DI PERSIMPANGAN DILEMA

DI PERSIMPANGAN DILEMA
Bagian 47.


__ADS_3

Keduanya berbaring dengan melihat langit yang penuh dengan bintang berkilauan. Yumna terpana dengan mata berkaca - kaca mengajak Ken untuk mati saja karena ini hari bahagia di hidupnya. Ken kembali menggulingkan badanya dan menatap Ken yang berada dibawahnya, mulai mendekat untuk menciumnya. 


“Kenzie! Kenzie!” teriak seorang dari toa. Yumna dan Ken kaget mendengar ada orang yang memanggil nama Ken.


“Kenapa tidak jawab? Aku tahu kamu ada di sana! Kamu sudah dikepung!” teriak polisi dari mobil polisinya.


Beberapa polisi swat mulai menyusuri lapangan gandum untuk mencari Ken seperti seorang buronan, lampu sorot pun menyirani bagian ladang gandum yang gelap.


“Kencan macam apa ini? Kamu ada di ladang gandum! Kamu sudah seharian disini! Selesaikan urusanmu sekarang juga dan keluar!!” teriak Polisi kesal. Ken dan Yumna akhirnya berdiri dengan sinar lampu yang menyilaukanya. 😂😂


Kantor polisi.


Kiki dan Tyo menghadap ke depan meja lobby polisi dengan tangan seperti berdoa, sementara Kenzo dan kawan - kawan berdiri dibelakanganya. Polisi memuji Kiki dan Tyo itu terlihat seperti detektif. Keduanya tersenyum bahagia.


“Kalian melakukan Kejahatan meniru polisi dan melanggar hukum,  Kamu berada dalam kesulitan besar sekarang.” yang cap polisi membuat senyum keduanya hilang.


Semua terlihat kebinggungan dengan nasibnya, Kenzo menghela nafas panjang. Yumna hanya bisa melirik Kenzie tanpa bisa membela diri. 


Flash Back


Semua pun naik mobil, Yumna menelp Ibunya dan terdengar umpatan ibunya yang sangat marah.


“Bajingan itu! Padahal mereka sudah tua, kenapa mereka melakukan hal itu? Dan kamu! Akan kupatahkan kakimu dan akan menguncimu di rumah. Jika tidak, aku akan mati duluan! Kamu sudah melakukan aksi gila!!! Kalau kamu sudah sampai ke rumah kamu akan mati di tanganku! Dasar ******!” teriak Ibu Yumna.


Kenzo hanya bisa terdiam mendengar jeritan Ibu Yumna yang bisa didenganya, sementara si anak sedikit menjauhkan ponselnya. 


Di depan sel kantor polisi


Yumna dan Kenzie hanya bisa tertunduk dengan Ibu dan Ayah Yumna didepan mereka. Kenzie pun memulai dengan membungkuk meminta maaf. Ibu Yumna menyuruh Ken mengambil anaknya saja. Ken dan Yumna kaget. Ibu Yumna menyuruh Ken yang mengantar anaknya pulang lalu berjalan pergi.


Ayah Yumna bingung dengan sikap istrinya, tiba - tiba istrinya berhenti melangkah. Ken langsung menarik Yumna untuk berada dibelakangnya. Ibu Yumna menyuruh suaminya membiarkan mereka saja, lalu kembali berjalan pergi. Suaminya benar - benar tak mengerti dan mengikuti Istrinya. Yumna hanya melirik pada Ken.


❤️❤️❤️❤️❤️


Brian dan Melisa makan malam steak bersama disebuah restoran yang terlihat mewah. Brian menanyakan pendapatnya pasti enak rasanya. Melisa mengatakan biasa saja. Brian mengeluh Melisa itu membuatnya kecewa dan memberitahu berapa harga steaknya itu. Melisa akan makan nanas, Brian langsung menarik garpu Melisa.


“Apa kamu gila? Apa Kamu tidak tahu tidak boleh makan nanas saat sedang hamil? Kamu pasti tidak tahu!!!  Kamu itu akan menjadi ibu.” ucap Brian mengomel. Melisa merasa itu cuma mitos.


“Apa pun itu, lebih baik kamu tak usah memakannya. Aku ingin kamu segera pulang kerumahku,  tapi aku belum mampu melakukannya, karena tidak baik pergi kalau ada orang hamil di rumah. Sekali - kali carilah di internet. Apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak sewaktu hamil. Sekarang kamu punya banyak waktu karena kamu tidak minum lagi.” ucap Brian bersikap seperti Ayah dari bayi.


Brian ingin kembali makan, lalu melihat sosok wanita yang datang dengan sumringah tak percaya wanita itu datang dan ingin mendekatinya, tapi wanita dibelakangnya membuat Brian panik dengan menutup wajahnya, bertanya apa yang sedang terjadi dan Kenapa mereka berjalan bersamaan.


