DI PERSIMPANGAN DILEMA

DI PERSIMPANGAN DILEMA
Bagian 44


__ADS_3

Di sebuah bioskop


Seorang Produser memuji suara film ini mengagumkan, menurutnya Ken bisa mendengarkan suara yang dibuatnya itu sangat menakjubkan. Ken mengangguk. Produser itu pun mengajak Ken untuk makan setelah itu.


Ken menonton di bioskop sendirian, walaupun yang lain terlihat berpasangan, dalam adegan perkelahian ia seperti melihat layar berubah menjadi pertengkaran dirinya dengan Yumna yang akhirnya mereka berciuman.


Kenangan dengan Yumna seperti kembali terputar, saat Yumna memeluknya lalu menjerit bahagia karena mengetahui ia mengakui perasaanya yang sangat menyukainya. Setelah semua terbongkar, Yumna meminta agar sembunyi - sembunyi menjalin hubungan lalu baru putus.


“Tanpa ada yang tahu, biarlah kita saling bertemu baru kita putus. Jika aku putus denganmu karena rasa marahku sekarang, aku bisa menderita untuk waktu yang lama.” ucap Yumna.


Tapi Ken memilih untuk meninggalkan dan membiarkan Yumna menangis sendirian. 


Ken berjalan pulang dari bioskop, langkahnya terhenti melihat sosok Yumna yang berjalan berlawan arah, mengingatkan saat melihat Yumna saat tanganya di gips. Yumna terus berjalan seperti tak menyadari kalau Ken ada didepanya, ketika semakin mendekat ia baru menyadari Ken berdiri di depannya.


Keduanya saling menatap tapi Yumna memilih terus melangkah tanpa memikirkanya, ketika saling berpapasan Ken bertanya mau kemana Yumna. Langkah Yumna terhenti mengingatkan tak usah saling menyapa kalau berpapasan di jalan.


Saat itu Ken mengingat kembali pengelihatanya berkata, “Maaf karena aku sudah menyapamu.” Dengan nada sinis. Ia berkata pada Yumna sesuai dengan hatinya, menyuruh Yumna untuk mengganti sepatunya. Langkah Yumna pun kembali terhenti, Ken mengatakan suara ketukan sepatunya tidak nyaman di pakai.


Yumna kembali berjalan seolah tak peduli, Ken kembali melihat Harry yang menghampiri Yumna lalu sebuah balon meledak, dan membuatnya tersenyum bahagia lalu bergandengan jalan bersama. Ken melihat Harry yang menghampiri Yumna dengan senyuman lalu sebuah balon meledak, akhirnya ia memilih untuk pergi tak ingin melihat sesuatu yang menyakitkan hatinya.


Harry mengulurkan tangan ingin mengandeng tangan Yumna, tapi Yumna memilih untuk menyelempangkan tasnya dan melipat tanganya didada. Harry hanya bisa diam saja melihat sikap dingin Yumna, Ken berjalan diarah berlawanan dengan penuh amarah. 


Ken duduk termenung dirumahnya, Brian melihatnya memberitahu kalau ada berita mengejutkan yang akan membuat Ken melupakan penderitaannya, tapi akhirnya mengubah niatnya tidak bisa memberitahunya walaupun sebenarnya sangat ingin memberitahunya.


“Aku bisa kena pukul kalau aku memberitahumu. Tapi dengan berita ini, kamu bisa melupakan semuanya.” kata Brian berdiri dari tempat duduknya.


“Aku punya kartu tersembunyi yang akan membuatmu tutup mulut.” kata Melisa keluar dari kamarnya.


Brian memberikan kode mengerti tak akan memberitahunya, lalu menyuruhnya untuk segara pergi. Melisa pun pergi meninggalkan keduanya. Brian pikir kalau mereka punya hobi yang sama maka mereka bisa bersenang - senang, lalu mengajaknya untuk pergi ke klub, bar, atau  kemana pun malam ini. 


