DI PERSIMPANGAN DILEMA

DI PERSIMPANGAN DILEMA
Bagian 19. Setengah rasa cinta, setengah rasa kasihan


__ADS_3

"Jika orang lain seperti itu juga padaku, akankah aku juga menyukainya?”


Yumna mengingat saat pertama kali bertabrakan dengan Ken yang membuat hidungnya berdarah, dan melihat tatapan mata Ken yang berbeda menatapnya.


“Aku pikir tidak mungkin aku hanya menyukainya dari awal.”


End.


Yumna mengingat saat mengambil dompet Ken ditengah jalan tanpa rasa takut akan tertabrak, Arini hanya bisa menghela nafas melihat tingkah temanya. 


Yumna berjalan sendirian sambil bergumam,  “Ikan yang hidup di air yang berbeda tidak akan bisa bertemu. Si cantik Yumna yang dari golongan kelas atas bertemu dengan orang yang sama dengan dia dari kelas bawah."


Si cantik Yumna waktu SMA bertemu dengan pria - pria tampan dan kaya untuk pertama kalinya.


“Sedangkan aku, yang termasuk dalam golongan ketiga, bertemu dengan orang yang sama.”


Beberapa temanya hanya bisa mengeluh melihat pria dengan stock terakhir tapi Yumna nampak bahagia. Lalu mengingat kembali kemesraannya dengan Harry dikamarnya ketika mereka akan menikah.


“Harry, orang yang harusnya ku nikahi adalah pria yang tak masuk dalam golongan ketiga.”


Harry terlihat gugup mutuskan agar mereka tak jadi menikah dengan alasan tidak tahan melihat cara Yumna makan.


“Apakah dia akhirnya berpacaran dengan wanita yang masuk dalam golongan yang sama dengannya? Ketika aku belajar Kenzie mencintai Yumna aku juga belajar bahwa dia masuk dalam golongan pertama. Inilah kompetisi yang takkan bisa kumenangkan.”


Yumna berhenti melangkah sejenak seperti semangat hidupnya kembali hilang dan ingin menyerah.


“Aku memutuskan untuk selalu erlalu berhati - hati dan ragu-ragu. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa akan mencintai sampai aku dicampakkan.” Lalu kembali melangkah dengan keyakinan. 


Yumna pulang kerumah melihat papan triplek yang menghalangi ke kamar Ken, dengan kesal mencoba mendorong karena tak ingin jalanya itu dihalangi untuk masuk kamarnya.


“Apa kamu takut aku akan mencoba untuk ambil keuntungan darimu?” ucap Yumna akhirnya duduk lemas dilantai


“Ada untungnya juga menyukai tetangga sebelahmu. Aku jadi ingin pulang lebih cepat. Aku biasanya tidak mau pulang ke rumah sebelum aku mabuk. Tolonglah pikirkan aku dan pulang lebih cepat. Aku tidak akan memintamu untuk membalas perasaanmu padaku. Aku hanya kesepian sekali.” ucap Yumna sambil menangis.


“Ini bahkan belum malam. Apa yang akan ku lakukan sekarang?” ucap Yumna nampak frustasi, Di kamar Ken terlihat pita kaset untuk merekam suara yang terjadi dikamarnya. 


*********


Ken sedang pergi ke dokter kembali melakukan konsultasi. Dokter bertanya dalam gambar hitam putih yang dilihat, apa Ken pernah melihat wanita yang tadinya akan dinikahinya, Ken mengatakan tak sekalipun terlihat wajah mantan pacarnya.


“Apa Kamu belum pernah melihat orang lain di penglihatanmu?” tanya Dokter.


“Tidak, kecuali tetangga sebelahku.” ucap Ken, Dokter pun beranjak pergi ke arah sofa.


“Mungkin ini terdengar aneh bagimu, Einstein pernah mengatakan ini. Itu hanyalah ilusi bahwa kita membedakan masa lalu, sekarang, dan masa depan. Entah itu ada dalam DNA atau jiwa kita yang dia maksud bahwa catatan hidup kita sebenarnya sudah tertulis. Ini berarti memori hidup yang kita miliki bisa muncul tidak secara tepat waktu.” jelas Dokter.


