
Ken duduk menenangakan diri diruanganya, ponselnya bergetar Yumna menelpnya. Si cantik Yumna menelp di kamar mandi memberitahu hari ini tidak bisa main ping - pong dengannya, lalu menjelaskan maksudnya tidak mau Ken sampai menunggunya. Sepertinya Ken menanyakan sesuatu.
“Iya. Makan malam kantor. Dari hasil tes kesehatan, kami melakukan permainan berdasarkan usia metabolisme seseorang. Aku yang paling muda diantara semuanya. Coba tebak usiaku?” ucap si cantik Yumna dengan nada menggoda, Yumna yang ada dikamar mandi terlihat sinis
“Jangan kaget. 21 tahun. Sementara umurnya Yumna, aku kasih tahu tidak yah? Dia 41 tahun makanya Yumna marah sekali. Dia marah padaku dan mintaku untuk mengganti nama.” kata si cantik Yumna. Yumna yang mendengarnya hanya bisa diam.
Si cantik Yumna pun menutup telpnya karena Ken sedang sibuk dan berjanji akan menelpnya nanti. Yumna masih duduk diatas toilet, mulutnya melonggo, air matanya mengalir tapi ia malah tertawa.
Flash Back
Yumna tiba - tiba digeret oleh beberapa wanita dan langsung di dorong ke dinding. Seniornya dengan sinis baru mengetahui kalau dia itu “Si hebat Yumna,” melihat name tag namanya. Yumna sambil mengaduh kesakitan mengatakan bukan dia orangnya.
Seniornya tak percaya dan ingin memukulnya karena berbohong, Yumna melepaskan kacamatanya. Seniornya mulai menampar, memukul kepalanya bahkan semuanya langsung menendangnya ketika Yumna jatuh sambil mengumpat kalau wajahya jelek. Yumna sambil menangis mengatakan kalau bukan ia orangnya.
Pelajar pria masuk ke ruang kelas memberitahu kalau Yumna jatuh dari tangga. Semua pria langsung berlari keluar kelas dengan wajah panik ingin menyelamatkanya. Tiba - tiba dilorong si cantik Yumna berjalan seperti biasa, semua pria pun langsung mengerem mendadak.
Si cantik Yumna binggung, semua pria kaget ternyata Yumna baik - baik saja. Ditempat lainnya, Yumna tergelincir karena sandal karetnya lalu berguling ditangga dan akhirnya terjatuh dengan hidung mimisan bahkan tak bisa berdiri sama sekali. Para pria merasa dibohongi langsung memukuli teman pria yang memberikan berita bohong.
Yumna keluar dari kamar mandi dengan penuh amarah, didalam bar semuanya bersulang untuk Yumna yang memiliki usia metabolisme termuda. Semua masih memainkan games dengan memanggil Kakek yang berumur diatas mereka. Tiba - tiba Yumna berteriak sampai membuat semua mengarahkan pandangan padanya.
“Berlian! Mata berkilau! Kakak ini, aku akan memukulmu sekali saja. Aku karena kamu! Sudah diperlakukan tidak adil sekali. Dendamku besar sekali padamu! Tapi sekali ini, aku akan memukulmu. Aku akan, keluarkan semuanya. Sekali saja!” teriak Yumna histeris.
Mata Yumna seperti banteng yang siap menyeruduk berjalan ke arah Yumna, Arya menyuruh semua pria untuk bisa menahanya. Yumna bisa menyingkirikan semua pria yang menghalanginya, si cantik Yumna terlihat ketakutan karena Yumna semakin mendekat. Yumna mulai menandukan kepalanya.
Si cantik Yumna menutup wajahnya, mulutnya melonggo melihat yang terjadi didepan matanya. Kepala Yumna ditahan oleh kepala Arya yang naik ke atas meja, sebelum menyentuh kepala Si cantik Yumna. Dengan kejadian lambat, Yumna berjalan siap menandukan kepalanya, Arya langsung melepaskan kacamatanya naik ke atas meja, langsung berdiri dan akhirnya dengan sengaja menahan kepala Yumna dengan kepalanya.
Semua pria melonggo, mata Yumna melotot lalu akhirnya jatuh tak sadarkan diri dan Arya yang menangkapnya. Melisa dengan bangga merapihkan rambutnya dan melepakan otot - ototnya sampai berbunyi gemeratak. Si cantik Yumna benar - benar binggung melihat yang terjadi di depanya.
Si cantik Yumna berusaha membangunkan Yumna tak sadarka diri di dalam mobil. Melisa hanya melihatnya seolah - olah tak peduli. Ken baru pulang melihat kakaknya dan Yumna sedang ada didepan mobil, lalu menghampirinya.
