
Ibu Yumna dan suaminya seperti menunggu sesuatu, dengan membawa banyak barang ditanganya. Terdengar bunyi sebuah pintu terbuka, keduanya langsung berlari. Ken berjalan keluar dari rumahnya. Ibu Yumna dan suaminya berjalan ke depan pintu rumah. Setelah itu keduanya berpura - pura baru datang dan tak sengaja berpapasan dengan Ken.
“Halo. Kurasa kita pernah bertemu sebelumnya. Teralis jendela...” kata Ibu Yuman pertama kali menyapa, Ken mengingatanya.
“Terima kasih sudah memasangnya.” ucap Ibu Yumna ramah, Ken pun mengangguk
“Hari ini adalah hari ulang tahun putri kami. Dia sekarang berusia 32 tahun dan tidak ada teman yang merayakannya. Jadi aku setidaknya harus merayakannya dengan dia sebagai ibunya.” ucap Ibunya dengan memperlihatkan termos berisi sup dan suaminya membawa banyak makanan.
Ia pun pamit pergi permisi lebih dulu, Ayah Yumna melihat dari atas kebawah penampilan dari Ken, sang istri langsung menarik suaminya untuk cepat pergi. Ken pun berjalan keluar rumah.
Semua menu makanan lengkap tersedia diatas meja, ada ayam pedas, capchae, kimchi dan tak lupa sup rumput laut untuk orang yang berulang tahun. Ibu Yumna membagikan nasi ke dalam piring untuk makan bersama.
Yumna baru selesai mandi berkomentar Banyak sekali makanannya hanya untuk sarapan. Ibu Yumna mengatakan kalau hari ini adalah ulang tahun anaknya jadi menurutnya menunya tak terlalu banyak dan menyuruh agar segera duduk bersama. Yumna sibuk memasukan barang - barangnya ke tasnya.
Tuan Abraham menatap pintu yang bisa tembus ke kamar sebelah seperti bisa membayangkan Ken datang ke kamar anaknya lewat pintu. Ibu Yumna melihat tatapan suaminya dan langsung menegurnya agar tak membuat anak mereka curiga tapi tatapan kembali tertuju pada pintu yang masih tertutup.
Yumna bertemu dengan temanya Arini disebuah cafe. Arini meminta maaf karena ada kerjaan mendadak sambil mengumpat atasannya yang memberitahunya secara tiba - tiba. Yumna pikir tak perlu di permasalahkan karena menurutanya sudah terlalu tua untuk rewel tentang ulang tahunya.
“Apa Ken tahu hari ini hari ulang tahunmu?” tanya Yumna, Arini pikir tahu dari mana Kenbbisa tahu ulang tahunya.
“Haruskah aku di kasih petunjuk hadiah apa yang kamu sukai?” kata Arini, Yumna mengatakan tak perlu, Arini hanya bisa menghela nafas.
“Aku serius kamu tak boleh memberitahukanya! Aku harusnya tidak bicara tentangnya padamu. Kamu juga tak perlu khawatir. Aku akan mengakhiri hubungan ini.” ucap Yumna.
Arini berkomentar Yumna itu tak serius, Yumna menegaskan kalau dirinya itu serius. Arini heran kenapa Yumna harus mengakhirinya, Yumna sempat diam memikirkanya lalu memberitahu alasanya adalah Karena dulu pacar Ken itu adalah si cantik Yumna.
“Terus kenapa? Siapa yang belum pernah jatuh cinta sebelumnya?” kata Arini menurutnya tak ada yang salah.
“Tidak, aku tidak mau menjalani hubungan dengan mantannya Yumna.” tegas Yumna.
************
Ken berjalan di trotoar telihat binggung dengan menatap ponselnya nampak ragu untuk menelpon “Tetangga Sebelah” Sementara Yumna sedang memakan sup rumput laut dan makanan yang sudah dibawakan ibunya. Tiba - tiba terdengar ketukan pintu rumahnya, Yumna sempat bertanya siapa yang datang. Ketika membuka pintu ternyata Ken sudah ada didepan rumahnya memberikan sekantung makanan.
“Kudengar ini ulang tahunmu, Ayo kita minum dan merayakannya, Siapkan mejanya. Aku akan ke tempatmu.” ucap Ken menaruh kantung belanjaan ditangan Yumna dan langsung kembali berjalan kerumahnya.
Yumna sempat melonggo tapi wajahnya tersenyum karena Ken bisa mengetahui ulang tahunya, lalu melihat mejanya yang sudah penuh dengan makanan, akhirnya buru - buru membereskanya. Setelah itu merapihkan tempat tidurnya, menyemportkan prafum agar kamarnya wangi.
