
Teman Harry melihat Yumna duduk sendirian dan menghampirinya, Yumna terlihat gugup menyapa sambil menanyakan keadaanya. Teman Harry mengatakan baik-baik saja lalu balik bertanya, Mengatakan mengatakan kalau ia seperti biasanya baik-baik saja.
“Senang melihatmu, Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kamu mau pergi kemana?” tanya Yumna, teman Harry mengatakan kalau ia sudah ada janji, Yumna terlihat canggung dengan menanyakan teman Harry, apakah ia sehat-sehat saja. Teman Harry hanya mengangguk.
“Apa Harry juga sehat ?” tanya Yumna, Harry mengangguk kalau Harry sehat.
Yuman pikir senang mendengarnya dengan mata berkaca-kaca, karena sudah lama tak bertemu jadi meminta agar menitip salam pada Harry. Teman Harry mengangguk lalu pamit pergi dan menunggu di jalur bus. Yumna menatap dengan mata sedih, lalu berjalan dengan tatapan kosong di lalu lalang orang berjalan, tapi sepertinya suasana hatinya hampa. Akhirnya ia tak tahan dan menangis dengan orang lalu lalang disampingnya.
“Mana mungkin dia baik-baik saja? Mana bisa dia baik-baik saja? Bagaimana bisa?” ucap Yuman dalam hati, lalu berusaha untuk berhenti menangis tapi tetap saja air matanya mengalir.
***********
Kenzie kembali masuk studio melihat adegan film yang akan dimasukan suara, ponselnya bergetar terlihat nama, “Nomor tak dikenal” wajahnya terlihat gelisah lalu menatap lama layar ponselnya. Sampai akhirnya memberanikan diri mengangkatnya
“Hallo. Kamu? Yumna?” ucap Kenzie.
“Aku senang kamu mengenaliku.” Balas Yumna terlihat lemah di ujung telp.
“Ini sebabnya manusia tidak boleh terlalu baik pada orang lain. Sampai akhir masih saja dianggap lelucon. Orang yang menelponku dan tidak berkata apapun setelah perbuatan buruknya hanya kamu." teriak Kenzie marah.
Yumna mengungkapkan sangat merindukanya, Ken mengumpat itu gila dan langsung melempar ponselnya ke arah layar lalu menjatuhkan semua barang-barang diatas meja dan menjerit histeris dengan mata memerah. Ken pergi ke bar sendirian meminum dengan cepat winenya, lalu meminta agar memelankan suaranya, tapi suara musik tetap saja diputar dengan keras. Ken berteriak menyuruh untuk memelankan suaranya, karena menurutnya itu bukan lagu, tapi suara ribut. Yuman melihat sosok pria yang marah-marah di meja bar, Ken membalikan badanya melihat Yuman dengan mata terlihat stress dan sudah banyak minum. Teringat kembali bayangan Yumna yang selama ini datang di matanya dan kata-katanya, “Apa kita tidak perlu bertemu lagi?”
Ken menatap Yumna yang terlihat tak berdaya akhirnya duduk kembali. Yumna kembali minum sementara Ken mengambil jaketnya dan keluar dari bar, beberapa detik kemudian kembali datang dan mendekati Ken bertanya kenapa menangis, apakah ada yang memukulinya. Keduanya sudah pindah ke taman dengan bunga sakura berguguran, Yuman mengatakan Ken tidak boleh berpikir kalau ia yang paling menderita di dunia ini karena dirinya adalah yang paling menderita. Ken hanya diam saja, Yumna mengajak agar mereka bisa bercerita alasan mereka menderita.
“Kita menceritakannya dengan begitu kita bisa lupa.” ucap Yumna yang membuat Ken melirik menatapnya.
“Aku dicampakkan sehari sebelum kamu menikah. Ini pertama kalinya aku mengatakannya. Dia bilang tidak yakin bisa cinta aku selamanya. Lalu dia bilang tidak tahan melihat caraku makan. Teganya dia bicara begitu. Tapi, kamu tahu waktu itu aku berkata apa? Baiklah, kita tidak usah menikah. Tapi, ijinkan aku mengatakan kalau aku yang membatalkan pernikahan.” cerita Yumna sambil menangis dan tertawa terbahak-bahak, Ken menatapnya terlihat kasihan.