“Ketika kamu memikirkan tetangga sebelahmu apa gambar pertama yang muncul di pikiranmu? Apa gambar terkuatnya?” tanya Dokter.


Do Kyung sudah berjalan pulang dengan mengingat yang dikatakan pada Dokter.


“Aku merasa sangat sedih padanya sampai itu membuatku gila. Sayap dia patah karena batu yang kulemparkan padanya. Dia seperti burung yang terbang ke lenganku, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin dia cepat sembuh dan terbang jauh.”


Ken berdiri tepat saat melihat Yumna yang berjalan berlawan arah dengan tangan yang di gips. Saat Yumna membalikan badanya, Ken bisa melihat dari matanya ada sebuah kesedihan yang terpendam.


“Entah bagaimana aku ingin dia cepat sembuh dan terbang jauh. Tapi! Aku takut mungkin aku jatuh cinta padanya saat melakukan hal itu.”


Ternyata Ken mendengarkan ucapan Yumna saat menelponnya, “Kenapa kamu tidak pulang? Apa Kamu marah? Kenapa kamu begini? Pulanglah!” Ketika sampai dirumah, Ken bisa berjalan dan turun dari mobilnya tapi Yumna membantunya untuk masuk karena tubuhnya tak bisa berdiri dengan tegak.


Ken mengetik nama di ponselnya, tetangga sebelah. Tapi terlihat ragu untuk menelpnya. Si cantik Yumna duduk dengan sangat elegan di pinggir tangga sambil melihat berkas ditanganya. Yumna nampak terpesona melihat kaki Si cantik Yumna yang benar - benar jenjang. Si cantik Yumna tersadar Yumna ada didekatnya, lalu menyapa Yumna yang baru selesai berkerja. Yumna pun dengan wajah canggung memilih untuk pamit pergi lebih dulu. Si cantik Yumna nampak sedih melihat Yumna yang pergi.


Si cantik Yumna pulang kerumah menyusuri trotoar, wajahnya tersenyum melihat toko barang - barang antik dengan mesin tik dan beberapa barang jaman dulu yang masih terlihat sangat rapih. Tiba - tiba ia menjerit kesakitan dan langsung jatuh di dekat pagar, seorang wanita yang melihatnya panik melihat Yumna dan langsung menelpon seseorang. 


Yumna sedang berkerja diruang studio sendirian, terlihat gambar selebritis, tiba - tiba di telinganya mendengar pecahan kaca yang dilempar sesuatu. Akhirnya, ia keluar ruangan bertanya pada anak buahnya, apakah mereka mendengar ada yang pecah. Si pria berkumis mengatakan tidak mendengar apapun. Ken melihat kesekeliling ruangan.

__ADS_1


Tiba - tiba langkahnya terhenti, seperti merasakan bunyi pecahan kaca di telinganya dan bayangan Yumna kembali datang terlihat penuh kemarahan melempar kaca. Ken di ruangan nya kaget mendengar suara pecahan kaca, di rumah Yumna duduk dilantai sambil berteriak, “Pulanglah lebih cepat! Aku bukannya memintamu untuk membalas perasaanku. Aku cuma kesepian saja.”


Si Cantik Yumna sedang berjalan tiba - tiba kakinya terasa lemah dan sangat sakit, Yumna kembali merasakan bunyi pecahan tapi kali ini dalam pengelihatanya ada Yumna yang menatap marah padanya. Si cantik Yumna nampak masih menjerit kesakitan, seorang wanita yang melihatnya panik sambil menelpon untuk meminta bantuan.


Yumna duduk dengan wajah pucat dirumah sakit, tanganya sudah ditusuk oleh jarum infus. Dokter melihat catatan kesehatan, melihat kalau sebelum Yumna mengalami hiperventilasi, lalu bertanya apa yang terjadi. Yumna nampak sedikit kebingungan.


Flash Back


Si cantik Yumna masih berdiri didepan toko barang - barang kuno, pandanganya tertuju pada sebuah mesin tik ukuran lama. Pikiranya melayang, Sebuah foto dirinya dengan Ken berada diatas meja, terdengar bunyi suara mesin tik. Ken dengan bahagia mengetik dengan mesin tik.


"Bukankah suara ini sangat elegan?” ucap Ken terus mengetik.


“Suara ini mengingatkanku padamu.” ucap Ken dengan wajah tersenyum menengok ke arah Yumna lalu mendekatinya.


