DI PERSIMPANGAN DILEMA

DI PERSIMPANGAN DILEMA
Bagian 34.


__ADS_3

Di depan warung tenda, Yumna seperti menahan tubuh Ken yang memeluknya sambil memejamkan matanya. Ia merasa pacarnya itu sudah mabuk sekali dan mengusulkan untuk pindah ke tempat yang lain, lampu penunjuk sebuah motel mulai menyala. Ken mengatakan sudah menelpon supir penganti. Yumna menjerit kaget langsung mendorong Ken menjauh, merasa kalau dirinya tiba - tiba tersadar.


“Mana bisa memanggil supir panggilan disini ?Apa masuk akal memanggil  supir panggilan kesini jam begini?” jerit Yumna, Ken terlihat setengah sadar merasa tak ada yang salah.


“Tidak, maksudku coba kamu Pikirkan baik - baik. Dari sini kerumah pasti biayanya 200,000 ribu.” ucap Yumna kesal.Ken meralat kalau membayar 300,000.


“Kamu bilang bukan 30,000 tapi 300,000 ? Apa kamu bisa mengambil uang dengan mencangkul tanah? Aku kaget sekali sampai tidak bisa bicara.” ucap Yumna menutup kupingnya.


Ken pikir mereka bisa meminta diskon nanti, Yumna mencoba menjelaskan kalau Saat ini, mereka bisa merasakan suasana  dengan datang ke pantai, minum lalu ciuman, pelukan,  menurutnya tak masuk akal memanggil supir panggilan sekarang. Ken pikir Yumna ingin dirinya tetap yang menyetir.


“Dimana kamu bisa temukan supir panggilan disini?!” teriak Yumna kesal dengan memegang dagunya.


“Halo, aku supir penganti, kalian mau kembali pulang kerumah kan?” kata pria yang tiba - tiba muncul. Yumna melonggo dan Ken membenarkan, Si sopir meminta kunci mobilnya. Yumna menahanya.  


“Apa 300,000 ribu tidak kemahalan? Dengan uang segitu, hmm?” ucap Yumna memberikan kode. Si sopir penganti mengatakan akan memberikan harga 200,000 ribu karena memang searah dengan mereka berdua.


Yumna melirik sinis, si sopir langsung menurunkan harga jadi 180,000 ribu, Hae Young tetap melirik sinis, sopir kembali menurunkan jadi 150,000 ribu karena membutuhkan uang juga. Yumna mengaum seperti singa yang marah. 


Mobil melewati disepanjang jalan yang menyediakan penginapan, Yuman menatap jendela dengan wajah sedih, keduanya duduk terpisah. Ken melirik dan sedikit tersenyum lalu berpura - pura menatap jendela kembali. Yumna cemberut dan langsung membuka jendela mobil dengan tatapan sedih menatap kebelakang, setelah itu melirik sinis pada pacarnya.


“Perempuan tidak pantas tidur di motel.” ucap Ken.


“Kalau begitu, yang pergi ke motel semuanya laki - laki, begitu maksudmu?” kata Yumna kesal, Ken meminta untuk menghentikan sebelum mereka bertengkar besar.


“Kamu pemilih sekali. Padahal perempuannya sudah gampangan ...” keluh Yumna mengedumel


“Lain kali, kita pilih tempat bagus untuk menghabiskan malam bersama.” ucap Ken, Yumna sedikit tersenyum dalam mobil yang melaju dengan nada mengoda kapan mereka akan pergi. 


Malam hari menuju rumahnya, Yumna pun menyandarkan kepalanya dibahu Ken dan kepala Ken bersandar di kepala Yumna, Keduanya terlihat sangat terlelap dalam perjalanan kembali kerumah.


Pagi hari, Ken terbangun dengan sinar matahari yang masuk ke dalam jendela mobilnya. Di pangkuannya, Yumna tertidur dengan lelap, tanganya pun merapihkan rambut Yumna ke belakang telinga, tangan Ken menutup wajah Yumna agar tak terkena sinar matahari.


“Ayo lakukan, lakukan sampai akhir.” Gumam Ken menatap keluar jendela.


**********


Harry mondar mandir didepan rumah Yumna, lalu menelp dengan wajah gelisah. Tiba - tiba matanya melihat Ayah dan Ibu Yumna baru saja selesai berolahraga, ketiganya terlihat sama - sama terkejut. Harry pun membungkuk memberikan hormat, Ibu Yumna berjalan dengan wajah acuh.


“Yumna tidak mengangkat telepon ku?” ucap Harry.


“Untuk apa Yumna menerima telponmu?” ucap Ibu Yumna sinis, Harry terdiam dan langsung berlutut didepan ibu Yumna.


