
“Karyawan laki-laki yang tak pernah bicara padaku sebelumnya, mengajakku makan malam dan minum bareng setelah mengetahui kalau aku adalah teman sekelasnya, Yumna. Mereka mencoba mendekatinya melalui diriku, padahal aku ini bukan jembatan.” ucap Yumna mengomel.
“Kamu pasti senang. Sudah pernah berpacaranya dengan wanita impian semua pria.” ucap Yumna, Ken menatap sinis. Yumna memperingati agar Ken tak memandangnya seperti itu.
“Kamu yang salah, kamu seharusnya jangan membuat dia marah. Kamu harusnya pura-pura senang dan baik. Kamu bahkan menghancurkan kaca mobilmu. Dasar, buang - buang uang saja. Kamu tidak punya kemampuan untuk cepat beradaptasi. Kamu pasti sudah sudah gila.” ucap Yumna.
Ken menatap plester yang menempel ditanganya lalu menaruh sumpit meminta agar Yumna menyudahi ucapanya. Yumna mengerti dan akan berhenti bicara dan menyuruh Ken segera makan. Keduanya kembali makan, lalu Yumna bertanya apa Ken tidak mau melupakan itu semua dan pura - pura bahagia karena ia bisa membantunya.
"Kamu bingung kemarin karena mendadak bertemu dengannya secara tak sengaja. Ayo kita balas dia. Kau pura - pura saja sudah melupakannya dan kamu baik - baik saja. Aku akan membantumu di depan si cantik Yumna. Aku sudah melempar umpan padanya, karena Aku sudah bilang padanya kita baru saja mulai jadian.” ucap Yumna, membuat Ken sedikit melirik dan kembali merasakan plester yang menempel ditanganya.
“Aku belum pernah bersaing dengannya. Ini Pasti seru. Melihat si cantik Yumna cemburu padaku.” ucap Yumna sembari tersenyum bahagia hanya dengan memikirnya.
Ia teringat ada makan malam dengan rekan kerjaku hari ini jadi meminta Ken menjemputnya setelah selesa makan karena pasti tahu si cantik Yumna dan dirinya kerja di tempat yang sama. Ken hanya diam saja sambil mengaduk - ngaduk supnya, Yumna dengan senyuman tak bisa membayangkan ekspresinya ketika Ken datang menjemputnya, tapi sangat ingin melihatnya pasti sangat menyenangkan.
"Ini pasti seru. Datang jemput aku yah. Aku akan berpura - pura jadi pacar mu dan aku akan membuat dia panik.” ucap Yumna penuh semangat, Ken meminta Yumna untuk menyudahi rencana gilanya.
“Kamu tidak perlu melakukan apa - apa. Lagi pula akting mu itu jelek.” ucap Yumna.
“Lupakan saja. Kenapa juga aku mau melakukan itu? Jangan lakukan itu.” ucap Ken.
“Kamu yang balas dendam dan aku menang melawan dia. Ini situasi yang sama - sama menguntungkan.” ucap Yumna.
“Kenapa aku harus melakukan semua itu hanya untuk orang seperti dia? Apa kamu tidak mengerti itu malah membuatku terlihat lebih menyedihkan? Jika aku ingin balas dendam maka aku hanya harus menghilangkan dia dari pikiran dan kehidupanku. Kenapa aku harus melakukan saranmu? Jadi Percuma saja.” ucap Ken kesal.
Yumna dengan wajah cemberut berpikir dengan rencana itu maka lebih menyenangkan. Ken menegaskan kalau itu tak menyenangkan jadi tak perlu melakukannya. Yumna bisa mengerti tapi memberikan kesempatan apabila keputusan Ken berubah, maka telpon saja karena ia sangat suka melakukan hal itu, sambil membawa mangkuk supnya menyuruh Ken mengembalikanya setelah makan.
*************
Seorang wanita keluar dari kamar dengan baju dalam warna hitam, Melisa baru keluar kamar binggung melihat seorang wanita yang ada dirumanya. Si wanita yang nampak muda menyapanya, Brian dengan celana boxer dan kaos dalam keluar kamar merasakan kepalanya sangat sakit.
“Mungkinkah kamu istrinya?” tanya si wanita, Brian melihat Melisa bertanya apakah ia ingin pergi berkerja.
Melisa melirik begitu juga si wanita, Brian binggung bertanya siapa wanita yang ada didepanya itu. Melisa nampak tak banyak bicara langsung mengambil pemukul baseball dan langsung menyeret di lantai. Brian dan si wanita langsung berlari masuk ke dalam kamar dengan wajah panik.