Ia juga melepaskan kacamatanya dan memastikan tak ada tanda ceplakan di sekitar matanya, setelah selesai buru - buru mengeluarkan isi makanan ke atas meja.
Ken masuk ke dalam kamarnya, suasana nampak terasa berbeda. Yumna nampak tak bisa menutupi rasa bahagia ketika Ken masuk ke kamarnya dari pintu rahasia. Ken juga nampak sedikit canggung saat masuk ke kamar Yumna, tapi berusaha untuk tenang.
“Tahu darimana hari ini ultahku? Apa Arini yang memberitahumu?” tanya Yumna saat Ken duduk di depanya.
“Aku melihat Ibumu tadi pagi.” ucap Ken.
“Ini Konyol sekali. Kenapa dia mengumbar - umbar ulang tahun putrinya?” keluh Yumna lalu melihat sekotak pie yang diberikan Ken.
__ADS_1
Yumna tahu Ken itu tak enak hati jadi membelikan snack berbentuk kue dan minuman lalu memujinya yang perhatian. Ken nampak tak bisa menatap Yumna hanya mengalihkan pada pandangan yang lain sambil membuka kaleng birnya. Yumna mengeluarkan semua makanan diatas meja.
Ken tiba - tiba mengeluarkan sesuatu dari celananya dan menaruh diatas meja, Yumna binggung. Ken mengaku sudah lama memiliki benda itu, Yumna terlihat tersentuh mendapatkan hadiah. Ken menjelaskan sengaja memberikan agar Yumna berhenti mendengarkan boneka yang tertawa aneh itu, lalu kembali minum untuk menutup rasa gugupnya. Yumna terus menatapnya dengan senyuman, Ken mengatakan hadiah sebagai gantinya karena membuatkan sup antimabuk.
“Kamu takut, aku akan salah paham mengenai hadiah ini. Aku tahu ini Sesuatu yang kamu punya.” ucap Yumna lalu mulai memutar boneka kelinci yang dibelikan Ken.
Terdengar bunyi suara yang sangat romantis, seperti kotak musik yang bisa diberikan sebagai hadiah, Yumna terus menatapnya mengatakan suaranya cantik sekali. Ken sempat meliriknya lalu ponsel Yumna tiba - tiba bergetar cukup keras.
Sepertinya Arini menelpnya, Yumna mengaku sudah makan lalu terlihat agak gugup mengaku hanya sendirian dirumah dan masuk ke dalam kamar mandi untuk bisa berbicar dengan bebas. Ponsel Ken juga bergetar di kamarnya, adiknya menelp.
Kenzo seperti ingin meminjam mobil. Ken menanyakan untuk apa sambil memutar kembali kaset rekamanya, setelah itu seperti percaya dengan yang dikataka adiknya dan menyuruh untuk menunggu dibawah karena akan memberikan kuncinya.
Kenzo sudah menunggu dibawah menyuruh kakaknya segera melemparkan kunci mobilnya. Ken langsung melemparkanya, Kenzo pun mengucapkan terimakasih karena sudah mau meminjamkan mobil untuknya. Tiba - tiba Nana muncul dengan mengandang lengan pacarnya mengatakan hanya ingin jalan - jalan dan berjanji tak melakukan hal yang aneh.
Ken sempat kaget, Nana dan Kenzo melambaikan tangan bahagia karena bisa mengelabuhinya lalu berlari keluar rumah untuk seger!a pergi dengan mobil kakaknya.
Ken kembali ke kamarnya, terdengar suara Yumna yang terekam pada kasetnya terdengar sangat marah, “Berapa lama lagi kamu akan menghalangi pintu ini? Apa Kamu takut aku ambil keuntungan darimu?” lalu suara Yumna terdengar sedih. Ken pun terdiam mendengarkan suara Yumna tanpa sengaja direkam.
“Menyukai tetangga sebelah ada untungnya juga. Aku jadi pulang lebih cepat. Dulu aku biasa belum pulang sebelum aku mabuk. Demi Tuhan, puanglah lebih cepat! Aku bukannya memintamu membalas perasaanku. Aku cuma bosan! Ini bahkan belum malam. Apa yang akan kulakukan?”
Ken terdiam mendengarnya suara Yumna yang menangis, lalu tersadar Yumna sudah ada didepan pintu bisa mendengarkan rekaman juga. Suasana nampak terdiam sejenak, Yumna lalu masuk ruangan dan mencoba mematikan rekaman suaranya, tapi tak juga berhenti. Ken pun berjalan untuk mematikan alat rekamanya.