“Setiap kali aku memikirkannya kepahitan terdalam yang tersembunyi dalam diriku tiba - tiba keluar begitu saja. Kepahitan yang tak bisa kuceritakan pada siapa pun. Aku ingin cerita semuanya pada dirinya. Menceritakan semuanya alasan aku mencampakkannya. Tapi sepertinya dia tidak tertarik mendengar alasanku.” gumam Yumna.


Yumna sudah menyandarkan kepalanya diatas tempat tidur lalu terlihat gelisah melihat ponselnya karena tak mungkin menelpon Ken.


💜💜💜💜💜


Ibu Yumna nampak marah anaknya mau pergi kencan buta dengan pria seperti itu, dalam pikiranya anaknya itu terlalu tua jadi berkencan seperti tak ada yang ada dalam pikiranya.


“Kita ini bukannya sengsara dan harus  menyerahkan anak kita ke seorang pria. Kamu harusnya merobek mulut orang itu. Bagaimana kamu langsung setuju? Kamu bilang akan mendiskusikannya dengan Yumna tentang hal itu? Dasar bajingan itu. Katakan padanya jangan khawatir! Yumna kita tidak harus menikah. Dia bisa hidup sendiri.” ucap Ibu Yumna geram.


"Dia harus segera menikah.” ucap suaminya, tapi Ibu Yumna tak setuju, tapi Tuan Abraham menegaskan anaknya harus menikah.


“Kenapa? Untuk apa Yumna menikah?” kata Ibu Yuman menjerit kesal.


“Itulah bagaimana rasanya ketika aku melihat kembali pada diriku sendiri. Jika aku tidak memilikimu dalam hidupku maka aku tak akan punya apa - apa di dunia ini.” ucap Tuan Abraham, Ibu Yumna langsung melepaskan sarung tangan untuk mencuci piring lalu keluar dari rumah. Ia menaiki bus terlihat tenang tapi setelah menjauh dari rumah, tangisnya pun tak bisa ditahan. 


Yumna berlari masuk ke dalam bus ketika datang, tanpa disadari Ibunya turun dari pintu belakang. Yumna duduk didepan pintu keluar tapi karena sedang sibuk memasukan ponselnya tak melihat ibunya berjalan diluar. Ibu Yumna sudah sampai di rumah anaknya membereskan pakaian yang bergeletakan di lantai.


“Jika aku bertemu kamu hari ini, maka kamu akan mati. Berantakan sekali rumahmu ini! Jika rumahmu masih seperti ini kalau aku datang lagi, aku akan membakarnya!” ucap Ibu Yumna di telp sambil mengambil barang - barang yang berantakan di lantai.


Ken baru pulang ke rumah, lalu mematikan alat perekamnya dan mendengar bunyi suara yang berisik ditelinganya. Lalu gambaran pecahan kaca terdengar kembali dan wajah kemarahan dari Yumna setelah itu pergi dari tatapanya.


Suara seorang bersenandung semakin kencang, Ken mengetuk pintu kamar Yumna tapi tak ada sahutan, akhirnya Ken masuk kamar melihat Yumna yang sedang berbaring dengan mengunakan masker diatas tempat tidur sambil mendengarkan lagu.


“Kamu sudah nyanyi - nyanyi pagi - pagi begini, Apa Kamu tidak berangkat kerja? Aku ingin istirahat. Bisakah kamu jangan berisik?” tegas Ken, Ibu Yumna terlihat kaget dan tubuhnya langsung kaku hanya bisa menganggukkan kepala.


Ken pun kembali ke kamar dengan menutup pintu, Ibu Yumna masih shock duduk diatas tempat tidurnya. Tiba - tiba Do Kyung kembali masuk dan Ibu Yumna langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


“jangan masuk ke rumahku tanpa ijin selagi aku tidak di rumah.” perintah Ken, Ibu Yumna pun mengangguk - angguk dari balik selimutnya. Ken kembali menutup pintu kembali ke kamarnya.


Ibu Yumna bisa mendengar Ken yang mengeser rak untuk menutupi jalan, lalu membuka maskernya tak percaya kalau sampai anaknya bisa seperti itu.


