
Ken berlatih dengan pelatih profesional bisa mengembalikan bola dari arah dan pukulan manapun. Ketika bertemu pacarnya kembali, Yumna nampak kewalahan dengan pemainan Ken, akhirnya untuk pertama kalinya kalah dari Ken. Dengan wajah bahagia Ken berbaring di lantai dengan senyuman bahagia.
Yumna pun berbaring disampingnya memuji Ken yang begitu mengesankan karena bisa menang, lalu minta untuk memberitahu keinginannya. Dengan nada terengah - engah Ken mengatakan “Mari kita menikah.” Yumna melotot kaget merasa tak percaya, tapi Ken menyakinkan kalau yang dikatakan itu serius.
**********
Ken berjalan didepan air mancur, dengan mengingat saatnya paling bahagia ketika mengajak Yumna menikah, lalu ponselnya pun bergetar. Brian menelpnya merasa tak percaya kalau Harry itu benar - benar keluar dari penjara.
“Tapi bagaimana kamu tahu? Apakah dia meneleponmu atau sesuatu yang dilakukanya? Kalau tidak bagaimana kamu bisa tahu?” ucap Brian heran, Ken hanya diam saja lalu menutup telpnya.
Tiba - tiba matanya kembali melihat sosok Yumna menyebrangi jalan tanpa menghiraukan mobil yang lalu lalang dan menyalakan klakson, seperti sudah siap ditabrak oleh ditengah jalan. Ia pun menelp kakaknya.
Sementara Melisa sedang rapat memilih untuk menelungkupkan ponselnya ketika adiknya menelp. Si cantik Yumna sedang memprestasikan menu baru yaitu “Roti salad.”
“Karena hidangan Korea umumnya pedas dan asin, jadi kita kekurangan kesegaran dan manis. Beberapa mungkin berpikir, "Mengapa melayani roti di Restoran Korea? Tapi salad roti dan castellan akan baik diingat oleh generasi yang lebih tua juga. Salad roti dipenuhi buah segar. Lalu Tidak bisakah menjadi hidangan khas di meja musim hujan?” ucap Yumna, Direktur Vino berkomentar menu itu sangat baik dan semua memberikan tepuk tangan.
Melisa menyuruh anak buahnya unuk memulai presentasi, Yumna pun berdiri didepan dengan awalnya memberitahu Sup yang paling dicintai Korea, yaitu sup daging sapi dan rumput laut dan sup daging sapi dan lobak.
Direktur Vino berkomentar apakah ada yang ingin memakan makanan itu dan membayarnya. Yumna hanya diam saja. Melisa memukul tangan di dinding menyuruh Yumna berhenti dengan nasi tapi sekarang membawa menu nasi sup, menurutnya Yumma mencoba untuk memulai perkelahian dengannya.
“Beras dan sup sangat penting dalam masakan Barat dan lauk pauk yang lainya.” ucap Yumna.
“Apakah orang - orang datang kembali ke Restoran Barat bersama keluarga untuk makan sup dan nasi?” ucap Melisa berjalan berlawanan arah.
“Pertama kita harus tetap berpegang pada dasar - dasar.” tegas Yumna.
“Jadi, apakah kamu mengatakan kita bahkan tidak tahu dasar - dasar? Kamu mungkin berpikir tidak bisa segera beradaptasi dengan rekan kerja yang trendi dan belajar di luar negeri. Maka, kamu berkata kalau kau orang yang kukuh dan percaya pada satu hal saja? Apa kamu berusaha menciptakan gambaran dirimu sendiri?” ucap Melisa, Yumna hanya bisa menghela nafas panjang.
“Ini tidak akan berhasil. Pelajari trend yang ada. Segera pelajari, kecuali kamu minta dipecat. “ tegas Melisa sambil membunyikan suara dari seperti bunyi detak bunyi jam lalu pergi.
Melisa masuk ruangan memberitahu mulai sekarang, Tim Arya keluar dari tim menu baru sambil melemparkan berkas ke dadanya. Arya kaget dan mengikuti Melisa ingin berbicara, Melisa dengan sinis bertanya apa yang ingin dikatakanya.
“Membuka restoran keluarga Barat adalah ide Wakil Yumna. Disaat yang lain membuka restoran keluarga ala Prancis, hanya Wakil Yumna yang menyarankan restoran Keluarga Barat makanya kita bisa sejauh ini.” jelas Arya membela Yumna.
