring diaspal dengan penuh darah. Yumna akhirnya menyusun kotak makan diatas meja dan membukanya.


“Aku merebus daging sapi, tapi kuahnya tumpah. Selalu saja begitu kalau aku coba masak sesuatu yang baru. Kamu belum makan kan?” ucap Yumna dengan bahagia memperlihatkan semua jenis makanan, Ken menata kearah tangan Yumna yang terluka dibalut perban. 


Dokter terlihat tak bisa berkata - kata dengan tatapan kosong menatap Ken yang duduk menopang dagunya, lalu berkata seseorang menyakiti dirinya sendiri dan seseorang meninggal dan itu tak akan berubah, lalu bertanya apa sebenarnya ini. Ken seperti tak bisa berkata - kata lagi dengan keadaanya.


Akhirnya Ken berjalan melihat Yumna yang melambaikan tanganya dengan bahagia, lalu berlari menghampirinya. Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan, Yumna terlihat sangat bahagia dengan merangkul lengan pacarnya, Ken tiba - tiba berhenti dan langsung memeluk Yumna dengan erat, seperti merasakan setelah itu akan berpisah. Yumna yang tak tahu apapun memeluk Ken dengan senyuman bahagia. 


Yumna mondar mandir didepan rumah menunggu Ken yang belum juga pulang. Tiba - tiba Nana dan Kenzo berlari lalu berpelukan dengan mengendong didepan Yumna. Lalu Nana mengatakan kalau sekarang bisa memindainya, Kenzo mengatakan kalau capek. Nana memperingatkan agar pacarnya tak bergerak. Yumna terdiam melihat keduanya.

__ADS_1


“Berhenti bergerak! Tatap mataku kalau kamu capek, kita harus buru - buru” ucap Nana lalu mulai seperti ingin menghipnotis Kenzo. Mata Kenzo terlihat melotot melihat Nana.


“Ternyata kamu belum jatuh cinta pada wanita perayu itu.” kata Nana lalu turun dari gendongan Kenzo, seperti pada seekor anjing memujinya.


“Good boy.” sambil mengelus rambutnya. Yumna yang melihat keduanya hanya bisa menahan senyum.


“Biasanya lelaki yang terlihat bandel bukanlah lelaki bandel. Kamu pasti tidak tahu.” ucap Kenzo membela diri. Keduanya sama - sama saling merengek seperti anak kecil, lalu Kenzo mengajak masuk.


Saat masuk keduanya kaget ternyata Yumna ada didepan pintu, lalu sama - sama saling membungkuk menyapanya. Kenzo bertanya apakah kakaknya belum pulang. Yumna mengangguk.


“Kamu sudah mirip pengantin baru menunggu suami pulang.  Apakah Sudah membuatkan sup untuknya?” tanya Kenzo menggodanya, Yumna mengatakan sudah membuatnya.


“Padahal Aku cuma bercanda.” ucap Kenzo melonggo lalu melihat kakaknya yang berjalan berputar - putar dengan wajah ditutup oleh rambutnya.


Kenzo mengumpat kakaknya itu perempuan gila, lalu memarahi Melisa masih minum dan sudah bosan hidup. Melisa mengangkat rambutnya mengatakan kalau ia pura - pura mabuk karena rubuhnya sedang bosan. Kenzo dibuat melongo dengan tingkah kakaknya.


Yumna dan Nana pun menyapa Melisa sebagai kakak iparnya, Melisa mengajak mereka untuk masuk. Kenzo menahanya bertanya apa yang dikatakan oleh Brian. Melisa hanya memalingkan wajahnya, adiknya kembali bertanya apakah Brian tak menelp, Melisa menjawa dengan menutup wajahnya kembali dengan rambut lalu berjala masuk ke dalam. Kenzo tak percaya Brian itu malah kabur, dengan wajah kesal sudah tahu pasti akhirnya akan begini, lalu menarik Nana untuk masuk ke dalam rumah. 


Yumna masih menunggu didepan rumah, tiba - tiba melihat sosok pria yang keluar dari semak - semak tanaman dinding. Brian mengintip dari belakang tanaman melihat Melisa yang baru masuk kamar serta dengan Kenzo dan Nana. Akhirnya keluar dari persembunyian akan masuk rumah, tapi ia malah berbalik arah tak ingin masuk. Yumna melihat Brian yang gelisah ingin masuk rumah atau tidak, beberapa kali.


