
"Saya tahu dimana arah pulau Biwian itu. Bahkan dengan membaca arah matahari dengan pertimbangan posisi letak pulau Biwian, kalian bisa mengetahui arah kabupaten Grassick tanpa harus kembali ke pulau Biwian dulu," terang Sukma yang langsung disambut senyum lega oleh semua anggota tim.
"Kami juga bisa membantu kalian untuk membuat perahu kayu. Tapi.." Sukma menggantung ucapannya.
--Sejenak ia menatap lekat-lekat wajah Angga seperti ingin menyampaikan kerisauan hatinya hanya melalui tatapan mata.
"Apa karena suku Lampard?" tanya Angga penasaran.
"Bukan, bukan itu. Sebelumnya kan saya sudah bilang jika kami akan melawan suku Lampard dengan atau tanpa kalian," tepis Sukma.
"Lalu ada apa, Mbak?" giliran Beno bertanya karena rasa keingintahuannya begitu menggebu-gebu.
"Kalian ingat para penjahat itu?. Mungkin kita bisa melawan mereka lebih leluasa didarat. Tapi dilaut, dengan kapal mereka yang sebesar itu, jiwa kalian akan terancam. Kami sangat peduli pada kalian. Bukan hal yang buruk pula jika kalian tetap bertahan disini dulu bersama kami sambil mencari solusi lain yang lebih baik, atau menunggu tim penyelamat tiba," ucap Sukma memberi saran.
"Perkataan mbak Sukma ada benarnya. Kita bertujuh harus tetap hidup. Jangan ada lagi korban," Pak Bagas berpendapat.
"Benar juga apa yang dikatakan mbak Sukma. Sebelumnya kita tak mempertimbangkan kendala seperti itu," Angga mulai bersuara.
"Lalu apa rencana lu selanjutnya bro?" tanya Fikri dengan pandangan mata penuh kebimbangan.
"Tenanglah bro. Jangan buru-buru mengambil solusi lain jika nantinya malah tidak mateng. Pelan-pelan kita pikirkan sambil menikmati nasi yang ada disini. Ya ga mbak Sukma? Hehe," Beno menjulurkan lidahnya sambil tersenyum tengil.
"Hahaha..tentu saja. Jatah beras tahun ini berlimpah setelah separuh pasukan kami meninggal. Kalian bisa makan nasi sekenyang-kenyangnya disini." Sukma tergelak mendapati kerabat-kerabat barunya yang terasa sungguh dekat dihati meski terhitung belum lama kenal.
Waktu berjalan cepat. Tak terasa sudah 1 bulan tim Angga 'numpang' tidur dan makan dipemukiman Putri CEO, atau tepatnya bulan kelima sejak mereka terdampar dipulau itu. Untuk mengisi kejenuhan dipemukiman, Angga, Pak Bagas, dan Sukma menyibukkan diri dengan melatih beladiri pasukan Putri CEO agar lebih tajam dan berkualitas. Ilmu pertarungan tangan kosong maupun penggunaan senjata mereka ajarkan demi untuk membayar nasi hehe.
"Jangan begitu lah kaka Author. Sukma tulus lho ngasih mereka makan. Gratis tanpa dipungut bayaran apapun, Hmmm.." Sukma melirik kesal.
Disisi lain, Fikri yang memiliki kecerdasan diatas yang lainnya berusaha menyibukkan diri dengan mengutak-atik Handphone milik Naya, berharap ada keajaiban padanya. Sebuah obeng mini dengan berbagai ukuran memang dimiliki oleh Fikri dan senantiasa ia gantung dilubang ikat pinggang celananya, mirip seperti gantungan kunci.
__ADS_1
Sebenarnya tak sulit bagi Fikri untuk melakukannya. Sebelumnya, ia sempat memiliki sambilan sebagai tukang servis handphone panggilan saat masih kuliah. Namun segala kericuhan selama dipulau, ditambah rasa pesimis pada harapan hidup atas handphone tersebut, membuat Fikri tak ada niatan untuk mengopreknya.
Dan dipemukiman Putri CEO, karena begitu longgarnya aktivitas, Fikri berusaha meraih peruntungannya dengan menguras pikiran agar handphone Naya bisa diselamatkan.
Didapur umum, Naya dan Rena, beserta beberapa warga wanita yang tak bisa beladiri, tengah asyik mengikuti sesi kursus singkat memasak dengan dipandu Chef Lita meski dengan bahan yang sekedarnya. Mungkin jika ada liputan televisi tentang memasak di alam liar, tentu kegiatan ini akan gencar diliput dan segera viral, menandingi ketersohoran Chef Marinka ataupun Chef Juna.
Hari-hari mereka lalui dengan sebesar-besarnya harapan untuk hidup. Apapun mereka lakukan demi menikmati keterpaksaan hidup dipulau yang entah sampai kapan akan berakhir.