“Apa dia benar istrimu? Apa kamu sudah menikah?” tanya si wanita panik.
“Dia itu orang yang lebih menakutkan daripada seorang istri. Tapi memangnya kita pernah bertemu dimana ya? Kamu sedikit berbeda dari wanita yang kutemui kemarin.” ucap Brian sambil menahan pintunya dan memakai baju dan celananya.
Si wanita mengaku mereka bertemu di club, Brian kaget tak percaya kalau ia pergi ke klub. Melisa berusaha mendobrak pintu dengan menendangnya beberapa kali, sampai akhirnya mengambil ancang - ancang berlari mendobrak pintu. Akhirnya pintu terbuka dan Melisa mendarat diatas tempat tidur dengan sempurna.
Brian dan wanita langsung mengambil kesempatan untuk keluar dari kamar, Melisa terus memukul dengan jeritan amukan. Ken akan pergi kerja sedikit menyingkir ketika melihat Brian dengan seorang wanita lari terbirit - birit keluar dari rumahnya. Brian nampak binggung mencari mobilnya. Melisa sudah keluar membabi buta memainkan stik baseballnya.
Keduanya pun berlari disepanjang jalan komplek, Ken melihat dari kejauhan. Brian mengajak si wanita berlari lebih cepat karena mereka akan mati kalau sampai tertangkap, lalu menjerit meminta maaf pada kakak Ken. Sementara Ken sudah ada di dalam mobil, mengendari mobilnya dengan melihat kejar - kejaran didepannya.
Melisa memutar tongkat baseballnya lalu melemparkanya, Brian terjatuh dan didepanya tepat tongkat baseball yang terbelah, sambil menjerit panik memegang bagian ************ dan akhirnya kembali berlari.
“Berani - beraninya dia membawa seorang wanita ke rumah ku?” ucap Melisa marah berdiri dari posisi seperti baru melempar bola bowling. Lalu melihat si wanita yang bersembunyi dengan memegang sepatu high heelsnya.
__ADS_1
Brian terus berlari, sampai akhirnya mobil Ken lewat, Brian meminta untuk berhenti untuk menyelamatkanya. Nafas Brian masih terengah - engah dan memastikan Melisa tak lagi mengejarnya.
“Diteror saat aku di rumahku sendiri lebih baik daripada dibunuh oleh kakakmu. Dia membawa pemukul itu untuk membunuh seseorang. Jika pemukul itu kena ke aku, maka aku akan mati konyol di tangan Kakak mu.” ucap Brian.
“Lalu kenapa kamu membawa seorang wanita ke rumah kami?” ucap Ken.
“Aku juga tidak tahu kenapa.” ucap Brian juga masih binggung bisa pulang dengan seorang wanita sambil merapihkan rambut dengan menatap ke spion mobil.
**********
Yumna masuk ke dalam kantor dengan penuh semangat dan senyuman benar - benar lebar, dilehernya memakai sebuah syal warna merah. Beberapa pria melihat Yuman di dalam lift nampak terpana dan berkomentar kalau nampak berbeda. Yumna mengaku ini karena urusan pribadinya.
Si cantik Yumna tiba - tiba berteriak agar menunggunya, Yumna melotot melihat saingan memakai syal juga dan ingin menekan tombol menutup pintu tapi pintunya tak tertutup. Pria yang disampingnya ternyata menekan tombol buka pintu disisi kanan
“Ketika dua tombol itu ditekan, maka tombol pintu tertutup malah yang berfungsi.” ucap si pria.
Yumna pun pasrah membuat Si cantik Yumna masuk lift bersama, si cantik Yumna mengucapkan terimakasih pada Yumna dan menyapanya mereka semua dengan ramah. Ketika pintu di tutup, pria yang berdiri dibelakang si cantik Yumna membahas keduanya yang satu SMA. Si cantik Yumna membenarkan.
“Tapi sepertinya kalian berdua tidak dekat?” komentar pria lain, si cantik Yumna tetap mengaku kalau mereka dekat.
“Sulit bisa dekat dengan seseorang yang namanya sama. Aku juga tidak suka itu, Sandi. Dia dan aku punya nama yang sama, yaitu Sandi. Tapi dia jauh lebih sukses dari ku, jadi dia lebih bagus dari aku. Betul kan?” ucap Sandi yang berdiri disamping si cantik Yumna.
