DI PERSIMPANGAN DILEMA

DI PERSIMPANGAN DILEMA
Bagian 45.


__ADS_3

Dokter menopang kepalanya membahas tentang pengelihatan Ken, kalau mereka berdua putus dan menyudahi semuanya, tapi pada kenyatannya berubah kalau mereka berdua berkencan.


“Berarti penglihatanmu berubah! Ini sudah berubah! Hei! Ken!  Selamat! Inilah kemenangan umat manusia!” jerit Dokter bahagia sambil memeluk Ken dan memberikan kecupan di pipinya.


“Kamu telah mengubah nasibmu!” teriak Dokter bahagia, terus memberikan kecupanya. Ken tersenyum menghapus bekas ciuman dokter di pipnya.


“Tapi kenapa ekspresimu begitu dan diam saja? Bukannya harusnya kamu bahagia?” jerit Dokter sambil mengoyangkan tubuh dengan bahagia.


“Dari pada tidak mencintainya sama sekali, maka aku harus mencintainya sebanyak mungkin sebelum aku pergi kan?  Itu akan membuat dia lebih bahagia kan?” kata Ken.


“Kamu bilang Pergi? Siapa yang pergi? Kenapa kamu akan mati? Ini sudah berubah! Kenapa kamu mati?” jerit Dokter panik.


Ken terdiam, Dokter menjelaskan kembali dalam pengelihatanya, Ken membiarkan perempuan itu pergi, maka dari itu sebabnya Ken  menyesal saat sedang sekarat, lalu Ken menceritakan sudah berbaikan dengan wanita itu jadi nasibnya telah berubah. Menurutnya masa sekarangnya itu sudah berubah, tapi kenapa masa depanya itu tidak berubah.


“Itu sebabnya ada kekurangan dalam suatu takdir dan ramalan selalu berganti. Mereka tidak bisa memprediksikan apa isi hati kita, apa yang diperbuat oleh cinta!” ucap Dokter dengan bahagia, Ken hanya diam saja.


“Kenapa? Apa Kamu cemas? Apa karena meninggalkan wanita yang kamu cintai? Mulai sekarang, hanya ada satu hal yang perlu kamu lakukan sampai kakimu dan hidupmu lelah, milikilah rasa cinta.” ucap Dokter memegang kepala Ken mendoakan, lalu menjerit kalau sangat iri sekali. Ken tertawa melihat Dokter menari - nari tapi dari wajahnya terlihat sangat cemas. 


❤️❤️❤️❤️❤️


Yumna keluar rumah membaca pesan dari Ken,


 “Kamu sedang apa?” senyuman sumringah.


 “Aku mau berangkat kerja, baru jalan dari rumah. Kamu?”


Tiba - tiba Ken sudah berjalan disamping Yumna mengatakan kalau Ia juga mau berangkat kerja. Yumna benar - benar kaget, mulutnya melongo ketika melihat Ken sudah ada disampingnya, lalu menjerit karena Ken membuatnya kaget. Ken tersenyum bahagia bisa melihat Yumna kembali.


Yumna mengaku sangat menyukai karena di pagi hari bisa langsung melihat pacarnya. Ken menyuruh Yumna segera masuk ke dalam mobil akan mengantarnya pulang, Yumna seperti tak percaya di pagi hari sudah berjalan sambil berpelukan dengan Ken dan mengaku sekarang bisa melakukan apa pun sekarang bahkan melakukan pembunuhan sekalipun.


Ken menyuruh Yumna sadar Yumna menyuruh Ken memilih saja orangnya nanti akan langsung melakukanya. Ken membuka pintu mobilnya untuk Yumna. Keduanya tersenyum bahagia meninggalkan rumah. 


❤️❤️❤️❤️❤️


Melisa duduk di meja makan dengan menuangkan corn flakes untuk sarapan. Brian keluar kamar sambil berbicara dengan ibunya di telp, mengatakan kalau ia sudah mengerti dan tak pelu mengkhawatirkanya, lalu tak lupa bilang “Aku mencintaimu” sebelum menutup telepon.


Brian langsung bergoyang - goyang pinggulnya sambil menyanyi “Rooftop party”didepan meja makan. Kenzo melihat Brian memang masih berusia tiga tahun karena tidak ada orang dewasa yang menari setelah bangun tidur. Brian menyuruh Kenzo bertanya alasan dirinya itu senang, Kenzo mengeluh malas bertanya jadi lebih baik langsung beritahu saja.


