
"Kaka aku ingin mencoba sekali dan tidak akan keluar sekarang. Aku akan melakukannya perlahan-lahan.” kata Kenzo akan mengambil kembali skenarionya, Ken meminta adiknya untuk menghentikanya. Kenzo merengek pada kakaknya.
“Berapa tahun kamu kerja jadi kru film ? Kamu hanya dibayar 25.000.000 juta/tahun. Kamu harus membujuk sutradara dan melakukan semua pekerjaan keras. Mereka tidak memberimu makan dan kanu bekerja hanya cuma - cuma. Setiap kamu membawa skenario, kamu harus memohon seperti pengemis. Kamu harus memohon seperti tidak punya harga. Kamu melakukan itu selama 8 tahun. Tapi masih mau melakukannya juga?” kata Ken mencoba menyadarkan adiknya, Kenzo kembali ingin protes.
“Kalau kamu belajar dariku, kamu bisa mencari nafkah dan kamu tidak akan direndahkan.” ucap Ken.
“Setidaknya aku ingin coba sekali !” rengek Kenzo dengan nada tinggi.
“Tulisanmu memalukan! Kamu tidak bisa melakukannya, ini Memalukan. Makanya cepat sadarkan dirimu.“ teriak Ken tak bisa lagi menahan amarahnya, melempar skenario adiknya.
Kenzo berkaca - kaca menahan amarahnya dengan mengepalkan tanganya, merasa tak percaya kakaknya bisa berkata seperti itu pada adiknya, menurutnya Skenario yang lebih buruk darinya saja bisa dijadikan film bahkan Orang datang dan menontonnya. Ia tak setuju dengan kakaknya yang berkomentar kalau yang dilakukan itu memalukan
“Hidup kita memang sudah memalukan! Bukankah begitu? Hidup saja sudah memalukan. Makan juga memalukan, dan aku malu mendengar kalau aku ini memalukan! Apa salahnya memalukan? Apa memalukan hukuman mati?” ucap Kenzo sambil berjalan mendekati kakaknya.
“Kakak, tidak tahan dipermalukan kan? Tidak bisa, kan? Aku tidak akan mati karena malu makanya aku pemenang. Apa kamu tahu itu? Aku akan dihukum oleh orang - orang, Mendengar mereka mengkritik tulisanku. Dan hidup memalukan! Jadi biarkan saja !” teriak Kenzo akan berjalan pergi, Ken menahanya.
"Aku tidak bisa melihatmu diremehkan orang! Makanya belajar mengarah suara dariku, bocah!” teriak Ken menahan adiknya.
“Kakak, apa Kamu kira orang respek padamu? Mereka itu menghinamu. Lalu apa gunanya bersikap sok hebat? Hidup hanya sekali. Biarkan aku melakukan yang ku mau!” teriak Kenzo melepaskan tangannya lalu keluar dari rumah.
Nana geram sebenarnya ada apa, sambil berjongkok bertanya apakah pacarnya itu tak mau cerita juga. Kenzo dengan menahan sedih memberitahu komentar Ken itu skenarionya memalukan.
“Ayo kita bunuh, Kenzie. Bajingan itu, mengira dia hebat. Aku akan membunuhnya.” ucap Nana marah, Kenzo berteriak memanggilnya.
Kenzo berteriak menarik tanganya, Nana tak ingin pacarnya menahan menghempaskan tangan pacarnya, karena akan membunuh Ken yang berani mengatakan itu pada pacarnya. Kenzo langsung memeluknya dari belakang, Nana menangis mengumpat Ken, lalu memeluknya dengan erat. Kenzo hanya bisa mengelus rambut untuk menenangkan pacarnya.
Ken keluar dari rumah berjalan menyusuri jalan mengingat ucapan adiknya, “Aku kira orang respek padamu? Mereka menghinamu. Lalu apa gunanya hidup sok hebat?”