Yumna seperti sudah bisa menduganya, si cantik Yumna nampak gugup. Sandi melihat keduanya punya nama yang sama bahkan mengunakan syal juga, tapi rasanya beda sekali. Si cantik Yumna keluar lebih dulu dari lift, tiga pria langsung mengucapkan selamat tinggal ketika Yumna baru keluar langsung terdorong oleh pria yang berlari masuk ke dalam lift.
Si cantik Yumna bertanya apakah Yumna kembali ke rumah dengan selamat kemarin, Yumna hanya mengangguk. Si cantik Yumna tahu pasti Ken marah sekali, Yumna mengatakan kalau memang Sedikit marah, si cantik Yumna tahu sudah berbuat salah padanya. Yumna mengaku sudah mengetahuinya.
“Apa Ken menceritakan semuanya?” tanya si cantik Yumna tak percaya
“Ken belum tahu penjelasanku, Alasan kenapa aku melakukannya.” ucap si cantik Yumna.
“Jadi kenapa kamu melakukannya?” tanya Yumna penasaran.
Si cantik Yumna mengalihkan pembicaraan Ia bertanya bagaimana mereka berdua bisa bertemu. Yumna mengaku hanya Kebetulan saja kebetulan kenal dan mereka menjadi lebih dekat karena tetanggaan. Si cantik Yumna bertanya kembali sudah berapa lama, Yumna pikir belum terlalu lama.
“Sejujurnya, sepertinya kalian berdua tidak dekat. Bagaimana bisa dia berkencan dengan Yumna lagi? Bagaimana bisa dia berkencan dengan wanita yang namanya sama denganku? Jadi, aku tidak perlu merasa bersalah padamu kan? Jujur saja, ketika Ken marah aku malah sangat bersyukur. Sepertinya aku masih berharga di matanya.” ucap si cantik Yumna, Yumna yang mendengarnya hanya bisa diam dan terlihat melonggo.
Direktur Vino lewat di lorong berteriak memanggil si cantik Yumna untuk ikut denganya. Si cantik Yumna pun pamit pergi dan berlari pergi menemui Direktur Vino. Yumna nampak terlihat menahan amarah berjalan ke ruanganya.
***************
Tim Ken melakukan pengambilan suara dengan ketukan suara high heels dan juga kibasan dari baju untuk membuat suara angin. Ken melihatnya dari ruang control untuk menyesuaikan adegan dan juga suaranya, ketika adegan menendang kaleng ia menghentikannya.
“Suara tendangan kalengnya terlalu ceria. Dia itu sedang marah. Tendang kaleng yang lebih besar.” ucap Ken lalu kembali mengulang.
Hanya dengan dua kali take, Ken mulai menyukainya dan meminta untuk melanjutkan ke adegan selanjutnya. Pintu kantornya diketuk, Ibunya datang meminta agar anaknya menemuinya.
Didepan ruangan
__ADS_1
Seorang pria terlihat mengucapkan terimakasih pada Nyonya Emilia, sementara Nyonya Emilia dengan penuh semangat memiliki firasat yang bagus akan proyek ini. Ken pun keluar ruangan, Ibunya memperkenalkan pria itu adalah sutradara Pak Angga.
“Dia menandatangani kontrak untuk bekerja dengan Ibu.” ucap Nyonya Emilia, keduanya pun saling berjabat tangan.
“Aku sudah dengar banyak tentang dirimu. Kudengar kamu sanga teliti. Aku senang berkesempatan bekerja sama denganmu.” ucap pak sutradara.
“Tentu saja, dia kan anakku! Dia jadi produser sound film di proyek Ibunya! Benar kan?” ucap Nyonya Emilia membanggakan diri.
“Semoga film mu ini berhasil kali ini. Daripada menghasilkan karya seni yang biasa saja.” ucap Ken dingin. Nyony Emilia menegur anaknya yang bicara sembarangan.
“Dari apa yang kudengar kamu orang yang sangat suka seni. Apa aku salah?” balas Sutradara Angga dengan nada menyindir.
Nyonya Emilia membenarkan kalau anaknya itu suka melakukan seni dan membela kalau itu bukan kerjaan Sutradara, setelah itu memarahi anaknya yang gila dan berpikir tidak tidur semalam, lalu mengajak sutradara Angga pergi dengan menenangkanya kalau anaknya pasti akan lebih baikan kalau sudah tidur.
“Dan Kamu silahkan istirahatlah dan besok temui Sutradara. Kamu mengerti?” ucap Nyonya Emilia ketus pada anaknya.
“Apa yang terjadi dengan industri ini? Sejak kapan melakukan seni itu hal yang buruk?” sindir Sutradara Angga sambil keluar ruangan.