Ken hanya berbaring di atas karpet, Brian binggung kenapa Ken berbaring di sana. Ken mengatakan sangat lelah, Brian menyuruh Ken untuk pergi ke kamarnya kalau memang mau tidur. Ken mengatakan terlalu lelah untuk pergi ke kamarnya, seperti ia merasakan tubuhnya itu baru ditabrak oleh mobil dengan kecepatan tinggi dan terbaring di aspal dengan semua luka di sekujur kepalanya. Air matanya mengalir mengingat senyuman bahagia Yumna yang terakhir dilihatnya.


Ibunya membersihkan meja, sementara ayahnya sedang menonton TV. Yumna masuk rumah dengan berjinjit. Ibunya bertanya apakah Yumna sudah makan, Yumna mengatakan sudah. Ibunya bertanya ada apa dengan anaknya, Yumna mengaku kakinya sakit.


Dibagian tumitnya terlihat luka lecet akibat sepatu yang dipakai kekecilan. Yumna menuangkan air minum ke gelas, memberitahu mau tidur seharian besok, jadi jangan meminta agar tak membangunkannya. Ibu Yumna bertanya apakah demam Yumna belum sembuh juga. Yumna hanya minum air saja.


“Kenapa obatnya tidak ampuh? Apa kamu mau pergi ke rumah sakit esok?” kata Ibunya khawatir.


“Aku baik - baik saja dan sudah baikan.” kata Yumna berjalan masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Yumna berbaring di kamar, dengan wajah memerah dan juga kakinya penuh obat merah karena lecet. Ia memiringkan tubuhnya dengan mata sedikit terbuka.


Flash Back


Yumna berjalan di kantor dengan sepatu kekecilan lalu berjalan kesana kemari menemui timnya.


“Jika aku berjalan seharian memakai  sepatu kekecilan, aku bisa mengurangi rasa rinduku padanya. Karena yang kupikirkan adalah kakiku. Lalu pulang, aku melepas sepatuku. Aku jadi senang dan lega meski sesaat.”


Ketiga pagi hari melihat sepatu Ken membuatnya memilih mengunakan sepatu yang ukurannya kecil, lalu ia melihat gel branya yang mengingatkan saat berlari ke pelukan Ken dan membuat gel branya terlepas.


“Karena kenangan akan dirimu terus bermunculan. Dimana pun dan kapan pun aku sedih bila memikirkanmu makanya aku ingin kakiku jadi lebih sakit dan sakit lagi.”


Di malam hari, Yumna selalu mengecek ponselnya dan mengingat saat berjalan meninggalkan Ken tak memperdulikanya, tapi sebenarnya ia menahan tangisnya.


“Setiap kali aku cek ponselku waktu tengah malam. Aku berusaha melangkah ke depan. Tapi pikiranku ingin berjalan ke arahmu. Sakit. Ini sangat menyakitkan. Jika aku kesakitan sampai tak bisa mengangkat jariku ... atau aku tak bisa sadar lagi. Aku bisa berhenti memikirkan dia. Semakin tinggi demam yang kualami maka semakin sedikit aku memikirkannya, meski pun aku merasa sakit, tapi aku merasa baikan.”


Yumna tertidur dengan setengah sadar dengan demam semakin tinggi membuat wajahnya sangat merah. 


 Ibu Yumna ingin membuang sampah menemukan bungkus obat milik anaknya, yang harus diminum tiga kali sehari, tapi obatnya masih utuh. Dengan wajah panik masuk kamar anaknya berusah membangunkanya, tapi Yumna seperti setengah sadar dan melihat wajah ibunya berbayang. Yumna akhirnya jatuh lemas ditempat tidurnya.


Yumna dilarikan ke UGD, ibu dan ayahnya terlihat panik terus membangunkan Yumna agar tetap bisa membuka matanya. Yumna sedikit membuka matanya, seperti melihat Ken yang duduk diruang tunggu, dalam hatinya bergumam kalau ia pasti berkhayal. 


 Yumna terbangun dan sadar sudah ada dirumah sakit.


Yumna akhirnya duduk di atas tempat tidurnya, perawat datang melihatnya.  Yumna meminta untuk melepaska saja, perawat itu heran karena Yumna harus diinfus, Yumna mengatakan kalau ia tak mau di infus. 


