
Yumna tersenyum mendengar Ken kecil menyanyika lagu berlirik “Lagi dan lagi aku menyesalinya. Tidak bisa memberimu cinta yang lebih besar.” Lalu mengajak untuk mendengarkan sekali lagi. Ken mengajak Yumna medengarkan yang lain saja. Yumna merengek meminta untuk mendengarkan sekali lagi.
Terdengar suara wanita menyanyi lagu “Ibu dan Kakak ayo tinggal ditepi sungai.” Yumna terdiam menduga - duga siapa yang menyanyikanya, Ken membenarkan kalau itu suara kakaknya yang menyanyi, keduanya tertawa dan tersenyum mendengarnya.
Melisa bisa mendengarkan suaranya saat masih kecil dikamarnya, dengan rambut.
“Melisa yang dulunya imut. Dimana sekarang dirimu berada? Dimana perginya dirimu?” kata Yumna seperti mencari dirinya sendiri diudara.
Sementara di kamar, Brian menopang dagunya sedang melamun. Pikiranya melayang saat melakukan foto Prewed dengan pakaian pengantinya, Melisa terlihat bersemangat lalu menyuruh Brian untuk tersenyum sambil menarik pipinya. Pose berikutnya Melisa berada di gendongan suaminya, lalu ketika berusaha mengendongnya, Brian terjatuh karena tak kuat mengangkatnya. Ketika berusaha menciumnya, Brian menjauhkanya.
Ketika mengandakan party atas pernikahan dirumah, Kiki keluar dari kamar mandi memberitahu toiletnya itu sangat bersih. Melisa keluar kamar dengan baju hanbook dan juga pemukul baseballnya, lalu membanting diatas meja. Semua tamu yang sedang makan dan minum sampai terkaget - kaget.
“Aku ingin mengucap beberapa patah kata. Dirumah kami, kalau mau buang air kecil harus duduk. Kalau air senimu berantakan, maka Hati - hati saja.” ucap Melisa mengancam pada Kiki dengan baseball menganggapnya seperti pistol dan tertuju pada ************ akan menembaknya. Brian pun tak bisa menahan paniknya.
Melisa mengunakan piyama untuk tidurnya dan melepaskan talinya, tapi setelah itu malah membuka posisi kuda - kuda, dikepala Brian sudah ditaruh apel. Melisa berlatih menendang apel yang ada diatas kepala, sampai akhirnya berhasil menjatuhkanya. Brian pun memberikan tepuk tangan yang meriah.
Sebuah tomat, dimasukan ke dalam mulut Brian dengan memberikan kecupan di pipi suaminya. Brian mengeleng panik, Melisa memujinya kalau sangat tampan, saat itu kaki Melisa menampar wajah Brian sampai tomat keluar dari mulut Brian.
Brian melamun sampai bisa merasakan pukulan kaki Melisa dipipinya. Kenzo masuk kamar dengan wajah sinis. Brian menjerit karena sangat kaget. Kenzo tersenyum karena berpikir Brian kabur, tapi ternyata tetap pulang ke rumah.
“Kamu lebih bertanggung jawab dari perkiraanku. Ternyata sulit, mengabaikan orang yang sudah seperti keluargamu?” ucap Kenzo lalu membanting tubuhnya di kasur.
“Hei, Dasar binatang! Bagaimana ini terjadi diantara kalian?” jerit Kenzo menggodanya.
“Kalau aku tahu, artinya ingatanku masih utuh. Apabila aku melakukan saat waras maka aku pasti sudah gila.” Keluh Brian masih tak percaya.
“Hyung, jangan - jangan kamu kesana - kemari membuat masalah seperti ini.” komentar Kenzo, Brian meminta agar menghentikan saja karena Kondisinya saat ini serius sekali, Kenzo tak percaya Brian serius memikirkanya.
“Aku kenal kakak. Kamu cuma menyesal sebentar lalu melarikan diri.” ucap Kenzo.
Brian bingung Kenzo memikirkan untuk melarikan diri. Kenzo pikir tak masalah karena memang sudah bisa mengerti, karena dirinya tak kolot dan tidak selalu membela keluarga, jadi bisa mengerti perasaan Brian menurutnya pasti berat mengakhiri hidupnya diusia sekarang bersama dengan orang yang bernama Melisa.
“Bagaimana kalau kamu coba beberapa pendekatan? Setelah itu Lakukan seperlunya yang kamu ingikan lalu kabur.” kata Kenzo, Brian menjerit tak percaya.