“Dia tinggal dimana? Waktu itu kamu mengantarnya?“ tanya Melisa pada adiknya. Ken melihat Yumna dengan luka memar di dahinya.
“Pakai saja mobilku. Nanti kuantar.” ucap Yumna, Ken mengatakan tak perlu
“Kepalanya kenapa?” tanya Ken, Melisa mengaku dipukul olehnya. Ken melotot marah, Melisa beralasan Yumna memang pantas mendapatkanya.
Ken pun menarik Ken dengan memeluknya dari belakang keluar dari mobil, Yumna berteriak kalau bukan disini rumahnya karena Ibu menyuruh pulang kerumah. Ken mencoba membawa Yumna, tapi tanganya malah digigit dan Yumna pun melarikan.
Baru saja beberapa langkah, tubuh Yumna langsung jatuh lalu mengaduh kesakita. Ken hanya bisa menghela nafas, lalu mengangkat pinggang Yumna agar bisa berdiri.
Si cantik Yumna dan Melisa hanya melihat saja, Ken pun memapah Yumna ke dalam mobilnya, dengan Yumna yang mengaduh kesakitan karena lututnya terluka. Melisa berteriak menyuruh memukulnya saja sampai pingsan. Yumna menyahutinya tak mau lalu menahan dengan tanganya saat Ken ingin masuk ke dalam mobil karena tak ingin pergi.
Ken memaksa dengan mendorong Yumna sampai berbaring di jok belakang. Si cantik Yumna menawarkan diri untuk bisa pergi bersama - sama. Ken kembali menolaknya lalu menutup pintu dan duduk di depan kemudi lalu meninggalkan rumahnya. Si cantik Yumna terlihat sedih dengan kepergian Ken yang pergi dengan Yumna saja.
__ADS_1
Melisa menyuruh Yumna untuk pulang saja, Yumna mengejarnya dengan memanggil Kakak meminta agar menawarkan teh. Melisa menegaskan untuk memanggilnya “Direktur” dan memperingatkan tak boleh memanggilnya “Kakak” lagi. Yumna pun tak bisa berkata apa - apa lagi.
❤️❤️❤️❤️
Brian sedang minum teh melihat kearah jendela seperti tak percaya Yumna sedang berbicara dengan Melisa, lalu menegaskan kembali dengan kacamatanya. Kenzo pun melihat kearah jendela, Brian mulai mengumpat karena Yumna berani datang ke rumah. Nana yang baru terbangun sambil mengandeng lengan pacarnya bertanya siapa yang datang.
Brian berjalan keluar rumah dengan mengumpat akan membunuh Yumna karena berani datang kerumah, Melisa melihat Brian bertanya kenapa keluar rumah. Brian memanggil Yumna dengan nada marah, Yumma menengok dengan senyuman manisnya dan memanggilnya “Kakak.”
Tatapan mata Brian langsung berubah sepertinya hatinya luluh dengan kecantikan Yumna, Melisa menghela nafas melihat tingkah laki - laki yang terhipnotis dengan senyum Yumna. Yumna menyapa Brian sudah lama tak bertemu, Brian pun menurunkan lengan bajunya yang tadinya ingin marah membalas sapaan Yumna dengan ramah.
Yumna mengaku ingin sekali bertemu denganya, Brian mengaku seperti itu juga. Melisa melotot kaget karena selama ini yang dendam malah tersenyum. Kenzo ikut keluar ingin merobek - robek mulut Yumna karena berani kembali datang. Melisa mengomel semuanya harus keluar dan menyuruhnya untuk segera masuk.
Kenzo terpaku melihat kecantikan Yumna, Yumna pun menyapanya. Kenzo pun menyambut tangan Yumna yang mengulurkan tanganya. Melisa makin bingung melihat tingkah adiknya, Nana melihat Yumna yang cantik, lalu bertanya dengan polos apakah ia berpacaran lagi dengan Kakak Ken. Melisa mengumpat, lalu menyuruh semuanya untuk segera masuk saja.
Mobil Ken sudah kembali dan melihat semuanya malah berkumpul didepan rumah. Ia melihat Yumna yang masih tertidur dimobilnya dan tak mungkin bisa membawanya masuk karena banyak orang, akhirnya Ken kembali meninggalkan rumahnya.
Semuanya binggung meihat Ken malah meninggalkan rumah, Melisa binggung ada apa dengan adiknya itu. Si cantik Yumna berpikir Ken lupa dengan rumah Yumna.
Brian langsung mengerti maksudnya, lalu mengajak Yumna untuk masuk dulu. Melisa mengumpat dengan mata melotot, lalu menyuruh semuanya masuk saja lebih dulu. Yumna pun mempersilahkan untuk masuk lebih dulu saja, dan Melisa pun menyuruh Yumna segera pergi dan mengingatkan memanggilnya “Direktur” lalu masuk ke dalam rumah.
