
Ibu Yumna sibuk mencuci piring, Yumna baru pulang kerumah melihat ada nasi di dala rice cooker, lalu mencari dikulkas menemukan wortel, ikan teri goring lalu bertanya apakah ibunya tak memiliki lauk yang lain, karena membutuhnya. Ibu Yumna melepaskan sarung tangan hanya diam saja, Yumna pun mengambil rumput laut sambil mengeluh tak ada yang lain.
Ia sibuk mengambil minyak wijen dilemari lalu mangkuk besar, sambil terus mengeluh tak ada lauk dan sayuran yang lain, mengambil talenan, pisau. Tuan Abraham hanya diam saja, Ibu Yumna dengan tatapan kosong keluar dari rumah.
“22 Mei 1985 ... Ada bayi perempuan lahir di kota ini. Nama awalnya "Perempuan" nama akhirnya "Gila" Aku benci padanya karena mirip denganku ... Aku cinta padanya karena mirip denganku. Kenapa orang yang punya hati besar selalu hidupnya menyedihkan?”
Ibu Yumna membeli sesuatu dari minimarket lalu membayarnya dan kembali.
“Karena hatinya besar. Perempuan gila itu akan menghadapi kesulitan yang pernah kulalui. Makanya aku membencinya ... dan juga cinta padanya. Perempuan gila yang membawa pulang kaleng yang sudah ditendangnya hanya karena dia tidak bisa membuangnya, aku dulu marah sekali. Lalu aku berpikir itu manis sekali.”
Yumna sedang asik mencincang wortel sampai kecil - kecil, Ibu Yumna melempar kantung plastiknya. Yumna tersenyum bahagia karena membelikan yang dibutuhkanya. Ibu Yumna hanya diam membersihkan wastafel yang penuh dengan sampah.
"Perempuan gila yang mencurahkan cintanya pada seorang lelaki. Entah kenapa aku jadi ingin menangis. Akankah aku merasa tidak terlalu sedih jika memihak padanya dan memberi semangat?” gumam Ibu Yumna melihat anaknya semangat sekali memasak.
Setelah itu keduanya terlihat sibuk membuat bola - bola nasi, bersama dengan Ayahnya juga.
“Daripada mematahkan semangatnya dan melarangnya, apa aku akan merasa lebih baik ... karena dia punya orang yang dia sayangi? Makanya hari ini, aku duduk disebelah perempuan gila itu dan melakukan ini.”
Ken menyetir mobilnya lalu menelp memberitahu hampir sampai, Yumna sudah menunggu di depan rumah, melihat mobil Ken datang langsung naik setelah itu masuk dengan senyuman bahagia. Sesampai di jalan Yumna mengeluh Ken sudah datang ke kantornya tapi tak menunjukan wajahnya, menurutnya terlalu jual mahal. Ken mengatakan tadi pagi sudah melihatnya.
Brian menelp dengan wajah melas bertanya kapan pulang, Ken mengatakan kenapa bertanya. Brian mengatakan pulang sama - sama. Ken mengatakan pulang larut, Yumna berbisik sebentar lagi mereka akan sampai.
“Aku buat banyak bekal, kita bisa makan sama - sama.” ucap Yumna.
“Aku dengar semuanya!” teriak Brian mengetahui Ken berbohong.
“Aku tinggalkan sedikit makanan dibawah, makanlah kalau pulang. Jangan ke lantai 2.” tegas ken memperingatinya.
“Astaga, kalian saja makan sepuasnya! Bagus sekali! Brengsek!” teriak Brian kesal lalu menutup ponselnya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Nana membuat suara dari alat penyiram tanaman, terdengar seperti bergemericik. Lalu Kenzo membuat suara petir dengan mengoyangkan seng, terlihat adegan hujan yang datang. Setelah itu keduanya mengikuti langkah sepasang pria dan wanita yang berlari ditengah - tengah hujan. Ponsel Kenzo bergetar, akhirnya menyingkir mengangkat telpnya.
Brian kembali bertanya kapan Kenzo pulang, Kenzo tahu Brian itu canggung kalau hanya berduaan dengan kakaknya, menurutnya tak masalah karena sudah berciuman.
“Biasanya kamu gila pada perempuan, kalau kamu perlakukan kakakku seperti itu. Maka aku akan sedih. Kamu lebih baik minum saja soju di depan toko kelontong lalu pulang.” ucap Kenzo lalu menutup telpnya. Brian hanya bisa menghela nafas panjang
Kenzo pun kembali melanjutkan merekam suara dengan bergandengan tangan lalu berlari bersama.
