Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 46 : Pertempuran sengit


__ADS_3

18++ Warning!!!


Bab ini mengandung unsur kekerasan. Bagi yang dibawah umur atau tidak berkenan, silahkan skip menuju episode berikutnya. Bijaklah dalam membaca.


###



Tim bergerak dalam mode senyap. Mereka mengendap dan mengintai tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Separuh dari pasukan Putri CEO mulai memanjat pohon untuk bersiaga dengan panah. Tim panahan terbagi dari dua arah. Tim pohon akan melakukan serangan dari atas, sedangkan trio gitilici berikut separuh pasukan lainnya akan melontarkan panah dari jalur bawah.


Dihamparan pasir pantai terlihat beberapa tenda yang dibuat oleh pasukan penjahat. Semuanya nampak asyik duduk bersama menikmati sarapan pagi berupa nasi dan sarden kalengan. Melihatnya saja membuat tim Angga meneteskan air liur. Sudah berbulan-bulan tak pernah bertemu dengan yang namanya nasi, apalagi sarden yang pedas asam manis itu.


Berjalan melebar, tim Beno menyusur rerimbunan pohon yang berada di sisi kanan tenda. Begitu juga dengan tim Fikri yang bergerak ke sisi kiri tenda. Sedangkan tim Angga bersiaga penuh dengan jalur lurus menuju tenda. Mereka semua tinggal menunggu aba-aba Sukma agar tim panahan memulai aksinya.


SWIUUNG


BLETAKK


"Wadoww, siapa nih yang melempar batang bambu ke kepala gue?!" seorang pasukan penjahat mengaduh kesakitan.


Naya yang terlalu marah menjadi kurang kontrol sehingga mendahului start. Hampir saja ia merusak rencana yang telah disusun apik. Terlebih, panahnya tak mengenai sasaran dengan tepat. Panah itu meluncur ketepian tenda dan jatuh begitu saja dikepala seorang pasukan lawan.


Sebelum pasukan lawan menyadari lebih jauh, Sukma sigap memberikan aba-aba untuk tim panahan. Dalam waktu singkat anak panah bambu seperti berhamburan menghujani pasukan penjahat.


Meski tak memiliki daya hentak besar, setidaknya panah-panah itu mampu menancap ke tubuh lawan. Hanya saja, panah tak akan menancap terlalu dalam mengingat busur yang digunakan hanya berupa bambu dengan tali pelontar berasal dari tali tambang yang sempat diamankan dari gubuk Gino.


ZLAPPP


ZLAP


ZLEEBB


"Aaahh.."


"Arggh,"


Ada sekitar 5 hingga 6 orang pasukan lawan yang terkaing kesakitan. Darah mengalir dari tubuh mereka yang tertusuk panah.


Belum reda kekagetan lawan akan datangnya panah yang begitu mendadak, tim Beno dan tim Fikri sudah bergerak masuk dari dua arah. Pedang dan belati berkelebatan mengejar nyawa para pasukan musuh. Melihat itu, pasukan segera berpencar menjadi dua kelompok untuk menghadapi dua serangan dari arah yang berbeda tersebut.


Baru saja mereka bergerak menghadapinya dalam dua kelompok. tim Angga sudah menyusul masuk dari arah tengah. Lawan menjadi kalang kabut mendapati serangan yang bertubi-tubi dari tiga arah sekaligus.


Angga bergerak lincah seperti seorang penari, berputar mengayunkan pedang tiada henti. Hingga langkahnya terhenti saat pimpinan pasukan lawan yang berkepala botak datang menghadang.


Tak jauh dari Angga terlihat Sukma yang tampil buas seperti singa betina. Bersenjatakan tongkat dengan belati yang ia ikat kuat diujungnya, tanpa gentar terus saja maju menggempur pertahanan lawan.


Dua orang menghadang Sukma. Satu pria dengan pedang ditangannya menyerang sisi kiri tubuh Sukma menggunakan sabetan pedangnya. Namun Sukma bukan pegiat beladiri kemarin sore. Dengan gemulai ia menghindari serangan tersebut. Sebagai balasannya, dasar tongkat terarah tepat menuju perkutut lawannya.