“Kakak juga bukan orang zaman dulu, dia akan menerima apa yang ada dan melepaskanmu.” ucap Kenzo.
“Aisshh coba dengar omongan anak kasar ini. Kamu bilang Menerima apa? Apa Kamu kira anak cuma benda? Dan mau hitung - hitungan dengan masalah ini? Apa kamu membahas soal Kakak mu dengan cara seperti bajingan?” ucap Brian dengan nada tinggi.
“Kamu bilang aku bajingan ... Hei Brian anjing, kamu lucu! Padahal aku perhatian padamu. Kenapa bersikap begini? Apa Kamu kaget karena aku membaca pikiranmu?!” teriak Kenzo.
“Aku sudah cukup marah saat ini. Apa Kamu mau berkelahi denganku?” teriak Kenzo tak mau kalah.
Akhirnya keduanya saling berkelahi dengan saling menarik rambut, terdengar bunyi suara besi stick baseball. Melisa sudah membawa stick golf mendengar suara jeritan Brian yang menjerit karena tangan di gigit. Melisa berteriak masuk memanggil adiknya, keduanya langsung berdiri, Kenzo langsung tertunduk ketakutan.
“Kau .... Bukankah sudah kubilang, aku akan membunuhmu kalau masih tidak respek pada Brian?” kata Melisa, Kenzo mengadu kalau Brian yang lebih dulu mengejeknya bajingan, tapi akhirnya mengaku salah.
__ADS_1
“Kamu ... Brian .... Bukankah sudah kubilang bersikap sesuai dengan usiamu? Hari ini kamu bunuh si brengsek kampret ini. Kalau dia masih kurang ajar, bunuh saja. Kalau kamu lembek, mereka akan kembali. Sebelum mereka kembali, kamu harus habisi duluan! Sampai kamu membunuh anak ini jangan tinggalkan kamar ini. Kamu Harus habisi dia.” ucap Melisa memutar stick baseball dan memberikan pada calon Ayah bayinya.
Brian mengambilnya dengan wajah ketakutan, Melisa pun akhirnya keluar dari ruangan. Kenzo mengatakan kalau ia akan mati, lalu memanggil Brian sebagai kakak ipar dan mengaku salah. Brian menghela nafas mendengarnya, lalu berteriak marah dengan menyodok bokong Kenzo , kalau ia bukan adik iparnya tapi hanya “Kakak” saja. Kenzo berteriak kesakitan.
Brian duduk dengan wajah ketakutan dengan tangan diremas dan tertunduk sedih. Melisa memakai lipstik, mengatakan bukan cuma Brian yang merasa buruk dan canggung, karena ia juga merasa begitu jadi tidak perlu terlalu serius.
“Kamu dan aku tidak akan bisa jadi suami istri. Kamu tahu itu begitu juga Aku. Sudah 20 tahun, kamu seperti adikku dan aku sebagai kakakmu. Aku akan imigrasi lalu kamu bisa hidup disini seperti biasa. Jadi, berhenti menderita. Sekarang kemas barang - barangmu dan keluar.” ucap Melisa.
“Itu bayiku.” ucap Bria tak enak hati, Melisa tiba - tiba berdiri dan mendekat Brian.
"Kau ... Apa Kau bisa ... berciuman denganku?” ucap Melisa dengan wajah semakin sangat dekat, Brian melihat bibir Melisa yang semakin dekat, sampai akhirnya memalingkan wajahnya.
“Aku beri waktu sehari. Apakah kamu bisa menciumku atau tidak, jadi pikirkan itu. Maka ... Kau akan dapat jawabannya.” Kata Melisa lalu berjalan pergi. Brian terlihat bisa bernafas lega kembali setelah menahan nafasnya.
Tyo berjongkok didepan mesin pilingan bubur cabe sambil merekam suaranya, bibi yang ada didepan mereka sibuk untuk memberikan memastikan cabe yang tergilang dengan sempurna. Kiki mencoba menutup hidungnya dengan tissue agar bubuk cabe tak menyengat hidungnya.
Ken merekam bunyi desis minyak saat membuat pancake pada Bibi yang sedang memasak dipasar. Ia juga pindah ke bunyi mesin yang mengeluakan banyak asap.
Kenzo dan si pria muda terlihat merekam suara mesin yang berputar, dan mesin press pun tertutup. Kenzo terlihat asik memakan kue, lalu terdengar suara peluit. Saat terdengar suara seperti ledakan dari mesin, Kenzo menjerit kaget dengan wajah ketakutan.
