
Ken berjalan lebih dulu dan Yumna berjalan dibelakangnya, tiba-tiba Ken berhenti yang membuat Yumna juga ikut berhenti, lalu bertanya Berapa banyak uang jaminannya rumahnya, Yumna binggung tiba-tiba Ken bertanya itu.
“Aku akan membayar uang jaminan dan biaya pindahannya.” ucap Ken.
“Kenapa kamu malah jadi repot - repot hanya karena masalah ini? Dia bilang akan mengganjal pintunya. Apa Kamu benci punya tetangga atau karena aku yang jadi tetanggamu?” ucap Yumna heran.
“Aku akan membayar uang jaminanmu dua kali lipat. Pindahlah ke tempat yang lebih besar, lagi pula Perabotanmu juga banyak.” ucap Ken.
“Kukira kami orang baik saat itu menyuruhku untuk tetap hidup, tidak peduli seberapa menyakitkannya hidup itu, tapi Kamu mendadak begitu berubah. Aku heran kenapa bisa berubah secepat itu. Kenapa kamu berusaha keras untuk mengusirku?” tanya Yumna heran.
“Itu Kamu seorang wanita dan aku seorang pria.” ucap Ken beralasan.
Yumna mengartikan Ken takut kalau mereka akan tidur bersama. Ken berteriak marah, Yumna bertanya apakah ia tampak seperti tipe wanita yang selalu menempel setelah tidur dengan seorang pria, menurutnya Ken pasti mengira dirinya orang bodoh yang menangis di jalanan setelah pernikahannya dibatalkan sehari sebelumnya. Ken hanya menatapnya.
“Itu benar. Aku memang bodoh. Aku terobsesi dengan cinta pertamaku dan selalu ngeyel. Jadi jika kamu takut padaku, maka kamu saja yang pindah.” ucap Yumna lalu berjalan pergi, baru beberapa langkah ia kembali mendekati Ken.
“Aku sudah mengatakan semuanya padamu apa yang telah ku lalui ini karena kupikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi. Jika ada yang tahu, maka aku akan tahu segera kalau kamu yang memberitahu mereka. Jika kamu mulai bilang ke yang lain kalau kamu ditusuk dari belakang bilang saja kalau itu semua karena ku.” tegas Yumna lalu berjalan meninggalkan Ken.
Yumna sampai di rumah langsung mendorong pintu agar menghalangi pintu. Ken sudah pulang mengambil beberapa kaset lalu segera pergi dengan membanting pintu. Yumna mendengar bunyi bantingan pintu dengan keras lalu mengumpat kesal.
Melisa tidur seperti kepompong membalut seluruh tubuhnya dengan selimut, lalu bangun sambil mengeluh adiknya yang memindahkan perabotan di pagi hari begini, tapi Ken tak melakukan apapun bersiap pergi ke kantor. Ken memberitahu kalau pemilik merenovasi ruang penyimpanan dan menyewakannya.
“Dia semakin lama mengubah tempat ini menjadi tempat buruk.” keluh Melisa sambil mengambil botol air minum.
“Yah memang benar, tapi Ibulah yang menghancurkan hidup pemilik rumah ini. Jadi pemilik rumah itu mungkin butuh uang.” ucap Ken sambil sarapan.
Melisa meminum satu liter air sampai habis dan botolnya mengerucut, menurutnya seharusnya meninju pria baru itu. Ken menyuruh kakaknya agar menemui pria itu dengan wajah kakaknya yang baru bangun tidur maka nanti pria itu pasti akan lari. Melisa dengan kesal langsung meniup kembali botol minum kembali lurus.
Ken kembali menemui dokter menceritakan sebelum wanita muncul di ruangan itu, sudah melihatnya lebih dulu kalau ini akan terjadi, walaupun hal itu tidak persis seperti yang dilihatnya tapi hanya ada dalam pikirannya dan bisa melihatnya dengan jelas di kepalanya.
“Seolah - olah aku bisa meramalkan masa depan, aku bisa melihat hal-hal yang akan terjadi. Jika menurutmu aku sudah gila, jujur saja denganku. Orang yang sudah kehilangan akal pikiran mereka selalu menyangkal kalau itu benar terjadi. Tapi aku akan mengakuinya. Hal ini tidak mungkin kecuali kalau aku sudah gila.” ucap Ken mengebu-gebu, dokter yang sedari tidur mendengarkan cerita pasiennya akhirnya terbangun.