"Apa kamu merekam untuk memata - mataiku selama ini?” tuduh Yumna.
“Ini kebiasaanku. Produser sound film merekam semuanya. Untuk melihat jenis suara yang dihasilkan di rumah kami kalau kami sedang di luar. Banyak produser sound film menyalakan perekamnya sebelum berangkat kerja. Aku tidak punya maksud tertentu.” Jelas Ken.
“Kebanyakan aku menghapusnya dan tidak mendengar suaranya. Bagaimana bisa aku mendengarkan rekaman selama 12 jam? Sejak kamu pindah, aku tak pernah mendengar rekaman.” ucap Ken.
Suasana kembali berubah hening, keduanya tanpa bisa saling menatap.
“Aku hanya mengatakan itu karena aku mabuk. Ketika aku mabuk, aku memang begitu terhadap semua pria. Aku berkata seperti itu tanpa alasan.” Alasan Yumna.
“Berhentilah minum dan jangan seperti itu pada laki - laki. Dan Jangan juga kau dekati pria seperti aku. Bangun dan sadarlah. Berhenti menyakiti dirimu sendiri seperti orang bodoh.” ucap Ken sinis membalikan badannya.
Yumna akhirnya mengejar Ken tak terima karena malah yang marah - marah. Dengan berdiri di depan Ken menegaskan Ken bukanlah satu - satunya pria yang ingin didekati karena setidaknya ada lima orang rekan kerjanya yang ingin didekati dan tak perlu khawatir dan marah karena Ken itu berhasil membuat merasa seperti sampah.
Ken menatap Yumna seperti berbicara dengan menahan tangisnya, terdengar bunyi bel rumahnya. Yumna melihat dilayar ada si cantik Yumna yang datang kerumah lalu menatap Ken akhirnya memilih untuk kembali ke rumahnya. Ken terlihat tak bisa berbuat apa - apa lagi.
Yumna sudah berjalan keluar rumah terlihat menangis, si cantik Yumna sudah ada didalam rumah sambil melihat deretan kaset rekam yang tersusun rapih dalam rak.
“Aku suka mendengar rekaman suara kamarmu di sore hari. Dari suara penjual sayur sampai suara orang bertengkar. Suara itu memang bukan sesuatu yang istimewa. Tapi aku sungguh menyukai suara itu. Rasanya seperti kita kembali ke waktu yang dulu. Aku juga mulai merekam di rumah...” cerita Yumna lalu terhenti dengan perkataakn Ken.
“Katakan padaku kenapa kamu datang kemari lalu pergi dari sini.” ucap Ken.
“Kalau begitu aku harus menginap malam ini.” ucap Yumna seperti menggoda.
Flash Back
__ADS_1
Satu tahun lalu, Ken mengantar Yumna sampai di pinggir jalan, terlihat Yumna yang termenung melihat ke jendela. Ken melihat pacarnya itu kelihatan lelah. Yumna mengaku memang sedikit lelah karena Banyak urusan.
Ken mengatakan akan menjemputnya besok pagi. Yumna pikir tak perlu karena bisa datang sendiri jadi mereka bertemu di salon saja. Ken pun mengucapkan selamat malam dan bisa mimpi indah. Yumna membalas supaya pacarnya bisa mimpi dengan indah lalu menuruni mobilnya. Do Kyung pun turun dari mobil melihat punggung Yumna yang semakin menjauh.
“Saat itu adalah saat terakhir kita. Aku terus memikirkan kenapa kamu melakukan sesuatu seperti itu. Kenapa?”
"Aku tidak tahu kenapa kamu bertindak seperti itu, tapi ada satu alasan yang bisa membuatku memaafkanmu, yaitu kalau kamu terkena penyakit parah dan berusaha membuatku menjauh darimu. Kupikir aku bisa memaafkanmu jika alasannya seperti itu. Dengan begitu aku bisa memberitahu yang lain tentang dirimu.” ucap Ken berbicara dengan membalikan tubuhnya, Yumna nampak duduk disofa menahan rasa sedihnya.
“Aku selalu berkata dalam hati, "Dia sudah mati. Karena penyakit yang parah. Dengan begitu aku bisa memulihkan harga diriku dan juga memperingati kematianmu. Katakan padaku. Apa karena penyakit? Apa kamu sudah pulih dari penyakitmu dan memutuskan kembali kesini?” ucap Ken membalikan badanya.
Yumna mengatakan tidak karena penyakit, Ken dengan sinis menyuruh Yumna harusnya mati saja. Yumna seperti tersenyum sambil tertunduk. Ken menegaskan ketiak melihat mantan pacarnya kembali dengan waja bahagia membuatnya begitu marah. Yumna tetap tersenyum, Ken menyuruh Yumna menyuruh tak boleh tersenyum.