Lalu mengingat pertanya pada ayahnya, “Ayah suka dengan hal yang menghilang?”
Ayahnya menjawab, “Saat kamu menghargai hal yang sementara kamu tidak melakukan hal yang sia - sia.”
***********
Ayah Ken terlihat sedang memakai earphone melihat anaknya yang sedang asik ditaman yang penuh dengan bunga - bunga, sambil melompat-lompat.
Ken mengingatnya dengan menahan tangis dan masih terus berjalan.
Flash Back
Ken melihat sepatu ayahnya ada didepan rumah, lalu langsung berlari memanggilnya Ayahnya, dan jatuh diatas dada Ayahnya yang sedang berbaring. Ayah Ken memeluk anaknya yang ada diatasnya dengan wajah bahagia dan mendaratkan ciuman dikening anaknya. Ken terlihat sangat bahagia.
Ayah Ken memanggku Ken sambil memegang tangan, Ken bertanya suara apa yang Ayah dapat di DMZ. Ayah Ken menceritakan mendengar Suara tentara yang bekerja saat memeriksa pagar kawat dan suara pengumuman, serta Suara burung.
“Ayah paling suka dengan suara apa?” tanya Ken.
“Hmm, Ayah paling suka suaranya Ken.” Bisik Ayah Ken ditelinga anaknya. Keduanya tersenyum bahagia sambil berpelukan.
“Besok adalah hari anak, jadi kemana besok kita mau pergi?” tanya Ken, Ayah Ken bertanya balik kemana anaknya ingin pergi. Ken memikirkanya. Tiba - tiba Ibunya yang terlihat masuk rumah dengan setengah sadar.
“Kamu tidak tahan melihat istrimu tapi kamu punya waktu bertemu anakmu? Kamu repot - repot mau mampir kerumah.” Sindir Nyonya Emilia, Ayah Ken hanya diam saja.
“Jika bukan karena pekerjaanmu merekam suara kira - kira alasan apa yang kamu kasih agar tidak pulang kerumah. Pilihan karirmu tepat. Benark kan?”ejek Nyonya Emilia, Ayah Ken tetap diam, Ken memegang tangan Ayahnya memberikan semangat. Setelah Nyonya Emilia masuk kamar, Ayah Ken dan Ken saling bercanda dengan tawanya.
Esok paginya.
Ayah Ken menyusuri hutan dan Ken mengikutinya dari belakang, dengan membawa kayu untuk menghalu jalan. Ayah Ken memanggil anaknya untuk cepat. Sesampai di pinggir tebing, Ayah Ken mulai memasang mic dan alat perekamnya. Ken sibuk melempar batu kebawah, Ayah Ken menyuruh Ken menjauh dari pinggir karena terlalu bahaya. Ken pun berlari ke bagian tanaman bunga dan melihat ada kupu - kupu yang ada diatasnya. Ayah Ken mulai memasang earphone dengan mengecek pita rekamanya.
“Apa kupu - kupu punya suara kalau terbang?” tanya Ken, Ayah Ken menyuruh Ken untuk mencoba mendengarnya, Ken berusah mendengarkan tapi merasa tidak ada suaranya.
Ayah Ken meminta anaknya untuk mendengarkan baik-baik, Ken berusaha mendengarkan suara kupu - kupu yang hingga dengan fokus. Ayah Ken melihat ada angin yang datang dan menjatuhkan micnya lalu berlari mengejarnya.
Ken seperti merasakan bunyi, lalu memanggil Ayahnya tapi tak melihat dimana - mana, akhirnya ia merayap untuk melihat ke bawah. Ia berlari menuju kebawah dan dipinggir pantai melihat sosok Ayahnya tergeletak dengan kepala berdarah, Ken berteriak mencoba membangukan Ayahnya tapi akhirnya tak juga bangun.