“Semua orang bisa punya ide. Tapi tim manajemen yang memutuskan. Jangan pikir karena sudah memberikan ide dan sejenisnya, maka akan dapat perlakuan khusus." ucap Melisa sinis.
Tapi, Wakil Yumna sama sekali tidak pernah menyombongkan diri kalau semua ini idenya bahkan tidak sekalipun. Jika dia sombong dan memamerkan hal itu, dia tidak akan jadi satu - satunya yang tidak dapat promosi. Dia sangat profesional, setidaknya aku harus memamerkan hal ini untuk Wakil Yumna.” ucap Melisa dengan nada bergetar. Melisa meminum air putihnya dengan sedikit.
“Dia perlu, berusaha untuk dirinya sendiri dan kamu pikirkan saja dirimu sendiri, mengerti?” tegas Melisa nampak tak peduli.
Yumna berjalan keluar kantor dengan tatapan kosong, namanya di panggil. Ternyata si cantik Yumna yang memanggilnya, sambil mengandeng tanganya bertanya apakah hari ini tidak ada janji dan mengajaknya untuk minum bersama. Yumna menolak mengaku sudah punya janji. Si cantik Yumna sedih memdengarnya lalu mengajaknya besok saja minum bersama. Yumna bertanya alasan si Yumna ingin minum sama - sama.
“Aku hanya Ingin minum bersama.” ucap si cantik Yumna nampak gugup, Yumna kembali bertanya alasannya.
“Meskipun situasi kita saat ini agak aneh, ini bukan salah apa - apa. Di kantor juga begitu begitu juga soal Ken. Kemarin sore, aku sempat bertemu dengan Ken.” cerita si cantik Yumna.
“Kenapa kamu cerita ini padaku?” tanya Yumna dinginm
__ADS_1
“Aku kira kalau kamu dengar ini dari Ken, maka kamu akan sakit hati. Kami berencana untuk saling bertemu untuk beberapa saat. Ada yang harus diselesaikan oleh ia dan aku. Apa akan baik - baik saja untukmu?” ucap si cantik Yumna.
“Aku tak akan baik - baik.” tegas Yumna lalu pergi meninggalkanya. Si cantik Yumna hanya bisa menatap sedih ke arah Yumna.
Melisa mengomel adiknya karena terus menelp padahal ia sedang rapat, Ken seperti bertanya apa yang sedang dipakaian Yumna, mata Melisa melihat si cantik Yumna berdiri didepanya.
“Kenapa kamu tanya apa yang digunakan Yumna hari ini? Apa kalian berkencan?” ucap Melisa, Ken seperti memastikan pakaian yang dilihatnya sama dengan yang dipakai Yumna.
Mata Melisa berpindah pada Yumna dan membenarkan kalau yang dipakai kemeja warna biru dan bertanya balik kenapa. Ken tak menjawab hanya bisa mengatakan sudah mengerti, ketika menutup telpnya tatapannya nampak kosong.
Yumna menjerit kesal mengingat kejadian semalam, sampai orang yang ada disebelahnya kaget dan memilih pergi. Ia mengetuk - ngetuk sepatunya untuk menenangkan diri dan menurunkan rasa amarahnya, sebuah mobil sedan putih berhenti.
Harry turun dari mobil dengan setelan jas yang rapih, melihat Yumna yang duduk sendirian di halte. Yumna menengok, langsung melonggo melihat Harry berdiri tak jauh darinya. Harry berjalan mendekat, Yumna pun berdiri seperti sudah menyadari kalau itu bukan mimpi. Keduanya kembali saling menatap dan Yumna sempat tersenyum lalu menyapa lebih dulu karena mereka sudah lama tak jumpa.
Yumna pun membalasnya dengan mengatakan senang bertemu dengannya. Harry bertanya apakah Yumna baik - baik saja, Yumna mengatakan kalau dirinya itu sama saja kalau ia Baik - baik saja. Keduanya tiba - tiba diam dan nampak canggung, Yumna pun pamit pulang.
“Kapan - kapan, kita bisa makan ...” kata Yumna lalu terdiam merasa kurang nyaman nantinya.
“Ayo makan bersama...!” ajak Harry memulai lebih dulu, Yumna mengatakan tidak perlu karena tidak ada maksud lain mengatakan itu hanya keceplosan jadi tak perlu dipikirkan.