“Kamu pasti ... melakukan kesalahan.” ucap Yumna, Brian terdiam menatap Yumna dengan tertunduk sedih.


“Pasti kesalahan besar sekali.” kata Yumna, Brian mengangkat wajahnya sambil menghela nafas panjang.


“Sepertinya benaran besar.” ucap Yumna.


Yumna hanya diam saja melihat tingkah Brian yang aneh dan tetap melihat kearah jalan berharap sang pacar cepat pulang. Ken menyetir mobilnya sambil melihat ke kaca spion. Yumna langsung bergegas sembunyi ketika melihat Ken datang dan sedang memarkir mobilnya.


Ken turun dari mobil, Yumna mulai menghitung untuk mengagetkanya, tapi Ken lebih dulu mengagetkan pacarnya yang bersembunyi, Yumna menjerit karena ia malah yang dikagetkan. Ken tersenyum bahagia melihatnya lalu masuk ke rumah lebih dulu.


Yumma berlari memeluk pinggang Ken, tangan Ken pun memegang erat tanganya. Yumna bertanya apakah sudah makan. Ken mengatakan belum. Yumna memberitahu sudah membuatkan sup untuk makan malam. Ken terus memegang erat tangan Yumna yang melingkar di pingangnya.


Yumna masuk ke kamar yang dulu sudah berubah jadi berisi rak kaset rekaman, sementara Ken sibuk melihat kaset rekam yang disimpanya. Yumna bertanya bagaimana sasanya bisa memakai ruang kerja lama Ayahnya.


Ken terdiam menatap Yumna karena dalam pengelihatan sebelumnya Brian yang berbicara, “Wah, bagaimana rasanya memakai ruang kerja yang dulu milik Ayahmu?” tapi pada kenyataanya sekarang Yumna yang berbicara padanya. Yumna berkomentar easanya sangat berkelas didalam ruangan seperti Ken membawa kehormatan keluarganya.


“Ayahmu ... kapan meninggal,  Apa aku boleh tahu?” kata Yumna, Yumna menjawab singkat di umur 8 tahun sambil melihat kaset rekamanya..


“Dia pergi saat kamu masih kecil. Apa Dia sakit?” tanya Yumna, Ken melihat label kaset rekaman bertuliskan.


“Kecelakaan.... itu terjadi saat dia pergi merekam suara denganku.” Kata Ken, Yumns pikir Pasti mengejutkan buat Ken.


“Sekarang jika ku pikir, itu lebih baik.  Aku senang ada disana saat kejadian, karena sku tidak membiarkan dia meninggal sendirian. Disaat kita meninggal, bukankah jauh lebih baik jika ada seseorang yang menggenggam tanganmu di sisimu?” kata Ken sambil memutar pita kaset dialat pemutarnya.


Terdengar suara seorang pria yang menyanyi, Yumna bertanya siapa yang menyanyi. Ken mengaku itu dirinya, menceritakan kalau saat itu masih 6 tahun dan ayahnya merekam, lalu Melisa sang kakak yang memainkan pianonya. Keduanya sama - sama tertawa mendengarnya. 


Ken terlihat masih memiliki pipi yang tembem bernyanyi, “ Kau pergi meninggalkanku. Kau bisa melupakanku. Hatiku hanya satu untukmu. Aku menyesali hari-hari laluku, aku tidak bisa memberimu cinta yang lebih banyak.”

__ADS_1


Yumna tertawa tak percaya ternyata bocah yang menyanyi itu adalah orang yang cintainya saat ini, dan merasa akan kalau ada didekatnya. Ken menegaskan kalau ia masih hidup dan ada didepanya. Keduanya tertawa mendengakan Ken yang terus bernyanyi.


“Dia menyanyi dengan semangat tanpa tahu apa arti liriknya.” ucap Yumna mendengar Ken menyanyikan lirik “Aku akan cinta padamu selamanya.”


Ken terdiam menatap Yumna terlihat berkaca - kaca mendengar suaranya. 


Flashback


Ken duduk disebuah lorong dengan orang yang lalu lalang. Didalam ruangan Dokternya seperti bercerita pada Prof, awalnya juga bingung. Karena pasiennya itu terlihat sangat normal. Tapi, Ken  terus cerita kalau mendapat penglihatan Lalu penglihatannya jadi kenyataan.


“Tidak ... maksudku.Tidak semuanya. Sebagian tidak jadi kenyataan. Itulah masalahnya.” Jelas Dokter pada Ken.