__ADS_1
Akhirnya Ken berlari mencari pertolongan tapi tak ada seseorang pun karena jarak perumahan sangat jauh. Dengan wajah frutasi Ken pun kembali ke pantai, mengunakan terpal yang ditemukan menarik Ayahnya dengan sekuat tenaga, keluar dari pantai.
Ia pun menarik Ayahnya masuk ke dalam mobil dan menekuk kakinya agar pintunya bisa tertutup, setelah itu sempat duduk dipinggir dengan memukul tanah, meluapkan amarahnya. Ken yang masih kecil memindahkan gigi mobil, lalu mendorong mobilnya, perlahan roda berputar sampai malam hari Ken masih mendorongnya. Tubuhnya yang masih kecil akhirnya kelelahan, tanganya gemetara, keringatanya membanjiri seluruh tubuhnya. Akhirnya Ken duduk didepan bicara dengan ayahnya.
"Ayah, aku tidak bisa jalan lagi. Cepat bangun.” ucap Ken saat itu sebuah lampu mobil datang menyinari wajahnya. Setelah itu Ken duduk ditaman dengan wajah cemberut.
End.
❤️❤️❤️❤️
Ken sudah berlari mengelilingi lapangan yang dulu juga pernah datangi Ayahnya, pikiranya kembali mengingat ucapan ayahnya, “Saat kamu menghargai hal yang sementara kamu tidak melakukan hal yang sia - sia.” Ketika masih kecil Ken berteriak penuh amarah
“Kenapa kamu pergi tanpa minta ijin dariku! Kenapa? Aku tidak akan pernah pergi!” teriak Ken kecil penuh amarah.
Ken terus berlari tanpa henti, suara jeritan saat kecil menggema ditelinganya.
Yumna menangis dengan menghabiskan tissue dikamarnya, matanya memerah dan hidungnya juga meler. Ponselnya bergetar tertulis nama “Tetangga Sebelah”
“Tadinya aku mau menunggu sampai dering kelima,tapi baru 3 dering sudah kuangkat. Aku gampangan sekali. Benark kan?” kata Yumna, Ken hanya diam saja.
“Kalau kamu menelpon, setidaknya bicara. Kenapa diam saja? Apa Kamu masih tetap bersikap begitu saja?" teriak Yumna histeris, Ken meminta Yumna untuk datang.
“Kamu kira aku gampangan sekali, selalu datang tiap kamu minta ?” ucap Yumna dengan suara gemetaran.
“Aku merindukanmu. Aku sangat merindukamu.” ucap Ken sambil menangis, Yumna terdiam mendengarnya.
Yumna langsung berlari keluar rumahnya hanya membawa dompet, Ken menunggu di pinggir jalan dan selalu melihat orang yang turun dari taksi berhenti didepanya, tapi bukan orang yang ditunggunya. Yumna akhirnya turun dari taksi dibelakang, senyuman tak bisa disembunyikan.
Ken dan Yumna saling bertemu ditengah - tengah saling menatap, tiba - tiba keduanya terlihat malu - malu saling memalingkan wajahnya sambil tersenyum, setelah itu keduanya saling menatap dengan senyuman malu - malu. Ken lebih dulu berjalan dan Yumna pun mengikuti dari belakang.
Keduanya berjalan bersebelahan, sambil tersenyum sendiri ketika saling menatap keduanya malah senyum bersama. Yumna seperti masih tak percaya sambil menatap Ken yang berjalan disampingnya.
Sesampai di jalan yang cukup sepi, Yumna sadar langsung datang saat Ken menelpya dan menganggap memang ia wanita gampangan, lalu bertanya apa sekarang yang dinginkan Ken darinya. Ken berhenti berjalan dengan wajah tertunduk meminta Yumna memberikan pelukan untuknya.
Perjalanan menuju laut. Mobil Ken sudah melaju dengan kencang di jalan yang lengang. Senyuman Ken dan Yumna terus terlihat. Ken yang menyetir mobil heran karena Yumna tak bertanya kemana mereka akan pergi.