Melisa melihat wanita yang datang mendekati meja mereka, Brian melihat wanita lain juga masuk wajahnya makin panik kenapa semua wanita yang dikencaninya berkumpul, ketika ingin kabur dua wanita datang didepanya. Akhirnya Brian dikepung oleh enam wanita didepan mejanya dan duduk dengan wajah tertunduk, Melisa dengan santai kembali makan steaknya.


“Tak usah pedulikan aku, urusi saja masalah kalian. Aku hanya datang ke sini untuk makan.” ucap Melisa.


“Jadi dia tahu laki - laki macam apa kamu?” kata si wanita rambut panjang, Melisa mengatakan sudah mengetahuinya jadi menyuruhnya untuk melanjutkanya.


“Aku sudah melihat ponselmu, karena penasaran kamu menyimpan kontakku dengan nama apa, sayangku atau cuma namaku saja? Tapi nomorku, disimpan pakai nama "Senin".  Aku penasaran kenapa namanya Senin. Tapi ternyata, ada Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu. Tapi, tidak ada Minggu. Apa hari Minggu itu hari istirahatmu? Bagaimana rasanya, bertemu kami semua sekaligus?” kata si wanita membuat Brian melonggarkan dasinya.

__ADS_1


“Aku memikirkan bagaimana cara mengakhirinya. Tapi ini tidak bisa harus diakhiri begitu saja. Jadi kami semua ingin menghabisimu.” Kata si wanita rambut panjang dengan semua wanita mulai mendekat untuk menghajar Brian. 


Melisa keluar dari restoran berjalan sendirian, Brian sudah mulai dikepung wanita untuk menghajarnya ditaman, dengan wajah panik meminta mereka semua untuk membicarakan hal ini.


“Cukup! Cukup! Jangan sentuh dia, pergilah kalian.” ucap Melisa yang membuat semuanya melongo.


“Kenapa repot - repot  menghabisi dia? Ini sebagian kesalahan kalian kenapa bisa tertipu olehnya.” ucap Melisa.


“Kenapa kamu ikut campur? Siapa kamu, wanita tua?” ucap si wanita berambut panjang.


“Aku Berlian dan aku ini Bibi. Aku adalah wanita yang hari Minggu. Dia bersamaku hari minggu dan Kami hidup bersama.” ucap Melisa.


Si wanita tak percaya kalau mereka berdua sudah menikah, Brian menyangkal kalau belum menikah. Melisa memberikan saran untuk tidak fokus pada penampilan, pekerjaan, atau uang tapi berkencan  dengan seorang pria karena kepribadiannya. Lalu berjalan melihat si wanita rambut panjang seperti tak bisa menerima perkataannya.


“Kamu harusnya punya karakter yang tepat supaya bisa membedakannya. Kalau begitu, teruslah fokus  pada penampilan luar dan bertemu pecundang seperti dia. Fighting!” kata Melisa.


Si wanita rambut panjang tak terima langsung menarik rambut Melisa, Brian hanya bisa melonggo kaget, Melisa memanggil Kakak kalau itu sangat seram, tapi setelah itu bisa berdiri dengan sempurna berkomentar kalau itu sangat mengecewakan dan akhirnya mengeluarkan jurusnya membuat semua wanita jatuh. Brian hanya bisa diam saja melihat Melisa sampai jungkir balik didepanya. 


Di sebuah dinding penyanggah.


Brian mengucapkan terimakasih karena Melisa bisa menanganinya sekaligus menurutnya wanita memang selalu lebih baik menangani wanita lainnya. Melisa hanya diam saja, Brian memikirkan caranya nanti bisa berganti - ganti wanita lagi. Melisa pun tetap diam saja. Akhirnya Brian pun mengucapkan permintaan maafnya.


"Brian saat aku memikirkan mu waktu SMA, kamu sangat manis. Kamu dulu sungguh menggemaskan, kamu pulang sambil nangis karena kepala sekolahmu meninggal. Kamu menggemaskan saat mendorong gerobak tukang sampah.di komplek rumah.” cerita Melisa mengingatnya, Brian mendengarkan sambil menyandarkan tubuhnya.


"Ketika kamu belajar dengan Ken, kalian berdua menungguku di halte bus kalau aku pulang telat. Jadi ketika aku melihatmu di halte bus, kamu itu menggemaskan dan membuatku bahagia. Ketika aku memikirkanmu waktu kamu SMA, kamu sangat manis. Tapi kenapa mendadak dirimu berubah? Aku yakin hanya kamu yang tahu alasannya. Pasti ada yang telah terjadi benarkan?” kata Melisa berdiri dengan sejajar dengan Brian.


