
Yumna sedang bersin - bersin dikamarnya, Tuan Abraham masuk kamarnya memberitahu kalau dia ada disini, Yumna binggung siapa yang dimaksud Ayahnya.
Ken tertunduk, Ibu Yumna meminta maaf menurutnya tak ada gunanya mengutuk hidup orang, lalu berteriak ke langit kalau ia ingin membatalkan perkataannya, menurutnya cukup memukulnya sekali saja. Yumna datang meminta Ibunya untuk masuk ke rumah.
“Mulai sekarang, kalau bertemu orang turunkan pandangan matamu. Mata besarmu yang menyedihkan itu padahal aku tadinya ingin memaki-maki dirimu.” ucap Ibu Yumna sinis, meminta Ibunya masuk saja.
“Ayo masuk kenapa kamu terus - terusan menyalahkan matanya?” ucap Tuan Abraham lalu menarik tangan Istrinya untuk segera masuk.
Ken menatap Yumna, lalu mendekat ingin memegang tanganya, tapi Yumna berjalan mundur. Yumna bertanya tanpa menatapnya, alasan Ken datang kerumahnya. Ken mengatakan merindukanya.
“Maaf karena sudah datang terlambat.” kata Ken.
“Astaga kamu membuatku bertanya - tanya pria macam apa kamu ini. Kamu bahkan tidak bergeming ketika aku memohon padamu waktu itu. Tapi karena kamu sudah merasa agak baikan, lalu kamu datang menemuiku lagi.” ucap Yumna mengejek, Ken kembali mengucapkan permintaan maafnya.
“Kita ini memang tidak jodoh. Timing kita sangat keluar garis. Semuanya sudah berakhir sekarang, jadi jangan datang ke sini lagi aku sudah terima uang jaminannya dan aku tak mau berkata apa pun pada tuan pemilik rumah itu. Jadi kamu bayar saja sewanya tepat waktu. Jangan sampai dia meneleponku.” tegas Yumna berjalan pergi.
“Aku yang salah. Aku benar - benar salah. Aku takkan pernah lagi bertindak seperti pecundang di depanmu. Aku takkan pernah lagi begitu. Apa pun yang terjadi, maka aku takkan pernah melepaskanmu.” tegas Ken menyakinkan. Yumna pun kembali membalikan badanya.
“Aku juga takkan pernah bimbang dalam keputusanku ini aku sudah memutuskan merelakanmu dan sudah melepaskanmu pergi.” balas Yumna.
Ken tahu Yumna itu marah padanya sambil mendekat ingin memegang tanganya, Yumna menghempaskanya, menurutnya dalam pikiran Ken sekarang dirinya sedang jual mahal. Ia menjelaskan kalau Ketika menyukai seseorang, maka tidak main - main atau mungkin Ken mengira dirinya gampangan sekali sampai akan tertipu lagi setiap kali mengejarnya.
“Kamu tahu bukan itu maksudku. Kamu tahu aku juga sudah enggan membuatmu pergi padahal aku menyukaimu.” ucap Ken membela diri.
"Tidak perlu lagi kamu bersikap begitu. Aku takkan pernah kembali ke pelukankanmu, jika kita tak sengaja bertemu di jalan maka kita tidak usah saling menyapa. Dari pada berpura - pura bersikap biasa saja dan pura - pura bahagia, karena aku tidak pandai hal begituan.” kata Yumna memegang hidungnya.
Ia memberitahu kalau hidung nya berair itu bukan karena air mata, tapi karena sedang terkena flu. Ken hanya menatapnya, Yumna menegaskan dirinya tak sedih tapi memang sedang demam jadi meminta Ken untuk tak salah paham. Ken ingin menghentikan Yumna, tapi Yumna kembali berhenti dan menengok pada Ken.
“Aku berterima kasih, Karena kamu membiarkanku dengan mencampakkanmu untuk mengakhiri ini semua.” ucap Yumna lalu meninggalkan Ken. Sementara Ken hanya bisa menatap Yumna yang pergi kembali ke rumah.
...Malam hari...
Ken berdiri menatap rumah Yumna dari depan gerbang. Yumna tiba - tiba keluar rumahnya dengan membawa tas yang berisi barang - barang Ken yang pernah diberikanya.