“Kamu biasanya tidur berapa jam dalam sehari? Orang yang tidak cukup tidur biasanya mulai memiliki khayalan tersebut. Cobalah membiasakan tidur malam selama tujuh jam. Lalu kita akan lihat nanti apakah kau tetap memiliki gejala-gejala tersebut.” ucap Dokter akhirnya duduk didepan pasienya. Ken terdiam bisa melihat dokter yang terkejut didepanya.
“Dalam beberapa detik lagi kamu akan kaget.” ucap Ken
Dokter melihat sekeliling seperti tak percaya, lalu tiba-tiba terlihat sepasang kaki di jendela. Dokter langsung menjerit kaget ketakutan sampai mengangkat kaki ke atas kursi. Seorang pria turun dari tali membersihkan kaca jendela. Dokter pun bisa bernafas lega ternyata bukan orang yang bunuh diri. Ken langsung keluar dari ruangan dokter dengan wajah kesal, dokter terlihat binggung dan langsung berteriak memanggilnya memberitahu kalau Ken itu tak gila karena semua tes yang dilaluinya itu normal. Ken terus saja berjalan menuruni tangga.
“Kami hanya bisa tahu kapan kami berbicara dengan pasien. Kamu itu dalam keadaan normal. Kamu bilang kamu mendapatkan penglihatan ini pada seorang wanita saja kan? Mari kita bicara tentang wanita ini dan cari tahu kenapa dia terus muncul.” ucap Dokter, Ken memilih untuk terus menuruni tangganya.
“Kamu tidak gila! Pasti ada sesuatu yang lain yang terjadi!” teriak Dokter, Ken terus saja melangkah pergi.
__ADS_1
Ken pergi ke sebuah pasar, lalu menaruh mic di lantai atas dengan earphone. Di lantai bawah sudah banyak orang lalu lalang yang sedang berbelanja, Ken mulai menyalakan alat perekamnya.
“Di Seoul bagian Selatan lantai tiga ada deptartemen store.” ucap Ken agar bisa mengetahuinya.
Ken sudah pindah diatas gedung sembari merasakan bunyi hembusan angin sambil memejamkan matanya.
Tiba-tiba bayangan Yumna kembali datang dengan memakai kalung berkata, “Kenapa kamu datang telat sekali? Aku sudah menunggu lama sekali.”
Ken membuka matanya melihat dengan jelas Yumna yang berdiri didepanya. Yumna membuat kopi dengan penuh amarah, sambil melempar sendoknya. Tiga orang temanya hanya bisa mengeleng tak mengerti dengan sikap Yumna selalu marah-marah. Yumna bertanya apakah ia boleh mengajukan satu pertanyaan. Si Manager terlihat lelah mendengarnya bertanya apa lagi sekarang.
“Kamu bisa menganggap aku pindah sebagai tetangga sebelahmu. Apa kamu jadi menggila dan langsung mengusirku? Apakah aku sungguh seburuk itu?” ucap Yumna heran, Managernya bertanya apakah tetangganya itu tampan. Yumna mengingat saat melihat Ken bertelanjang dada, tapi teringat kembali saat Ken terlihat kesal didepan kantor real estate menurutnya ketampanan pria itu tergantung.
“Kalau dia orang tampan memang wajar saja melakukannya. Karena kecantikan adalah masalah subjektif dengan standar yang sudah ditetapkan.” ucap Manager.
“Manager yang benar saja kamu berkata seperti itu, banyak orang bilang kalau aku ini cantik.” ucap Yumna percaya diri, dua wanita langsung tertawa mendengarnya.
Yumna mengejek dua wanita itu sebenarnya tak lebih cantik dari dirinya, seorang pria masuk berteriak memberitahu Melisa datang. Semua langsung berhamburan kembali meja kerja. Melisa masuk kantor dengan segelas kopi dan kacamata yang terlihat necis tak seperti saat ada dirumah.
Nyonya Emilia, Ibu Ken baru membaca beberapa lembar naskah dengan cepat lalu berbicara pada anak muda didepanya memberitahu kalau ia sudah rabun jauh karena usia menua jadi tidak bisa membaca dengan baik.
“Aku sudah mengusahakan segala upaya untuk melalui semua itu. Aku kecewa sekali dengan naskahnya. Tidak bisakah kamu membuatnya terlihat kutu buku dan dangkal?” keluh Nyonya Emilia mendekati anak muda.