“Maafkan aku. Aku sudah bersalah.“ ucap Harry merasa benar-benar menyesal.


“Tidak perlu seperti ini, lebih baik kamu pergi. Aku tidak bisa menerimamu.” Ucap Ibu Yumna lalu masuk kedalam rumah. Tangan Harry mengepal seperti menahan penyesalan yang amat mendalam. 


Tuan Abraham melihat Istrinya yang sudah masuk rumah, menarik Harry agar berdiri. Harry berdiri dengan wajah tertunduk. Tuan Abraham sudah dengar ceritanya dan bisa mengerti Harry pasti menderita, merasa penasaran bisa terjadi seperti itu.


“Yumna, mungkin ada di rumahnya.  Dia sudah tinggal sendiri beberapa waktu di sana. “ ucap Tuan Abraham memberitahu.


“Cepat masuk, sedang apa disana?” teriak Ibu Yumna dari dalam, Tuan Abraham pun membalasnya akan segera masuk.


Harry pun membungkuk, Tuan Abraham tak enak hati masuk ke dalam rumah dengan menutup gerbang. 


Yumna turun dari mobil merasakan lehernya terasa pegal dan berusaha melemaskan ototnya setelah semalaman berada di mobil. Ken sedang membayar supir peganti yang mengantarkan sampai ke rumah. Keduanya lalu masuk kedalam rumah.

__ADS_1


“Badanku pegal semua. Seperti habis dari luar negeri.” keluh Yumna, Ken menyarankan untuk cuti setengah hari saja kalau merasa lelah.


“Kalau aku cuti setengah hari, maka Berlianku akan membunuhku.” ucap Yumna lalu melihat jamnya sudah telat jadi harus cepat bersiap dan akan bertemu setelah pulang kantor.


Ken mengangguk dengan senyuman, Yumna pun berlari menaiki tangga penuh semangat lalu langkahnya tiba - tiba terhenti, ia berbalik dan berlari ke arah Ken dan melompat kepelukan pacarnya. Ken tersenyum memeluk Yumna dengan erat, keduanya terlihat sangat bahagia. Yumna pun melepaskan pelukan dan berjanji akan bertemu nanti lalu masuk kedalam rumahnya. 


Brian keluar sambil mengomel sendiri dengan dirinya, seperti merasakan "Memento" lalu melihat mobilnya tak ada di depan rumah, dan bertanya - tanya dimana ia menaruh mobilnya itu. Lalu bertanya pada Ken apakah melihat mobilnya, akhirnya kembali masuk dengan helaan nafas kesal.


“Kamu baru mau kerja atau sudah pulang?” tanya Brian seperti tersadar pagi - pagi melihat Ken yang masih mengunakan pakaian rapih, tapi memilih tak mempedulikannya karena masih binggung dengan keberadaan mobilnya.


Ken masih dengan melirikan matanya pada rumah Yumna, seperti tak bisa menahan untuk bertemu pulang kantor. Kenzo menelp di kamarnya dengan wajah tanpa semangat memberitahu hari ini harus menemui Ken dan pergi dari rumah tapi pacarnya itu membuatnya terlihat konyol dan sekarang kebinggungan dengan yang harus dilakukanya.


Brian masuk kamar langsung berbaring diatas tempat tidur bertanya  tadi malam dirinya pulang jam berapa. Kenzo hanya diam, Brian akhirnya duduk diatas tempat tidur kembali bertanya. Kenzo berteriak mana mungkin ia tahu karena ia sendiri tidak tahu kapan sampai rumah. Brian langsung mengambil ponsel Kenzo untuk meminjamnya. Kenzo berbaring lemas dengan mengepalkan jarinya.


Brian menelp kantor, untuk berbicara Pengacara Kim, lalu ia bertanya sebenarnya kemarin ia minum dengan siapa, karena ponselnya hilang, mobil juga tidak ada dan sudah tak memiliki apapun. Kenzo melirik sinis pada kakaknya yang duduk didepan untuk meminum kopi, Ken pun menatap adiknya yang kemarin sempat bertengkar hebat. Kenzo mengambil selai dengan tangan kirinya tapi yang terjadi malah muncrat mengenai wajah kakaknya.  Melisa yang duduk disebelahnya sampai ikut terkejut, Kenzo melonggo kaget karena membuat kesalahan lagi.


Ken menatap marah, Kenzo tertunduk memberikan tissue pada kakaknya meminta maaf. Ken mengomel pada adiknya agar melakukan yang benar dengan dua tangannya. Kenzo meminta Melisa untuk mengambilkan untuknya, Melisa mengumpat Kenzo itu sudah gila karena masih punya tangan.