Kenzo dan kawanya baru masuk menyapa keduanya, setelah itu mendekati Ken dengan tatapan sinis. Kenzo tahu ibunya itu tidak punya uang untuk memproduksi film lain dan sudah menduga mengambil uang dari kakaknya lagi. Ken hanya diam, Kenzo nampak sangat kesal memilih untuk masuk ruangan. Temanya pun tak percaya dengan Ibu temanya itu. Terlihat tak bisa berkata apa-apa lagi.
Semua tim berkumpul dalam sebuah bar, Direktur Varo berdiri didepan memberikan sambutan untuk anak buahnya dengan Melisa dan si cantik Yumna.
“Kita tidak membentuk tim baru karena kita sedang mengalami kesulitan. Seperti yang kalian semua ketahui di antara dua belas dari merek kita, ada tiga merek yang berhasil. Kita berharap itu akan bertahan seperti itu. Tapi itu akan berakhir disini.” ucap Direktur Vino mengangkat gelas birnya, Yumna nampak tak peduli memilih sibuk untuk makan cumi - cumi kering.
“Pada saat seperti ini, tidak ada gunanya kita menemukan solusi. Alasannya adalah ketika batu ketemu batu dan saling memikirkan solusinya, mereka akan menjadi batu yang kecil. Pada saat seperti itu, kita harus mengajak seseorang yang lebih pintar. Sudah hal yang tepat memilih orang itu memperbaiki masalah kita. Alasannya adalah....” kata Direktur Vino terhenti karena Yumna menyindir kalau Direktur Varo terlalu banyak bicara.
“Kita semua disini untuk memperkenalkan Manajer Yumna kali ini." ucap Melisa.
“Aku baru akan berkata seperti itu. Itu sebabnya kita mempekerjakan manajer yang cantik nan mumpuni, Yumna.” ucap Direktur Varo. Tiba - tiba ia memanggil Yumna yang sedang makan membahas keduanya itu dulu satu SMA dan nama kalian sama, menurutnya tak bisa di percaya mereka dipertemukan kembali. Melisa nampak bingung mendengarnya.
Direktur Vino kembali menjelaskan kalau peringkat mereka adalah prioritas di perusahaan jadi berharap agar Yumna bisa hormat pada si cantik Yumna sebagai Managernya. Melisa sudah tak tahan lagi mengambil mic lalu memberikan pada Yumns agar segera berbicara. Direktur Vino mengeluh kalau ia baru saja akan memperkenalkan dirinya sekarang.
“Yah, semuanya. Kalian tidak terlalu senang kalau aku tiba - tiba muncul kerja disini kan?” ucap si cantik Yumna dengan senyuman, semua pria menjerit kalau itu sama sekali tak benar karena mereka sangat senang.
“Kalian berpikir aku akan memerintahkanmu kesana kemari kan? Mungkin aku akan melakukannya. Tapi seberapa pun kalian membenciku, aku akan tetap mencintai kalian.” ucap si cantik Yumna penuh semangat, semua pra langsung menjerit histeris.
“Kami mencintaimu, Yumna!” sambil mengelu - elukan namanya.
Melisa seperti mencoba menahan amarahnya, si cantik Yumna meminta semuanya mengisi gelas dengan penuh dan mereka akan melakuan one shot, dengan berteriak, “Ini untuk makanaan kita!” semua pria mengikuti dengan penuh semangat.
Direktur Vino mulai menyanyi diatas panggung, Melisa nampak malas duduk bersebelahan dengan si cantik Yumna yang terlihat gembira memberikan tepuk tangan. Akhirnya ia berjalan naik ke atas panggung, Melisa dan Yumna sinis melihatnya, seperti punya rasa dendam yang mendalam.
Teman wanita yang duduk dengan Yumna menyuruh untuk melepaskan syalnya saja karena merasa kasiha membuat temanya itu akan dibandingkan terus dengan si cantik Yumna tapi Hae Young langsung menolaknya.
“Jika aku melepaskannya disini, berarti aku yang kalah. Jika aku tidak melepasnya, ini cuma akan memalukan saja.” tegas Yumna.
“Kalau begitu, kamu kalah saja. Ayolah.” Pinta teman wanitanya.
__ADS_1
“Tidak mungkin. Aku tidak akan kalah, karena aku cuma akan dipermalukan saja.” ucap Yumna.
“Lepaslah syal itu. Kamu terlihat seperti orang dari Korea Utara.” komentar Vino pada anak buahnya, Yumna malah tambah melilit syalnya pada leher agar tak bisa terlepas. Vino pun tak bisa berkata apa-apa lagi.