
Yumna berjalan membawa bunganya dan memanggil kurir yang belum keluar dari kantor, mengembalikan bunga tersebut karena tahu pasti bunga itu bukan untuknya.
Kurir pun membawakan bunga ke sebuah ruangan, terlihat Yumna sedang melakukan yoga, semua ruangan banyak sekali bunga dan hampir memenuhi seluruh ruangan dari meja sampai didepan jendela. Direktur Vino dan Melisa datang, melihat di dalam ruangan seperti taman bunga.
“Tetapi bahkan di antara semua bunga-bunga ini, kurasa bunga didepan ku inilah yang paling bersemangat.” goda Direktur Vino pada Yumna, Melisa melirik sinis, Direktur Vino bertanya apakah ucapanya itu terlalu norak.
“Itu pelecehan seksual. Kurasa tadi itu tidak pantas.” ucap Melisa, Yumna dengan ramah mengatakan tidak seperti itu dan mengucapkan kalau sangat berterima kasih atas pujianya. Direktur Vino pun memuji Yumna yang keren sambil menjabat tanganya.
Melisa dan Yumna berjalan di lorong bersama - sama. Yumna terlihat sudah mengenal Melisa dengan memanggilnya Kakak, mengutarakan merasa senang karena tanya Melisa berkerja di kantor yang sama. Melisa menjawab dengan lirikan sinis lalu kembali berjalan. Yumna pun mengikuti Melisa berjalan dibelakanganya dengan tim yang lainnya.
Melisa masuk ke ruangan, Yumna yang melihat mantan temanya langsung bersembunyi dibalik mejanya. Yumna memperkenalkan Manager Yumna yang direkrut untuk memimpin dan mereformasi mereka dengan timnya. Lalu memperkenalakan Manager Aria dari In-Season Table. Keduanya pun saling menyapa.
“Dan juga Seseorang dengan nama yang sama. Tapi orang yang sangat berbeda. Yumna.” ucap Melisa berhenti didepan meja Yumna, terlihat Yumna tak mau memperlihatkan wajahnya.
“Kami punya nama yang sama bahkan cara penulisannya juga sama. Apakah kita benar - benar berbeda?” ucap Yumna melihat ID Card Yumna, Melisa dengan sinis mengatakan sangat berbeda.
“Aku ingin tahu bagaimana kita bisa berbeda. Senang bertemu denganmu.” sapa Yumna sambil berjabat tangan.
“Hal pertama. Kita akan mereformasi menu In Season Table. Bekerja samalah untuk membawa keberhasilan!” tegas Yumna, Yumna pun memberikan semangat pada tim lainnya.
Yumna masih melihat teman SMA nya yang berjalan keluar ruangan bersama Melisa. Semua tim berkumpul membicarakan Manager Baru itu ternyata masih muda dan bertanya - tanya berapa umurnya itu. Beberapa yang lain berpikir Manager Yumna itu mengenal Melisa sebelumnya. Yumna si cantik tiba - tiba kembali melonggo keruangan, Yumna langsung bersembunyi dan duduk dibalik bangkunya. Yumna cantik mendatangi Yumna yang sedang bersembunyi dibalik bangkunya.
“Apa kebetulan kamu sekolah di SMA yang sama dengan ku?” tanya si Yumna cantik, Yumna jelek hanya diam saja.
“Hei. Ini aku! Yumna! Kebetulan sekali! Apa kamu tidak ingat aku, kamu pasti banyak kesulitan karena kita punya nama yang sama.” ucap si cantik Yumna.
Akhirnya Yumna pun berdiri dari tempat duduknya, si cantik Yumna meralat kata-kata kalau ia juga merasa seperti itu, lalu menceritakan kalau mereka itu pernah satu SMA bareng. Teman Yumna pun langsung mengenali si Yumna cantik yang diceritakan sebelumnya. Yumna akhirnya berpura - pura sudah mengingat si Yumna cantik.
“Senang bisa melihatmu lagi. Aku terkadang memikirkan dirimu dan Ibumu juga.” ucap si Yumna merasa bahagia melihat Yumna sambil mengoyang - goyangkan tanganya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Di bar.
Yumna mengeluh terlihat kekanak - kanakkan sekali karena Pura - pura kalau tidak ingat si Yumna cantik, karena tak mungkin ada seseorang yang tidak mengingatnya, bahkan Jauh lebih masuk akal jika si Yumna cantik yang tidak mengingatnya.
