Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 37 : Ow ow kamu ketahuan


__ADS_3


"Ow ow kamu ketahuan, mau lari kemana hayo!" teriak seorang wanita.


--Sontak dua puluh wanita dilapangan itu mengekor langkah Angga dan Beno.


--Pergerakan kawanan wanita itu begitu cepat dan lincah.


Melihat tanda bahaya, Lita membatalkan aksi persandiwaraan. Cepat ia membaur kearah Angga yang terlihat telah siap tempur dalam kepungan.


"Nih pakai jaketku. Tutup itu Lumpia Semarang!" Lita malu-malu melempar jaket yang ia kenakan.


--Asli Beno malu luar binasa. Kesenonohannya terpajang begitu nyata dihadapan CEO muda, cantik, dan masih perawan tersebut.


"Sori ya, Mbak. Sorii bangett.." wajah Beno sudah berubah merah kuning hijau karena sangat malu.


"Iyaa..dimaklumi," jawab Lita sembari menutup mulutnya diantara malu dan keterpanaan.


ZETTT!!


Sebuah tombak meluncur cepat, mengarah ke bagian stik balado Beno. Jika saja Beno tak cepat menghindar, sudah dapat dipastikan stik balado Beno akan berubah menjadi sate stik balado dengan ekstra saos tomat.


"Kalian bedua, ngomong mulu. Ayo lariii.." teriak Angga gusar.


Pontang-panting ketiganya berlari menghindari kejaran para Putri CEO yang semakin mendekat. Lemparan tombak juga sesekali berdesing menuntut mangsa.


HYAA..


TRAKK


Terpaksa Angga meladeni serangan pedang kayu yang mengarah padanya. Tapi namanya juga kayu kan, sekali libas pedang Angga sudah mampu memisahkan pedang mainan itu menjadi dua bagian.


Sayangnya, namanya emak-emak rempong dan yang ini cenderung sadis, sisa potongan pedang kayu tetap saja dipukul-pukulkan ke kepala Angga. Tak mau kalah pokoknya.


"Kalian hati-hati. Meski senjata mereka terbuat dari kayu, tapi sangat beracun. Gue apal banget dengan bau racun tanaman semacam ini. Siapa yang terkena racun, akan mati mengering dalam 3 hari!" teriak Angga waspada.


Disamping Angga, terlihat Lita bersiap untuk bertarung tangan kosong dengan seorang gadis muda setelah Lita berhasil menendang jatuh pisau kayu sang gadis.

__ADS_1


Beranjak ingin membantu Lita, namun Angga kembali disibukkan oleh emak-emak rempong yang terus saja ngeyel merangsek, menghujani Angga dengan pukulan kayu sisa pedang. Tak berhenti disitu, satu emak rempong lagi datang membantu.


Pada posisi Lita, ia nampak memasang kuda-kuda. Sekian detik berikutnya terlihat Lita menyuguhkan sebuah permainan apik. Dengan tangkas Lita menggempur lawannya dengan tendangan kiri kanan yang bertubi-tubi.


Sang gadis terkaing kesakitan tatkala berulang kali tendangan Lita telak membombardir paha luar, lempeng perut, hingga mengenai bahu. Dengan brutal gadis tersebut melakukan serangan balas. Belasan tinju ia hamburkan tanpa kontrol. Namun sayang, ia bukan lawan yang sepadan bagi Lita. Dilihat dari gerakannya, justru kemampuan Lita diatas Beno dan Fikri. Ternyata selama ini ia hanya diam seolah tak bisa apa-apa. Padahal Pak Bagas telah memberikan modal ilmu yang mumpuni. Bahkan Pak Bagas sendiripun tak akan menyangka jika diam-diam Lita serius mempelajari apa yang diajarkan Pak Bagas sejak kecil.


Tubuh Lita mengayun indah saat serangan sang gadis terkirim kacau kebeberapa bagian tubuhnya. Disaat lawannya lengah, Lita menyerong cepat dan meluncurkan satu pukulan telak menghantam rahang. Disusul satu pukulan lagi menghantam sisi rahang yang lain. Sang gadis langsung terpelanting tak sadarkan diri.


"Wuihh keren kamu, Mbak!!" teriak Angga puas melihat aksi Lita.


Beralih pada Angga, dua orang emak dengan usia berkisar 40 tahun an secara agresif menyerang Angga. Sejenak Angga mundur mengambil ancang-ancang.


Sebentar kemudian Angga ikut berlari menyongsong dua emak rempong. Ketika tubuh mereka hampir bertubrukan, Angga meloncat naik melakukan salto diudara. Dalam waktu singkat kini Angga berada dibelakang para emak.


Cepat Angga menumbukkan gagang pedang ke tengkuk salah satu wanita. Satu tangannya lagi menghantam kuat tengkuk wanita lainnya. Kompak kedua emak rempong itu limbung seketika.


PROKK PROK..


"Angga, kamu juga hebat.." Mbak Lita bertepuk tangan riang melihat bagaimana Angga dengan mudahnya melumpuhkan lawan.