“Aku tidak membutuhkan lampu ini lagi.” ucap Ken lalu menaruhnya di aspal karena Ken tak mau menerimanya.
Ia lalu masuk ke dalam rumah, Ken hanya diam melirik isi dari tasnya itu adalah musik box dan juga lampu yang diberikanya.
************
Ken kembali melihat lagi Ibunya yang datang keruanganya mengajaknya untuk pergi dan memohon ampun pada ketua Jang, karena tahu pasti calon suaminya itu akan melakukan apa pun, jadi lebih baik datang ke rumahnya untuk memohon ampun.
“Ken biarlah kita memohon padanya.” ucap Ibunya memohon, Ken hanya bisa memejamkan matanya.
__ADS_1
“Ini semua akan terjadi.”
Ken kembali melihat Harry yang berbicara padanya,
“Ini membutuhkan waktu yang lama, tapi pada akhirnya kita kembali pada orang yang tepat.” ucap Harry merasa menang dari Ken karena Yumna kembali padanya.
“Sama dengan semua yang telah kulihat.”
Ken sudah ada di dokter, membahas tentang seperti yang dikatakan dokternya semua yang kulihat adalah kenangannya sebelum mati, yaitu sebuah moment penyesalan.
“Penglihatan yang tak dapat diubah dan tak ada gunanya dilihat. Aku ingin tahu kenapa aku melihat itu semua.” ucap Ken, Dokter berbicara sambil membaca bukunya, "Kita semua melihat kembali hidup kita yang sudah berakhir."
“Tiap kali aku merasa sudah membuang tenagaku sia - sia, aku mengatakan kutipan ini pada diriku. "Kita semua melihat kembali hidup kita yang sudah berakhir." Bagaimana seandainya hidup kita akan berakhir berdasarkan skenario yang sudah selesai ditulis dan masa kini hanyalah kenangan dari jiwa kita?” ucap Dokter berdiri dari tempat duduknya.
“Kamu akan merasa sia - sia kan? Dan hidup hanya sesuka hatimu kan? Tapi ini justru sebaliknya. Jika kamu sungguh menerima ini semua, maka kamu merasa nyaman Kamu perlahan - lahan mulai melihat ke dalam hatimu. Dalam situasi ini apa yang paling diinginkan oleh hatimu?” jelas Dokter.
“Hidup adalah sebuah skenario yang menceritakan isi hatimu. Jangan terlalu berusaha mengubah situasinya. Dari waktu ke waktu, perlahan - lahan dengan tenang, lebih baik bersantailah dan lihatlah apa yang kamu ingin inginkan di dalam hatimu.” kata Dokter kemudian duduk kembali, Ken hanya diam saja mendengarnya.
Kenzie berjalan di trotoar
“Aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku dengan mudah. Agar tidak terluka. Aku menyembunyikan perasaanku. Tak seperti kebanyakan orang lain yang mengungkapkanya, tapi aku sangat menyembunyikannya. Patokanku selalu berdasarkan reaksi orang lain.” lalu ia berhenti melangkah.
...Flashback...
“Saat ini Aku tidak takut mati sama sekali. Aku tidak cukup mencintai orang yang seharusnya bisa kucintai. Aku seharusnya bisa lebih mencintainya seperti yang kuinginkan, tapi tidak kulakukan. Pada Kenyataannya bahwa ada wanita yang menderita karena keraguanku itulah yang paling membuatku tidak nyaman.” ucap Ken pada dokter.
❤️❤️❤️❤️
Yumna masuk ke dalam lobby kantor dengan sebuket bunga menyapa semua orang dengan wajah sumringah, semua teman satu timnya melongo melihat Yumna yang datang ke kantor. Lalu Yumna masuk lift lebih dulu sambil menyapa semua yang sudah lama tak bertemu, semua timnya masih diam melongo melihat Yumna kembali berkerja.
Akhirnya Yumna bertanya apakah mereka tak akan naik, semua pun tersadar lalu masuk ke dalam lift. Semua mencoba saling mencolek agar mencaritahu tentang Yumna kembali masuk kerja setelah kejadian yang memalukan.
“Aku ingin ambil cuti lagi, tapi aku sudah banyak absen tahun ini. Wajahku sangat berbeda, kan? Beratku turun dua kilogram dan pinggangku juga jadi lebih ramping. Aku harusnya membuat masalah lagi biar beratku turun dua kilogram lagi!” ucap Yumna bahagia.