“Bagaimana kalian bisa bertemu lagi? Dimulai dari Nama, lingkungan, dan sekolah yang sama dan sekarang perusahaan yang sama? Apa kamu tidak muak?” tanya Rara ikut geram. Yumna berteriak kalau itu bukan salahnya.
“Haruskah aku mengundurkan diri?” ucap Yumna pasrah.
“Siapa yang akan mempekerjakan mu nanti?Bertahanlah selagi kamu bisa. Menyedihkan harus melarikan diri dari hal seperti itu, hanya karena merasa takut dan tak berdaya.” ucap Rara.
“Apakah kau tahu sesuatu yang lucu? Ketika dia mendatangiku duluan dan bergaya sok ramah, saat itu aku malah bersyukur.” ucap Yumna.
“Apakah kamu bersyukur karena dia mengakuimu dan mengingatmu? Memangnya apa yang salah? Kenapa kamu jadi begitu hina setiap kali dia ada di dekatmu? Apakah dia akan memakanmu hidup - hidup? Apakah dia mengatakan sesuatu?”teriak Rara kesal.
Yumna mengingatkan kalau mereka itu punya nama yang sama, Rara bertanya memangnya kenapa. Yumna berteriak kalau Semua orang jadi suka membandingkan mereka berdua dan setidaknya ia senang namanya Yumna, kalau kepikiran memikirkan nama yang lain seperti Maya dan Hanna. Rara berusaha tenang bertanya apakah Yumna masih cantik, Yumna memberitahu masih sangat cantik. Rara mengumpat si ****** itu. Keduanya langsung minum air bersama lalu Yumna merasa birnya kali ini sangat tawar.
Si cantik Yumna mengeluarkan semua barangnya dari kotak, lalu melihat buku kenangan jaman SMA yang masih disimpan. Ia membuka melihat foto dirinya saat masih SMA dan melihat temanya yang bernama Yumna dibaliknya.
Terdengar seorang pria memberitahu sudah selesai memasangnya. Yumna pun mendekatinya, lalu pria itu alat pencuci piring kalau Yumna menyalakannya akan bekerja secara otomatis. Jadi tidak perlu khawatir tentang sampah makanannya. Yumna pun mengucapkan terimakasih sambil memberikan segela jus jeruk. Pria yang lain memberitahu sudah selesai memasang TV. Yumna mendekat, TV nya sudah dipasang.
Ken baru pulang ke rumah melihat ponselnya bergetar dan terlihat nama Ibunya yang terlihat, tapi ia berusaha untuk tak mengangkatnya. Yumna membuka snack sambil menonton TV dengan suara yang keras dan meminum teh. Yumma masuk kamar bisa mendengar dengan jeli kalau Yumna sedang menyeruput minum.
Yumna dikamar sebelah mendengar suara Ken melempar kunci mobil diatas meja, lalu berperlahan mengendap - ngendap. Ken memutar pita kasetnya dengan wajah kesal langsung melempar bola tenis ke dinding yang membuat Yumma terkejut.
“Jangan menguping atau berisik, Jalankan dua aturan tersebut.” teriak Ken.
“Siapa yang menguping?” ucap Yumna kembali duduk diatas tempat tidur sambil menonton TV, Ken berteriak menyuruh untuk mengecilkan volumenya.
“Aku tidak bisa menonton kalau cuma lihat gambar saja.” ucap Yumna kesal sambil meminum Tehnya.
__ADS_1
Do Kyung pergi ke layar interkom, melihat Ibunya sudah ada didepan rumah sambil menjerit-jerit, “Aku tahu kamu ada disana. Buka pintunya!”
Yumna bisa mendengar lalu bertanya apakah ada orang di pintu masuk. Ken hanya diam saja dan melihat Ibunya yang menjerit ingin meminta agar pintu dibuka. Akhirnya Ken membuka pintunya.
Nyonya Emilia mengomel anaknya yang tak mengangkat telpnya, Ken mengajak Nyonya Emilia bicara saja di luar. Nyonya Emilia menduga kalau ada seorang di rumah anaknya dan mencari - cari di sekeliling sampai ke toilet lalu wajahnya pun tersenyum karena tak ada siapapun.
“Aku bilang kita bicara di luar saja!” teriak Ken marah, Yumna berusaha menguping dari rumanya. Akhirnya keduanya pindah berbicara di halaman.
“Dasar, Kamu bahkan tidak suka Ibumu datang ke rumahmu? Kenapa kamu tidak mau menjawab teleponku?” ucap Nyonya Emilia merengek, Ken mengatakan tidak punya uang.