Arini masuk studio, si pria muda memberitahu belum selesai. Arini pikir akan melihat sekali lagi. Tak sengaja Kenzo dan Nana baru keluar langsung bertemu, terlihat wajah Adik Ken itu melonggo. Si pria muda menunjukan jalan. Kenzo berusaha menyapanya. Nana pun menebak kalau wanita itu.
__ADS_1
“Kamu cerita apa padanya? Dan Kamu, jangan melihatku begitu. Aku tidak perduli pada lelakimu.” kata Arini sinis pada keduanya.
“Dia bilang kamu merayunya.” ucap Nana polos, Kenzo panik meminta untuk diam.
“Bagaimana bisa aku mengajakmu kerja soal skenario?” teriak Arini, Nana mengejek kalau Arini marah pasti benar. Kenzo menarik nafas panjang.
Arini sinis bertanya umur Nana itu berapa, Kenzo memilih untuk pergi berpura - pura menerima telp dari sutradara. Nana mengejek kalau membicarakan umur pasti Arini kalah. Arini membalas kalau Nana itu pandai bicara jadi lanjutkan.
“Kalau kamu berhenti mengerjakan skenarionya bukankah terlihat lucu? Yah, kamu sepertinya tidak berusaha merayu Kakak karena kekurangan lelaki. Kali ini aku percaya kalian akan bekerja dengan profesional. Seandainya tidak percaya pada Kakak ku, maka kamu bisa datang saja ke cafe tempatku kerja sambilan.” kata Nana.
“Dari cara bicaramu, kamu lebih baik daripada pacarmu.” komentar Arini.
“Kamu sepertinya tidak tahu banyak soal pacarku, pacar ku sangat tampan.” bisik Nana seperti mengejek.
Kenzo hanya melihat dari luar, hanya tersenyum mengangguk mendengarnya. Arini membalas mengejek, sangat mengejutkan sekali, lalu melirik ke arah luar. Kenzo berpura - pura menelp diluar. Arini sengaja berkomentar dengan suara nyaring, kalau Kenzo memang keren. Nana melambaikan tangan akan bertemu di cafe lalu keluar sambil menepukk bongkong pacarnya, mengajak pergi. Kenzo terlihat malu - malu lalu berjalan pergi.
Brian berdiri sambil merokok, di kakinya ada dua buah melon kesukaan Melisa, terlihat wajahnya masih kebingungan. Di belakang Melisa melihat Brian dengan kepulan asap.
Flash Back
Brian dengan kacamatanya berjongkok sambil menghisap rokok, Melisa masih muda datang, menggodanya kalau Brian bukan artis papan atas jadi berhenti berlagak keren. Brian melirik lalu mematikan rokoknya, Melisa pun berjongkok disamping Brian.
“Kamu melakukan macam - macam,tapi aku suka kalau kamu tidak merokok. Apa Hasil tesnya sudah keluar? “ tanya Melisa, Brian hanya tertunduk diam seperti hasilnya tak baik.
“Aku masuk daftar wamil, timingnya pas sekali. Kenapa bisa keluar setelah aku gagal ujian advokat? Kalau aku belajar setelah wajib militer. Saat itu aku sudah bodoh.” keluh Brian.
“Apa tidak bisa ditunda lagi?” kata Melisa ikut sedih.
“Kamu Harus tetap pergi. Meskipun tidak suka, harus tetap dilakukan. Seorang pria harus bisa bertahan. Aku akan wajib militer. Aku harap rokok ini dapat membuatku merasa sedikit lebih baik.” ucap Brian menatap rokoknya.
“Jangan dihisap terlalu dalam. Kalau perokok pemula menghisap terlalu dalam, bisa tak sadarkan diri.” kata Melisa, baru saja selesai bicara Brian terlihat lemas dan tak sadarkan diri.
Melisa seperti sudah tahu Brian itu sedang frustasi lalu memilih untuk meninggalkanya. Brian masih tetap asik menikmati menghisap rokoknya.
Harry minum bersama Chakra, menceritakan sudah bikin banyak masalah, tapi rasanya tidak enak. Menurutnya Karena dibantu orang, jadi rasanya terlalu mudah, tapi membuatnya tidak semangat.
“Kamu merusak hidup orang, mana mungkin kamu senang m? Kalau memang itu mengusikmu, sebaiknya hentikan.” jelas Chakra tenang.
“Nyaris semua orang tahu. Kalau aku masuk penjara karena Ken. Setelah aku bebas, lalu dia mengambil wanitaku. Semuanya menunggu aku akan melakukan apa. Tapi, kalau aku berhenti sampai disini ... Aku ingin melakukan voting pada orang - orang Apa yang harus aku lakukan.” ucap Harry.
“Aku voting untuk berhenti sampai disini.” Kata Chakra mencoba agar Harry tak terlalu jauh, Harry pun meminum wine lalu diam saja.