“Aku akan hidup bahagia!!!  Aku punya mimpi yang luar biasa. Ibu menyuruhku jangan beritahu siapa pun, jadi cuma kalian berdua yang akan kuberitahu. Ibu bilang ini mimpi yang luar biasa.” kata Brian benar - benar terlihat sangat bahagia.


“Aku biasanya tidak pernah mimpi. Tapi ini pertama kalinya dalam hidupku aku punya mimpi yang hidup.” cerita Brian sambil duduk terlihat bingung, Ken pun bertanya apa mimpinya itu. 


“Bintang - bintang di langit bersinar terang seolah - olah tertutup emas. Tapi tiba - tiba, mereka mulai bergerak dan membentuk bentuk ikan. Dan seolah - olah itu hidup dan ekornya selalu bergerak lalu tiba - tiba jatuh dari langit, aku langsung menangkapnya.” cerit Brian dengan gambar bintang bentuk ikan di atasnya, Melisa ikut mendengarnya juga membayangkanya dengan penuh semangat.


“Apa Kamu menangkapnya dan tidak menjatuhkannya?” ucap Melisa memegang tangan Brian.


“Tentu saja! Aku menangkapnya di tanganku!! Jangan menghancurkan ikannya.” kata Brian menarik tanganya, Melisa menatap tanganya seperti terlihat bahagia.

__ADS_1


"Pokoknya setelah aku terbangun dari mimpiku dan membuka mataku. Aku merasa sangat senang, namun tenang. Rasanya seperti aku telah  mendengar suara Tuhan. "Brian keberhasilanmu telah datang." cerita Brian.


Kenzo meminta Brian menjualnya seharga 5.000.000. Melisa mengumpat adiknya itu gila, dan memperingatkan agar Brian tak menjual mimpinya meski seharga 100 juta. Brian juga tak akan menjualnya karena yang ia dengan arti dari mimpinya kalau Ia akan menjadi Menteri Kehakiman, tertawa bahagia. Kenzo menjerit menurutnya  terlalu cepat Brian naik jabatan jadi Menteri. 


Di dalam mobil


Brian mengajak Melisa untuk bertemu saat makan malam dan Ia yang mentraktir karena ada restoran steak yang enak. Dengan bangga merasa Melisa tak bisa apa - apa tanpa dirinya dan berjanji akan selalu menjaganya. Melisa hanya diam saja. Brian menyuruh Melisa cepat memberitahu keluarganya, karena pasti akan mengetahuinya setelah perut Melisa sudah membesar.


“Oh yah , apa kamu sudah beritahu Ayah bayi itu, si pria yang tinggal di Brasil?” tanya Brian, Melisa hanya diam menatap ke arah jendela.


“Kenapa? Apa Kamu tidak tahu nomor ponselnya? Apa alamat e-mail-nya  pun kamu tidak tahu?” ucap Brian lalu mengumpat kesal dan meminta biodata si pria nanti akan mencarikan kontaknya.


“Dia bukan Ayah dari bayi ini.” kata Melisa, Brian menjerit kaget tak percaya kalau bukan pria Brazil, Ayah dari bayi yang dikandung Melisa.


“Tapi kamu tidak punya hubungan dengan lelaki lain. Apaan ini? Mungkinkah  ini hasil hubungan cinta satu malam?” jerit Brian tak percaya.


Melisa menyuruh Brian mengurus urusanya saja, tak perlu ikut campur, dengan memegang kepalanya. Brian melonggo dan langsung meminggirkan mobilnya, ia benar - benar tak percaya kalau dugaanya itu benar, bayi itu hasil dari cinta satu malam. Melisa menegaskan Brian untuk mengurus saja urusanya sendiri.


“Lagi pula aku sendiri yang akan membesarkan anakku. Jadi Cukup aku saja yang tahu siapa ayahnya. Ayahnya bukan pria di Brasil. Jadi, jangan buat masalah untuk keluarganya dan jangan mengumbar - umbar tentang  Ayah si bayi ini. Dan Juga aku akan pindah ke luar negeri.” Kata Melisa. Brian makin kaget bertanya kenapa harus pindah.


“Kalau aku tinggal di sini. Maka aku akan bosan setengah mati ditanyai orang - orang siapa ayahnya. Anak ku nanti akan merasa terbebani. Aku harus pindah ke negara lain dan membesarkan anakku dengan tenang.” Jelas Melisa.


“Kamu tidak bisa membesarkan anak sendirian di negara lain. Besarkan saja anakmu disini. Disini kamu punya Ken dan aku, jadi Kita semua bisa membesarkan anak itu. Aku tidak akan mengabaikanmu  setelah jabatanku naik. Memangnya kamu mau pindah kemana?” ucap Brian tak setuju.