“Aku tahu kamu itu punya uang!” ucap Nyonya Emilia, Ken menjelaskan kalau ia harus memberi upah karyawannya.
“Aku akan mengembalikan uangnya padamu sebelum hari gajian.” ucap Nyonya Emilia, Ken mengernyitkan bibirnya karena sudah tahu tingkah Ibunya.
Nyonya Emilia meminta anaknya tak meremehkan karena akan mengembalikan uangnnya kali ini apa pun yang terjadi. Lalu menceritakan Ketua Vino, si Pak tua manipulatif berpikir akan memberikan uang tapi ternyata terus saja membodohinya, bahkan hanya memberikan sebuah tas, padahal tak dibutuhkanya, merasa dirinya itu dianggap gampangan. Ken hanya diam tanpa berkomentar.
“Jika aku tidak memberikan uang deposit hari ini, aku kehilangan Direktur Wahyu Satunya cara aku bisa membuat comeback ialah dengan bekerja bersama Direktur Wahyu. Bantulah aku. Sekali ini saja.” rengek Nyonya Emilia sambil menangis
“Aku sudah membantumu sebanyak 12 kali.” tegas Do Kyung.
“Apa menurutmu Ibu melakukan ini semua untuk diriku sendiri? Rumah ini. Kita harus membelinya kembali! Bukankah begitu? Ibumu akan membantumu.” ucap Nyonya Emilia.
“Kamu selalu mengataakn Ibu, Ibu, Ibu, Ibu! Bilang saja "Aku" bukannya "Ibu"! Kenapa kamu terus mengingatkanku bahwa kamu itu Ibuku? Kamu berusaha untuk mengeluarkan emosiku dan Berusaha untuk membuatku merasa bersalah.” ucap Ken marah.
Nyonya Emilia pun memilih untuk masuk ke dalam rumah, sambil berteriak menyuruh anaknya masuk dan mengancam apabila tak mentransfer uangnya maka aka menjual organ tubuhnya saja. Yumna yang mendengarnya langsung menutup mulutnya tak percaya.
Ken masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu lalu mengetik depan komputernya, Nyonya Emilia menerima pesan yang masuk. Ken sudah mentransfer 50 juta rupiah ke rekening Ibunya. senyumannya pun terlihat, Nyonya Emilia berjanji akan mengembalikannya kali ini. Apa pun yang terjadi jadi anaknya tak perlu khawatir. Ken hanya bisa menatap sedih ibunya yang langsung meninggalkan rum
Yumna perlahan menjauh dari pintu lalu berpura - pura baru saja masuk ke dalam rumah sambil mengeluh mini market itu tidak lengkap dan membuat suara kantung plastik jatuh dilantai.
“Kedengarannya kamu sedang ada tamu. Apa orangnya sudah pergi?” teriak Yumna.
“Kenapa kamu pura - pura masuk ke rumah? Aku dengar langkah kakimu tiba - tiba tanpa peningkatan suara yang bertahap!” ucap Ken berteriak.
“Maafkan aku. Aku tidak baik pergi begitu saja saat kau sedang marah. Kami mau kemana?” ucap Yumna terus mengikuti Ken yang berjalan sangat cepat.
Di depan sebuah deretan pohon dan melihat suasana malan dan terlihat sungai dari atas, Ken sengaja menaruh mic dan memasang alat perekam dan memakai earphonenya. Yumna melihat cara Ken berkerja tanpa bicara.
Sepasang pria dan wanita datang, merasa takjub melihat pemandangan yang bagus dan ingin mengambil gambar. Yumna yang melihatnya meminta keduanya untuk tak berisik karea Ken sedang merekam suara. Keduanya pun memilih pergi saja, Yumna tiba - tiba menjerit karena ada serangga yang menempel pada jaketnya.
“Maaf. Apa kau harus merekam ulang lagi?” bisik Yumna tak enak hati, Ken mengatakan tingkat volume yang tadi tidak apa-apa.
“Apa yang kamu lakukan dengan suara seperti ini?” tanya Yumna, Ken menjawab akan memasukkan suara ini ke dalam adegan pemandangan malam.
“Bukankah suara - suara itu akan terekam saat mereka syuting?” ucap Yumna.
“Ketika mereka syuting, mereka hanya merekam dialognya. Suara latar belakangnya dimasukkan ke dalam adegan secara terpisah. Suara langkah kaki, hujan, dan secangkir kopi. Suara - suara itu dimasukkan secara terpisah.” Jelas Ken.