“Kamu tahu betul itu kebiasaanku. Tersenyum sekali pun aku sedang menangis. Kau bilang benci wanita yang menangis. Aku tidak ingin kau membenciku. Jadi aku tersenyum sekali pun aku sedang menangis. Bukankah kau tahu itu?” jelas Yumna dengan menahan tangis.
“Kamu masih saja menyalahkan orang lain. Jangan pernah datang kemari lagi. Itu membuatku malah lebih membencimu.” tegas Ken murka
"Kenapa harus dia? Kenapa Yumna? Apa kamu tertarik padanya karena dia dan aku punya nama yang sama?” kata Yumna.
Ken menegaskan agar Yumna tak perlu membahasnya, Yumna tetap membahas nama dan sekolah yang sama, menurutnya Terlalu banyak kebetulan. Yumna mengartikan dirinya itu sengata berkencan dengan nama yang sama karena tidak bisa melupakannya. Yumna pikir Selalu terjadi seperti itu dulu, banyak pria berusaha mendekatinya melalui diri Yumna. Ken berteriak marah.
Yumna yakin Ken itu orang yang jahat pada temannya, tiba - tiba terdengar suara pecahan kaca yang dilemparkan. Ken berlari ke kaca jendela yang pecah dan terlihat wajah Yumna di lantai bawah menatap marah ke arahnya sambil menangis. Si cantik Yumna nampak benar-benar kaget melihat kaca jendela yang pecah. Ken pun melihat Yumna yang pergi meninggalkan rumahnya.
Yumna mengendarai sepedanya keluar dari rumah sambil menangis, menyusuri pinggir jalan raya cukup ramai. Si cantik Yumna pun keluar dari rumah Ken dan pergi ke masuk ke dalam mobilnya. Ken masih terdiam dalam kamarnya, menatap kaca yang bolong karena dilempar oleh Yumna. Ia lalu merapihkan pecahan kaca di lantai dan melihat batu yang dilemparkan Yumna ke dalam kamarnya.
Akhirnya Yumna sampai di rumah Arini dan meneka bel beberapa kali, Arini nampak kaget melihat temanya datang ke rumahnya malam - malam terlihat seorang pria yang baru selesai mandi. Yumna meminta maaf karena tak menelpnya lebih dulu, lalu memilih untuk pergi saja.
Arini menahan Yumna tak perlu pergi dan memintanya agar menunggu sebentar. Beberapa saat kemudian pria itu nampak keluar luar ruangan Arini dengan wajah kesal. Yumna berjongkok didepan rumah menunggunya.
Arini membuatkan secangkir teh mengejek temanya itu seperti anak kecil yang harus Memecahkan jendela, lalu memarahi karena Yumna yang lari dari rumah bahkan menjauhi keduanya.
“Jika aku jadi kamu, aku akan berkata... "
"Kami memang seperti ini. Memangnya kenapa?" Kamu itu memang tidak tahu caranya berkelahi!” komentar Arini kesal sendiri.
“Kamu tahu sendiri, aku tidak berkuasa di hadapannya.” ucap Yumna.
“Lupakan itu! Itu karena waktu itu kau masih SMA. Sekarang kamu berusia 32 tahun. Apa yang perlu ditakutkan? Apa dia akan memakanmu hidup-hidup?” ucap Arini geram.
“Dan jujur saja, kamu sekarang sudah menang melawan dia. Apa Kamu pikir dia bisa menang melawanmu? Kamu tinggal sebelahan dengan pria itu!” ucap Yumna.
Yumna mengatakan akan pindah, Ken merasa Yumna itu sudah membuatnya frustasi dan menyuruh agar langsung tidur saja karena mereka tingga bersebelahan.
“Dia sudah tahu kalau aku menyukainya!” ucap Yumna yang membuat Arini berhenti mengoceh dan membuatnya melonggo.
“Dia merekamnya. Dia punya kebiasaan merekam kamarnya ketika dia sedang keluar. Dengan cerobohnya aku berkata, Kapan kau pulang? Kenapa kau belum pulang juga? Aku bosan. Aku menyukaimu. Seperti orang bodoh, aku terus mengoceh.” ucap Yumna menahan malu, Arini merasa sudah menduga ocehan mulut temanya akan membawa masalah.
“Menyukai seseorang itu hal yang sangat memalukan dan menjengkelkan.” ucap Yumna dengan menahan tangisnya.
__ADS_1