Brian mondar mandir didepan jendela melihat Yumna masih ada didepan rumah dan tak pulang - pulang. Yumna masih terus berdiri didepan rumah, Brian mengamatinya mengeluh Yumna yang masih cantik dan membuatnya makin kesal.
Ken keluar dari apotik membeli beberapa obat lalu membuka pintu mobil belakangnya, menyuruh Yumna bangun untuk mengunakan salep. Yumna terlihat sudah tertidur dengan lelap. Ken ingin mengoleskan salep dibagian lututnya, tanganya malah bergetar dan melirik ke wajah Yumna yang masih tertidur.
Ken menutup kembali pintu mobilnya, ponselnya bergetar. Yumna bertanya kenapa Ken belum kembali dan apakah sudah menemukan rumah Yumna. Ken mengaku sedang ada di studio rekaman. Yumna mengatakan ada yang ingin diberikannya dan apakah ingin mendatanginya ke studio saja. Ken terdiam melihat Yumna yang masih tertidur di belakang mobilnya.
Akhirnya Ken kembali kerumah untuk menemui mantan pacarnya Yumna, setelah Ken turun dari mobil, Yumna melihat teman SMA nya itu sudah tak ada lalu bertanya dimana Yumna tinggal. Ken menjawab kalau ada diatas saja dengan dingin berkata kenapa bertanya.
“Mungkin aku harus mabuk dan pingsan juga agar Kakak mengantarkan aku kerumah. Rasanya sedikit aneh. Hari ini, Yumna mabuk dan ingin memukulku. Tapi Kakak Melisa menghadangnya dan membenturkan kepalanya ke kepala Yumna. Semuanya mengira dia begitu untuk melindungi aku tapi menurutku, dia justru melindungi Yumna. Sepertinya dia menyiksanya, padahal dia melindunginya. Makanya aku merasa aneh.“ cerita Yumna dengan menatap kosong.
“Aku harus kembali ke studio." ucap Ken terlihat tak peduli, Yumna sadar kalau bicaranya ngelantur lalu meminta maaf dan mengambil sesuatu dari mobilnya.
“Aku membawakan raket ping - pong milikmu, aku pikir kamu tidak bisa datang karena ini.” ucap Yumna memberikan raket pingpong bernama Kenzie.
Ken pun melihatnya, raketnya masih ada. Yumna bertanya kapan Ken akan dating, karena ia selalu datang setiap hari dan tak masalah pagi atau siang, jadi bisa bertemu ketika Ken ada waktu luang. Ken menegaskan kalau itu berlebihan kalau mereka berdua bermain ping - pong. Yumna pun hanya diam saja dan terlihat sedih.
“Aku sudah tahu kenapa kamu pergi dan bisa mengerti. Bukankah ini cukup?” ucap Ken.
“Setiap kita memikirkan satu sama lain, kita masih belum saling suka.” ucap Yumna, Ken mengatakan itu tidak penting.
Yumna mengatakan kalau ia ingin seperti itu. Ken memilih untuk menaruh raket di kursi sebelahnya lalu kembali melajukan mobilnya. Yumna hanya bisa menangis melihat kepergian Ken.
Yumna tidur tengkurap diatas ranjang yang besar, matanya langsung melotot dan terbangun dengan cepat. Matanya melihat sekeliling yang asing dimatanya dan langsung menuruni tempat tidurnya, melihat sepatu, tas dan jaketnya ada diatas meja rias.
__ADS_1
Lalu melihat wajahya dikaca, seperti bisa merasakan saat dirinya dibawa seseorang dengan merangkul pinggangnya masuk ke dalam hotel. Ia berjalan mendekati kaca melihat luka di lututnya, lalu memar dibagian dahinya yang masih terasa sakit.
Yumna membuka tirai kamarnya yang ternyata sudah malam hari, lalu masuk ke dalam kamar mandi mencari - cari petunjuk tapi tak menemukan apapun didalamnya.
Akhirnya Yumna duduk diatas tempat tidurnya dengan wajah binggung, terdengar seseorang membuka pintu lalu melangkah masuk. Wajah Yumna tegang, tanganya mengepal siap memberika tinjuan pada orang yang membawanya ke hotel.
Ken datang dengan membawa sebungkus obat, masuk ke dalam kamar. Yumna menjerit histeris kalau hampir saja ingin lompat dari jendela. Ken hanya diam saja, Yumna bisa bernafas lega karena berpikir datang dengan orang lain dan melakukanya saat mabuk.
