DI PERSIMPANGAN DILEMA

DI PERSIMPANGAN DILEMA
Bagian 30. Bersaing


__ADS_3

Melisa menelp seeorang terlihat gugup, lalu ia menyururi jalan dan melewati jembatan melihat sosok orang yang selama ini ingin ditemuinya. Pria itu menungu di pinggir jembatan. Keduanya saling menatap lalu sang pria berjalan ke arah yang sama dan Melisa mengikutinya, keduanya berjalan tanpa berbicara. Melisa memegang baju di lengan kiri si pria dan terlihat tersenyum bahagia.


Melisa sudah ada direstoran dan terlihat gugup dengan menekan jari - jarinya, Pria itu menanyakan keadaan Melisa yang sudah lama tak bertemu, Melisa mengangguk dengan wajah seperti bersemu merah, keduanya menikmati minum kopi bersama, lalu Melisa menikmati cerita si pria dengan bahasa korea yang terdengar sangat fasih.


“Kamu ingat kejadian perpisahan sekolah? Dulu  kamu tidak suka wine. Jadi kita harus mencari tempat yang menjual minuman biasa.  Kita masih muda sekali. Kita mabuk dan meminta mereka membawakan soju. Padahal sudah disajikan soju.  Dulu, aku kesulitan sekali. Kamu muntah di acara perpisahan sekolah.”


Brian keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobil sambil mengeluh tak ada kamar kosong juga di hotel itu, terlihat kesal karena malam ini mereka terasa sulit sekali. Si wanita pikir mereka kerumah Brian saja. Brian menghela nafas tapi akhirnya menyetujuinya, keduanya terlihat sangat bersemangat meninggalkan pelataran hotel. 


Brian sudah memarkirkan mobilnya, dengan melangkah bahagia sambil bernyanyi masuk sambil memeluk pacarnya akan masuk ke dalam apartementnya. Ketika berbelok terdengar jeritan histeris si wanita, lalu berlari terbirit - birit. Brian panik melihat pria yang membawa kapak masih menunggu dan mengejarnya dari belakang.


Dalam parkiran kejar - kejaran pun terjadi, Brian berusaha berlari sekencangnya untuk menghindari si paman kapak. Si wanita terlihat ketakuan dan bersembunyi.


Beberapa saat kemudian, Brian sudah berbaring di jok belakang dan pria yang memegang kapak mulai melucutinya dari sepatu sampai celana. Brian memohon untuk meminta maaf, si pria terus berusaha melucutinya. Brian berteriak meminta tolong dengan baju yang masih utuh. 


Seorang wanita menuruni tangga melihat di layar rumahnya ada wajah Brian yang ketakutan, memohon agar ibunya tak membuka pintu. Tapi ibunya tak melihat langsung membuka pintu rumahnya, Brian menyuruh ibunya masuk saja dan mengunci pintu.


Ibu Brian kaget melihat anaknya hanya mengunakan pakaian dalam dan kemeja dengan tali yang mengikat badanya dengan kardus di dadanya. Brian meminta ibunya masuk karena ia baik - baik saja. Ibunya berusaha membaca tulisan di dada anaknya.


“Aku main - main dengan wanita menikah. Bagaimana kamu mendidik anakmu?”


Ibu Brian langsung jatuh lemas melihat tulisannya, Brian menjerit panik melihat ibunya si pria membiarkan Ibu Brian untuk mengetahui tingkah anaknya. Brian pun pasrah. 


Brian menari - nari dengan irama musik Prancis didalam rumah sambil memegang botol wine, Melisa datang dengan mengetuk pintu dan sepatu yang sudah dikalungkan pada lehernya.


“Kapan kamu mau ikut denganku? Apa Kamu ketemu dia?” ucap Brian, Melisa menyandarkan badanya di sofa.


“Lelaki itu sudah melanjutkan hidupnya. Hanya aku yang terjebak di masa lalu. “ cerita Melisa lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan kepala dibawah.


“Makanya aku menyuruhmu temui dia. Wanita suka sekali tinggal di masa lalu. Tapi Lelaki? Tidak begitu." ucap Brian kembali minum wine dari botolnya.


Melisa mulai minum langsung satu gelas dengan mulutnya, Brian pun mengajak Melisa untuk hari ini mereka akan melihat siapa yang paling kuat. Keduanya mulai bersulang, Brian pun meminta untuk satu teguk lagi. Keduanya terus minum dan minum bahkan sampai melakukan love shot.


Tapi keduanya masih tetap kuat, Brian mulai menari - nari begitu juga Melisa berputar - putar seperti penari balet. Keduanya kompak melakuan tarian dada setelah itu, Melisa bisa masuk ke dalam kolong kaki Brian dengan sempurna.