Ken seperti baru selesai di infus dan perawat meminta agar terus menekan plesternya. Lalu dua perawat pun membuka tirai yang menutupi dua tempat tidur. Ken melihat lebih dulu Yumna yang masih meminum air putih. Yumna terdiam ketika melihat Ken ada didepanya, keduanya saling menatap tapi setelah itu Yumna buru - buru menarik tirai agar tak melihat Ken. 


Akhirnya Ken melangkah pergi, tapi ia kembali membalikan badannya dalam pengelihatanya ia berkata “Jangan sampai sakit.” Dengan tatapan dingin dan terlihat lemparan gelas yang hampir mengenai kepalanya.


“Aku senang melihatmu! Tidak adil kalau Cuma aku saja yang sakit. Aku senang sekali kamu sakit juga!” teriak Ken mengeluarkan semua isi hatinya.


“Jika kita bisa memutar kembali waktu ... aku juga akan merusak pernikahanmu dengan cara yang sama. Aku akan membuatmu pindah bertetanggaan denganku lagi dan bertemu denganmu lagi. Maafkan aku. Aku bener-benar meminta maaf. Tapi aku tidak menyesal menghancurkan pernikahanmu!” tegas Ken dengan nada tinggi lalu kembali membalikan badannya.


“Maafkan aku. Tapi beginilah perasaanku. Aku sakit karena aku  tidak bisa memelukmu.” Akui Ken hanya melihat bagian pipi Yumna lalu berjalan meninggalkan IGD.


Yumna masih tetap duduk dengan memegang gelasnya erat - erat, Ken terus berjalan melewati pintu lobby seperti tak menyangkan dirinya bisa meluapkan perasaan yang sejujurnya. Ia pun berjalan di taman rumah sakit, dari belakang terlihat orang yang berlari kearahnya. Yumna berlari sambil menangis, ketika Ken membalikan badanya langsung mendapatkan pelukan dari Yumna. Keduanya berpelukan sangat erat melampiaskan rasa rindunya selama ini, keduanya lalu saling menatap dan tersenyum bahagia, Yumna pun mencium Ken lebih dulu, keduanya pun berciuman ditaman rumah sakit. 


Ditaman, Yumna dan Ken berjalan dengan bergandengan tangan, lalu keduanya tak malu untuk berpelukan, saling menatap bahagia dan kembali bergandengan tangan. Yumna tak bisa menutupi rasa bahagia, dengan memeluk pinggang Ken erat - erat. Keduanya pun kembali berpelukan, seperti melampiaskan kerinduan.

__ADS_1


Keduanya tertawa bahagia, Ken mengajaknya untuk pergi tapi Yumna menggeleng tetap ingin tinggal. Keduanya saling berpegangan dua tangan, sambil bertertawa menyusuri jalan ke rumah Ken, Yumna melingkarkan tanganya di pinggang Ken dan menarik tangan Ken untuk memeluknya dan kembali berjalan bersama-sama. Keduanya kembali berpelukan.


Ken berdiri dengan bersandar di dinding seperti saat bertengkar dengan Ken sebelumnya dan berciuman, Ken tertawa mengingatnya, keduanya berpelukan kembali, Yumna merasa Ken seperti obat karena dirinya merasa baikan, dengan menaruh tangan di dahinya kalau  Demamnya juga sudah turun. Ken tersenyum lalu memberikan kecupan di bibir Yumna, keduanya pun kembali berpelukan. 


Ken dan Yumna sudah ada di taman dengan tangan Ken yang memeluk erat pinggang Ken didepanya. Yumna mengelus tangan Ken yang memeluk pinggangnya, lalu membalikan badanya mengatakan banyak yang sudah dialami Ken jadi ia mengucapkan Terima kasih atas usaha Ken.


“Kita berdua ... kita berdua sudah berusaha keras. Jika kau tidak mengejarku, kita pasti akan berpisah selamanya .... terima kasih ... kupikir kamu membuatku minta maaf setengah hati dan kau pergi begitu saja.” ucap Yumna, Ken teringat dirinya terkapar di aspal dengan berlumuran darah.


“Aku sudah memikirkannya. Bagaimana jika aku mati? Jika aku melihat kenangan ini sewaktu aku mati. Kesimpulanku adalah ... ini semua bukan apa - apa, aku tak boleh ragu dan akan menuruti kata hatiku. Janganlah menahan diri serta lalui saja.” ucap Ken.


