DI PERSIMPANGAN DILEMA

DI PERSIMPANGAN DILEMA
Bagian 43.


__ADS_3

Dua bibi penjaga melihat Melisa turun dari bus, tapi berjalan begitu saja. Si bibi satunya berbisik tak percaya melihat Melisa yang tak pulang dalam keadaan mabuk kali ini. Si bibi lain juga melihat Melisa mengunakan sepatu flat. Melisa berhenti berjalan melihat si bibi, dua bibi langsung memalingkan wajah berpura - pura tak melihatnya.


“Permisi. Apa kalian bisa mengantarku pulang?” ucap Melisa menepuk pundaknya, dua bibi itu langsung memalingkan wajahnya.


“Aku sedang hamil. Tolong antar aku pulang.” akui Melisa sambil menangis. Dua bibi itu langsung melotot kaget mendengarnya. 


Keduanya pun bertemu dicafe, si bibi bertanya apakah dengan lelaki itu. Melisa menceritakan pria itu tidak tahu kalau Ayah dari bayi yang dikandungnya dan berpikir itu adalah bayi orang lain. Si bibi terlihat sedih, lalu bertanya apakah Melisa berencana akan melahirkan bayi ini. Melisa hanya menghela nafas.


“Bukankah kamu bilang dia punya banyak masalah? Katanya dia suka ganti - ganti wanita.” kata si bibi tak bisa berkata - kata lagi.


“Bukan cuma itu masalahnya. Dia pemerkosa, pembunuh berantai. Dia pengacara kelas rendah yang membela siapa pun yang membayarnya dengan banyak uang. Dia tidak punya hati nurani sama sekali. Bajingan itu tanpa malu - malunya merasa tidak bersalah!” teriak Melisa sambil berdiri membuat semua pelanggan melihatnya, dua bibi pun kaget lalu meminta Melisa duduk kembali dan tenang.


Melisa teringat dengan kandungan, lalu memegang perutnya memastikan kalau bayinya akan baik - baik saja. Ia menegaskan dengan gaya seksinya, Secara obyektif pria itu memang sampah tapi secara subyektif, dirinya menyukai bapak dari bayinya karena sudah tidur dengannya.


“Kalau begitu kamu harus tanyakan padanya. Siapa yang tahu? Mungkin dia mau menikah.” kata si  bibi.


“Takkan pernah dan takkan mungkin dia mau, dia bisa pingsan saat dia tahu kalau aku hamil anaknya, terlebih lagi kalau dia tahu, kami sudah tidur bareng. Aku sudah mengenalnya sejak dia 14 tahun. Dia dulu berjalan sambil telanjang di depanku. Kalau dia tahu kami tidur bersama....” ucap Melisa terhenti karena Brian menelpnya. 


Brian menelp sedang berada di bar dengan dua wanita disamping, sambil berbicara pada Melisa kalau bertanya pada enam pria.


“Jika seorang wanita jadi hamil setelah bercinta satu malam dan minta pertanggungjawaban si pria, maka si pria takkan pernah menikahinya. Dia akan menyuruhnya jangan melahirkan bayi itu.” ucap Brian, Melisa bertanya bagaimana jika itu Brian.


“Aku akan segera pergi keluar negeri. Siapa peduli dia melahirkan anak itu atau tidak? Aku bakal kabur. Apa pun yang terjadi aku akan pergi ke pedesaan di Inggris mengubah namaku jadi William Sutherland, dan tinggal di sana.” ucap Brian dengan berbisik. Melisa tertunduk mendengarnya, lalu seperti meminta tolong sesuatu.


Brian memanggil semua temanya memberitahu, teman kakaknya mau melahirkan bayinya, sudah berusia 44 tahun, karena Ini bisa jadi kehamilan terakhir dalam hidupnya. Makanya Melisa mau melahirkan bayinya. Yang menjadi masalah, haruskah menanggung hidup bayi sendiri setelah memberitahukan pada Ayah si bayi atau haruskah membesarkan bayi itu diam - diam.


“Jadi beginilah pertanyaannya, apakah lebih baik kamu menjalani hidup tanpa mengetahui keberadaan anak mu atau lebih baik kamu menjalani hidup kamu dengan kamu tahu Ayah dari anak itu?  Angkat tanganmu jika kamu lebih suka tidak mau tahu.” ucap Brian.


Hasilnya hanya dua orang saja lalu yang ingin tahu ada empat orang. Brian pun memberitahu hasilnya 2 banding 4, kalau teman - temanya lebih baik mengetahuinya dan ia pun seperti itu menurutnya Melisa Ayah dari bayi itu harus tahu, dengan menjalani hidup tanpa tahu ternyata punya anak sepertinya agak ...., Brian terlihat kebinggungan menjelaskanya.