Terkejut, sang lawan cepat mengayunkan pedang menghalau tongkat Sukma, bermaksud memotong tongkat kayu tersebut. Namun sayang, itu hanya gerakan tipuan Sukma.


CRASHH

__ADS_1


Cepat sukma menarik tongkatnya dan berganti ujung atas tongkat dimana terikat belati disana menghujam kuat di leher lawan, tepat dibawah rahang. Lawan itu seketika kelojotan meregang nyawa.


Satu lawan lagi menuju Sukma. Seorang pria jangkung bersenjata belati. Kombinasi antara pukulan tangan kiri dan gerakan belati pada tangan kanan beberapa kali terarah kebagian depan tubuh Sukma, mengincar area perut dan wajah. Sukma melompat dan menghalau setiap serangan menggunakan tongkatnya yang bergerak cepat seperti berputar. Sesekali ia mundur mengambil jeda jarak aman.


TRANGG


Pada satu kesempatan, batang tongkat Sukma membentur keras genggaman belati pria tersebut. Dengan rela sang pria membiarkan belatinya terlempar jauh diikuti rasa kebas pada telapak serta pergelangan tangannya.


Namun lawan tak mau menyerah begitu saja, dengan tangan kosong ia berusaha menepis setiap incaran ujung tombak Sukma yang bermata belati.


Sukma tak kehabisan akal. Tusukan tombak kembali menyerang, mengincar bahu kanan lawan. Pria itu menangkisnya. Tapi itulah yang diinginkan Sukma. Memanfaatkan tangkisan, tongkat Sukma meluncur turun dan cepat mencabik paha lawan.


"Aaarggh.."


Pria tersebut meringis kesakitan. Namun itu belum seberapa. Tanpa menunda, Sukma menggempurkan dasar tongkat kearah wajah dan sukses membentur mulut lawan dengan keras.


PRAKKK


Beberapa gigi tanggal dibarengi darah yang merembes keluar dari luka dimulutnya.


ZLEBB


Ternyata Sukma belum mau berhenti. Ujung tombaknya yang telah lepas dari paha korban tahu-tahu sudah bergerak cepat menembus perut sang pria jangkung. Nyawa kembali melayang ditangan Sukma.


Disisi lain. Terlihat Pak Bagas dan Lita bekerjasama dalam menaklukkan lawan. Seperti akrobat, Pak Bagas melempar dua belati kearah lawan. Sangat mudah sepertinya. Gerakan singkat tanpa menguras tenaga. Lita bertugas mengambil alih eksekusi pada jarak dekat jika lemparan belati Pak Bagas meleset ataupun ditepis lawan. Keduanya panen korban. Dalam waktu singkat berhasil menumbangkan 6 lawan tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti.


Angga berdiri tegak, berhadapan dengan pria bertubuh besar yang sebelumnya pernah terbahak didepan gubuk air terjun.


"Bocah-bocah sialan!!" hardik si botak geram.


"Inilah uang anak muda. Lu mana tau sulitnya cari uang. Dengan bekerja disini, gue bisa idup mewah. Kalau lu mau, serahkan Inaya, gue rekrut lu jadi pasukan elit langsung dibawah gue," dengan congkaknya si botak berkoar seolah dunia ada dalam genggamannya.


"Ga sudi gue idup bermodal ingusnya Pablo, kayak lu!!" cibir Angga dengan suara lantang.


"Keparatt luuu!" pria besar itu tersulut.


Wajah si botak berubah merah kuning hijau, memanas. Dengan penuh amarah ia layangkan pedang kearah Angga. Lincah Angga menghindar tanpa menemui kesulitan apapun. Beberapa kali ayunan pedang Botak menerpanya ruang kosong.


"Ahahaha.. ternyata pasukan yang dikirim Pablo itu cuma segini kemampuannya," ejek Angga memancing emosi lawan.


"Kurang ajarr!!" teriak si botak marah.


Lawan semakin gencar menyerang. Pedang dan pedang bertemu, berdenting. Namun Angga cukup iseng. Tatkala ia mendapatkan peluang untuk menyerang, justru ia hanya menampar pelan pipi lawan.


