Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 28 : Disekap


__ADS_3


---


BUKKK..


Dalam kondisi konsentrasi terpecah, Gino melakukan tendangan ke arah punggung Angga. Tak pelak Angga langsung tersungkur ke tanah. Pedang di tangan Angga terlempar ketika ia membutuhkan kedua tangannya untuk melindungi wajahnya dari benturan. Angga segera berbalik badan dan bersiap untuk berdiri. Namun Gino sudah siaga didepan Angga dengan kedua belatinya.


"Anggaaa!!" Naya histeris.


--Ia panik melihat Gino sedang berdiri persis didepan Angga yang masih tergeletak ditanah.


Angga baru saja berusaha duduk untuk bersiap menghadapi Gino, namun dari belakang Angga datang Sisca membawa potongan pohon.


BLAKK..


BAKK


Sisca memukul keras tengkuk Angga. Pukulan kedua mampu membuat Angga tak sadarkan diri. Meski Angga seorang ahli, dan Gino juga terbilang dibawah Angga kemampuannya, tapi yang namanya dibokong dari belakang itu sesuatu banget. Sehebat apapun orangnya, jika ia diserang dari blind zone, maka akan tumbang juga. Tak terkecuali yang terjadi pada Angga saat itu.


"Anggaaa.."


--"Brengzek kalian!!" Naya berteriak semakin histeris.


--Ia meronta-ronta dari kuncian Candra dibelakang tubuhnya.


"Tutup mulut lu, dasar sundals.." bentak Candra dengan mulut kotornya sambil mempererat cengkraman pada kedua pergelangan tangan Naya.


"Gue tau lu itu sok suci. Akting doang. Namanya anak orang kaya raya, pasti sudah sering berfoya-foya dan tidur dengan pria-pria kelas atas. Itulah alasan kenapa lu ga ada minat sama anak kampus. Karena lu sundals!!" lagi-lagi Candra menerorkan kalimat pedas disamping telinga Naya.


--Airmata mengalir deras dikedua mata Naya. Ia kini hanya mampu menangis tersedu sambil menggigit bibir bawahnya untuk meredam suara tangisannya.


--Hatinya sangat terluka karena dituduh jalank oleh Candra.


--Hatinya juga serasa remuk melihat Angga tergolek pingsan tanpa daya.


--Pikiran Naya kini begitu buntu dan rumit.


Dengan paksa Candra menarik tubuh Naya untuk mengikuti langkahnya. Ia menyibak dedaunan hutan menuju suatu tempat yang Naya belum tahu. Sekitar 20 meter langkah mereka terhenti didepan sebuah gubuk bambu. Terlihat Gino dan Sisca juga datang dengan memanggul tubuh Angga.


"Bangsad. Berat banget tubuhnya," umpat Sisca kesal.


--Seperti biasa, Gino hanya diam dengan tenang tanpa terlalu banyak berbicara.


"Lu jangan apa-apain tuh cewek sebelum Angga sadar. Gue perlu negosiasi dulu ama tuh bocah," ucap Gino memberi penekanan.


"Apa mau kalian?" Naya mendelik galak.


--Wajahnya masih terlihat sembab. Ia kini sedang dibawa masuk ke dalam gubuk.


--Begitu juga dengan Angga.


Angga diikat disebuah pilar gubuk menggunakan tali tambang yang entah mereka dapatkan dari mana. Bisa jadi itu adalah tali pengikat yang berada didalam sekoci.


Angga masih tak sadarkan diri. Dan kini pedang Angga sudah berpindah tangan. Naya hanya mampu terdiam dalam pasrah.


"Kalo lu ga mau diiket kek dia, lu jangan banyak omong. Duduk aja diem disitu. Satu lagi, jangan coba-coba kabur dari sini!" ucap Sisca memberi peringatan.

__ADS_1


"Kalian emang bener-bener brandalan. Yang lu semua lakuin udah kelewat batas. Bahkan kalian berniat ngebunuh Angga. Ini udah keterlaluan. Gue ga sudi punya temen kuliah kek kalian!" Naya masih saja menyalak marah.


--Ia tak peduli pada ancaman Sisca.


"Udah gue bilang. Lu dewi persik gosah banyak omong. Ato lu minta diiket bareng cowok itu?!" Sisca mengulangi ancamannya.


--Tersirat wajah gusar karena Naya tak mau menuruti perkataannya.


Sejenak Naya terdiam demi mendengar ancaman Sisca yang kedua kalinya. Terlintas ingatan tentang ucapan Angga untuk mengurangi bicara dan becanda agar bisa menghemat energi. Namun..


KRUKK


KRUKKK..


Perut Naya mengeluarkan bunyi-bunyian khas. Hari sudah semakin petang dan perutnya belum diisi sejak pagi. Begitu juga dengan Angga. Harusnya tadi siang mereka sudah kembali ke markas jika sesuai rencana. Siapa yang menyangka akan berujung penyekapan seperti ini.


"Perut lu manusiawi banget. Tau aja kalo kita mo bakar daging. Lu tunggu aja, kami ga akan membiarkan tamu agung kita kelaparan," Gino tersenyum misterius.


--Dalam benaknya sedang menyusun rencana.


--Dan itu memerlukan andil Naya dan Angga untuk mewujudkannya.