“Kemana saja tak masalah. Karena aku wanita gampangan.” ucap Yumna dengan nada mengejek.
“Makasih, sudah jadi gampangan.” balas Ken dengan senyuman
“Kamu tahu kalau berat sekali buat wanita menjadi gampangan seperti ini, Kalau kamu masih plin plan kan Aku bunuh kamu.” ucap Yumna mengancam
Ken melirik tanpa berkomentar, Yumna kesal Ken hanya diam saja berpikir nanti Ken mau plin plan lagi. Ken menegaskan dirinya tidak akan plin plan lagi. Yumna menjerit bahagia kalau sangat menyukainya, Ken tersenyum tak terlihat wajah muramnya.
Ken dan Yumna berjalan di pinggir pantai, keduanya saling mendorong agar bisa mendorong ke pantai, lalu Ken mengendong Yumna dengan penuh rasa bahagia. Yumna menjerit kalau sangat dingin, lalu keduanya pun kembali berjalan menyusuri jalan.
“Sejak kapan kamu menyukaiku?” tanya Yumna lalu mencoba untuk menebaknya sendiri, yaitu saat pertama kali melihatnya. Ken mengatakan tidak, Yumna penasaran kapan jadinya.
“Saat kamu cerita, memberi suaramu sendiri untuk calon ketua kelas.” akui Ken.
“Aissh, kenapa itu? Itu memalukan sekali.” Jerit Yumna.
“Kamu berani mengaku kalau itu memalukan, tapi aku menyukainya” akui Ken, Yumna tertawa mendengarnya.
“Tak disangka aku punya banyak cerita memalukan. Apa Mau dengar lagi? Aku dapat nilai 20 saat tes mengeja di SD. Lalu saat baru kuliah, dan tamasya sekolah, aku minta bisnya berhenti karena mau ke toilet. Augh, memalukan sekali. Aku juga pernah jatuh dari bis. Kau tahu kalau tempat duduk di bis tinggi. Aku ketiduran di bangku terakhir dekat jendela. Lalu aku jatuh dari bis, herannya aku sama sekali tidak luka. Aku malu sekali, dan melarikan diri.” Cerita Yumna menceritakan sambil berjalan menyusuri pantai. Keduanya terlihat tertawa bahagia mendengarkanya.
Yumna sibuk memanggang kerang, sementara Ken terus memandanginya tanpa berkedip, lalu ia pun menuangkan soju di gelas pacarnya. Yumna mengucapkan terimakasih. Ken pun menuangkan soju ke gelasnya. Yumna terkejut melihat Kem yang ingin minum juga, lalu tiba - tiba cipratan air kerang mengenai tangannya.
Ken meminta untuk memberikan padanya, Yumna pikir tak perlu dengan mengelus punggung tanganya nanti akan sembuh. Ken pun membiarkanya.
“Bagaimana kalau aku bilang "Disini sakit"? Aku minta untuk ditiup, Kamu akan bagaimana ?” ucap Yumna mengoda dengan memonyongkan bibirnya.
“Aku akan membunuhmu.” ucap Ken terkesan sinis, Yumna merasa sudah bisa menembaknya.
__ADS_1
“Kalau aku minta disuap "Aaah" begitu ?” ucap Ken membuka mulutnya, Ken pun membanting gelasnya yang kosong.
Yumna mengatakan tak jadi dan menyuruh Kem terus minum saja, lalu memberikan kerang yang sudah matang pada piring Ken, menyuruhnya untuk tak perlu di potong dan langsung makan saja. Ia pun langsung mencoba dari capitanya dan mengatakan rasanya empuk sekali. Ken ingin mencelupkan di saus, Yumna melarang menyuruh untuk makan tanpa saos. Ken tersenyum setelah memakanya, Yumna yakin rasanya pasti enak lalu memberikan potongan kerang lagi pada Ken.