"Ish..pipi lu kasar bro.." Angga semakin mengundang amarah lawan.


Benar saja, setelah itu lawan menjadi semakin kalap untuk bisa menjatuhkan Angga. Wajahnya merah padam karena gejolak emosi yang meletup-letup.


BRUKK


Masih iseng, Angga menjegal kaki lawan. Tubuh tinggi besar itu jatuh berdebam diatas pasir pantai.

__ADS_1


"Upss..pak tua terjerembab. Hahaha." Kelakar Angga dengan usil.


"Arhhh..brengzek lu..bangsad!!" susah payah si besar mengangkat tubuhnya.


"Bersyukur lu, gue masih mau ngasih lu kelonggaran waktu buat bernapas. Kalau mau, sejak awal pipi lu bisa dicium mesra dengan sangat gimpil oleh pedang gue. Paham?!" tiba-tiba Angga membentak dengan garang.


Begitu si botak berdiri, Angga cepat melesat. Tak mau lagi ia memberikan kelonggaran waktu bagi lawannya. Niat hati ingin memancing antusiasme lawan dan berharap lawan menyerah untuk kemudian berpihak pada Angga. Namun itu adalah impian semata. Musuh telah dibutakan dengan harta dan amarah. Tak ada lagi peluang baginya untuk merubah diri.


ZAPPP


ZAPP


SRATT


Pedang Angga secara mengejutkan dengan mudahnya membuat luka pada leher, perut, dan paha si botak. Lawan belum sedikitpun bergerak, namun Angga sudah menumbangkannya. Kecepatan Angga seperti kilat. Dan dengan kilat pula mengirim nyawa si botak ke alam baka.


Hingga detik ini, telah tumbang selusin orang dari pihak lawan. Namun korban lainnya siap menyusul. Kolaborasi Beno dan Pak Herson membuahkan hasil tewasnya satu orang lagi dari pihak musuh. Perpaduan teknik lempar batu sembunyi tangan khas Pak Herson, didukung kerasnya hentakan pedang yang dikendalikan oleh Beno, membuat keduanya terlihat kompak dan berbahaya. Boleh lawan berkelit dari lemparan batu, tapi pedang siap menerjang. Atau bisa juga ia menghindar dari libasan pedang, namun dengan lemparan batu akan bersua.


Disisi kiri terlihat Jaka dan satu orang penjahat asyik berkejaran bak film india. Kata-kata pedas Jaka berhasil membuat lawannya naik pitam. Namun Jaka tak mampu menghadapinya. Alhasil ia justru berlari sambil sesekali melempar sendal, kaleng sarden, dan apapun benda yang ia lalui.


Fikri yang baru saja menyelesaikan satu orang lawan akhirnya datang membantu Jaka.


"Jack, jongkok!!..Hyaa," Fikri melompat tinggi kemudian menikamkan belati kedada lawan yang masih sibuk mengejar Jaka.


Lima belas tubuh kini terkapar tak bernyawa. Belasan orang lari tunggang langgang memasuki kapal meski berbagai luka akibat serangan panah tertoreh dibadan mereka.


Angga dan yang lainnya baru saja hendak mengejar, namun kapal itu segera melaju memecah gelombang laut dengan kecepatan penuh.


"Yahh..yahh. Kapalnya pergi, ga jadi pulang..Hwaaa!!" Jaka menangis dan meraung kemudian berguling-guling dipasir seperti bocah kecil yang tak dibelikan ice cream.



Bagaimana nasib tim Angga setelah tidak mendapatkan kapal untuk pulang?. Akankah mereka tetap tinggal disana hingga akhir hayat?


Nantikan babak lanjutan yang semakin menegangkan.


Bersambung ke next episode 🔜


***


Salam untuk pembaca,


Novel sudah update melebihi 40 episode. Bagaimana kesan-kesan pembaca setelah membaca sejauh ini?.


Tulis dong melalui kolom komentar dibawah ini, bagaimana kesan pembaca terhadap novel ini..


Reader dan Sider muncullah..


Like, Favorit, Vote, dan Gifts tetap disukai Author😄


Salam Hangat,

__ADS_1


FigurX


***


__ADS_2