Beberapa saat kemudian Ibu Yumna sudah ada di kantor pemasaran, si Nona muda mulai mengoceh kalau pemilik dan Ken harus bertengkar soal siapa yang harus pindah.


“Rumah itu memang dulunya satu unit. tapi sang pemilik menyewakan lantai pertama dan lantai kedua rumah itu secara terpisah. Dia juga menyewakan ruang penyimpanan di lantai dua secara terpisah. Tapi dia hanya menghalangi pintunya dengan  triplek. Seharusnya rumah itu diperbaiki. Kudengar mereka mengganjalnya dengan batu bata.” cerita Nona muda itu. Ibu Yumna nampak terdiam.


“Lalu Kenapa? Apa Anakmu mau pindah lagi?” tanya Nona muda itu.


"Tidak. Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin tahu orang macam apa yang tinggal bersamanya. Semoga tetangganya itu baik.” ucap Ibu Yumna.


“Mereka memang baik, Adiknya yang tinggal di lantai pertama seorang direktur perusahaan besar dan orang yang tinggal di lantai dua adalah CEO beberapa perusahaan juga. Pria itu dulu tinggal di rumah itu sejak dia masih kecil. Jadi semua orang di daerah ini tahu kelakuan mereka sangat baik.” cerita Nona muda sangat lancar, Ibu Yumna melonggo mendengarnya.


“Ibu mereka memang sedikit aneh, tapi anak - anaknya sangat ramah. Maksudku mereka berusaha membeli kembali rumah itu, setelah Ibunya menggadaikannya dan mereka tinggal disana, jadi anak - anaknya tumbuh dengan baik.” cerita Nona muda.


Ibu Yumna duduk diam dengan tatapan kosong,  berbicara dengan suaminya kalau mengusir Yumna adalah hal terbaik yang bisa mereka  lakukan. Suaminya nampak binggung menatap istrinya yang bisa berkomentar seperti itu. 


Brian kaget dua Yumna bertemu di tempat yang sama, Ken nampak asik makan mie instan nya. Brian merasa tubuhnya mulai merinding dan cemas seperti kemarin dan tiba - tiba ingin  buang air kecil, tapi akhirnya kembali duduk berbicara dengan temannya.


“Hei, kamu harus pindah ke negara lain. Tidak ada jalan keluar. Kamu tidak bias pindah rumah lagi,  tidak akan berhasil."

__ADS_1


“Aku tidak tahu dan tidak bertanya.” ucap Ken sambil makan instannya.


“Bukankah dia ingin bertemu untuk menjelaskan alasannya?” ucap Brian.


“Kami tidak punya waktu untuk berbicara tentang hal itu. Aku meninggalkannya disana.” jelas Ken.


Brian kesal sendiri karena harusnya Ken bertanya padanya. Ken pikir untuk apa harus bertanya hal seperti itu. Brian menegaskan itu karena penasaran dan sangat yakin temanya itu pasti penasaran juga, menurutnya kecuali kalau kepalanya ditembak, tidak ada alasan baginya, mendadak menghilang - hilang begitu saja di hari pernikahan.


“Lagi pula, apa yang ada di pikiran Yumna sebelah? Dia itu ceroboh. Kenapa dia mendadak pura - pura jadi pacarmu? Mereka berdua memang gila. Apa semua nama Yumna seperti itu? Mungkin ada aura buruk dari nama itu. Jika mereka bersekongkol, aku yakin mereka mendiskusikan tentang segala sesuatu.” ucap Brian menerka - nerka.


“Lalu bagaimana jika Yumna sebelah tahu apa yang telah kamu perbuat? Ah, Kenzie kamulah yang gila. Kenapa dia memperkerjakan Yumna, mantan pacarmu?” ucap Brian heran.


“Aku yakin itu diputuskan oleh jajaran direksi. Bukan kakakku.” ucap Ken.


“Dia harusnya menghentikannya. Apa pun yang terjadi!” tegas Brian.


Melisa masuk ke dalam rumah dengan mabuk, Brian yang melihat kakak temanya itu memang panjang umur, Ken memperingatkan temanya untuk menutup mulutnya. Brian berkomentar Melisa sangat hebat bisa pulang dengan keadaan mabuk, berpikir seperti Melisa  punya GPS tertanam di tubuhnya. Melisa pun ke dapur dan langsung mengambil sebotol air.