Yumna mengaku baru mengetahui hal itu, menurutnya Jauh lebih mudah jika merekamnya saat syuting. Ken mengatakan itu tidak mungkin karena krunya tidak bisa mengatur mikrofon untuk semuanya. Yumna bertanya kapan Ken memulai pekerjaannya. Ken menjawab tepat setelah lulus dari kuliah.
“Apakah mengikuti jejak Ayahmu? Kalau begitu kamu bekerja dengan Ayahmu sekarang?” ucap Yumna.
“Ayahku sudah meninggal.” ucap Ken, Yumna langsung bertanya kapan.
“Tidak perlu untuk di jawab.” ujar Ken, Yumna pun meminta maaf lalu menatap melihat pemandangan didepanya.
“Aku senang mengikutimu kesini. Kamu pasti tampak sungguh menyedihkan jika kamu berada disini sendirian. Aku benci keheningan. Aku takut kalau aku hanya akan mengutuk dalam kabut keheningan. Tapi dalam kabut keheningan ini, aku sungguh merasa seperti segala kutukan itu menghilang dari kepalaku.” cerita Yumna.
“Tidak ada gunanya mengutuk pada pria yang telah pergi meninggalkanmu.” ucap Ken.
“Seorang wanita tidak mengutuk pria yang telah meninggalkannya. Dia mengutuk pada pria yang mengasihaninya. Jangan mengasihani siapa pun.” ucap Yumna sambil tersenyum. Ken melirik Yumna yang ada ada disampingnya.
__ADS_1
Keduanya makan mie warung tenda di pinggir sungai, Yumna langsung membuka bungkus sumpit saat semangkuk mie datang menceritakan selalu mendambakan hidangan mie hangat ketika minum - minum dan langsung menyeruput mienya.
“Kamu kelihatan cantik saat kamu sedang makan.” puji Ken. Melihat cara makan Yumna didepanya. Yumna langsung terpaku mendengarnya, keduanya mulai saling menatap dan terlihat canggung.
“Kamu bilang pria yang akan kamu nikahi membenci caramu makan. Maksudku kamu kelihatan biasa - biasa saja saat kamu sedang makan.” ucap Ken.
“Kenapa kamu berusaha sekali menjelaskannya pada dirimu sendiri?” balas Yumna.
“Karena sepertinya kamu jadi tersentuh.” Ejek Ken
“Apakah aku tampak seperti seseorang yang akan tersentuh oleh perkataanmu itu?” ucap Yumna lalu menyeruput mie dengan cepat.
Ken menyuruh Yumna tak perlu memperlihatkan cara makan dengan sengaja, Yumma mengaku kalau ini semua karena merasa malu lalu meninggalkan warung. Yumna belum sempat makan akhirnya menaruh uang dimeja dan ikut keluar. Yumna tersenyum karena Ken mengikutinya keluar. Keduanya pun berjalan beriringan di pinggir sungai.
Pagi hari
Yumna berlari ketika melihat pintu lift akan tertutup, beberapa pria yang ada didalam seperti tak peduli. Lalu tiba - tiba tangan mereka menghentikan pintu yang akan tertutup wajah mereka sumringah. Yumna malah terdiam lalu melihat Yumna cantik berlari dibelakanganya sambil melambaikan tangannya meminta agar tak menutup pintunya.
Beberapa pria langsung menyapa si cantik Yumna saat masuk ke dalam lift, Yumna pun berlari masuk ke dalam lift tapi saat itu juga lift berbunyi tanda terlalu penuh. Si cantik Yumna pikir lebih baik keluar saja, semua pria langsung menahahnya dan langsung mendorong Yumna keluar dari lift. Tapi Yumna berusaha untuk bertahan, sayangnya dorongan pria terlalu kuat dan membuatnya harus keluar dari lift.
Wajah si cantik Yumna seperti tak enak hati ketika pintu lift tertutup, tapi Yumna nampak sinis melihat kembali menjadi nomor dua dari orang yang namanya sama denganya.
Beberapa pria mengerubungi Yumna karena sekolah satu SMA yang sama dengan Manager Yumna, menurutnya itu sangat bagus. Pria lain pun tak percaya ternyata mereka itu teman satu sekolah jad meminta agar bisa mengatur pertemuan dengan si cantik Yumna.
“Pasti menyenangkan, Kalian bahkan punya nama yang sama dan kalian berdua pasti dekat. Aku yakin kalian sering minum bersama!” ucap pria lainnya, tiba - tiba terdengar bunyi gebrakan berkas diata meja.
“Kenapa kalian tidak bekerja?!” tegur Arya melihat semua anak buahnya malah berkumpul di meja Yumna.