Akhirnya Ken berada di dalam ruangan, menceritakan Sebelum mati memikirkan wanita itu. Ia mengingat pengelihatanya yang terbaring diaspal dengan luka penuh dara dibagian kepalanya,


“Sejak pertama kali kami bertemu. Aku menyesalinya setiap waktu.”


Seperti ingatan Ken diputar kembali saat pertama kali bertemu, lalu Yumna mengambil dompetnya dijalan, Yumna melompat ke pelukanya, mereka berciuman, bermain di pantai dengan wajah bahagia. Yumna yang berteriak marah di mall, melihat bunga sakura berguguran.


"Kenapa aku ... tidak bisa memberinya cinta yang lebih banyak. Karena rasa menyesal yang begitu dalam mungkin perasaan itu berjalan menembus waktu dan muncul di masa kini.” ucap Ken berbicara dengan memejamkan matanya.


“Apa kamu pernah dengar soal, pencerahan menjelang kematian? Semua orang dapat melihat momen menjelang kematian mereka. Mereka tidak perlu takut apapun. Apa Kejadiannya saat itu?” kata Prof, Ken membuka mata dan membenarkanya.


“Emosi manusia dibagi dalam 2 kategori yaitu Rasa takut dan cinta. Yang satu palsu dan yang satu asli.  Kau menemukan yang mana yang asli.  Makanya kondisimu berubah saat kau memutuskan untuk memilih cinta.” Kata Prof dengan duduk dimeja, Dokter mengernyitkan dahi mendengarnya, Kem mendengarnya dengan tatapan serius.


“Tapi, kenapa kamu ragu - ragu ?” kata Prof yang membuat Ken terdiam.


Dokter mengeluh Prof cepat sekali menyelesaikannya karena menurutnya Ken itu harusnya di hipnotis. Prof pikir tidak perlu karena Ken tahu jalan mana yang harus ditempuhnya menurutnya Ken cuma kemari karena sedang resah dan akan melaluinya lagi.


“Meskipun begitu ... Kamu kira untuk apa aku jauh - jauh kemari?” keluh Dokter masih tak nyaman.


“Ya sudah .... ketempat lain saja, kalau begitu.” kata Prof ketus, Dokternya pun hanya bisa mengumpat kesal.


Yumna tersenyum mendengar Ken kecil menyanyika lagu berlirik “Lagi, dan lagi aku menyesalinya. Tidak bisa memberimu cinta yang lebih besar.” Lalu mengajak untuk mendengarkan sekali lagi. Ken mengajak Yumna medengarkan yang lain saja. Yumna merengek meminta untuk mendengarkan sekali lagi.


Terdengar suara wanita menyanyi lagu “Ibu dan Kakak ... ayo tinggal ditepi sungai.” Yumna terdiam menduga - duga siapa yang menyanyikanya, Ken membenarkan kalau itu suara kakaknya yang menyanyi, keduanya tertawa dan tersenyum mendengarnya. 


Melisa bisa mendengarkan suaranya saat masih kecil dikamarnya, dengan rambut.


“Kenzo, yang dulunya imut. Dimana sekarang dirimu berada? Dimana perginya dirimu?” kata Yumna seperti mencari dirinya sendiri diudara.


Sementara di kamar, Brian menopang dagunya sedang melamun. Pikiranya melayang saat melakukan foto Prewed dengan pakaian pengantinya, Melisa terlihat bersemangat lalu menyuruh Brian untuk tersenyum sambil menarik pipinya. Pose berikutnya Melisa berada di gendongan suaminya, lalu ketika berusaha mengendongnya, Brian terjatuh karena tak kuat mengangkatnya. Ketika berusaha menciumnya, Brian menjauhkanya.


Ketika mengandakan party atas pernikahan dirumah, Oki keluar dari kamar mandi memberitahu toiletnya itu sangat bersih. Melisa keluar kamar dengan baju hanbook dan juga pemukul baseballnya, lalu membanting diatas meja. Semua tamu yang sedang makan dan minum sampai terkaget-kaget. 


“Aku ingin mengucap beberapa patah kata.  Dirumah kami, kalau mau buang air kecil harus duduk. Kalau air senimu berantakan, maka Hati - hati saja.” ucap Melisa mengancam pada Oki dengan baseball menganggapnya seperti pistol dan tertuju pada ************ akan menembaknya. Brian pun tak bisa menahan paniknya.


Ken duduk didepan ruangan, dengan tangan melipat didada mendengarkan terlihat sangat serius. 

__ADS_1


__ADS_2