Brian tertunduk diam tak menjawabnya, Melisa menatapnya dengan memanggilnya dan memuji teman adiknya itu sangat keren sekali. Bria heran dengan sikap Melisa tiba - tiba memujinya, membuatnya ingin menangis.


“Aku takkan memberitahu kalau kamulah Ayah anak ini. Tapi aku ingin Yyah bayi ini menjadi seseorang yang hebat, meski Ayahnya tidak berada di sisi anaknya. Ayah yang terhormat dan keren.” gumam Melisa menengok melihat Brian nampak berkaca - kaca dan melongo. 


*********


Ibu Yumna dan Ayahnya sudah berada di dalam kamar, Tuan Abraham masih menonton berita sementara Ibu Yumna sudah berbaring. Yumna masuk rumah dengan berperlahan - lahan masuk kedalam kamarnya, memastikan Ayah dan Ibunya tak bangun.


Tuan Abraham melihat anaknya yang baru pulang dan masuk kamar, Ibu Yumna sudah menutup matanya mengumpat anaknya itu gila karena mengira mereka tak tahu. Tuan Abraham meminta istrinya agar membiarkan saja, menurutnya tak ada gunanya menyuruh keduanya untuk berpisah


Restoran ayam


Brian memesan dua bungkus ayam goreng untuk dibawa pulang, lalu bertanya apakah mereka tak punya layanan antar. Pelayan memberitahu belum memiliki jasa itu. Brian pikir tak masalah karena hanya 10 menit dari rumah lalu membawa pulang ayam gorengnya.


Melisa dan Kenzo makan ayam goreng dengan Colla diruang tengah, sementara Ken memilih minum air putih di meja makan. Brian selesai mandi mengungkapkan setelah menjadi seorang pengacara tak pernah menyangka harus mengeluarkan Ken dari penjara.


“Kenapa wanita itu sebenarnya? Dia sungguh jatuh cinta padanya.” ucap Brian heran.


“Aku bertemu dia hari ini dan ternyata wanita banyak bicara dan sangat cerewet.” kata Kenzo, Brian tahu Ken itu tak suka wanita cerewet.


“Pasti ada pesona  dari wanita itu yang membuat kakak seperti itu.” kata Kenzo.


Brian penasaran apa yang menarik dalam diri Yumna, Melisa menyuruh untuk bertanya langsung saja pada orangnya. Brian mengeluh karena pasti tak mungkin Kenzie memberitahunya lalu duduk sambil minum colla dari botolnya. Kenzo mengumpat memanggil “Brian Anjing” karena sudah memberitahu untuk tak minum dari botol. Brian membela diri kalau mulutnya tak kotor seperti Kenzo kembali minum.

__ADS_1


Kenzo langsung menendang pundaknya dan kembali mengumpat, kaki Melisa tiba - tiba langsung mengunci kaki adiknya dan langsung menariknya sampai terjatuh dari kursi lalu menaruh kaki di leher adiknya, menyuruh untuk mengulangi panggilan tadi. Kenzo terlihat tak bisa bernafas karena lehernya di injak.


“Kamu panggil dia, Brian Anjing? Kamu itu lebih muda darinya. Beraninya kamu menendangnya?!! Dan beraninya kamu menambahkan  "Anjing" ke namanya?” ucap Melisa lalu menaikan kaki ke wajah adiknya.


“Apa Kamu sedang kerasukan ? Aku biasa melakukan itu padanya.” ucap Kenzo akhirnya kaki Melisa pun diangkat, Ken dan Brian bingung melihat sikap Melisa.


“Dari namanya saja, sudah membuat dia seperti karya Tuhan yang paling menjijikkan. Beraninya kamu menambahkan "Anjing" di depan namanya? Kamu malah membuatnya lebih menjijiikkan. Brian berusia 36 tahun dan menuju 40 an. Apa kamu masih memanggilnya Anjing Brian setelah dia 40 an? Setelah dia menikah lalu punya anak, akankah kamu masih memanggilnya Brian Anjing?” ucap Melisa kembali duduk dengan nada tinggi .


"Tapi kakak lah yang sekarang  terus memanggilnya "Anjing Brian".” ucap Kenzo memegang wajahnya yang kesakitan.


Melisa memerintahkan mulai sekarang, adiknya harus menghormati Brian, lalu memarahi Brian yang hanya membiarkan saja ketika Kenzo yang lebih muda darinya bersikap kasar. Brian dan Ken terlihat mengerutkan dahi, kebingungan. Melisa menegaskan ada perbedaan antara menjadi dekat dan bersikap kasar, menurut nya jika adiknya sudah melewati batas maka Brian harus memperingatkan dia.


“Kamu harus berkelakuan baik kalau kamu ingin diperlakukan dengan baik. Jangan biarkan orang lain memperlakukanmu dengan buruk.” tegas Melisa.


“Kenapa kamu tiba - tiba bersikap seperti ini? rasanyas sangat aneh.” ucap Kenzie heran.