Semua mengangguk mengerti, tapi beberapa temanya masih khawatir melihat Yumna yang tersenyum tapi hatinya sakit. Yumna menyakinkan kalau dirinya itu baik - baik saja jadi mereka bicara dengan santai, Arya pun memastikanya, lalu Yumna menegaskan dirinya baik - baik saja.
Pria berdiri disampinganya bertanya bunga yang dipegang Yumna, Yumna mengatakan sengaja membelinya, agar tak terlihat menyedihakan dan bisa membuatnya lebih gembira. Semua terlihat kasihan, Yumna kembali menegaskan kalau ia baik - baik saja dan menyuruh tertawa saja sepuasnya. Semua tertawa walaupun terdengar terpaksa untuk menghibur Yumna.
Yumna menemui Melisa diruanganya, Melisa mengaku tidak tahu, ternyata adiknya yang menghancurkan pernikahan Yumna, lalu meminta maaf. Yumna menyadari Semua orang bilang mengatakan maaf padanya.
“Ini pertama kalinya aku mendengar ungkapan itu sangat sering sekali. Tapi aku tidak merasa senang, rasanya seperti aku seorang pecundang.” ucap Yumna.
“Maaf. Maafkan aku.” ucap Melisa, Yumna merasa benar - benar tak menyukainya.
__ADS_1
“Sudahlah, lupakan. Aku tidak merasa bersalah dan tak ingin minta maaf Ken sudah banyak menderita.” kata Melisa berdiri dari tempat duduknya.
“Suruh dia jangan menderita lagi, semuanya sudah berakhir sekarang. Yah, aku seharusnya tak perlu menyuruhnya begitu, jadi tidak usah dipikirkan. Aku baik - baik saja. Mulai sekarang, aku akan hidup sepertimu. Menurut prinsipmu "Aku tidak membutuhkan seorang pria. Siapa yang peduli dengan cinta?" Aku akan hidup seperti itu. Seperti orang keren, glamor, dan mandiri.” kata Yumna bangga.
Tapi ia melihat ada yang terjadi saat mengambil waktu cuti, karena melihat pertama kalinya Melisa tak pakai sepatu heels. Lisa melongo lalu beralasan kalau kakinya bengkak sambil melemaskan otot kakinya dengan mengoyangkanya. Yumna melihat Lisa yang memakai tahi lalat dimulutnya.
Lisa binggung memegang wajahnya, Yumna pun menunjuk tahi lalat dimulut atasannya, tapi ternyata langsung lepas dan bekas makanan. Ia heran karena Lisa tak pernah makan yang manis. Lisa beralasan tingkat gula darahnya agak rendah.
Si cantik Yumna dan Yumna bertemu dengan berdiri menatap jendela. Si cantik Yumna meminta maaf, Yumna pikir tak perlu, menurutnya sekarang semuanya sudah terungkap, dirinya sekarang merasa lega, seperti sedang telanjang pergi kelililing dunia, jadi Tak ada yang perlu disembunyikan atau dikhawatirkan.
“Aku hanyalah wanita yang seperti ini. Aku ingin mengundurkan diri tapi kalau aku berhenti sekarang, nanti aku merasa takkan pernah bisa kembali. Kamu si cantik Yumna dan aku si biasa Yumna. Aku akan tetap merasa seperti itu selamanya.” kata Yumna yang membuat si cantik Yumna menatapnya.
“Waktu aku dibandingkan denganmu saat kita SMA, kupikir aku punya persepsi bahwa akulah seorang pecundang. Begitulah perasaanku sekarang ini. Entah itu saat di tempat kerja atau dimana pun. Berada di sampingmu melihatmu sekarang ini aku ingin mengatasi rasa gundahku.” Akui Yumna.
"Kamu masih sama. Kamu selalu bisa mengatasi hal dengan mudah dan kembali menjalani hidupmu.” kometar si cantik Yumna.