Melisa menyuruh Brian diam saja dan tak perlu membahasnya, Brian membalas Melisa yang harus lupakan ide itu. Melisa melihat jam tanganya sudah hampir terlambat jadi menyuruhnya untuk segara jalan. 


Jin Sang pun sampai mengantar Soo Kyung sampai depan kantor, wajahnya terlihat khawatir melihat kakak temanya yang sedang hamil sedirian, akhirnya ia ikut turun dari mobil.


“Jika aku memberitahumu kalau ini anakmu, kamu bisa pingsan. Dan kita akan canggung.  Aku akan menjaga rahasia ini selamanya. Membesarkan anakku sendirian adalah keputusan yang tepat.” Gumam Melisa berjalan dengan memakai kacamatanya, Brian pun masuk ke dalam mobilnya masih melihat Melisa yang masuk kantor lalu mengemudikan mobilnya. 


“Semoga kita tetap menjaga hubungan kakak - adik ini. Terima kasih sudah bermimpi tentang bayiku. Aku akan selalu mengenangnya, tentang bintang dan ikan.” Gumam Melisa menatap ke arah Brian yang sudah pergi. 


Melisa menatap ke arah lain dan melihat Yumna baru turun dari mobil bersama dengan adiknya, keduanya terlihat sangat bahagia tanpa ada dendam. Yumna bahkan melambaikan tangan pada Ken sebelum pergi. Melisa melihat adiknya yang tersenyum lebar melambaikan tangan pada Yumna. Yumna berjalan masuk ke dalam kantor dengan senyuman bahagia, lalu terdiam melihat Melisa sudah ada didepanya.


Di dalam lift


Yumna hanya diam saja dengan menatap poninya, Melisa berkomentar kalau itu lucu sekali, menurutnya tidak ada yang perlu dijelaskan Yumna padanya, karena sudah tahu  seorang pria dan wanita  putus nyambung seperti matahari dan hujan.


“Kami tidak akan putus.” kata Yumna, pintu lift terbuka.


“Jangan pernah putus.” ucap Melisa meninggalkan lift lebih dulu menuju ruanganya. Yumna hanya bisa membungkuk mengerti.


Yumna akan berjalan keruanganya, tiba - tiba si cantik Yumna sudah ada didepanya dan mengucapkan “Selamat.” Dengan wajah bahagia. Yumna binggung tiba - tiba temanya mengucapakan selamat, seperti sudah tahu sebelum menceritakanya. Si cantik Yumna pun berjalan keruanganya, Yumna menatapnya dengan wajah binggung. Si cantik Yumna terlihat menahan rasa sedihnya.


Flashback


Ibu Yumna baru pulang belanja memeriksa kotak pos didepan rumah, lalu membuka sebuah surat yang diterimanya. Tiba - tiba matanya melotot, mulutnya melonggo melihat nilai yang tercantum pada lembaran kertas nilai milik anaknya.

__ADS_1


Dibagian bawah tertulis [Peringkat 1 dari 38 anak sekelasnya dan peringkat 2 dari 500 anak di sekolahnya] lalu menjerit tak percaya memastikan kalau dibagian atas tertulis [Nama: Yumna]


“Astaga! Dia pasti sudah gila! Sayang!!! Yumna pasti sudah gila!” jerit Ibu Yumna pada suaminya. Ayah Yumna sedang memperbaiki mesin cuci heran ada pada dengan Istrinya yang terlihat histeris. 


Yumna makan cumi dengan wajah terlihat ada noda bekas jerawat di pipi, Ibunya terlihat sibuk berbicara di telp kalau Yumna ranking pertama di kelasnya, dan urutan kedua di sekolahnya, dengan banga mengatakan kalau anaknya itu peringkat kedua dari 500 anak - anak.


“Tentu saja!!! Dia harus kuliah di Universitas terbaik yang ada di sini. Kita bicara lagi nanti.” kata Ibu Yumna bangga menutup telpnya.


“Siapa yang kamu telepon sekarang?” tanya suaminya melihat Istrinya kembali mengangkat telp. Istrinya mengatakan kalau ia menelp sepupu. Suaminya menyuruh untuk berhenti saja.


“Apa maksudmu? Dia selalu membual tentang pendidikan putrinya. jadi dia harus mendengar ku membual juga. Dia takkan pernah menduga kalau hari ini akan datang.” kata Ibu Yumna mulai menelpon sepupunya.