“Sementara ini, aku akan pura - pura tidak punya.” ucap Kenzo, Melisa dan Ken menatap sinis


"Aku terbangun dan dia melakukan ini padaku.  Katanya aku mati kalau mencopotnya. Tadinya aku ingin pamit darimu dan pergi. Tapi dengan tangan seperti ini, aku malu. Kalau menggunakan satu tangan dibelakang rasanya lucu. Makanya aku tidak jadi pergi dari rumah.” ucap Kenzo yang mengunakan kuku palsu di jari tangan kanannya.


“Katakan saja lalu pergi.” kata Ken, Melisa mengangguk setuju.


“Kalau begitu tidak akan keren, Makanya aku akan lakukan dengan benar.  Aku sudah merencanakan kepergianku. bahkan sudah merancang ekspresi wajahku. Tunggu saja, begitu kuku ini terlepas. Maka Aku akan segera lakukan.” ucap Kenzo memperlihatkan kembali kuku palsunya.


“Kalau begitu, mau berkelahi dengan sarung tangan? Mau ku pinjamkan sarung tangan kulit?” kata Melisa meperagakan sambil meninju.


“Rasanya saat ini tidak tepat untuk berkelahi dengannya. Cukup pertahankan suasana ini.” ucap Kenzo.


“Menurut saksi di acara kumpul - kumpul kami. Aku pergi dengan wanita mata duitan yang sedang cuti penjara.“ cerita Brian, Melsia menarik nafas tak percaya 


Flash Back


Seorang wanita dengan pakaian yang super seksi dan mengoda duduk di mobil Brian. Terlihat Brian yang mabuk berkata kalau wanita itu bukan mata duitan, menurutnya wanita itu adalah bunga dengan memegang wajah si wanita, lalu mulai menciumnya tanpa henti dan mobil pun bergoyang. 


Jari tangan Melisa menekan keras tanganya sendiri, terlihat menahan amarahnya. Brian baru menyadari kalau ia berusaha membebaskan wanita itu dengan Memohon dan menangis lalu melakukan “Itu” sebelum pergi.


“Dasar manusia sampah. Kamu oulang kerumahmu. Jangan lagi datang kerumah ini! Kamu kotor.” ucap Melisa berdiri dari tempat duduknya, Brian tak terima dianggap kotor, menyuruh Melisa memikirkan lebih dulu sebelum bicara.


“Sebersih apa dirimu? Kamu punya hubungan dengan suami orang!” ucap Brian dengan bahasa prancisnya, Kenzo mulai memperlihatkan wajah kebinggungan.


“Setidaknya itu karena cinta!” balas Melisa dengan bahasa prancisnya.


“Aku juga cinta!” kata Brian.


“Saat itu aku sedang jatuh cinta!” balas Melisa.


"Sungguh? Karena aku yang jatuh cinta.” ucap Brian sambil berdiri mengebu - gebu.


Keduanya saling adu mulut dengan bahasa prancis, Sementara Ken memilih untuk menyingkir dengan berjalan kearah jendela. Kenzo hanya bisa melonggo keduanya terus adu mulut dengan bahasa yang tak dimengerti, akhirnya memilih untuk makan roti dengan mengoleskan selai sendiri. 


Di meja receptionist


Harry datang meminta agar bisa bertemu dengan Yumna, Receptionist bertanya, Yuman yang mana karena ada dua orang nama yang sama. Harry ngin bertemu dengan  Asisten Manajer Yumna. Receptionist pun mencoba menelp lalu memberitahu Yumna masih belum masuk kantor.

__ADS_1


Akhirnya Harry pun akan keluar kantor, Seseorang mengenali Harry dan menyapanya, Ia mengaku pernah bertemu saat dengan Yumna. Harry mengerti lalu pamit pergi duluan. Si cantik Yumna bertanya siapa pria itu. Temanya memberitahu Harry adalah lelaki yang nyaris dinikahi Yumna dan beberapa kali melihatnya. Yumna melotot kaget melihat Harry yang sudah keluar dari gedung. 


Yumma baru sampai depan kantor kaget melihat Harry yang baru masuk mobil, Ia pun buru - buru bersembunyi dengan menutup wajahnya. Harry sempat melihat ke dalam gedung seperti berharap bertemu dengan Yumna, saat mobil melaju tak melihat Yumma. Yumna kaget karena Harry sampai mendatangi kantornya.


Sesampai di meja, ponsel Yumna berdering. Pesan dari Harry masuk.


“Kamu masih marah padaku? Aku kira kamu sudah memaafkan aku. Apa aku perlu berlutut untuk minta maaf? Aku akan menunggu Sampai amarahmu mereda, aku tetap menunggu.... Maafkan aku.”


Yumma terdiam membaca pesan dari Harry lalu membalasnya.


“Kita ketemu malam ini. Ada yang ingin kukatakan.”