“Seolah - olah ada bom di rumah... tapi aku sendiri orang yang tidak tahu kalau ada bom di rumahku.” kata Brian.


“Kakak, pastikan kamu bilang begitu padanya! Oke?” teriak teman Brian.


“Alangkah lebih baik kamu bilang padanya yang sebenarnya. Bila kamu mau membesarkan bayi itu sendirian, apa yang akan dia katakan lagi? Cepatlah katakan padanya. Hubungi dia dan katakan padanya sekarang.” kata Brian penuh semangat.


Melisa mengerti karena Brian tak perlu mengkhawatirkanya, karena akan memberitahunya lalu menutup telpnya. Si Bibi pun dengan penuh semangat agar Melisa melakukan segera. Melisa tersenyum lalu mengajak si  bibi untuk makan bersama. 


❤️❤️❤️❤️❤️


Ken berlari pulang kerumah dan terdiam melihat Yumna sudah ad di depan rumahnya, Yumna melirik sinis pada kedatangan Ken. Si pria mengomel kepada keduanya karena membuat kesepakatan tentang rumahnya Ia juga memarahi Ken yang seolah - olah menjadi pemilik rumah, dengan mengusirnya keluar penghuni wanita dengan membayar uang jaminannya.


“Kamu sangat ingin dia keluar dari sini. Jadi kmau akhirnya menendang keluar? Dasar kamu Kejamnya!!! Aku kebetulan datang ke sini dan melihat rumahnya kosong. Jika aku tidak kesini, maka kamu pasti sudah membuatnya seolah dia masih tinggal di sini, ya kan? Dasar liciknya dirimu! Bukankah sudah kuberitahu aku tidak akan memberikan rumah itu padamu?” ucap si pria pemilik terus nyerocos mengomel


“Paman, dengar baik - baik. Menurut kontrak, aku akan mengembalikan uang jaminanmu dalam satu tahun. Sampai saat itu, kamu harus bayar sewanya. Jika tidak, maka aku akan mulai mengambilnya dari uang jaminanmu.” kata Si pemilik rumah.


“Dia akan memberikan uang sewanya pada tuan tepat waktu.” kata Yumna tertuju pada Ken.

__ADS_1


"Memangnya aku menyewa  tempat ini pada orang ini? Aku menyewakannya padamu.” kata si pria.


“Aku dapat uang jaminannya dari dia, jadi tak perlu aku yang bayar sewanya.” tegas Yumna.


Si pria heran Yumna bisa datang uang jaminan dari Ken karena ia adalah pemilik rumah ini, menurutnya jika seperti ini cara Yumna menanganinya untuk apa tanda tangan kontrak, ditambah lagi  kesepakatan tidak berlaku jadi mereka  akan bertemu satu tahun lagi. Ia juga memperingatakan Ken tak bisa menggunakan tempat ini.


“Aku tak mau kembali ke tempat ini  setelah satu tahun. Aku ingin mengakhiri semuanya sekarang.” tegas Yumma, Ken terdiam dan kembali melihat dalam pengelihatanya.


Ia berbicara “Aku akan memberikanmu  berapa pun jumlah uang yang kau minta. Apa gunanya berusaha  melarang dia pindah?” terkesan tak peduli lagi dengan Yumna. Ken terdiam mengingat semua kata - katanya.


"Bisakah kamu pindah lagi kesini? Aku senang kalau kamu pindah kembali kerumah ini.” ucap Ken mengungkapkan seluruh isi hatinya. Yumna menatap tak percaya.


Yumna langsung keluar dari rumah, Ken mengejarnya ingin mengantarnya, Yumna menolaknya dan berjalan begitu saja, di tasnya terdengar bunyi getaran ponsel. Ken kembali memejamkan matanya, dalam pengelihatanya Yumna yang mengangkat telp dari Harry dan mengatakan akan segera datang kesana. Ken memilih untuk membalikan badan dan kembali ke rumah, sementara Yumna terus berjalan membiarkan ponselnya tanpa diangkatnya. 


Yumna dan Harry bertemu disebuah restoran dengan makan steak. Harry melihat wajah Yumna, bertanya ada apa dengan wajahnya. Yumna mengaku sedang terserang demam. Harry bertanya apakah sudah minum obat. Yumna mengatakan sudah minum obat.


“Maaf sudah salah paham pada kalian berdua. Kupikir kalian berkencan diam - diam, dia melakukan itu untuk membuatmu jauh dariku. Aku minta maaf.” kata Harry, Yumna mencoba mengalihkan dengan mengajak mereka untuk makan saja karena makananya sangat enak.