“Kamu itu super kutu buku! Menulislah seperti dirimu. Sama seperti dirimu sendiri! Jangan berusaha menjadi orang lain.” ucap Nyonya Emilia, sambil melempar naskah ke wajah anak muda itu.
Si pria muda merasa kalau naskah itu masih sebuah film. Nyonya Emilia merasa pria itu ada sesuatu yang tidak tahu menurutnya jika memang pria itu benar-benar kutu buku, maka itu sebuah mahakarya. Si pria hanya bisa melonggo diam.
Ken akan menuruni tangga, Nyonya Emilia melihat anaknya bertanya apakah ia punya waktu luang karena ingin berbicara denganya. Ken memilih untuk menghindar, Nyonya Emilia mengejar anaknya padahal sedang bicara, Ken terus berjalan menghindarinya.
“Hei, apa kamu terus akan mengabaikanku? Ken!” teriak Nyonya Emilia memanggil, Ken masuk ruangan dan langsung mengunci pintunya.
Nyonya Emilia berteriak memanggilnya sambil mengedor-gedor pintu, Ken tak peduli langsung sibuk berkerja dengan layar laptopnya, Nyonya Emilia mengomel sendiri didepan pintu. Dua anak buah Ken melihat Nyonya Emilia langsung membungkuk memberikan salam. Nyonya Emilia memilih untuk segera pergi karena tak ingin terlihat rendah. Pria gemuk melihat Nyonya Emilia pasti butuh uang lagi dan terlihat sangat meminta uang dari anak yang telah berkerja semalaman.
“Ada orang yang dilahirkan untuk menghasilkan uang sementara yang lain menghabiskan uang. Itulah dua orang itu.” ucap pria gemuk.
“Aku berharap bisa menghasilkan dan menghabiskan uang juga.” ucap si pria kurus, pria gemuk juga berharap seperti itu.
Seorang pria sudah membawa bor dan melihat dibalik pintu kamar Yumna, lalu Yumna meminta untuk menutupnya disisi yang lainya. Pria itu mengatakan tak bisa karena mereka harus menghapus seluruh kerangka rumah ini dan menempatkan semennya di depan pintu juga.
Akhirnya Yumna menekan pintu rumah Ken tapi tak ada sahutan dan berpikir sedang tak ada dirumah. Lalu ia menelpon Arini meminta agar mengirimkan nomor telp Ken, si produser sound film dan Orang yang menabrak hidungnya dan berjanji akan menceritakan nanti.
Di studio, Kenzo dengan temannya sedang mengedit volume suara. Salah satu temanya melihat ponsel disampingnya bergetar dan terlihat nomor yang belum disave. Kenzo bertanya kenapa tak diangkat telponnya, temanya menjawab kalau itu ponsel milik Ken, Kenzo bertanya siapa yang menelpnya pria itu melihat nomor yang tak dikenal. Di depan rumah Yumna mondar mandir berharap agar Ken segera mengangkatnya.
__ADS_1
Si pria yang mendengar bunyi suara getaran terlihat kesal karena sedang sibuk seharusnya menelp nanti saja, akhirnya mengangkat telp milik ken memberitahu kalau Ken tak ada diruangan jadi meminta agar meninggalkan pesan saja. Kenzo langsung bertanya siapa yang menelp kakaknya, si pria menjawab, “Yumna.”
Mata Kenzo langsung melotot mulutnya melongongo sangat lebar. Si pria nampak bingung menanyakan siapa dan kenapa Kenzo sampai bersikap seperti itu.
"Dia si Jalang yang akan dinikahi Hyung dan menghilang pada hari pernikahan.” ucap Kenzo, si pria bergantian melonggo mendengarnya. Kenzo tiba-tiba kesal sendiri dan berdiri dari tempat duduknya.
“Dia pasti sudah gila dan tanpa punya malu meneleponnya!” ucap Kenzo dengan bertolak pinggang, si pria berkumis berpikir keduanya kembali berpacaran.
“Tidak mungkin! Apa kamu gila?” teriak Kenzo, si pria melihat ponsel Ken.
Kenzo meminta agar memberikan padanya, tapi si pria tak ingin memberikan karena takut nanti Ken pasti marah. Kenzo merampasnya, si pria tak mau tanggung jawab nantinya dan akan berpura-pura tak mengetahuinya. Yumna melihat ponselnya berdering dan Ken menelpnya balik. Kenzo menyapa Yumna yang sudah lama tak bertemu. Yumna binggun siapa pria yang menelp dengan mengunakan ponsel Ken. Kenzo merasa tersinggung, karena Yumna melupakannya dengan cepat. Yumna masih tak mengenal siapa pria yang berbicara denganya.