Ibunya mulai bertanya pada sepupunya, apakah  sudah terima rapor Hera belum, lalu memberitahu Yumna peringkat kedua di sekolahnya. Terdengar bunyi bel rumah, Yumna pun berlari untuk membukanya. 


Yumna melongo melihat si cantik Yumna sudah ada dirumahnya dengan melambaikan tanganya, lalu memberitahu kalau rapor mereka tertukar. Yumna menerimanya dan dengan cepat membukanya, tapi langsung mengenggamnya.


“Biar ku kasih rapormu besok, aku akan kembalikan rapormu di sekolah. Bolehkah? Aku menandatangani rapormu sebelum ku kembalikan?” ucap Yumna.


“Kalau begitu aku juga menandatangani ini dan besok ku kasih padamu.” kata si cantik Yumna mengambil kertas dari tangan Yumna. 


Di dalam bus


Si cantik Yumna membuka lembaran rapor milik Yumna, dengan rangking 29 dari 38 orang dikelas dan peringkat 218 pada 500 orang di sekolah, dengan mata berkaca - kaca dan menahan sedih sendirian memegang kertas rapornya.


Didepan sebuah rumah yang cukup besar, dengan pohon yang dikelilingi lampu dan gerbangnya sangat tinggi. Yumna berdiri didepanya nampak gugup dan mencoba untuk menenangkan dirinya, akhirnya ia memberanikan diri dengan menekan bel rumah.


Akhirnya Yumna duduk diruangan yang terlihat mewah, terlihat foto ibunya yang duduk bersama dengan Ketua Jang. Seorang pelayan datang, menyuruh Yumna untuk segera masuk. Ibunya langsung memberikan tandatangan di rapor anaknya lalu meminum winenya.


“Biasanya, aku selalu peringkat pertama atau kedua di sekolah. Tapi aku tidak belajar kali ini jadi aku hanya tebak - tebak saja jawabannya.” Kata Yumna memberikan penjelasan.


“Sepertinya Ibu akan bercerai lagi. Aku ingin keluar dari rumah ini.” kata Ibu Yumna.


Akhirnya Yumna menuruni tangga rumah Ibunya dan menangis meninggalkan rumah Ibunya.


Bibi Yumna tertawa terbahak - bahak sampai merasakan perutnya itu sakit, Ibu Yumna sedang mencuci piring, Ayah Yumna menahan amarah dengan mengenggam tanganya. Yumna duduk di depan bibinya hanya bisa diam saja.


“Sudah kuduga. Tidak mungkin Yumna ranking. Kamu itu absen Nomor 27, Yumna. Dan hasilnya B, C, C, B, D, D, D, C, D. Aku sempat kaget. Kukira Yumna memang peringkat kedua dari semua murid.” ucap bibinya tertawa terbahak - bahak.


“Kenapa  kamu bisa kaget?” ucap Ibu Yumna marah, bibi Yumna mulai binggung menjawabnya.


“Aku tidak tahu kenapa hal itu.” kata bibi Yumna kebinggungan, Ibu Yumna memberitahu anaknya tak apa - apa jadi menyuruhnya untuk tetap makan.


“Kenapa mereka menaruh dua gadis bernama sama di kelas yang sama?” kata Ibu Yumna mengomel sambil mencuci piring kembali.


“Kamu harusnya membahasnya ke pihak sekolah. Dia biasanya memang  peringkat 200 an atau 300. Dan Bisa - bisanya kamu percaya dia  peringkat 2 di sekolah? Tentu saja rapor mereka tertukar.” di cap bibi Yumna kembali tertawa.


Tuan Abraham panik melihat Istrinya sudah mulai membuka celemeknya, Bibi Yumna tertawa malah menurutnya berkat Yumna jadi banyak tertawa. Ibu Yumna berdiri di depan Adik Iparnya langsung membuka kancing bajunya, Bibi Yumna pun terkejut. 

__ADS_1


Si cantik Yumna akhirnya bertemu dengan Ibu Yumna dan juga Yumna. Ibu Yumna bertanya apakah Ia Yumna yang tertukar rapornya, si cantik Yumna membenarkan. Ibu Yumna terus menatapnya, lalu berkomentar kalau matanya besar sekali lalu berjalan pergi.


Yumna mengikuti Ibunya dengan wajah tertunduk, Ibunya menggenggam tangan anaknya, menenangkan kalau nilai bukanlah segalanya, Yumna tertunduk menangis. Si cantik Yumna menatap sedih karena Ibu Yumna bisa menenangkan anaknya dengan mengengamkan tanganya.


__ADS_2