Mobil Movie Sound berhenti pada sebuah restoran. Kenzo dan pria muda berlari ingin pergi ke toilet. Ken turun dari mobil melihat nama restoran “Istana di dalam hutan”. Tyo dan Kiki menunggu karena sambil meminum es coklat, sementara Kenzo masih ada di toilet.
Ken asik duduk sendirian, menatap kearah jendela, lalu mengarahkan pandangan pada rak didepanya, ada sebuah kamera, mesin pecetak foto. Kiki dan Tyo dengan menopang wajahnya melihat Kenzo yang berjalan pergi ke rak. Ken mengambil album tuliskan “Mei 2014” membuka lembaran banyak pasangan yang berfoto dengan pasanganya, serta menuliskan pesan dibagian bawah.
Lembaran demi lembaran terus dilihat Ken, lalu terhenti ketika melihat foto dirinya yang sudah disobek lalu tertulis pesan disampingnya “Terima kasih atas cintamu. 10 Juni 2016”. Ia bisa melihat foto sebelumnya, saat Yumna merangkul tanganya dengan coklat berbentuk love ditanganya. Saat itu foto Yumna hilang berganti dengan tulisan.
***********
“Aku ingin berterima kasih sekali ... Karena kamu cantik. Mungkin cuma aku hanya terlihat biasa saja, jadi Maafkan aku.” kata si pria.
Yumna mendengar bunyi pesan masuk dan langsung membacanya, pesan dari Ken “Terima kasih.” Matanya kembali terlihat berkaca - kaca, lalu tersadar kalau ia tidak boleh mengecek ponsel dan akan mematikan saja. Pria itu pikir tak masalah tapi akhirnya setuju untuk mematikan saja ponselnya. Yumna pun mematikan ponselnya.
Ken akhirnya selesai dari toilet, Kiki bertanya apakah ia harus yang menyetir sekarang. Kenzo mengejek siapa lagi kalau bukan Kiki, karena ia tak memiliki SIM. Ken keluar masih berdiri depan restoran, menatap fotonya yang sudah dirobek untuk membawanya pulang.
Yumna duduk dikamarnya sambil mengirikan pesan pada Sepupunya Jiah. “Besok kamu akan menikah. Bagaimana?” Jiah membalas dengan wajaha tegang, "Rasanya aneh berkata begini, tapi Ayah dan Ibuku gugup sekali sekarang. Mungkin aku harus membatalkannya seperti Kakak. “
“Bicara yang benar. Bukan aku yang membatalkan, aku diputuskan.” balas Yumna mengakuinya.
“Sepertinya kamu sudah sembuh? Bisa bilang kamu yang diputuskan.” tulis Jiah, Yumna membalas dengan senyuman kalau ia tentu baik - baik saja.
“Temanku yang harusnya menerima karangan bunga sedang sedih karena dia baru putus dengan pacarnya. Aku jadi tidak bisa memintanya menerima karangan bungaku.” cerita Jiah dalam chatnya.
“Jangan khawatir. Aku yang akan menerimanya.” kata Yumna.
Jiah kaget karena Yumna akan datang ke pernikahannya. Yumna sudah pasti akan datang ke pernikahan sepupunya. Jiah mengatakan kalau Ibunya tidak akan datang bahkan Ibu Yumna juga bilang anaknya tak akan datang. Bibi Yumna ikut melihat percakapan mereka di grup, Yumna mengatakan Jiah tak perlu khawatir karena ia akan datang dan menerima bunganya.
__ADS_1
Bibi Yumna, ibu Jiah memastikan Yumna benar - benar akan datang. Yumna mengatakan tetap datang, Bibi Yumna dengan wajah khawatir mengetik mengira Yumna akan merasa tidak nyaman. Yumna membalas kenapa harus merasa tidak nyaman.
“Itu, kamu sudah cerita semuanya di radio. Semua orang sudah tahu kalau pernikahanmu berantakan.” Balas Bibi Yumna.
“Kesimpulannya saat ini ... Lelaki yang sudah merusak pernikahanku, sekarang jadi pacarku.” tulis dengan wajah serius.
Ibu Yumna ikut membaca percakapan di grup. Jiah tak percaya, Yumma meyakinkan jadi akan terima bunganya, lalu memberitahu dengan tangan terbuka pada bibinya. Bibi Yumna tak percaya penasaran bagaimana penampilannya.