“Aku Kenzo, adiknya Ken.” ucap Kenzo, Yumna heran untuk apa Kenzo menelpnya.
“Jangan hubungi kakak ku lagi. Kamu pasti mengira kalau kakak ku itu mudah diperalat. Tapi aku dan kakak ku akan mengahancurkan mu perlahan-lahan, dasar ******! Kamu pikir kamu sebagus itu hah? Dasar ****** mengerikan! Kamu adalah tipe wanita yang paling dibenci kebanyakan pria! Apa kamu tahu?" teriak Kenzo, Yumna melonggo mendengarnya.
“Sebaiknya tutup mulutmu! Jika kamu menghubungi kakak ku lagi, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri! Kecuali jika kamu ingin terbongkar secara umum, tetaplah disana jangan muncul kembali! Dasar ******!” teriak Kenzo histeris.
Tiba-tiba ponselnya diambil, Ken mengeluh hanya istirahat lima menit saja. Si pria kumis langsung berjalan keluar menghindarinya. Ken bertanya siapa yang menelponnya, Kenzo memberitahu kalau siapa lagi yang akan membuatnya marah dan menyebut nama, Yumna. Kenzo melihat ponselnya ada nomor yang tak dikenal.
“Jangan angkat! Itu semua karena kamu tetap menanggapinya.” teriak Kenzo, tapi Ken tetap mengangkatnya.
"Katakan padaku kenapa kamu melakukan hal ini. Apa ada rumor nasional yang bilang kalau Yumna adalah orang yang bodoh? Hah? Kenapa kau bersikap kasar kepadaku?” teriak Yumna marah, Ken menghela nafas menutup telpnya. Yumna makin kesal karena Ken kembali menutup telpnya.
“Jika kamu bahkan tidak bisa mengatakan sepatah kata apa pun, kenapa kamu mengangkat teleponnya. Apa kamu ingin mendengar suaranya? Dia sudah menduganya dan mengambil keuntungan karena itu!” ucap Kenzo kesal, Ken memberikan kode pada anak buahnya si pria pun langsung menutup pintu studio.
“Kamu harus mati hari ini.” ucap Ken dengan tatapan dingin.
“Kenapa harus aku? Bunuh saja dia! Bukan aku! Bunuh si sundal itu! Bukan aku! Kamu selalu saja melampiaskannya padaku! Kenapa aku harus mati? Kenapa?” ucap Kenzo ketakutan melihat kakaknya sudah membuka jaketnya dan siap untuk memukulnya.
Flash Back
Yumna baru saja menerima surat tapi menurutnya aneh karena tidak pernah ikut klub buku di SMA, setelah melihat namanya menurutnya Yumna si gadis yang satu lagi karena mereka memiliki nama yang sama.
“Jadi ini surat dari klub buku? Lucu sekali bagaimana dia bergabung dengan klub yang sungguh menyerupai dirinya.” Komentar Yumna sambil berbaring membaca surat. Ken bertanya seperti apa wanita yang memiliki nama yang sama dengan pacarnya itu.
“Kamu tahu dia seperti kebanyakan orang dia tidak punya karakter dirinya dan tampak sedikit membosankan juga. Kamu pasti sudah tahu, tipe orang dengan kehidupan yang seperti itu. Itulah dia.” cerita Yumna.
End.
Yumna duduk di minimarket sambil membuka bir tapi busa dalam bir muncrat membuat wajahnya semuanya basah, seperti memang kemalangan terjadi padanya. Akhirnya Yumna pulang kerumah dengan membanting semua barang belanja dan juga mengeluarkan pengorengan diatas kompor.
__ADS_1
Ken bisa mendengar kegaduhan dikamar sebelah, Yumna terlihat kesal dan melampiaskan dengan menendang rak buku yang menutupi pintunya. Ken bisa dengan jelas mendengarnya, Yumna melotot kaget karena tiba-tiba Ken mengeser rak lemari dan masuk ke dalam kamarnya.
“Kamu yang urus untuk menutup pintunya dan cari tahu kapan kamu ada waktu untuk mengerjakan nya. Aku tidak punya barang berharga dan tidak peduli jika kamu mencurinya.” ucap Yumna sambil mengoreng telur.