Yumna merasa tak yakin, si cantik Yumna ingat temanya itu waktu SMA, bisa menangis seperti bayi tapi setelah itu akan tersenyum seolah tak ada yang terjad, bahkan bisa membuatnya merasa canggung karena sudah khawatir pada Yumna, lalu menawarkan diri kembali untuk minum denganya. Yumna pikir Lain kali saja mereka bisa minum bersama. Si cantik Yumna menagih kapan mereka bisa minum bersama, Yumna mengatakan suatu hari nanti lalu pamit pergi.
“Ken dan aku sudah berakhir. Kamu bisa temui dia sekarang. Semoga berhasil.” kata Yumna sebelum meninggalkan temanya. Si cantik Yumna melotot kaget lalu melihat temanya yang berjalan meninggalkanya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Yumna memotong sayuran, mulai kubis merah, timun, tomat ceri. Lalu mencampurnya pada mangkuk dan membuang bekas sampahnya pada tempat cuci piring seperti alat dirumahnya bisa membuat sesuatu yang berguna. Setelah semua selesai, Yumna memakan saladnya sendirian.
“Kakak. Mereka tidak putus karena saling menbenci atau karena mereka tidak saling menyukai. Mereka putus meskipun mereka masih saling mencintai. Itulah yang membuatku sedih. Aku bahkan bukan lagi kekasih yang menyakitkan bagi Ken. Jika kita tidak bisa jatuh cinta lagi, aku ingin setidaknya tetap dikenang sebagai kenangan cinta yang paling menyakitkan bagi dia.” gumam Yumna dengan mata berkaca - kaca.
❤️❤️❤️❤️❤️
Kenzie berbaring di pakuan pacarnya, Nana dengan telaten membersihkan kuping pacarnya, setelah selesai. Kenzo merengek ingin Nana melakukan lagi. Beberapa saat kemudian, Nana sibuk didapur memasak nasi goreng kimchi. Kenzo pun tertidur lelap, tapi dibangunkan oleh telpnya yang berdering.
Dengan mata tertutup mengangat telpnya, lalu matanya langsung terbuka dan duduk, memberitahu kalau sedang dirumah. Nana melihat dari dapur, Kenzo tiba - tiba berdiri dan mengatakan akan segera kesana. Nana bertanya siapa yang menelpnya. Kenzo memberitahu Arini, Nana melotot panik berpikir ada yang salah dengan rekamannya.
“Tidak, tidak. Dia ingin melihat skenarioku. Ini aneh, kalau dia setuju, skenarioku bisa dibuat jadi film!” ucap Kenzo gemetaran lalu berteriak tak percaya dan langsung pergi. Nana berteriak memanggilnya karena pacaranya tak makan nasi goreng buatanya.
Arini bertemu di cafe dengan baju yang belahan rendah, Kenzo melihat kulit Arini yang mulut sambil meminum lemon teanya. Arini mulai berbicara kalau sudah membacanya. Kenzo pun tersadar dari lamunanya dan mencoba tertunduk.
“Karakternya bagus. Kita lakukan sedikit penyesuaian pada skenarionya, lalu kita tawarkan pada para pemainnya. Setelah kita dapat aktor yang bagus, sponsor secara alami akan berinvestasi pada proyek ini. Pertama, aku harus memberikan ini untuk Bagas.” ucap Arini. Kenzo melonggo kaget.
“Tidak. Mungkin aktor tampan akan lebih cocok dengan karakter ini. Pria tampan, yang memainkan peran pecundang, memang itulah actor yang harus memainkan. Ah, Aku harus menunjukkan ini ke Bahas dulu.” kata Arini bersemangat, Kenzo makin melonggo dan senyum - senyum sendiri.
Arini melihat kembali lembaran skenario, dengan sedikit menunduk menurutnya ada bagian adegan yang kurang sesuai. Kenzo melihat belahan dada Arini yang terlihat, Arini pikir ada yang hilang dalam adegan laga ini, menurutnya adegan ini harus bagus supaya aktor menyukai naskahnya. Kenzo dengan gugup setuju, merasakan sepertinya ada bagian yang sedikit kurang. Arini menopang dagunya dengan gaya menggoda, kalau memang tidak sesuai.
Kenzo mengerti dan akan berusaha mengoreksinya, jadi meminta waktu satu hari, lalu mengubah dua hari sampai tiga hari. Arini memperlihatkan wajah imutnya, Kenzo seperti mengerti akan memperbaikinya selama dua hari.
__ADS_1