“Aku berencana ingin balas dendam padanya. Tapi itu buang - buang waktu saja. Aku tidak percaya ternyata ini kesalahpahaman.” ucap Harry.


“Bisakah kita tidak usah membicarakan tentang dia? Aku tidak ingin membahasnya.” ucap Yumna.


Harry terdiam seperti tak menyangka Yumna bisa mengataka itu, Yumna meminta maaf karena mungkin efek dari tidak enak badan jadi memintanya untuk mulai makan saja. Harry hanya tertunduk, Yumna mengelap hidungnya memberitahu karena kedinginan jadi hidungnya meler.


“Kita tak perlu bertemu lagi ... Lebih baik kita putus.” kata Yumna dengan wajah serius.


❤️❤️❤️❤️❤️


Yumna pulang kerumah, Ibunya langsung menghampiri bertanya apakah sudah makan, Yumna mengatakan sudah. Ibunya kembali bertanya apakah sudah minum obat, Yumna mengatakan sudah. Ibunya heran melihat wajah Yumna semakin pucat, berpikir demamnya belum turun. Yumna memegang kepalanya, merasa Sudah baikan.


Ibunya mendengar suaranya lebih serak dari kemarin. Yumna pikir kalau suaranya itu lebih seksi dengan suara seperti itu, memberikan kecupan jauh bibirnya lalu masuk ke kamarnya. Ibunya hanya bisa mengumpat anaknya itu memang gila. Yumna duduk dikamarnya, lalu menatap kearah kiri lalu tersenyum dan tertunduk. 


Pagi hari


Yumna akan pergi ke kantor membuka tempat sepatu dan melihat sepatu milik Ken tersimpan, teringat kembali saat Ken menaruh di depan rumah sambil mengomel Yumna sedang mengumbar - umbar kalau hidup sendiri, padahal kurir tadi memiliki uang kembalian.


Akhirnya Yumna memilih sepatu yang warna ungu, Ibunya melihat mengetahui kalau sepatu itu kekecilan dan membuatnya kakinya sakit. Yumna pikir sudah sedikit melar jadi bisa dipakai lalu pamit pergi lalu pamit pergi. Ibu Yumna terdiam dengan helaan nafas melihat tingkah anaknya. Yumna menyandarkan kepalanya di jendela bus, terlihat tak bergairah. 


Ken baru saja akan masuk, pegawainya memberitahu kalau ada tamu untuknya. Ken binggung siapa yang akan datang. Pegawainya pun menunjuk ke tempat si tamu yang sudah menunggu atasanya. Ken mendekat seperti tak kaget melihat Harry yang datang ke kantornya.


“Wow, kantormu keren, bukannya harusnya kamu yang  menemuiku duluan?” ucap Harry menyindir.


Lalu keduanya bertemu di ruangan, Ken duduk di sofa. Harry duduk didepan papan nama yang bertuliskan “CEO Kenzie Imanuel” lalu ia mengungkapkan dulu juga pernah jadi CEO sekali tapi  jabatan itu melayang karena seseorang, dengan nada menyindir.


“Berhati - hatilah kamu. Kamu bisa jadi kehilangan pekerjaanmu secepat mungkin. Jika seseorang sudah mengumpulkan niat.” kata Harry memperingati.


“Aku takkan menghindarinya, Lakukan saja sesukamu.” balas Ken tak peduli lagi.

__ADS_1


“Kamu mengatakan ini saat kamu menabrak mobilku kan? Itu hanyalah kesalahan kalau kamu menghancurkan perusahaanku.” kata Harry.


Flash back


“Itu adalah kesalahanku karena membuat perusahaanmu bangkrut. Tapi kalau yang ini, aku sengaja melakukannya.” ucap Ken saat menabrak mobil Harry.


Harry tahu Ken itu sengaja menabrak mobilnya karena sudah jatuh cinta pada Yumna, Ken hanya diam saja, Harry tahu Ken marah karena wanita yang disukai terluka karena perkataannya. Menurutnya seharusnya Ken  berhenti menemui Yumna setelah mengetahuinya, tapi malah mendekatinya bahkan sampai sekarang masih menemuinya.


“Sekarang semua orang tahu ceritanya. Apa yang akan kamu lakukan? Jadi tidak ada cara lain. Kita semua harus kembali ke tempat awal kita masing - masing. Itulah yang harus terjadi. Jika semua orang tahu kau yang mencuri pacarku ... maka Aku takkan mampu bertahan hidup di negeri ini lagi. Bergantung pada apa yang kamu lakukan. Aku bisa menghancurkanmu  atau membiarkanmu.” kata Harry berdiri menghadap ke arah Ken.