“Penampilanmu sempurna untuk acara sirkus.” ucap Brian melihat cara Melisa minum dengan menunggikan botolnya dan dihitungan ketiga Melisa menurunkan botol air minumnya.


“Aku mau bertanya.” ucap Melisa, Brian menyuruh Melisa segera masuk ke kamar dan tidur.


“Apa menurutmu alien akan datang Atau tidak?” ucap Melisa, Ken lewat dibelakang meminta agar temanya tetap diam, Brian pun langsung pergi begitu saja.


Melisa langsung mengejar Brian berteriak kalau ia sedang bertanya, dan kembali bertanya Apa menurutnya alien akan datang atau tidak dengan mengunakan cekikan dileher. Brian akhirnya menjawab kalau mereka akan datang untuk menjemputnya. Melisa kembali bertanya kapan alien akan datang sambil mengangkat rambut yang menutup rambutnya.


“Maaf, Kakak. Aku tidak punya teman alien. Jadi aku akan menanyakannya kalau aku melihat alien.” ucap Brian.


“Jika kamu bertemu dengan mereka, minta mereka untuk menghancurkan bumi ini. Aku ingin menghadapi kematianku!” ucap Melisa menahan agar Brian jangan pergi.


“Tidak bisakah Kakak mati sendiri saja? Jangan ajak aku.” pinta Brian.


“Aku tidak mau sendirian! Ayo kita semua menghadapi kematian ini bersama - sama. Jadi tidak ada satu orang  yang tersisa! Semuanya!” teriak Melisa naik ke atas sofa, Brian hanya bisa melonggo melihat tingkah kakak temanya semakin aneh.


“Brian, aku hanya ingin minum bareng alien.” ucap Melisa, Brian merasa kalau Melisa memang sudah gila.


Melisa duduk diam disofa dengan rambut masih acak - acakan. Pikirannya melayang pada dirinya yang minum wine sendirian di restoran.


“Sejak kamu pergi meninggalkanku, aku selalu minum setiap hari. Duduk sendiri di restoran langganan kita, aku menunggumu!”


Melisa dengan bahasa prancis, mengucapkan selamat malam dan mengungkapkan perasaanya “Aku mencintaimu.”


“Meskipun aku sangat merindukanmu, aku terlalu takut untuk menunjukkan keanehan diriku, aku membiarkan rambut ku terurai dan menyembunyikan wajahku.”


Soo Kyung langsung menutupi wajahnya dengan rambutnya, sambil berkata, “Aku merindukanmu.” 


Dengan mengintip dua pria disampingnya.“Tapi aku tidak merindukanmu.” kembali menyembunyikan wajahnya di balik dinding.


“Dengan pola pikirku yang gila, aku duduk di kursi ini setiap hari. Aku ingin tahu keberadaanmu dan apa yang kamu lakukan.  Apa kamu juga memikirkanku?”


Melisa mencoba minum kembali tapi malah membuatnya tersedak dan memuntahkan minumnya. 


Air mata Melisa terkena diujung matanya, pikirnya seperti kembali melayang, terlihat sebuah kegaduhan dengan orang yang berlari kesana kemari dan asap - asap berhamburan seperti ada sebuah terjadi gempa. Di sudut tempat lain, seperti sebuah gudang Melisa melompat - lompat kegirangan diatas tempat tidur.


“Alien telah menyerang bumi. Ini kiamat.” ucap Melisa berbisik pada kamera dan terlihat seorang pria duduk diatas tempat tidur.


“Aku tidak lagi harus kesakitan karena ada kamu. Yang aku butuhkan  hanyalah mati. Aku akan mati dan Kamu akan mati.” ucap Melisa sambil mengajak pria itu untuk berdiri.


“Sebelum kita mati, mari kita lakukan ini terakhir kali. Sekali saja.” ucap Melisa melihat membuka baju si pria dan langsung menidurkan, lalu ia pun buru - buru membuka jubah tidurnya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh pria.


Melisa membanting tubuhnya ke atas tempat tidur, lalu menangis tersedu-sedu. “Alien harus datang. Bumi harus dihancurkan.” 


Dibelakang foto nampak Melisa masih muda terlihat sangat cantik. 

__ADS_1


__ADS_2