Ken binggung bisa tertawa lalu menghabis air matanya, Ken kembali menatap Yumna seperti merasa bersalah. Yuman mengaku ingin sekali mengatakan cerita itu pada seseorang yang tidak akan ditemui lagi dan orang menderita seperti dirinya.
“Nah sekarang giliranmu. Apa alasan kenapa kamu menderita. Aku akan dengar cerita mu.” ucap Yumna menatap Ken, tapi Ken hanya diam saja dan terlihat ragu. Yuman menyuruh untuk Ken bicara saja.
“Kalau tidak mau, yah sudah tidak usah. Semoga kita tidak bertemu lagi.” kata Yumna lalu berdiri dan ingin melangkah pergi.
“Maaf.” ucap Ken merasa bersalah, Yumna membalikan badanyanya terlihat binggung. Ken tak menjawab alasannya, akhirnya Ken pergi meninggalkanya.
Yumna berjalan di tengah jalan dengan bunyi klakson dibelakanganya, tubuhnya terlihat lemah sampai akhirnya Ken menariknya dan langsung membawanya naik ke taksi. Di dalam taksi Kem sempat melihat Yumna duduk dibelakang terlihat sangat merana. Sesampai didepan rumah pun Ken menarik Yumna untuk keluar dari taksi dan mendorongnya sampai ke depan pintu rumah.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi, tetaplah hidup. Meskipun sakit, tetaplah hidup. Kalau kau bertahan, artinya kamu menang.” ucap Ken lalu melangkah pergi, air mata Yumna kembali mengalir.
Yumna berjongkok didepan semua barang-barangnya merasa semuanya itu merasa sial karena memilikinya, lalu mengajak semua pergi bersama-sama dari rumah orang tuanya sekarang.
**********
Pagi harinya, semua barang-barang diangkut oleh mobil pick up serta sepeda kesayangan Yumna. Ayahnya melihat dari jendela, sementar Ibu Yumna sibuk mencuci beras. Yumna pun naik di mobil pick up dengan semua barang untuk tinggal sendiri. Ayah Yumna memberitahu istrinya kalau anak mereka sudah pergi. Ibu Yumna menghentikan mencuci beras lalu masuk kamar sambil menangis.
Yumna memindahkan barang-barangnya dengan menyakinkan bagaimanapun caranya harus tetap bisa bertahan hidup. Dengan melihat semua tumpukan barangnya mengajak mereka bisa hidup bersama-sama dan menyakinkan kalau semua baik-baik saja. Lalu perlahan mendorong meja agar bisa menempel di dinding, tapi doronganya terlalu kuat membuat dindingnya tembus, Yumna kaget berpikir kalau rumahnya itu buruk, ketika mengetuknya ternyata hanya sebuah tiplek bukan dinding semen. Akhirnya ia menarik kembali meja dan mencoba menarik bagian dinding, tapi yang terjadi malah melepaskan semua dinding kayunya. Bertapa terkejutnya melihat ada pintu kecil didepanya, Yumna berusaha mengetuk pintu tapi tak ada sahutan akhirnya memberanikan diri membuka dan melihat didapanya.
Mata Yumna sempat kaget lalu berjalan perlahan masuk ke ruangan yang terlihat sangat etnik. Seorang pria keluar dari kamar mandi, Ken hanya mengunakan handuk keluar dari kamar mandi. Yumna terdiam menatapnya, Ken baru sadar Yuman ada didepanya. Bayangan Yumna kembali terulang, wajah Yumna yang terpana saat masuk kamarnya, lalu sebelumnya membuat hidungnya berdarah dan berharap mereka tidak bertemu lagi, dan menceritakan kalau dicampakan saat akan menikah.
Ken terdiam seperti dadanya terasa sesak karena bayanganya itu benar-benar datang, Yumna terpana melihat Ken yang bertelanjang dada dan badan yang bagus. Ken keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada, Yumna menatap dari bawah ke atas tubuh Ken setengah telanjang dan langsung terpana. Mata Ken terlihat mengingat kejadian yang pernah ada di pengelihatanya kalau Yumna masuk kamar dan langsung terpana.