Melisa menjerit kalau bisa terbang, Brian menahan tubuh Melisa yang melakukan push up dengan pijakan kaki diatas rak. Beberapa saat kemudian Melisa tergeletak di lantai, Brian mulai menghitung seperti pertarungan tinju. Melisa langsun terbangun. Keduanya kembali minum, Brian pikir mereka tak butuh gelas dan langsung minum dari botolnya. Keduanya menikmati minum wine dari botol sambil menari - nari. 


Melisa merasakan ada bagian badan yang menyentuh lehernya dan menciumnya, lalu tersadar saat membuka matanya ternyata kaki yang menyentuh badanya, wajahnya panik menarik selimut dan melihat ternyata Brian tertidur dengan mengunakan bertelanjang dada dan mengunakan pakaian dalamnya.


Dengan mata melotot terkejut berusaha untuk menutup mulutnya, lalu menarik kain yang ada didekatanya dan menutupi badannya dengan kain. Pelahan berjajan jongkok mengambil pakaiannnya lalu keluar dari kamar. Melisa sudah ada didalam kamar jatuh lemas mengetahui sudah tidur dengan Brian, teman dari adiknya. 


Pagi harinya


Jin Sang meminum kopi dan merasakan kepalanya terasa sangat sakit. Melisa keluar kamarnya dengan wajah gugup. Brian melihat Melisa pergi ke kantor bertanya  Semalam mereka minum sampai jam berapa. Melsia tak menjawab karena merasa gugup dan memilih untuk pamit pergi saja. Brian heran dengan sikap Melisa kembali meminum kopinya.


Melisa sudah ada didalam lift tiba - tiba menjerit histeris “Memalukan!” sampai semua pegawai menjauh ketakutan. Melisa langsung memukul dinding lift, lalu jatuh lemas dan menyuruh semuanya keluar dari lift. Pegawai pun berhaburan keluar dari lift. Melisa tak percaya bisa tidur dengan si bocah kecil itu. 


💜💜💜💜💜


Ibu Harry sangat marah dengan Ibu Yumna yang sudah gila, karena berani sekali bicara dengan berteriak padanya. Padahal sebelumnya bertemu tak bisa menatap matanya.

__ADS_1


“Dia diam saja dan menundukkan kepalanya! Tapi sekarang malah membentakku! Dia bilang, meskipun putrinya harus sendiri sampai tua, dia tidak akan ijinkan menikah denganmu! Dia bilang, akan mencabik - cabik dirimu!” teriak Ibu Harry melotot sambil menunjuk - nunjuk pada anaknya.


“Kenapa melakukan itu tanpa bertanya dulu?!” teriak Harry sangat marah, sampai semua pengunjung cafe menatapnya.  Ibunya mengumpat anaknya itu sudah gila dan menyuruh untuk memelankan suaranya.


“Jangan menelpon rumahnya lagi. Jangan lakukan apapun, cukup diam saja sampai kembali ke Amerika.” pinta Harry berusaha mengontrol emosinya.


“Apa sesuatu terjadi diantara kalian?” ucap Ibu Harry curiga, Harry tak menjawab memilih untuk pergi meninggalkan cafe. 


Harry gelisah di dalam kamarnya, lalu melihat ponselnya mengetik nama Yumna, tapi terlihat ragu untuk menelp.


Flash Back


Harry duduk sendirian dalam bar, pelayan melihat Harry heran karena harus mencemaskan hal itu, menurutnya Harry Bilang saja, "Eh, kamu bau!" maka perempuan akan langsung pergi. Harry berteriak marah sambil melempar makanan.


“Apa itu perkataan tepat pada perempuan ?” teriak Harry


“Kakak, kamu tidak bisa berkata halus jika ingin putus dengan perempuan. Kalau dengan perempuan "Aku tidak suka lagi padamu" tidak cukup. Dia akan terus tanya padamu apa alasannya, Perempuan suka berhalusinasi. Dia akan berpikir  "Pasti ada yang salah dengannya". Kalau dengan perempuan harus berikan jawaban detil. Contohnya "Aku tidak suka dengan cara makanmu." jelas si pelayan dengan wajah serius.


Harry pun mengatakan pada Yumna tak menyukai cara makannya, Yumna tampak terlihat shock dengan menahan tangisnya.


Sipelayan yang mengusulkan cara itu mengartikan kata - kata tadi itu tidak suka lagi padanya, maka akan langsung mundur. Harry erlihat tak begitu yakin dengan ucapanya.


Setelah Harry mengatakan tak menyukai cara makan calon istrinya, Yumna hanya menangis lalu keluar cafe dengan membawa tasnya. Harry menatap kepergianya, Yumna sempat berhenti melangkah. Harry seperti berharap Yumna memalingkan wajahnya, tapi Yumna terus berjalan. Harry hanya bisa tertunduk dengan mengepalkan tanganya. 