“Kamu memperlakukan dia dengan buruk, itu membuatku tidak nyaman. Jadi hentikan.” kata Melisa pada Ken.


“Kakak lah yang selalu memperlakukan dia lebih buruk!!!! Lalu kenapa sekarang?” teriak Kenzo.


Melisa langsung melempar bantal menyuruh adiknya berhenti bicara, Brian sedari tadi hanya bisa melongo, lalu tanganya memegang kepalanya terlihat frustasi, lalu mengatakan kalau tahu alasanya dan membuatnya merasakan merinding. Kenzo bertanya ada apa dengan Brian yang terlihat aneh.


Brian menggelengkan kepala tak percaya menatap Melisa yang memakan ayam goreng, Ken melihat Brian yang mulai berjalan mundur menjauh dari meja. Brian dengan mata berkaca - kaca berharap kalau bukan seperti dugaannya. Kenzie bertanya ada apa sebenarnya dengan mereka berdua.


“Aish, kita tidak pernah melakukan itu! Kamu belum pernah melakukannya denganku! Tidak mungkin! Omong kosong!” jerit Brian, Ken dan Kenzo makin kebingungan.


“Ahh. Mimpi itu!” jerit Brian, Melisa membenarkan dengan mata berkaca - kaca, kalau mimpi itu artinya seorang bayi. Kenzo dan Kenzie melongo mendengarnya. Brian menjerit histeris dengan menutupi wajahnya mengunakan handuk.


Brian sudah didorong masuk ke dalam kamar temanya, Ken langsung mengumpat menendang temanya yang berani menghamili kakaknya. Brian berusaha membela diri kalau itu tak benar, dengan melepaskan dua kakak berani yang ingin memukulnya.


“Hey, siapa yang lebih menderita di sini?!!” jerit Brian tak terima.


“Karena kejahatan yang telah kamu lakukan berganti - ganti wanita, maka kamu dihukum seumur hidup, yaitu hidup bersama dengan Kenzie.” ucap Kenzo layaknya seorang hakim dipengadilan.


Brian mengumpat dan keduanya saling kejar - kejaran, akhinya Kenzo bisa menjatuhkan Brian di sofa dengan memegang tanganya sementara Ken menduduki tubuh temanya agar tak kabur. Kenzo menegaskan Brian tidak bisa menyembunyikan kebenarannya dan kembali memanggilnya “Brian Anjing” Brian menjerit histeris tak percaya kalau itu terjadi pada dirinya. 


Jejeran botol bir dan soju sudah kosong diatas meja, tapi Ken dan Brian masih bertahan dengan meminum boto wine bergantian. Ken tertawa melihat nasib temanya, Brian mengeluarkan semua ****** dari saku celananya dengan berbagai macam jenis, sambil menangis melemparkan ke udara, akhirnya satu buah ****** pun jatuh diatas matanya, seperti merasa sia - sia akhirnya menghamili satu wanita yaitu Melisa. 


Dengan mata setengah terbuka keduanya pindah ke mini market untuk makan ramyon, Do Kyung bertanya apakah terlalu sulit, Jin Sang balik bertanya apa ini akan berhasil, Akhirnya kedua kepala mereka saling beradu tak ingin ada yang jatuh.


Brian pulang kerumah, menyandarkan kepalanya di depan pintu kamar dan mengetuknya, sampai akhirnya jatuh lemas didepan pintu. Melisa hanya diam saja didalam kamar mendengar ada bunyi suara diketuk, ia berbaring tertidur sambil menangis karena memberitahu Ayah dari bayi yang dikandungnya.


Ken masuk kamarnya dengan berjalan sempoyongan berbaring dikamarnya sambil menelp, hanya memanggil nama Yumna beberapa kali. Yumna tersenyum dan membalasnya dengan panggilan “Kakak” keduanya terus memanggil seperti orang yang benar - benar sedang kasmaran. 


Esok paginya


Yumna bertemu dengan Harry disebuah cafe. Harry menatap Yumna sementara Yumna memilih untuk menundukan arah pandangan matanya lalu meminta maaf. Harry hanya bisa menghela nafas sambil tertunduk. Yumna sadar dirinya lah yang gila dalam situasi ini.


“Aku tidak akan memintamu memaafkan dia dan aku juga tidak akan memintamu memaafkan ku. Aku akan terima resikonya.” ucap Yumna.

__ADS_1


“Sungguh jamu membuatku seperti orang bodoh.” kata Harry menatap Yumna dan Yumna dengan mata berkaca - kaca hanya bisa mengucapkan permintaan maafnya.


Yumna keluar meninggalkan cafe, seperti berhenti ingin menatap belakang, tapi langkahnya terus maju. Harry hanya diam dengan menahan rasa sedihnya. 


__ADS_2