
"Eh Ren, Sis. Seru banget tadi berburu bareng Angga dan Beno. Ga disangka ya, Angga itu jago beladiri kelas tinggi. Dapetin tuh rusa bagi dia gampang banget tau ga. Berburu rusa kaya nabok nyamuk, ga ada sulit-sulitnya. Durasi dibawah 5 detik udah tumbang rusanya," dengan bangga Naya aktif bercerita. Dia tak menyadari bahwa pujiannya terhadap kehebatan Angga cukup berlebihan. Naya terlupa bahwa selama ini ia tak pernah sedikitpun memiliki hubungan spesial dengan pria. Tidak pernah sekalipun Naya menceritakan kelebihan suatu cowok. Namun kali ini berbeda, Naya terlihat cukup agresif dalam membicarakan sosok Angga. Rena dan Sisi yang terbiasa bersama Naya menjadi terheran-heran atas sikap aneh Naya.
"Lu tumben-tumbenan muji cowok sampai segitunya. Ga papa lu, Nay?. Jangan-jangan tadi lu abis jatoh trus pala lu kepentok batu, jadi lu rada ilang ingatan gitu!" kening Rena berkerut.
"Enak aja. Gue sehat wal'afiat. Tanya aja Angga tuh," jawab Naya ceria.
"Angga lagi, Angga lagi..hmm," keluh Sisi. Untungnya posisi mereka bertiga cukup jauh dari tim, sehingga cukup leluasa untuk berbicara.
"Emang kenapa sih sama Angga?, dia kan pemimpin kita disini. Apa salahnya gue ngebahas dia?" Naya heran.
"Iya juga sih. Tapi lu itu sekarang beda. Ada samting werong. Ga biasa-biasanya lu begini," sambung Rena.
"Trus gue salah kalau berubah?. Gue harus ngikutin aturan kalian terus gitu?. Yang bener aja donk!" Naya secara drastis meningkat emosinya.
"Kalian kok bisa tega gitu sih sama gue? Salah gue apaaa!!" Lanjut Naya sambil mulai menangis. Hatinya sangat dongkol.
"Gue cuma cerita. Dan kalian langsung menghakimi gue seolah yang gue ceritain itu salah. Gue kan berburunya bareng Angga sama Beno. Masa iya gue ceritanya tentang Bu Mayang ato tentang Jaka. Yang logis dikit kenapa kalau ngomong itu." semburan demi semburan emosi termuntahkan begitu saja dari bibir mungil Naya. Entah kenapa kali ini dia merasa begitu melow.
"Gue itu disini sendiri, ga punya keluarga. Cuma kalian sahabat dekat gue. Cuma kalian tempat gue cerita, tempat gue curhat, tempat gue berkeluh kesah. Aaah...udah deh. Cape gue ngomong sama kalian," Naya menghapus airmatanya dan berlalu pergi dari hadapan Rena serta Sisi. Keduanya hanya saling berpandangan sambil mengangkat bahu melihat amarah Naya.
Dimarkas. Beno, Jaka, Fikri sedang asyik ngobrol bertiga. Beno dan Fikri sedang fokus mendengarkan cerita tentang kemunculan ular dan bagaimana kepiawaian Pak Bagas membunuh ular tersebut.
Sebenarnya apa yang dilakukan Pak Bagas bukanlah hal aneh bagi Beno maupun Fikri. Mereka berdua juga memiliki keahlian beladiri, apalagi Angga yang seorang maestro. Hanya saja demi menghargai Jaka, mereka tetap menyimak. Nantinya tentu masih banyak ancaman-ancaman serupa dengan cerita Jaka di pulau ini. Cerita Jaka juga berguna sebagai pengalaman bagi mereka agar terbiasa untuk selalu waspada. Di alam liar seperti itu, sungguh berbeda dengan tinggal di perkotaan yang jauh lebih kondusif.
Tak lama kemudian Beno, Fikri, dan Jaka terlihat bergabung bersama Pak Herson dan timnya untuk segera menyelesaikan membuat perapian. Datang juga Naya untuk membantu.
__ADS_1
"Ben, yuk kita kulitin rusa. Laper banget inih." Naya mengelus perut rampingnya.
"Ayolah," balas Beno. Berdua mereka dengan cekatan menguliti rusa dan mengeluarkan isi perut binatang tersebut. Rencananya rusa tersebut akan dibuat rusa guling meski dengan peralatan dan bumbu ala kadarnya.