End.


Yumna sedang sibuk mengetik di mejanya, saat itu masuk pesan dari Harry,  “Harusnya dari awal kamu bilang kamu yang batalkan. Kenapa cerita yang sebenarnya?”  Harry tak peduli setelah membacanya tak membalasnya dan menelungkupkan ponselnya lalu kembali serius mengetik.


Yumna tiba - tiba berhenti melangkah melihat didepanya sudah ada Harry yang menunggunya. Harry membalikan badanya melihat Yumna dengan sedikit tersenyum. 


Akhirnya keduanya berdiri ditaman, Harry mengajak Yumna pergi kesuatu tempat karena pasti belum makan. 


“Kamu mau makan apa? Nanti aku belikan yang enak.“ ucap Harry.


“Kamu kejam, mana bisa aku makan di depanmu Harry? Semakin kita bicara aku semakin marah, Sampai disini saja.  Mulai sekarang kita tidak perlu bertemu lagi.” ucap Yumna dengan mata berkaca - kaca beranjak pergi.


“Aku masuk penjara. Aku ditahan sehari setelah kita putus.” ucap Harry, Yumna terhenti langsung membalikan badanya.


“Aku tidak ingin ditangkap saat kita menikah. Kalau ku lakukan, maka keluargamu bisa hancur dan Kamu juga akan hancur. Aku kira akan lama ditahan, setidaknya beberapa tahun, aku yakin Kaku akan berkata mau menunggu.” jelas Harry, Yumna menatap terlihat matanya makin memerah.


“Tapi, Yumma. Putus denganmu adalah keputusan yang tepat. Aku pikir hanya perlu berkata sesuatu padamu. Sesuatu yang bisa membuatmu meninggalkan aku. Makanya aku melakukan itu, maaf.” kata Harry dengan wajah sedih dan merasa menyesal.


Yumna menatapnya tanpa berkata - kata, lututnya terasa lemas lalu menangis sesungukan. Harry berjalan mendekatinya ingin memegang lenganya, Yumna langsung menghempaskan lalu berjalan pergi. Harry mengejarnya ingin memegang tanganya, Yumna kembali menghempaskan dengan mata marah, Harry pun membiarkan Yumna pulang sambil menangis. 


Yumna berjalan pulang sambil menangis seperti anak kecil yang kehilangan balon, lalu masuk ke rumah memanggil Ibunya sambil menangis memberitahu Ibunya kalau Harry itu dipejara. Keduanya orangnya melonggo kaget. 


“Makanya dia melakukan itu.  Bukan karena dia benci aku! Dia bersikap seperti karena dia ingin aku bahagia! Dia tidak benar - benar benci kepadaku!” jerit Yumna lalu menangis histeris lalu jatuh lemas, Ibunya langsung memeluk anaknya.


“Tentu saja. Putriku memang putri yang hebat.” ucap Ibu Yumna mengelus rambutnya.

__ADS_1


“Kenapa dia dipenjara?” tanya Tuan Abraham penasaran, Istrinya pikir tak perlu memperduikan itu, sambil memenanngkan Anaknya meminta untuk tak menangis. 


***********


Ken mondar mandir didepan rumah, seperti menunggu seseorang tapi tak kunjung datang. Lalu ia duduk bersandar dikamar Yumna dan sempat sedikit tertidur tapi Yumna belum juga pulang, lalu mengetik pesan dari ponselnya, “Hari ini, apa kamu tidak pulang lagi?” pada Yumna.


Tapi ia memilih untuk tak mengirimnya memilih untuk menaruh kembali ponslenya dimeja, lalu sambil tertunduk terus menunggu Yumna pulang. Matanya melihat boneka tertawa yang suka didengar Yumna agar bisa tertawa. Ken pun mengambilnya dengan menatap boneka tertawa, senyuman terlihat seperti mengingatkan pada Yumna.


Ken duduk didepan meja rekamanya kembali memutar suara Yumna yang tak sengaja didengar.


“Ternyata menyukainya tetanggamu, ada kelebihannya. Aku jadi ingin pulang rumah lebih cepat. Dulu aku tidak mau pulang cepat  sebelum aku mabuk. Pikirkan aku dan pulang lebih cepat! Aku tidak minta kamu suka padaku! Aku hanya kesepian sekali!” ucap Yumna saat dirumah sendirian sambil menangis didepan pintu, lalu  mengeluh karena belum malam tak tahu yang harus dilakukan.


Ken mengingat Yumna yang berlari kearahnya lalu meloncat kepelukanya dan berbisik meminta untuk berputar di depan temanya dan ia mengikuti permintaanya. Setelah itu mereka berjalan sambil berpelukan dan Yumna meminta untuk senyuman dengan penuh cinta. Ken pun bisa tersenyum seperti mengikuti kegilaan Yumna.