"Waktu itu, kita makan samgyeosal dengan orang tuamu. Aku menyukainya.” ungkap Ken.
“Kenapa? Padahal kamu baru saja menolakku, Apa Kamu suka bersandiwara di depan ibu dan ayahku?” ucap Yumna.
“Ibumu bilang ...” kata Ken sambil menuangkan soju mengingat kata - kata Ibu Yumna padanya, “Aku ingin berterima kasih soal jendela pengamannya dan sudah menunggu kapan bisa membuatkanmu makanan. Jadi tertunda lama, ayo Makanlah.”
“Dia menaruh daging di nasiku.” ucap Ken.
“Kenapa tersentuh pada hal seperti itu? Itu bukan apa - apa. Kamu tinggal bilang saja maka aku akan menaruh daging, kimchi dan lauk di nasimu setiap kita makan. Aku akan menghabiskan semalaman menaruh lauk di piringmu.” ucap Yumna menaruh semua kerang pada mangkuk pacarnya.
Ken tersenyum lalu menatap wajah Yumna yang sedang asik memanggang kerang, tiba - tiba ia bangun dari tempat duduknya mendekati Yumna dan mengeser bangkunya. Yumna binggung, Ken langsung menciumnya, Yumna pun menaruh pecapitnya dan langsung merangkulkan tangan di leher Ken, untuk kedua kalinya mereka berciuman tapi kali ini Ken seperti penuh rasa cinta.
**********
Melisa berjalan pulang kerumah, sebuah mobil berhenti menyapanya dengan bahasa prancis. Brian heran melihat Melisa yang pulang lebih awal. Melisa melambaikan tanganya, Brian turun dari mobil mendekati Misa lalu berputar memperlihatkan gaya busananya.
“Wow, mau pergi kencan?” tanya Melisa.
“Dress code malam ini, Rooftop party.” Ucap Brian mengoyangkan badanya dengan penuh semangat, Melisa sempat terhipnotis dengan bokong Brian yang mengarah padanya lalu berusaha untuk menyadarkan dirinya.
“Apa kamu tahu rooftop party? Bahasa kita pesta di atap. Semua wanita cantik akan muncul disana.” Kata Brian lalu pamit pergi dan kembali masuk ke mobilnya dengan mengoyangkan pinggulnnya.
Melisa berusaha menahan hasratnya, Brian terus terlihat gembira saat masuk mobil dan pergi. Melisa melihat mobil Brian pergi langsung mengumpat dalam Bahasa Perancis.
Dua bibi pengantar sedang mengobrol karena jarak mereka lebih jauh melalui jalan itu. Melisa melihatnya langsung meminta untuk mengantarnya, si bibi menolak karena Jam tugas mereka barusan saja selesai.Melisa langsung menutup wajahnya dengan rambutnya yang keriting.
Salah satu bibi mengenal wanita tanpa wajah dan mengajak temanya untuk kabur, Melisa mengehentikanya, akhirnya dengan terpaksa keduanya mengantar. Melisa meminta keduanya berjalan pelan lalu bertanya apakah mereka sudah makan. Dengan merangkul ke dua bibi merasa bangga sekali pada keduanya sebagai Bibi penjaga lingkungan.
Melisa memberikan dua gelas jus jeruk pada Bibi penjaga dan meminta untuk duduk. Salah satu Bibi menolak karena merasa tak enak hati. Melisa merasa tak bisa begitu saja karena bibi itu sudah mengantarnya pulang. Si Bibi tetap saja tak ingin menerimanya. Melisa dengan lirikan sinis menyuruh keduanya untuk duduk. Keduanya langsung ketakutan dan duduk meminum jusnya, Melisa menyuruh untuk minum pelan - pelan saja. Si Bibi pun menurukan gelas yang sudah diminum setengah.