__ADS_1
Yumna dan Ken selesai makan bersama dengan nasi bola yang dari rumah Ken mengungkapkan kalau rasanya enak. Ken menyuruh Yumna membiarkan saja karena kalau langsung dibersihkan tidak berperasaan, lalu teringat dimana lampu meja dan kotak musiknya. Ken menujuk di mejanya karena kantong belanja tak tersentuh.
“Aku ini Kekanakkan ya? Mengembalikan pemberianmu. MAku ingin tunjukkan kalau aku marah. Ini bisa membuatku memikirkanmu.” ucap Yumna mengambil kembali kantung belanjanya.
“Hari ini kau melakukan sesuatu dekat kantorku, Lalu Pagi ini kita ketemu. Kenapa memberi bunga?” tanya Yumna.
“Melihat bunga, aku mendadak memikirkan dirimu.” Kata Ken menggoda, Yumna berlari lalu langsung memeluknya dari belakang.
“Kenzo mulai bertindak. Kalau kamu suka sekali padaku, kenapa selama ini ditahan?” goda Yumna lalu berbisik mau sikat gigi. Ken hanya tersenyum mendengarnya.
Keduanya akhirnya mengosok gigi bersama, Yumna menceritakan kaktu pulang kantor, merasa sedih karena bunganya ketinggalan, rasanya seperti meninggalkan pacarnya, membayangkan meninggalkan di ruang kantor yang gelap sendirian membuatnya merasa, Ken duduk di meja gelap sendirian.
“Bagaimana pandanganmu kalau bunga itu layu?” tanya Ken.
“Memikirkannya hatiku rasanya sakit.” ungkap Yumna sedih, Ken menyuruh tak perlu berlebihan, Yumna pun mencoba menenangkan.
“Tapi, kenapa masih memanggilku seperti itu ?” keluh Ken
“Aku panggil saja namamu saja yah, aku belum pernah menyebut Kakak. Kata "Kakak" ... membuatku merasa geli.” ucap Yumna, Ken pun hanya bisa tersenyum.
Ken keluar dari toilet, menerima pesan dari Harry “Kenzo ada kabar bagus. Mulai besok akan ada masalah.“ Yumna masuk bertanya siapa yang mengirimkan pesan, Ken berbohong kalau supir panggilan lalu mengajak untuk mengikutinya.
Yumna belajar memutar alat perekam, lalu berkomentar Lelaki yang pandai dengan mesin selalu terlihat menarik. Ken bertanya alasan Yumna menyukainya pada pandangan pertama. Yumna pikir tak tahu kenapa bisa menyukainya,
“Orang bilang, kita akan langsung mengenali orang yang akan kita cintai. Kamu tidak jatuh cinta pada orang karena dia baik atau lainnya. Hanya ... pandangan pertama. Kamu mengenalinya.” ucap Yumna yang membuat Ken terdiam.
“Begitu aku melihatmu, rasanya aku ingin menerobos hatimu dan menebarkan diriku. Aku ingin membuang segala hal yang membuatmu menderita dan menyalakan hatimu dengan kehangatan. Aku ingin jadi satu - satunya yang duduk disitu.” ungkap Yumna.
“Apa aku terlihat menderita di matamu?” tanya Ken.
“Ya, menderita sekali ... Dari ujung kepala sampai ujung kaki makanya aku tidak bisa meninggalkanmu.” ucap Yumna.
Ken merasa dirinya itu mirip kaleng, Yumna merasa kaleng, terlalu menyedihkan tapi melihat Ken itu terlihat bahagia. Ken menyimpulkan Yumna menyukainya di pandangan pertama karena terlihat menderita. Yumna mengatakan kalau ia juga menderita
“Aku juga menderita, jadi aku akan membuatmu bahagia ayo bahagia bersama tapi kamu jual mahal sekali! Apa itu tingkah semua lelaki tampan?” ejek Yumna.
Ken hanya tersenyum, Yumna menggoda bisa melihat wajah Ken yang tampan lalu memegangnya pipinya. Ken terus tersenyum memegang tangan Yumna, lalu berdiri dan keduanya pun berpelukan.
"Aku harap, kamu bisa lekas tua dan jadi kakek - kakek. Jadi hanya aku yang tahu ... betapa menariknya Ken. Sehingga tidak ada yang melihat dirimu.” ucap Yumna.
“Aku harap kamu jadi gemuk.” balas Ken
__ADS_1
“Yah ... Begitu saja? Aku jadi gendut dan kamu tambah tua.” kata Yumna menatapnya, lalu kembali berpelukan. Ken memeluknya sangat erat seperti tak ingin kehilangan pacarnya.
Yimna berpikir pacarnya itu menangis, Ken mengelangkan kepala dan terus memeluk erat pacarnya.