Baru saja Beno hendak melakukan perkawinan, eh kok perkawinan sih. Baru saja Beno hendak melakukan perlawanan, tangan Beno sudah ditarik paksa oleh Angga.


--Bergegas ketiganya kembali berlari menuju hutan. Kini dibelakang mereka terlihat puluhan wanita mengejar.


SHUUTT


SHUT..


Dari atas pohon tiba-tiba berhamburan anak panah. Satu per satu wanita tersungkur ketika anak panah itu merobek daging mulus mereka. Namun yang dilakukan tim Angga bisa dibilang cukup terpuji. Panah-panah itu hanya menyasar kebagian tubuh yang tidak mematikan. Persis seperti yang dilakukannya Lita dan Angga tadi. Mereka hanya ingin menghambat pengejaran, bukan membunuh. Kecuali keadaan darurat tentunya, dan saat ini keadaan masih bisa dibilang belum terlalu darurat.


Angga dan kedua temannya terus berlari. Dibelakang mereka, belasan wanita tumbang silih berganti. Ada yang terkena panah dipahanya, dibahu, dan yang paling lucu adalah panah kiriman Jaka yang selalu mengincar vokong para wanita.


Melihat teman-temannya berjatuhan, wanita-wanita tersebut mulai memperlambat pengejaran dan tak lama kemudian berhenti mengejar demi membantu para wanita yang silih berganti merintih kesakitan.



Berlari kurang lebih satu jam dalam keremangan malam. Tim Angga berhenti didepan sebuah mulut gua. Keletihan memaksa mereka untuk singgah dan beristirahat sambil menunggu pagi tiba.

__ADS_1


"Sepertinya mereka udah ga ada yang mengejar. Kita beristirahat dulu disini. Jack, keluarin perbekalan baju. Kasihan tuh Beno salting sendiri diliatin para cewek hahaha.." Angga terbahak.


Dengan tangkas Pak Bagas dan Fikri segera membuat api unggun dimulut gua. Mereka hanya ingin singgah dan bermalam dimulut gua. Keadaan akan semakin sulit jika mereka bermalam didalam gua, kemudian Putri CEO menemukan mereka. Dengan bermalam diluar, mereka memiliki cukup waktu dan ruang untuk menghindar. Namun jika kondisi genting, misalkan ada binatang buas, maka mereka dapat berlindung dengan masuk kedalam gua kemudian memblokade pintu masuk menggunakan bebatuan, mengingat celah masuknya juga tidak terlalu lebar.


"Yeee..siapa juga yang liatin Beno. Enak aja lu kalo ngomong!" Rena tak terima menerima tuduhan dari Angga.


--Semuapun tergelak mendapati keadaan konyol tersebut.


"Bro..lu udah di ehek-ehek berapa kali disana? enak ga?" pertanyaan Jaka yang cenderung vulgar, terlontar begitu saja dari mulutnya yang minim filter.


"Jakaa..apaan sih!?" tegur Naya serba malu.


"Ini adalah bentuk wawancara, pengganti visum. Jangan ngeres pikirannya," balas Jaka tak mau disalahkan.


"Wawancara gundulmu sempal. Mana ada wawancara tapi yang ditanyain 'enak ga?'. Ahh lu nyari-nyari alasan aja!" Rena ikut menghakimi Jaka.


"Udah..udah. Gosah ribut. Gue masih syok tau ga!. Ini perjalanan paling memalukan dalam idup gue." Potong Beno sendu.


"Iya tapi lu kudu jujur juga. Jangan sampai suatu saat muncul anak-anak yang nuntut lu sebagai bapaknya," Jaka masih saja ngeyel.


"Jack..gua tabok nih, mau?" Rena mendelik kesal.


"Tenang aja. Gue masih aman. Belum mereka apa-apain kok. Yang gue tau, mereka nungguin pesta purnama malam ini buat perkosa gue. Tapi cuaca mendung membuat bulan tak terlihat, lebih untungnya kalian datang tepat waktu sebelum gue kehilangan keperjakaan yang hakiki ini," lanjut Beno yang sudah mulai bisa tertawa.


"Yakin lu masih perjaka?" kejar Jaka tak percaya.


"Yakin 1000%. Pernah sekali doang lu paksa garap vantat lu, tapi gua ogah!" jawaban Beno kali ini sukses memukul balik keusilan Jaka.


"Bangsad lu. Gosah bikin gosip murahan. Gini-gini gua juga normal se normal normalnya kalee," Jaka sewot.


"Lahh..dia yang nanya, dia juga yang sewot wkwkwk.." Fikri tertawa nyaring.


Namun tawa nyaring Fikri membawa masalah bagi mereka. Berawal dari terdengarnya suara gesekan benda besar yang menyeret tanah. Lambat laun pintu batu gua bergerak seolah ada yang akan memindahkan. Suara tawa Fikri telah mengusik ketenangan tidurnya.


Beberapa detik kemudian tepat dibelakang mereka, dimulut gua muncul sosok tinggi besar berwarna gelap.


__ADS_1


Bersambung ke episode 38 🔜


__ADS_2