“Tidak ada gunanya lagi aku hidup jadi aku mau lompat dari jendela. Senang melihatmu yang datang.” ucap Yumna.
“Kalau sudah bangun lekas berdiri.” ucap Ken, Yumna bertanya kenapa mereka ada dihotel.
“Kakak memintaku mengantarmu pulang tapi semua orang ada di depan pintu. Aku tidak punya pilihan lain.” cerita Ken.
Yumna bertanya apakah mereka tidur bersama, Ken mengatakan tidak menyuruhnya untuk cepat bangun. Yumna pikir mereka sengaja datang untuk itu. Ken menyuruh Yumna untuk segera berdiri. Yumna heran kenapa sudah buang uang tapi langsung pergi. Ken pikir Yumna harus dipukul agar sadar, Yumna menawarkan untuk melakukan sekali saja.
Ken terdiam mengingat saat bibir Yumna yang terluka dan akan menciumnya, akhirnya ia melempar plastik obat dan menyuruhnya untuk segera keluar kalau sudah sadar, lalu berjalan keluar tapi akhirnya kembali lagi dan bicara Yumna.
“Kamu pasti malu kalau aku tidur denganmu disini. Hidup yang benar! Kaku sudah 32 tahun masih minta dipukul. Kamu mabuk sampai tidak ingat siapa yang membawamu kemari!” teriak Ken mengomel lalu mengatakan akan menunggu di mobil dan menyuruhnya untuk cepat keluar.
Yumna berjalan keluar dari mobil, ketika akan membuka pintu mobil melihat ada raket pingpong diatas tempat duduk. Ken langsung memindahkan raket ke jok belakang, tanpa banyak berkata - kata. Yumna pun masuk mobil dengan wajah dingin, keduanya pun memasang sabuk pengaman dalam keadaan tanpa bicara.
Keduanya sudah ada di pinggir sungai dengan matahari yang baru terbit dan sangat indah. Udara pun terlihat masih segar, Yumna memberitahu akan kembali ke rumah. Ken menatap Yumna yang berdiri disampingnya.
"Sepertinya aku harus kembali. Kalau aku tetap disana setelah ditolak rasanya aneh. Ibu dan Ayahku sedang khawatir padaku saat ini. Mereka takut aku akan bunuh diri.” ucap Yumna, Ken kembali menatapnya.
“Kamu akan berikan uang jaminannya kan?” ucap Yumna, Ken mengatakan butuh waktu memberikanya. Yumna meminta Ken memberitahu kalau memang sudah siap.
“Terima kasih untuk selama ini. Aku bisa bertahan karena dirimu.“ kata Yumna menatap Ken dan keduanya saling menatap seperti ada sesuatu yang tersembunyi.
❤️❤️❤️❤️
Kenzo mengetuk pintu kamar mandi menyuruh untuk cepat keluar, Brian pun keluar dari kamar mandi. Kenzo merasa sudah saatnya Brian kembali ke rumah. Brian menceritakan sudah diam - diam memeriksa rumahku. Tapi lelaki berkapak itu masih disana setiap hari, menurutnya orang itu menyeramkan, lalu berjalan pergi. Kenzo membuka pintu kamar mandi langsung menjerit karena bau yang menusuk.
Brian duduk didepan meja makan dengan Melisa ingin sarapan. Brian berteriak marah kalau memang ingin buang air besar, lalu memelankan suaranya untuk nyalakan dulu kipas anginnya. Lalu berjalan mengambil gelasnya.
"Apa Kamu belum bertemu dia ?” tanya Brian dengan mengunakan Bahasa Perancis. Meliaa terdiam karena Brian bisa bahasa prancis.
“Kamu harus temui dia. Jangan sampai menyesal.” ucap Brian, Melisa membalas agar Brian menutup mulutnya. Kenzo melonggo melihat keduanya bicara dengan bahasa yang aneh ditelinganya sambil berjongkok.
“Kamu harus pacaran agar jadi manusia. Maka kamu tidak akan minum dan mabuk setiap hari!” ucap Brian.
“Buat apa aku menunjukkan wajahku yang sudah keriput?!” teriak Melisa lalu menyuruh Brian untuk cepat makan. Kenzo bertanya yan didepanya itu mereka sedang mengobrol atau acara komedim
__ADS_1
“Bukan cuma kau yang menua. Aku yakin dia sudah botak dan buncit." ucap Brian mengejek. Melisa kesal mengucapkan terimakasih atas ejekanya lalu kembali ke kamarnya. Brian menyuruh Melisa untuk menemuinya saja. Kenzo masih melonggo berpikir sedang mengerjanya. Brian menggelengkan kepala sambil memakan sarapanya.