“Jadi, biarlah kita kembali ke titik awal kita. Kamu juga punya wanita yang kamu sukai, semua ini terjadi karena dia kan. Aku anggap, kamu akan melakukan  apa yang ku katakan.” kata Harry sambil memegang pundak Ken seperti tanda memperingatinya, lalu pamit pergi.


"Ini membutuhkan waktu yang lama, tapi entah bagaimana kita semua akhirnya kembali bersama dengan orang yang semestinya.” ucap Harry sama persis dengan yang dilihat oleh Ken.


Ken hanya menatapnya seperti tak bisa membedaka kenyataan dan pengelihatnya. Harry berjalan keluar ruangan, melihat poster film "Contender" tak percaya ternyata Ken mengerjakan film itu juga dan ternyata banyak berkontribusi di film terkenal.


Dua pegawai Ken, mengeluh karena lelah berkerja lalu melihat Harry yang berjalan didepanya menyapa mengucapakan selamat jalan. Pria berkumis bertanya siapa pria itu, si pria tambun juga tak tahu. Si pria berkumis melihat pria yang menemui atasanya itu sangat berkharisma. Ken masih tertunduk kebinggungan.


❤️❤️❤️❤️❤️


Arini dan Kenzo kembali bertemu di cafe, Kenzo terlihat gugup dengan mengigit kukunya. Arini menopang wajahnya dengan dua tanganya, lalu berkomentar Kenzo itu tak bisa, Kenzo mengaku memang tak bisa padahal sudah berusaha. Arini pikir sepertinya sulit sendirian memperbaikinya.


“Kalau kamu memberiku satu hari lagi.” kata Kenzo.


“Kita perbaiki saja bersamaku hari ini.” ucap Arini yang membuat Kenzo melonggo, Arini pun menyuruh Kenzo untuk segera berdiri. 


Beberapa botol bir dan soju sudah habis diatas meja dengan beberapa kotak makanan. Kenzo konsertrasi menuliskan naskahnya kembali, tapi sepertinya tak bisa menemukan idenya, tiba - tiba matanya melihat paha Arini yang mulut duduk disofa. Arini mengeluh kalau ia idenya buntu di bagian ini.


“Aku menonton ratusan film laga, biar aku bisa memperbaiki naskah ini. Tetap saja tidak berhasil.” kata Kenzo,


“Ahh, aku tidak bisa melakukan ini lagi. Aku sangat lelah dan mau tidur dulu.” ucap Arini membaringkan tubuhnya disofa.


“Tentu, kalau begitu aku pergi dulu.” ucap Kenzo gugup.


“Tidak, lanjutkan saja. Kamu harus menyelesaikannya hari ini. Aku akan tidur sebentar dan bangun lagi.” iata Arini.


Kenzo mengerti, tanganya diatas keyboard tapi matanya menatap ke paha Arini yang gerak - gerak sambil tertidur. Tiba - tiba Arini terbangun dari tidurnya, merasakan panas sekali jadi ingin ganti baju berjalan ke kamarnya.


“Ya ampun. kenapa dia  ganti baju sekarang? Apa Dia sedang menggodaku?!! Haruskah aku pergi? Apa yang harus kulakukan sekarang?” ucap Kenzo panik.


Langkah Arini terlihat keluar dari kamar, melemaskan otot lenganya dengan mengangkat tanganya. Kenzo buru - buru berkonsertrasi mengetik, Arini menawarkan minuman. Kenzo menolaknya tanpa mau melihat kearah Arini. Tapi ketika Arini berjalan ke dapur tatapanya tertuju pada Arini yang mengunakan pakain tidurnya.


Arini melangkah mendekat, Kenzo panik kebinggungan apa yang harus dilakukanya. Tanganya terus mengetik tanpa berpikir, Arini semakin mendekat, tulisan di layar “Ada masalah” dengan berderet banyak. Arini memberikan segelas minuman agar Kenzo beristirahat. Kenzo panik langsung berpura - pura mengangkat telpnya dan berjalan pergi.


Tiba - tiba kakinya tersandung bangku, Arini panik mendekatinya. Kenzo langsung berdiri dan berusaha kabur. Arini melonggo kaget melihatnya, Kenzo jatuh berguling dari tangga. Arini berlari menanyakan keadaanya. Kenzo dengan kepala dan hidungnya berdarah mengatakan kalau ia baik - baik saja, lalu merayap keluar rumah.


Arini menduga kalau Kenzo itu berpikir dirinya itu mau menggodanya, lalu ia mengeluarkan sepatu, jaket, tas dan skenario lalu melemparnya, sambil mengumpat Kenzo! itu sudah gila. Kenzo terlihat masih bergetar mengambil skenario yang berjudul "Pembuka Botol yang Bergairah" lalu menjerit melihat darahnya. 

__ADS_1


__ADS_2