“Nanti kutelpon kita makan bersama.” ucap Harry lalu kembali ke mobil. Yumna terpaku melihat di dalam mobil ada seorang wanita disamping Harry, matanya langsung berkaca - kaca.
Yumna menatap kosong ke depanya duduk sendirian di restoran mengingat kejadian sebelumnya.
Flash Back
“Aku tidak tahan dengan cara makanmu.” ucap Harry.
“Gantinya, boleh aku bilang aku yang membatalkan pernikahan? Ijinkan aku bilang ke orang kalau aku yang membatalkannya. Itu sudah cukup. Aku malu sekali.“ ucap Yumna sambil menangis.
Yumna mengingat kenangan menyedihkan yang terakhir kalinya membuatnya meminum soju untuk menghilangkan rasa sakitnya.
Si wanita bule yang dibawa Harry sedang membereskan pakaian Harry dari dalam koper. Sementara Harry menatap ke luar jendela sambil menghela nafas. Seorang pria masuk berkomentar toiletnya besar juga, lalu bertanya pada si wanita nomor telp Harry masih aktif kan, si wanita pun memberikan ponsel milik Harry sebelum masuk penjara mengatakan sudah aktifkan kembali. Si pria memuji kerjanya bagus dan menyuruhnya untuk pergi.
"Apa kamu tahu Ibumu ada disini?” udap si pria.
“Perhatikan omonganmu nanti, bilang saja aku baru pulang liburan." ucap Harry tak ingin ketahuan kalau masuk penjara.
“Aku mengerti, bocah. Kalau tahu kamu akan keluar secepat ini, harusnya kamu minta Yumma menunggumu saja.“ keluh si pria merasa keputusan Harry itu salah lalu mengembalikan ponsel pada Harry.
Ken terdiam didalam mobil, dalam pengelihatanya bisa melihat Yumna berjalan di tengah jalan tanpa peduli dengan klakson mobil, mata Ken bisa melihat tulisan “Volv” di gedung, lalu mencari di ponselnya informasi tentang gedung Volv.
Ia pun sampai di gedung yang pertama Volv, lalu melihat sekeliling menurutnya gedungnya tak sama dengan yang dilihatnya. Yumna nampak setengah sadar berdiri ingin menyebarang jalan. Yumna sampai digedung kedua, melihat bayangan yang sama dengan yang dilihatnya, lalu melihat sekeliling tak melihat Ken.
Dua orang pria pergi dari Halte dan Yumna terlihat sedang menunggu untuk menyeberang. Tanpa ada rasa takut, Yumna berjalan tanpa menunggu rambut untuk penjalan kaki, semua menjerit memanggilnya tapi Yumna terus berjalan tanpa peduli Mobil yang memberikan klakson untuk minggir. Ken pun akhirnya menengok melihat Yumna yang berjalan ditengah jalan.
Yumna terus saja berjalan, Ken berteriak memanggil namanya, Yumna tetap berjalan. Ken kembali berteriak memanggilnya. Yumna seperti tersontak ketika mobil berhenti sambil membungkuk meminta maaf lalu kembali berjalan. Ken berusaha menyebrang jalan tapi nyalinya tak seberani Yumna yang menyebarang jalan.
__ADS_1
Beberapa kali Ken kembal mundur karena mobil yang melaju cepat sampai akhirnya mengejar Yumna yang berjalan sendirian ditaman dan menariknya, lalu bertanya mau kemana sekarang. Yumna seperti habis terhipnotis tak tahu apapun.
Ken kembali bertanya mau kemana sekarang. Yumna melihat sekeliling dan nampak tempat yang asing untuknya, lalu mengatakan ingin makan dan bertanya dirinya akan makan apa.
Yumna makan daging tanpa henti, sampai mulutnya penuh. Melsia melihat cara makan Yumna yang sangat cepat dari biasanya. Yumna mula makan dengan mengerogoti tulang daging tanpa peduli imagenya seorang wanita, Ken melihatnya terlihat Yumna seperti wanita yang rakus. Setelah selesai, Yumna makan bihun semangkuk penuh.
“Berhentilah makan.” ucap Ken, Yumna menyuruh Ken ikut makan karena rasanya sangat enak, Yumna mengambil mangkuk bihun menyuruh Yumna untuk Berhenti makan. Yumna pun memilih untuk meminum segelas soju.
"Tapi, apa kau tahu kalau sikapmu aneh? Kamu bilang tidak suka aku. Tapi kenapa duduk disini? Makanya aku jadi bingung.” ucap Yumna.