“Ketika suasana hatiku buruk, aku pergi ke tempat yang membuatku bahagia.” gumam Yumna kembali terdiam karena banyak orang yang menceritakan Yumna.
Pikiran Yumna kembali melayang saat bersama Ken diwarung tenda. “Kamu kelihatan cantik saat kau sedang makan. Maksudku kamu terlihat biasa - biasa saja saat kau sedang makan.” wajah Yumna kembali tersenyum mendengarnya.
Yumna berjalan pulang sendirian, Brian berjalan pulang melihat Yumna dan mulai menyapanya, lalu melihat wajah Yumna murung berpikir harinya tidak berjalan lancar. Yumna menyangkal kalau ia hanya lapar dan merasa akan baik – baik saja setelah makan dirumah nanti.
“Ketika aku lapar dan tidak lelah. Aku malah marah dan kesal.” cerita Brian.
“Semua orang jadi sedikit rewel kalau mereka sedang lapar.” ucap Yumna.
Keduanya kembali berjalan dan nampak canggung, disisi jalan lainnya Nana berlari sambil memanggil pacarnya dan langsung meloncat di pelukan Kenzo dan langsung berputar - putar seperti pasangan yang baru menikah. Melisa yang melihatnya nampak iri, lalu membayangkan dirinya berputar - putar di tepi danau lalu berlari kepelukan seorang pria bahkan bisa akrobat membuat kakinya ada dibelakang badan pria itu dan kembali memeluknya dari depan, saat itu pun mulai mengecup bagian lehernya.
Melisa mulai membayangkan sambil mengecup - ngecup dengan bibirnya, Brian dan Yumna berjalan pulang melihat Kenzo dan Nana masih saling bermesraan sambil bergendongan, Brian merasa Melisa pasti iri. Melisa tersadar dari lamunannya. Kenzo dan Nana pun mulai berjalan sambil berpelukan.
“Kamu mungkin belum pernah melakukan sesuatu seperti itu sebelumnya. Berlari kepada seorang laki - laki dan memeluknya. Itu bahkan tidak mungkin karena berat badanmu.” ucap Brian sambil berjalan bersama.
“Semua itu tidak relevan dengan berat badan seseorang.” ucap Melisa sambil merapihkan rambut dengan gaya dua tangan seperti pria berambut klimis.
“Ahh, jadi kau pikir itu Atletis? Atletis berkorelasi dengan berat badan juga.” ucap Brian.
“Dia mungkin tidak bisa melakukannya dengan baik.” ucap Melisa sinis.
Brian menatap Yumna berpikir tetangga temanya itu tak bisa melakuanya, Yumna mengatakan kalau Ia bisa, Melisa bertanya apakah Yumna pernah mencobanya. Yumna mengaku pernah mencobanya, Melisa l tak percaya.
“Tolonglah berhenti bandingkan dirimu dengan diriku. Kamu itu 12 tahun lebih tua dari diriku. Aku seratus kali lebih cantik dan lebih kurus darimu. Aku juga sudah banyak mengencani para pria.” ucap Yumna membela diri
“Baiklah, kalau begitu lakukan saja.” ucap Melisa menantang.
“Dengan siapa? Siapa yang harus kupeluk? Haruskah aku memeluk pohon seperti wanita gila?” ucap Yumna heran.
Melisa menyuruh Brian berdiri didepan mereka, Brian binggung kenapa harus dirinya. Melisa mengatakan kalau Yumna bisa melakukannya akan mentraktirnya minuman. Yumna tertawa mendengarnya, lalu matanya melihat Ken baru datang dengan mobilnya.
Ia langsung melempar tas selempangnya, Brian dan Melisa nampak binggung. Yumna mulai berjalan dengan menyiapkan diri ketika melihat Ken sudah turun dengan membawa barang di kedua tanganya. Yumna mulai bersiap - siap berlari, Ken melihat arah dan tatapan Yumna padanya.
__ADS_1
Yumna pun berlari dengan penuh keyakinan dengan wajah tersenyum, Kem terdiam dengan mulut melonggo, mengingat kembali saat menceritakan pada dokter, “Dalam penglihatan yang kulihat kali ini wanita itu berlari ke arahku. Dia memelukku setelah berlari ke arahku. Tapi bagaimana jika aku tidak menggenggamnya saat ini? Apakah aku dapat menghilangkan dia dari hidupku?”
Brian dan Melisa melonggo melihat Yumna seperti melayang di udara. Dan Ken masih memegang barangnya di kedua tanganya.