"Bagaimana kita bisa bertemu seperti ini lagi? Apa kamu tinggal disini?” ucap Yumna binggung.
“Kamu bilang tidak tahu dimana tempat tinggalku.” kata Ken dengan nada kesal, Yumna menegaskan memang tak mengetahuinya. Ken bertanya bagaimana caranya Yumna bisa masuk kamarnya.
“Aku pindah ke tempat baru hari ini tapi aku penasaran dengan temboknya, karena ada sebuah pintu. Kupikir pintu itu satu unit dengan tempat yang kusewa.” crita Yumna, Ken langsung berjalan masuk ke dalam ruangan yang disewa oleh Yumna dengan pintu yang ada depanya.
Ken melihat sekeliling ruangan, Yumna masih tak percaya mereka bisa bertemu seperti sekarang. Ken melihat kalau itu ruangan penyimpanan lalu bertanya sejak kapan ruangan itu bisa jadi seperti kamar. Yumna baru tahu ternyata kalau sebelumnya itu ruang penyimpanan, menurutnya pantas saja karena terasa dingin dan suasananya aneh dan bisa dimengerti kalau harga sewanya sangat murah.
“Aku bilang sejak kapan tempat ini direnovasi?” tanya Ken, Yumna juga tak tahu karena baru pindah hari ini.
“Jadi kamu bukan pemilik tempat ini? Apakah kamu juga penyewa tempat ini?” tanya Yumna, Ken tak menjawab lalu segera kembali lagi ke kamarnya, Yumna pun mengintip bari balik tanganya karena melihat Ken bertelanjang dada didepanya.
**********
Ken berbicara di telp, sambil mengumpat pemilik rumah itu tak waras karena merombak ruang penyimpanan dan menyewakannya begitu saja, karena itu ilegal dan membiarkan pintu dikamarnya begitu saja.
“Dia tidak mau memberesi pintunya karena tidak ingin memberitahuku! Tendang saja dia keluar segera.” ucap Ken kesal. Yumna didalam rumah sedang melihat ruangan Ken.
Ken mengingat sebelumnya melihat buku tahunan, Brian pun mengerti mereka sudah menghancurkan kehidupan tunangannya Yumna dan salah sasaran, lalu pesan Brian apabila bertemu Yumna lagi lebih baik kabur dan tidak meladeninya.
“Setelah dia tahu kalau kamulah yang menghancurkan pernikahannya, ini Menakutkan sekali.” kata Brian sambil bergidik tak bisa membayangkanya.
Ken yang mengingat semuanya berusaha untuk melupakan dengan mengelengkan kepalanya.
__ADS_1
Yumna melihat sebuah alat pemutar kaset lalu dikagetkan dengan bantingan pintu saat Ken masuk rumah. Ken berjalan mendekat mengajak bertemu di kantor perusahaan real estate besok. Yumna menanyakan untuk apa.
“Kita tidak bisa hidup seperti ini.” ucap Ken.
“Oh begitu. Karena pintu ini kan? Ini memang sedikit tidak masuk akal. Dia bilang akan menutup pintu itu kan?” ucap Yumna, Ken menyuruh Yumna membatalkan kontrak sewa. Yumna menanyakan alasanya.
“Aneh kalau kita tinggal disini seperti ini.” ucap Ken mencari alasan.
“Kalau pintunya sudah di tutup, tidak akan terjadi masalah. Kita bisa menjadi tetangga. Bukankah akan baik-baik saja nanti? Aku tidak masalah Lagi pula kita kan saling mengenal.” ucap Yumna.
“Karena itulah tidak nyaman, kita saling mengenal.” ucap Ken, Yumna sempat terdiam tak percaya ternyata Ken itu orang yang langsung terus terang, menurutnya mereka tidak boleh saling bersikap kasar. Ken tak banyak komentar menyuruh Yumna segera kembali ke rumahnya. Yumna mengejarnya mengetahui situasi ini memang pantas dipermasalahkan lalu menghadang Ken berjalan.