“Kanu sepertinya sedang banyak beban.” ucap Ken.
“Banyak beban bagaimana? Kenapa kamu mengira aku banyak beban? Apa Kamu tahu ?” ucap Yumna lalu menatap mata Ken seperti mengetahuinya.
“Apa kamu menaruh alat pendengar dibadanku? Meskipun begitu tidak mungkin kamu tahu suara siapa itu. Apa sebenarnya ini?” ucap Yumna.
“Aku kebetulan melihatnya di jalan. Apa Kamu mau mati dengan menabrakkan diri? Sadarkan dirimu.” ucap Ken.
“Aku kira berjalan saat lampunya hijau. Tapi ini bukan masalah besar.” ucap Yumna kembali menuangkan sojunya.
Ken kembali melihat bayangan Yumna dengan pakaian yang sama mengatakan, “Aku bertemu lelaki yang nyaris kunikahi.”
Lalu meminum sojunya dan sekarang terjadi didepanya, Yumna menjatuhkan gelas sojunya yang sudah habis.
“Dihari aku hanya berpakaian begini, bahkan aku belum keramas Ini benar - benar memalukan.” ucap Hae Young lalu mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal, tapi setelah itu langsung tertawa sendiri
“Dia mengajakku makan. Bajingan yang mencampakkanku karena tidak suka dengan caraku makan, sekarang Mengajakku makan.” Cerita Yumna sambil menopang kepalanya, Do Kyung hanya melihat Hae Young yang kembali minum soju.
Yumna langsung ada tepat didepan toilet untuk muntah berkali - kali, dari kamar Ken mendengar Yumna yang terus muntah tanpa berhenti - henti. Yumna sempat berhenti sejenak dengan berjongkok di depan toilet, tapi ia kembali memuntahkan isi semuanya setelah minum banyak alkohol. Yumna hanya diam saja mendengarnya.
Seperti Yumna sudah mengeluarkan semua isi perutnya dengan berjalan sepoyongan kembali ke kamarnya, tapi badanya malah terjatuh lemas. Ken terus mendengarkanya dari balik pintu. Yumna berusaha sampai ke atas tempat tidurnya sambil menjerit kesal. Ken pun keluar dari kamarnya.
Akhirnya Yumna berhasil naik ke atas tempat tidur, mematikan lampu kamarnya dan berkata, “Selamat malam.”
lalu memindahkan posisi tidurnya. Ken kembali ke kamarnya dan masuk ke kamar Yumna menaruh obat anti mabuk meminta untuk minum sebelum tidur. Yumna seperti belum tidur mendengar Ken yang datang ke kamarnya membawakan obat membuatnya menangis.
Melisa kembali duduk di restoran dengan sedikit mabuk, berbicara dengan bahasa prancis sendirian. Pelayan datang membawa pesanan Melisa bertanya kenapa tak datang kemarin karena lelaki itu kemarin datang.
“Lelaki yang dulu sering kemari denganmu. Kemarin dia disini sendiri sampai larut. Katanya dia akan imigrasi dan kemari untuk terakhir kalinya dan akan pindah ke Brazil minggu depan.” ucap si pelayan. Melisa terdiam mendengar kalau saat tak datang malah pria yang ditunggunya selama ini datang. Matanya berkaca - kaca dan dadanya terasa sesak.
Melisa berjalan pulang sambil menangis menjerit - jerit di depan dinding, mobil Brian lewat akhirnya kembali mundur dan mengenali orang yang membuat keributan saat mabuk, sambil menutup hidungnya mendekati Melisa.
“Sebelumnya kamu tidak pernah muntah! Berarti Kau sudah mulai tua. Tubuhmu tidak tahan lagi, jadi Berhenti minum setiap hari. “ ucap Brian berusaha menepuk punggung Yumna berpikir sedang muntah.
“Kemarin aku tidak minum! Harusnya kemarin aku minum. Harusnya aku minum tiap hari.” ucap Ken dengan bahasa prancisnya, Brian binggung tak percaya ternyata Melisa menangis.
“Ah, kenapa? Apa kakak dipukul orang?” tanya Brian kwatir.
__ADS_1
“Bajingan itu akan pergi dari kota ini. Bukan ke Jepang, bukan ke Cina. Kenapa malah ke Brazil?” jerit Melisa berbahasa prancis. Brian melepaskan kacamatanya meminta Melisa Berhenti meracau dan bertanya ada apa sebenarnya.