Naya hanya duduk terdiam disamping tubuh Angga yang terikat. Ia sama sekali tak berniat kabur. Atau tepatnya, ia tak akan meninggalkan Angga seorang diri dalam sekapan musuh mereka. Ya, Naya sudah menganggap mereka adalah musuh. Bukan lagi teman kuliah ataupun sekedar manusia yang masih perlu untuk dihargai nyawanya. Mereka sendiri yang menyatakan bahwa tak ada hukum di pulau itu. Maka itu artinya, tak ada pula sedikitpun sopan santun dari tim Angga dalam mempertahankan diri, melindungi nyawa, serta melawan serangan musuh yang membahayakan eksistensi mereka. Tak ada hukum disana, yang kuat akan lebih berkuasa. Namun setidaknya, orang-orang baik lah yang memenangkan kekuasaan itu.


"Bagaimana cara lu idup selama ini?. Berburu juga seperti kita-kita?" tanya Sisca sedikit ramah sambil menata tumpukan kayu yang sedianya akan dipakai untuk menyalakan api.


"Ya." Naya hanya menjawab singkat.


--Tatapan kosongnya menerawang ke dinding-dinding bambu, seolah menghitung jumlah anyaman demi anyaman yang ada.


--Sebagai wanita, ia juga memiliki sedikit belas kasihan pada temannya.


--Meski sekedar melantunkan pertanyaan, tapi bentuk perhatian itu sudah cukup mewakili sedikit kepeduliannya.


"Pindah-pindah," lagi-lagi jawaban singkat yang diberikan oleh Naya.


--Tapi ia tak berbohong sepenuhnya.


--Selama ini mereka memang beberapa kali berpindah tempat untuk bermalam.


"Cuma berdua?" lanjut Sisca.


"Ya."


--"Hanya kami berdua yang saling mencintai. Yang lainnya belum terbukti,"


--Naya hanya mengeluarkan suara pada jawaban 'ya' saja.


--Kalimat berikutnya adalah ucapan dalam hati.


--Hehe..tidak sepenuhnya ia berbohong dalam menjawab.


--Itu disebut ke-smart-an dewi kampus yang masih bisa berpikir cukup jernih dalam menghadapi persoalan, meski dalam kondisi terancam sekalipun.


"Ehmm..kalian sudah pernah ketemu mereka?" Sisca lagi-lagi bertanya.


--Namun pertanyaannya kali ini sedikit ambigu.

__ADS_1


"Mereka?"


--"Siapa?"


kerut kening Naya menyiratkan ketidakpahaman atas pertanyaan Sisca.


"Suku itu..Pen.."


--Belum selesai ucapan Sisca, namun terpotong kata-kata Candra yang baru muncul.


"Pastinya lu bedua udah kumpul kebo selama disini kan?. Secara gitu loh, cowok cewek hidup berdua berhari-hari. Mana mungkin kelamin lu ga bergetar..hahaha," Candra muncul setelah sekilas mendengar percakapan Sisca dengan Naya.


"Seperti lu sama Sisca ya?" balas Naya dengan ringan.


"Brengzek lu. Dia sodara gua woy. Pake otak lu!" Candra berucap dengan kesal.


"Ini pulau bro. Ga ada hukum disini. Lu bebas aja meniduri sodara lu sendiri kalau lu mau," dengan cerdas Naya membalik kata-kata.


--Candra sejenak terdiam menahan amarahnya.


"Udah lu skip skip dah sono. Tunggu makanan kelar, biar lu ga gampang uring-uringan," potong Sisca yang mulai menyusun beberapa tusukan besar daging kelinci diatas bara api.


"Eh lu sundals, bantuin Sisca masak noh. Biar ada manfaatnya dikit," ucap Candra sebelum pergi keluar gubuk meninggalkan mereka berdua.


"Berisikk." balas Naya kesal.


---



---


"Ini sudah hampir malam, Pak Bro. Kenapa belum ketemu juga ya," Beno terduduk diatas sebuah batu besar.


"Sabar boorr. Sabar!!" Pak Herson terus saja menghibur.


Dalam diam, Beno melihat sesuatu yang aneh disekitar tempat mereka beristirahat. Beberapa dahan dan daun terpotong dengan sayatan rata. Itu jelas terkena benda tajam. Dan hanya pedang Angga yang bisa melakukan itu. Tapi yang lebih aneh adalah lokasi sayatan, tidak hanya pada satu tempat, melainkan tersebar di sekeliling area. Potongan dahan juga terlihat masih segar. Seolah menunjukkan bahwa telah terjadi pertempuran beberapa saat yang lalu.


"Sepertinya Angga bertemu masalah, Pak Bro.." ucap Beno sambil mengamati beberapa daun dan dahan yang mengeluarkan getahnya setelah terpotong.


"Mungkin Angga dan Naya belum terlalu jauh dari sini. Ayo kita jalan lagi untuk mencari," ucap Pak Herson menanggapi.


"Waktu kita terbatas. Semoga mereka segera ketemu sebelum gelap," imbuh Beno menengadahkan wajah melihat pancaran matahari yang semakin meredup dimakan pekat malam.


---



---


**


Pembaca yang tercuintah ❤️,


Sempatkanlah sejenak pencet jempol 👍setelah membaca setiap episode.


Author tuh bingung, asli. Jumlah view nambah banyak, tapi ga ada jempol tertinggal. Apa sedemikian jeleknya cerita ini sehingga membuat kalian datang dan pergi sesuka hati?

__ADS_1


__ADS_2