Bagaimana dengan Sisi dan Jaka?. Satu bulan berpisah, Angga belum menemukan informasi tentang keberadaan Sisi. Terlebih, rata-rata mereka tak peduli tentang informasi itu sendiri. Jangankan pertemanan, bahkan persaudaraan kandung saja bisa tercerai berai jika tak ada welas asih dan kekompakan. Dalam hal ini bukan tim Angga yang menghindari kekompakan, justru Sisi yang lari menjauh dari kekompakan tim.
"Gimana bro hasil utak-atik-otak lu?" tanya Angga tatkala duduk bersama didepan gubuk.
"Masih abu-abu bro. Gue hanya berusaha mencoba, belum tau hasilnya akan seperti apa. Sejauh ini sih handphone Naya masih matot," jawab Fikri dengan tatapan lesu.
"Kalau lu udah ga sanggup. Lambaikan tangan aja kearah kamera," goda Beno memecah kesuntukan.
"Hahaha..lu kira gue ikut uji nyali?!" Fikri tertawa mendengar kekonyolan sahabatnya.
"Oh tidak tidak. Lu jangan bikin kacau kerangka cerita. Sudah jelas-jelas ini novel genre fiksi modern dengan tema survival, meski sudah kalah lomba sih..wkwkwk. Bukan cerita horor. Jangan ngawur lu!" cerocos Angga menolak ide ngawur Beno.
Author hanya diam saja melihat perdebatan trio gatoloco. Setidaknya, bahasan unfaedah mereka itu bisa membuat cerita sedikit lebih panjang. Sesekali Author sambil mengelus dada, mengingat betapa keritingnya jari saat mengejar update dan ternyata tak nyantol menjadi pemenang lomba meski pemenang harapan ke 10 sekalipun. Bahkan sekedar hadiah Like dari pembaca saja juga seperti sebuah mimpi. Sejujurnya Author jadi 'sedikit' males update karena kehilangan sebagian semangat. Gimana kalau gantian pembaca saja yang lanjutin updatenya?. Hahaha.. harusnya episode ini berjudul sesi curhat.
EUREKA!!
EUREKA..
Pagi yang tenang dipemukiman Putri CEO mendadak digemparkan oleh suara seorang pria yang sedang berlari-lari kesana-kemari meneriakkan kegembiraannya.
Ia mengatakan 'Eureka' yang artinya 'Aku menemukannya', sebuah ucapan legendaris yang pernah diteriakkan Archimedes saat berhasil menemukan rumus untuk menghitung volume benda yang tidak memiliki bentuk baku.
__ADS_1
"Woy..woyy. Lu kenapa, Kri?. Kesurupan lu ya?!" Beno menghentikan langkah Fikri.
"Woh..gue bukan ahli pura-pura kesurupan kayak lu. Gue ini tipikal pria jujur dan bersahaja.." Fikri berkacak pinggang, menyombongkan diri.
"Suka-suka lu dah. Eh lu kenapa?!" tanya Beno lagi.
"Kumpulkan tim. Handphone Naya kembali berfungsi. Cepetaannn!!, keburu abis baterainya tar," ucap Fikri dengan intonasi cepat.
"Yeee..tau baterai sekarat, ngapain lu pake acara selebrasi muter-muter kompleks emak-emak, pake teriak-teriak pula?!" cibir Beno erosi.
"Udah buruaaan!!. Ga ada waktu lagii.." teriak Fikri panik.
--Beno menjadi kelabakan sendiri.
--Tapi ternyata kesemuanya sudah ada disana tanpa dipanggil.
--Dipanggil deng, pakai 'Eureka' Fikri.
"Naya.. cepet kesini. Yang mana kontak bokap lu?. Baterai tinggal 3%. Udah untung kita masih dapet sisa daya baterai meski hape udah koit 5 bulan," Fikri sudah tak sabar lagi.
Melalui keterangan Naya, koordinat lokasi segera dikirim oleh Fikri ke kontak Pak Leo, ayah dari Naya. Namun sayangnya, loading pesan berlangsung begitu lama karena keterbatasan signal. Di pojok kanan atas handphone hanya terlihat tanda 'E'.
Dua menit kemudian akhirnya baterai habis juga, namun itu terjadi beberapa detik setelah pesan sukses terkirim.
"Fiuhh..hampir saja," desau Fikri terduduk direrumputan sambil menyeka keringatnya.
Maaf update episode ini hanya sedikit. Mood nulis Author lagi ngedrop. Penyakit males nulis tiba-tiba datang menyerang.
Dilanjut ke next episode aja yah 🔜
(kalau sempat 😅)
***
__ADS_1
Jumat Berkah, Jumat Sedekah. Hanya sekedar klik (👍) LIKE saja InsyaAllah juga merupakan sedekah 🙏.
***