‘Aku suka kalimat itu "Aku akan menuruti kata hatiku. Janganlah menahan diri serta lalui saja." ungkap Yumna lalu kembali membalikan tubuhnya dengan memegang tangan Ken yang terus memeluknya.


“Semua pria yang kukenal itu menyedihkan. Ada Pria yang akan mempermainkan wanita maka aku yang akan berhati - hati. Ada Pria yang akan mencampakkan wanita karena malu atas kekurangannya. Tak pernah ada pria yang membuat hatiku tergerak karena pria itu berani mengisi hatiku. Aku dulu tak berperasaan tapi sekarang aku sangat senang.” akui Yumna mendengan menyenderkan kepalanya pada pundak Ken. Ken pun semakin mengeratkan pelukanya.


"Jika aku melihatmu ragu - ragu lagi. Aku akan membunuhmu.” ancam Yumna, Ken mempersilahkanya.


“Jika kamu terus bilang iya tapi nyatanya tidak, aku tidak akan memaafkanmu.” kata Yumna, Ken berjanji tidak akan begitu.


Yumna mengatakan kalau ia akan begitu, Ken menantang menyuruh Yumna lakukan saja seperti itu kalau memang bisa. Yumna tersenyum karena memang dirinya selalu mengungkapkan seluruh hatinya secara blak - blakan. 


Di depan rumah


Ken dan Yumna saling berhadapan sambil berpegangan tangan, keduanya saling menatap tak bisa menutupi rasa bahagia. Ken terus memegang tangan Yumna seolah - olah tak mau berpisah. Yumna menariknya masuk ke dalam rumah, Ken tersenyum dengan tingkah gila pacarnya.


Tapi setelah itu Ken mengalahkan mundur, Yumna tak ingin melepaskanya terus memegang erat tanganya, Ken terus berjalan mundur agar Hae Young bisa masuk, tapi Yumna tetap memegang tanganya. Sampai akhirnya Ken berusaha keras melepaskanya dan melambaikan tanganya sebagai salam perpisahan.


Yumna pun melambaikan tangan sambil berjalan mundur, Ken terus melihatnya agar Yumna bisa masuk ke rumah. Yumna masih melambaikan tanganya pada Ken yang berjalan meninggalkan rumahnya, keduanya salin mengintip sampai Ken tak terlihat dan Yumna masuk kedalam rumah. 


Yumna berbaring di lantai tak bisa menahan tawa bahagianya, bisa kembali dengan Ken. Akhirnya ia menjerit dan bergulingan di lantai kesana kemari karena saking bahagianya, dan mengetukan kakinya ke lantai.


Ia duduk mengambil boneka tawanya dan menyalakanya, si boneka tertawa sambil mengerakan tanganya, Yumna pun mengikutinya dengan tertawa mengoyangkan tanganya. Ketika boneka jatuh sambil bertawa, Yumna juga mengikutinya dengan mengoyangkan kakinya dan menjerit bahagia. 


Ibu Yumna dan suaminya pulang kerumah dengan wajah panik, lalu melihat anaknya yang sudah duduk dimeja makan dengan menyendok nasinya. Yumna melihat kedua orang tuanya mengeluarkan sendok dari mulutnya. Ibunya langsung memukul anaknya bertanya darimana mana saja. Suaminya pun menahan istrinya agar tak kalap.


“Kami sudah memeriksa atap dan tangga rumah sakit! Kami kira kamu sudah mati! Darimana saja kamu?” teriak Ibu Yumna panik.


“Aku pulang karena sudah merasa baikan.” ucap Yumna.


“Kamu harusnya beritahu kami kalau mau pulang!” teriak Ibu Yumna.

__ADS_1


“Aku pulang ke rumah karena tidak lihat kalian di RS.” Kata Yumna membela diri, Ibu Yumna memeriksa dahi anaknya, lalu menoyornya kebelakang.


“Orang yang masih muda memang cepat sembuh.” Komentar Ibu Yumna sinis lalu masuk kamar. Yumna seperti tak peduli memilih untuk makan saja dengan senyuman bahagia. 


__ADS_2