“Ketika kamu bertanya saat itu apakah aku tahu di mana rumahmu, kamu sudah menduga hal ini akan terjadi kan? Dan saat itu, aku bahkan tidak mencari sebuah rumah. Jadi bagaimana bisa kamu bahkan menanyakan hal itu, Seolah-olah kamu tahu ini akan terjadi?” kata Yumna, Ken tak bisa menjawabnya.
“Tapi aku sungguh tidak tahu kalau tempat tinggalmu disini. Bukannya aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama lalu menemukan di mana kau tingggal dan diam-diam pindah ke tempat ini. Aku bukan orang yang menakutkan seperti itu. Ini murni suatu kebetulan. Aku saja sangat terperangah.” ungkap Yumna, Ken menatapnya Yumna bicara.
"Aku harus segera menemukan tempat tinggal. Seorang peramal bilang padaku kalau namaku, Yumna. Tampaknya nama yang rapuh. Jadi dia menyuruhku untuk menemukan tempat yang penamaannya kuat. Itulah sebabnya aku ada di daerah sini dan kuharap tidak ada kesalahpahaman disini.” jelas Yumna
Ken tak banyak komentar menyuruh Yumna kembali ke rumah dan akan menemuinya besok lalu menunjukan jalan agar Yumna segera kembali. Yumna pun berjalan ke dalam kamarnya dengan wajah kesal menutup pintu, saat itu Ken mendorong rak agar bisa menutupi pintu dan Yumna tak mudah masuk. Yumna hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Ken.
Yumna terdiam melihat Ken yang sedang berbicara dengan seorang pria tua didepan kantor real estate. Si pria nampak kesal karena Ken itu peduli dengan siapa menyewakan rumahnya dan harus memilih penyewa sesuai dengan keinginan Ken. Yumna memilih untuk membalikan badanya tak ingin melihatnya.
“Aku mengerti. Apa kamu tidak menyukai wanita itu?”ucap si pria tua, Yumna melotot mendengarnya ikut dibawa-bawa.
“Aku tidak tahu kalau akan ada orang yang pindah. Tempat itu dulunya ruang penyimpanan.” teriak Ken tak terima.
“Entah tempat itu dulunya ruang penyimpanan atau tidak, sekarang aku telah merenovasi tempat itu dan ingin menyewakannya. Kenapa kamu yang marah-marah disini? Aku juga telah menegaskan hal itu kepada kantor distrik dan juga sudah mengirim sms padamu berkali-kali supaya kamu memperbaiki pintu itu.” ucap si pria, Ken hanya bisa diam tak bisa membalas.
“Tapi, enapa kamu tidak mau mengangkat teleponku? Itu karena pikirmu, kalau aku akan menendangmu keluar kan?” kata si pria, Ken menagatakan akan menggunakan ruang penyimpanan itu juga.
Pria itu mengumpat Ken itu orang gila, Ken mengatakan akan membayar deposit keamanan dan menyewa tempat itu juga. Pria tua itu menegaskaan dirinya telah menyewakan tempat untuk Ken tanpa mengetahui siapa Ken dan sudah merasa muak dan lelah pada keluarganya.
Seorang wanita yang sedari tadi mendengar adu mulut dua pria mendatangi Yumna memberitahu Ken tinggal di rumah ini sejak masih kecil tapi Ibunya meminjam uang dari si pria makelar itu untuk membuat film, tapi semuanya gagal total.
“Makelar jadi merugi dan melelangkan rumah itu. Karena dia juga sangat membutuhkan uang maka dia menyewa lantai pertama dan kedua dan ruang penyimpanan semua secara terpisah. Dan sejak pria itu tinggal di rumah itu, dia ingin menyewakan tempatnya.” cerita si wanita melirik ke arah Ken.
Ken terlihat bisa mengerti, si wanita tau Ibu Ken itu cukup cantik seperti dirinya, akhirnya si Pria tua masuk ke dalam kantor memanggil Nyonya Emilia agar memanggil kontraktor renovasi aga bisa menutup pintu, Nyonya Emilia dan Yumna terlihat mengangguk mengerti. Si makelar terlihat kesal dan ingin segera Ken mengakhiri sewa tempat secepatnya. Yumna terlihat merasa tak enak hati melihat Ken berdiri diluar kantor.
__ADS_1