Lalu Ken mendengar suara Yumna yang memanggil “Sayang” berpura - pura ketika menerima paket atau makanan yang dipesannya supaya dianggap tinggal bersama suaminya. Setelah itu mengaduh kesakitan karena kesandung meja dalam kegelapan.


“Tuhan sedang sibuk menjaga orang kurang beruntung di dunia ini. Tapi jika kalian punya waktu luang dan sudah ada disini. Ada lelaki bermata indah yang memilih hidup menderita. Tolong bantu dia sadar dan kembali ke dirinya.”


Ken mendengarkan dengan serius, Yumna yang mendoakan dirinya padahal ia juga sedang menderita. 


Yumna baru saja menutup telpnya, Ibunya yang sedang mencuci piring bertanya siapa yang menelpnya. Yumna mengatakan dari Harry, Ibunya bertanya kenapa menelp. Yumna menjawab Harry ingin datang.


“Kemana? Mau apa kemari? Kamu bilang saja tak perlu kemari. Jangan temui dia. Lepaskan Harry. Dia sudah membuangmu sehari sebelum menikah, apapun alasannya tidak bisa. Jangan temui dia putuskan. Kamu bisa hidup sendiri.” ucap Ibunya tak rela


“Aku hanya bertemu sebentar saja.” ucap Yumna, Ibunya pikir untuk apa menurutnya lebih baik menyudahi saja semuanya.


“Ibu, aku bosan.” ucap Yumna dengan wajah melas, Ibunya bertanya kenapa bosan karena punya Ibu dan Ayah dan tetap tak menginginkan anaknya menemuinya denan mengancam akan membunuhnya kalau sampai bertemu lalu melepask sarung tanganya. 


💜💜💜💜


Yumna sedang bermain ping - pong dengan pria lainya, sepertinya keahilanya bisa mengalahkan lawan teman prianya. Wajahnya terpaku ketika melihat Ken yang akhirnya datang.


Keduanya pun mulai bermain ping - pong sama seperti saat mereka berpacaran, permain terlihat sangat serius dua kali Ken kehilangan bola dan akhirnya bisa membalasnya walaupun nafasnya terengah - engah karena sudah lama tak bermain. Yumna menatap Ken dengan senyuman dan terlihat juga nafasnya terengah


Yumna memberikan sebotol minuman berkomentar Ken terus bermain ping - pong kalau lebih baik darinya, lalu menceritakan  berhenti main ping - pong setelah putus. Ken mengaku kalau ini juga pertama kali setelah setahun, Yumna terdiam sejenak lalu mengajaknya untuk makan sesuatu. Ken menolak karena harus pergi.


“Apa kamu punya janji?” tanya Yumna, Ken membenarkan


“Aku kira kita bisa makan malam dulu. Kapan mau datang lagi?” tanya Yumna.


"Tidak lagi. Aku kemari karena kamu pasti menunggu terus.  Aku sudah baik - baik saja. Kalau kita bertemu di jalan aku bisa menyapamu sambil tersenyum. Terima kasih sudah menemuiku lebih dulu.” ucap Ken lalu mengulurkan tanganya.


Yumna terkaget karena Ken tak ingin main ping - pong denganya lagi, menurutnya Ken tak perlu seperti ini. Ken merasa Kalau lebih dari ini  maka akan aneh jadi sebaiknya sampai disini saja. Yumna pun menyambut tangan Ken dengan menahan tangisnya, Ken pun pergi meninggalkan Yumna terlihat tanpa penyesalan. 


Ken berada di dalam mobil menelp Yumna, terlihat Yumna yang menelp sudah tahu kalau yang menelp itu tetangga prianya. Ken mengajak Yumna pulang, Yumna menarik nafas panjang mendengarnya. Ken mengajak Yumna untuk pulang kerumah. Yumna heran dengan sikap Ken yang tiba - tiba mengajaknya pergi.


“Ada yang ingin ku katakan, pulanglah denganku. Keluar sekarang. Aku sudah didepan.” ucap Ken penuh semangat sudah memarkir mobilnya.


Yumna keluar rumah masih menempelkan ponselnya, mencari - cari diluar rumah. Ken terlihat memberikan sedikit senyuman, tapi senyumanya hilang ketika melihat Harry yang keluar rumah pamit dengan Yumna. Yumna menurunkan tangannya dengan wajah binggung, Ken pun melepaskan hands freenya terlihat kecewa.  

__ADS_1


Ken memacu mobilnya dengan wajah penuh amarah sambil mengumpat Harry sibajingan, setelah di jalan yang kosong. Mobil Ken dari belakang tiba - tiba ditabrak yang membuat sedikit terbanting di stirnya. Ken keluar dari mobil dan merasakan kesakitan dibagian perutnya sambil mengumpat marah. 


__ADS_2