“Baiklah. Aku akan membawanya di pernikahanmu besok. Bibi, kamu pasti kaget sekali. Lelaki ini bukan sembarangan. Bahkan, tangannya saja seksi. Ah, memikirkan dia membuatku rindu padanya.” tulis Yumna penuh semangat,
“Kakak ipar, apa kata Yumna benar? Dia sungguh pacaran dengan lelaki itu? Aku tahu kamu baca ini! Kakak Ipar!” balas Bibi Yumna pada kakak iparnya.
Ibu Yumna masuk kamar sambil berteriak mau dibawa kemana dan siapa yang akan dibawanya, Yumna sampai terkejut mendengar ibunya tiba - tiba masuk dan langsung berteriak, lalu bertanya kenapa ibunya datang tiba - tiba berteriak.
“Apa kamu tanya karena tidak tahu? Orang - orang akan memanggilmu gila karena pacaran dengannya. Mereka akan mengejek kalian! Kenapa malah membawanya ke acara keluarga?!” teriak Ibunya marah.
“Apa tidak bisa memihak padaku? Bahkan tanpa dituding, orang itu sudah merasa sangat bersalah. Apa ibu tidak bisa bilang tidak apa-apa dan menepuk pundakku? Aku ingin menunjukkan pada dia. Kalau keluargaku tidak menyalahkannya, jadi jangan merasa bersalah lagi.” balas Yumna dengan tenang.
“Kamu lebih baik berkencan diam - diam lalu putus.” Kata Ibu Yumna ingin keluar.
“Aku bukan cuma mau berkencan dengannya.” tegas Yumna dengan wajah serius, membuat ibunya terdiam.
************
Ken sedang duduk d dalam mobilnya, terlihat Kiki yang menyetir dengan mata setengah terbuka, tiba - tiba mobil berhenti mendadak membuat kepala Ken terhantam di kursi dan merasakan sakit dibagian pundaknya.
Perlahan ia menyandarkan kepalanya, lalu tersadar kalau mobil masih berjalan dengan tenang. Ia menengok adiknya dan yang lainya sedang tidur nyenyak dan dibelakan tak ada mobil apapun, bahkan Kiki masih menyetir walaupun sambil menguap.
Ken kembali melihat Harry mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi dan akan menabraknya, mata Ken langsung melotot tajam seperti bayangan akan menjadi nyata dimatanya.
Harry meminting kepala sipelayan yang menyuruhnya untuk mengatakan “Aku tidak suka dengan cara makanmu?” lalu mengumpat kalau itu seharusnya tak boleh dikatakan pada seorang wanita. Si pelayan mencoba melepaskasn pitingan, tapi Harry yang mabuk terus mengomel karena pelayan itu harus menyuruh mengatakan itu.
“Harusnya kamu bilang aku harus cerita yang jujur!” teriak Harry terus memitingnya.
“Makanya wanita itu akhirnya mundur, jadi artinya itu berhasil!” ucap si pelayan akhirnya bisa melepaskan pitingan Harry
Harry berusaha untuk berjalan memanggil si pelayan tapi tubuhnya terlihat tak kuat berdiri lagi, sambil duduk mengatakan dirinya yang gila, karena tak menyangkan bisa mendengar nasihat dari seorang pelayan. Si pelayan bertanya apakah Harry menyesal sudah memutuskannya atau hatinya terasa sakit, Harry hanya diam dengan menghela nafas.
Beberapa saat kemudian, Harry sudah berjalan di jembatan dengan setengah sadar memegang kepalanya yang pusing, lalu mengumpat memanggil Ken, bertanya harus melakukan apa padanya
Ken terdiam mengingat kembali ingatan dikejar-kejar oleh mobil Harry yang ingin menabraknya. Saat itu terdengar suara bel rumahnya, Ibu Yumna terlihat dilayar interkom. Akhirnya Ibu Yumna duduk disofa sementara Ken berdiri didepan calon ibu mertuanya.
“Yumna sudah menelponmu untuk mengajak pergi ke pesta pernikahan bersama?” tanya Ibu Yumna, Ken mengatkan belum menelpon.
“Sepupu Yumna akan menikah besok. Dia ingin mengajakmu kesana. Karena anaku itu bodoh, maka dia kira semua hubungan pasti akan berakhir dengan pernikahan. Tapi anak - anak jaman sekarang, berbeda. Mereka hanya ingin senang - senang bersama tapi tidak ingin menikah. Yumna ku sudah berpikir kalau dia akan menikah denganmu. Menurutku, kamu ... hanya coba - coba. Benar kan?” kata Ibu Yumna blak - blakan.
__ADS_1
“Aku menyukai Yumna.” Ucap Ken dengan memegang tanganya, Ibu Yumna menatap Ken.