“Apa Boleh aku bertanya? Berapa banyak lelaki yang kamu tiduri?” kata Melisa, dua Bibi saling berpandangan dengan wajah binggung dan mengatakan kalau mereka besar di jaman dulu.
“Usiaku 44 tahun. Lelaki yang pernah kutiduri 2.” ucap Melisa, salah seorang Bibi hampir tersedak mendengarnya, Bibi yang lain meminta agar tak berkomentar.
"Sepertinya kamu tidur dengan lebih banyak lelaki?Aku, kalau tidur dengan lelaki, maka aku akan jatuh cinta padanya. Aku tidur dengannya bukan karena aku cinta. Tapi begitu aku tidur dengannya maka aku akan jatuh cinta pada orang itu.” Ucap Melisa yang membuat dua Bibi menganggukan kepalanya.
“Tapi ... Kenapa ... harus pecundang itu!” teriak Melisa mengebrak meja membuat kedua Bibi terkejut.
“Semua orang bilang aku cool dan chic. Tapi aku tidak tahu apapun soal itu. Begitu aku tidur dengan seseorang haruskah aku berpacaran dengannya? Di alam semesta ini dimana tubuh akan mengambil alih sehingga 2 tubuh bertubrukan, apa itu berarti 2 tubuh itu ditakdirkan bersama selamanya?” ucap Melisa mengebu - gebu.
“Tapi ... kenapa bisa dengan pecundang itu ... yang selalu tidur dengan wanita berbeda setiap malam? Ini Mustahil! Kenapa bangsat itu?! Kenapa?!!” jerit Melisa histeris sambil menaiki rak bukunya lalu mengusir dua Bibi untuk segera keluar.
Kenzo dan Nana minum bersama di restoran, Kenzo sedikit mambuk menceritakan Sejak bertemu kunyuk itu di usia 6 tahun, sudah langsung tahu kalau kakaknya itu brengsek.
“Tiap minggu aku mengejarnya dan teriak "Kakak, kakaka" Kamu tahu apa tanggapan kunyuk itu setelah seminggu? Dia bilang, “Kamu, pulang sana kerumahmu.” Tapi, sekarang aku masih serumah dengannya.” cerita Kenzo.
“Nama depan kalian sama. Apa Kalian bukan saudara kandung?” ucap Nana polos.
“Hei.... apa semua yang bermarga sama adalah saudara kandung? Agar tidak ketahuan kalau kami anak - anak dari Ayah yang berbeda, Ibuku menikahi lelaki yang bermarga Ken.” Cerita Kenzo.
“Ayo kita tinggal bersama, kalau aku bilang akan tinggal bersama denganmu, Kakak pasti mengamuk besar. Aku bingung harus bicara apa. Tapi, karena aku tidak perduli lagi padanya. Dia juga bukan kakakku, sekarang aku berani dan aku tidak akan hidup dirumah itu lagi.” ucap Kenzo.
“Tadi aku juga ingin membunuh Ken. Sekarang, aku ingin memeluknya.” ucap Nana.
Kenzo bertanya siapa yang ingin dipeluknya,Nana menjawab Kakak Ken, Kenzo heran kenapa harus dia. Nana pikir tadinya ingin membunuh karena mengira kakaknya, tapi Setelah tahu mereka bukan saudara kandung, ia jadi mengerti kalau Ken itu sayang sekali dengan pacarnya, bahkan ingin memeluk dan mengucapakan terimakasih.
“Aish, serius! Dari tadi kamu dengar apa? Dia itu brengsek!” teriak Kenzo merengek kesal.
“Astaga, aku bersyukur pacarku. Aku senang kamu jadi milikku. Kalau kamu dengan wanita lain, aku pasti sedih sekali.” ucap Nana dengan memeluk dan memberikan ciuman, Kenzo menyuruhnya menjauh karena masih kesal.Nana tak mau menjauh tetap mendekat sambil menghujani ciuman, Kenzo pun hanya bisa menjerit.
__ADS_1