Rena dan Sisi datang mendekati tempat dimana Naya dan Beno sedang menyiapkan rusa. Melihat kedatangan dua sahabatnya, Naya membuang wajah.
"Kita halusin cabe sama nyiapin sayur aja yuk Sis," ajak Rena agar sejenak mereka tidak bersinggungan dengan Naya. Mereka khawatir emosi Naya belum stabil.
Tak ada cukup banyak bumbu. Hanya ada garam kristal, cabe liar, dan juga beberapa tumbuhan liar seperti semanggi dan bayam liar yang tadi sempat dikumpulkan oleh Rena dan Fikri.
"Cabenya diapain ini, Ren?" tanya Sisi bingung.
"Potong kecil-kecil aja trus lu alusin diatas batu. Primitip primitip dah kita. Bodo amat, yang penting makan. Bener kata Angga, yang utama adalah bertahan hidup. Bukan waktunya kita sekarang mikir jijik, kotor, ga enak." Jawab Rena.
Ditepi pantai, terlihat Angga bersama Pak Bagas berjalan perlahan sambil mengamati situasi sekitar. Jika sesuai perhitungan, harusnya mereka akan menemukan sumber mata air disekitar tempat itu. Sudah menjadi hukum alam bahwa disekitar tepian pantai pasti akan ada setidaknya satu sumber air. Tidak hanya sungai besar yang akan bermuara ke laut. Sungai bawah tanah dan sumber air juga akan bermuara di laut.
"Nah ketemu, Pak!" teriak Angga girang. Diantara bebatuan karang tersembul pancaran air. Angga sudah mencoba mengecapnya dan memang rasanya benar tawar.
Angga dibantu Pak Bagas segera mengisi penuh botol-botol air mineral yang ada di tas Beno dan Naya. Mereka tak perlu pusing memikirkan minum dan persediaan air bersih lagi. Sumber air tepi pantai itu tak terlalu jauh jaraknya dari markas.
"Siapa nih yang pinter masak?" tanya Angga saat ia kembali ke markas.
"Cuma bakar daging ini bro. Siapa aja juga bisa. Lain cerita kalau ada bumbu lengkap dan dibikin masakan ala-ala rumah makan, itu dia baru butuh ahli masak.." sahut Beno yang telah selesai menguliti rusa bersama Naya.
"Emang lu tau cirinya daging bakar yang udah mateng itu seperti apa?. Sedarurat apapun, yang lebih ahli masak tentu berbeda dengan yang ga bisa masak. Disini semua keahlian dibutuhkan bro," tanggap Angga menjelaskan.
__ADS_1
"Iye iye komendan. Bawel amat jadi komendan," rutuk Beno sedikit kesal.
"Aturan, lu aja sono yang pimpin tim. Tapi kalau ada macan, jangan panggil gue. Adepin sendiri sono.." semprot Angga ikut kesal.
"Hahaha ampun bro pejuang tangguh. Lemes dikit napa, diajak becanda aja langsung ngegas!" Beno tertawa garing.
"Laki lu noh. Galak banget sekarang!" bisik Beno pada Naya yang ada disampingnya.
"Laki lu kalee. Secara kalian berdua akrab banget. Pernah gue kira maho lu bedua tau ga!" balas Naya juga sambil berbisik.
"Sini biar aku ambil alih cara masaknya," Lita datang menawarkan diri.
"Cabe sama garamnya dicampur aja. Pisah sebagian, trus balurin di bagian luar daging. Sebagian lagi campur sama sayuran trus masukin ke dalam tubuh rusa. Bakarnya sambil diputer bertahap ya, biar ga gosong di satu bagian aja," instruksi Lita mengambil alih.
"Wihh mantap euy. Udah CEO, pinter masak pulak. Dua jempol buat mbak Lita," salut Jaka.
"Aku juga salut sama kamu, Mas Jaka. Udah lucu, ramah pula orangnya.." puji Lita membalas.
"Eikeh juga salut ama lu, Cyn.." sambung Beno melambay.
"Nih..nih..bau-bau ngaco nih kayaknya. Awas aja lu ya sampe ngomong ga bener," potong Jaka tak suka.
"Eikeh juga salut ama lu, Cyn. Udah jelek, idup pulak..wkwkwk,"
***
__ADS_1