Ken sedang mengedit suara wanita yang berjalan melalui ilalang, tiba - tiba ia melamun lalu menelp seseorang. Yumna tersenyum melihat nama yang menelpnya. Ken mengajak Yumna untuk bertemu sepulang kantor malam nanti. Yumna pikir hari ini akan pulang terlambat. Kem menanyakan alasanya.


“Aku harus bertemu seseorang.” ucap Yumna, Ken bertanya apakah sampai malam.


“Sepertinya tidak terlalu malam. Aku akan bertemu dengan oria yang tadinya akan kunikahi. Kami tidak kembali berpacaran, tapi kami memang mulai bertemu lagi. Jadi aku ingin bertemu dan menjelaskan semuanya.” ucap Yumna jujur.


“Ketemu aku dulu sebelumnya.” kata Ken dengan wajah tegang.


“Aku harus menyelesaikan ini dengannya dulu.” ucap Yumna, Ken ingin datang lebih dulu agar bisa berbicara dengan pacarnya.


“Tidak akan lama, Hanya sebentar saja.” kata Yumna menyakinkan, Ken tetap ingin Yumna menemuinya lebih dulu karena ada yang ingin dikatakan.


Yumna binggung kenapa Ken mendadak bersikap seperti ini. Ken menegaskan Yumna harus bicara lebih dulu padanya dan akan datang ke kantornya. Yumna menduga Ken merencanakan sesuatu malam ini, lalu mengodanya harusnya berdandan cantik hari ini. Ken hanya diam.


“Aku bilang ini dari awal. Jangan datang sambil bawa bunga  dan berlutut padaku. Itu Memalukan sekali. Jangan membuat rencana dengan pegawai restoran juga. Jangan membuat pertunjukan aneh di depan orang-orang. Aku tidak mengerti kenapa banyak perempuan suka hal seperti itu.” bisik Yumna, Ken menegaskan Yumna tak perlu berpikir berlebihan. Yumna pun mengerti lalu menutup telpnya. 


Ken pun berjalan sendirian akan ke tempat Yumna, tatapan lurus sambil bergumam.


“Aku tidak akan mendorongmu lagi  karena rasa bersalah. Aku hanya ingin mencintai dirimu. Apapun yang kukatakan padamu  jangan buang aku. Genggam aku erat-erat.”


Harry mengeluh karena kemarin Yumna tak jadi makan malam denganya dan sekarang kenapa lagi, lalu memohon untuk bertemu sebentar saja. Yumna meminta maaf berjanji akan bertemu dengannya esok.


“Aku juga ingin bicara padamu.“ kata Yumna.


“Apa sebentar juga tidak bisa?” ucap Yumna berharap.


“Besok saja. Maaf, aku tidak mengerti kenapa aku terus - terusan minta maaf padamu.” ucap Yumna.


“Baiklah kalau begitu ketemu besok. Tidak perlu minta maaf.” ucap Harry.


Setelah menutup telpnya pegawai florist memberikan sebuket bunga mawar untuk Harry yang sudah dirangkainya. Harry keluar dari toko dengan membawa sebuket bunga dan mengeluarkan kotak cincin yang sudah disiapkan. Lalu ia mengirimkan pesan pada Yumna,


“Aku hanya ingin memberi sesuatu. Aku tunggu di depan kantormu.”


Yumna berdandan penuh semangat memakain blush on, lalu memastikan wajahnya di cermin. Setelah selesai pamit pergi dengan teman timnya yang masih berkerja. Ia berjalan keluar kantor sambil menelp memberitahu sudah keluar dari kantor lalu bertanya keberadaanya.


Harry membawa sebuket bunga dengan senyuman bahagianya melihat Yumna yang ada diseberang jalan. Senyuman Yumna lebar melihat Ken sudah ada didepanya. Harry melambaikan tanganya, Yumna sambil menelp melambaikan tanganya. Ken membalas melambaikan tangan dengan senyuman. Harry menyadari lambaian tangan Yumna bukan untuknya, lalu melihat ke deretan orang yang ingin menyeberang. 


Ken melangkah ke depan, mata Harry melotot melihat pria yang sangat dikenalnya. Masih teringat saat Ken yang menabrakan mobilnya dari  belakang lalu senyuman liciknya saat lift tertutup setelah ia berbicara dengan Ketua Jang.


Flash Back


“Setidaknya beritahu aku alasannya. Apa yang sudah ku lakukan padamu? Aku sudah berpikir keras tapi tidak tahu alasannya. Kamu dan aku sama sekali tidak saling kenal. Sebenarnya kenapa kamu merusak bisnisku?” ucap Harry saat bertemu pertama kalinya dengan Ken setelah keluar dari penjara 

__ADS_1


__ADS_2