
JEBBB..
"Tidakkk!!" Jaka yang berguling dipasir tiba-tiba menjadi histeris.
Seorang penjahat yang sebelumnya berpura-pura mati mendadak berdiri dan menusukkan pedangnya ke perut Pak Herson.
Tak cukup waktu bagi Angga dan Pak Bagas untuk melakukan reflek saat penjahat itu bangkit, karena posisi kedua pria tersebut sedikit jauh setelah sebelumnya berlari untuk mengejar kapal.
ZLASHH
"Ahhh.."
Lita dengan bidikan tepat mengirimkan anak panah kebagian mata pria tersebut. Disusul dengan Sukma yang berlari kencang, kemudian melemparkan tongkat bermata belatinya.
BLESSS
Tongkat itu kuat menancap dibagian ulu hati. Seketika pria itu terkapar benar-benar mati, bukan pura-pura mati. Apalagi pura-pura lupa seperti lagunya Mahen.
"Husss..Author, jangan pake becanda. Ini episode sedih, Pak Herson ketusuk pedang. Ga pake Mahen-mahen segala!!" potong Fikri emosi melihat ilustrasi yang diberikan Author.
--Sedangkan Author, bomat banget.
--Yang penting pembaca bisa terhibur.
"Pak..Pak Herson, maafkan aku," Angga berlari kemudian bersimpuh disisi tubuh Pak Herson.
"Bu Mayang sudah menitipkan bapak ke aku. Tapi aku ga bisa menjaga bapak.." Angga menangis.
--Ia begitu menyesal.
--Sosok bapak baginya juga kini diambang kematian.
"Ss..sudah lah, Ngga. Ka..mu ss..su..dah mm me..laku.kan ya..ya..ng terba..ik. Tak..ddir see..mua oo..rang ber ber..beda," Pak Herson dengan terbata berusaha menghibur Angga.
"Bertahanlah, Pak. Jangan banyak bicara dulu," Jaka ikut bersimpuh.
--Begitu juga dengan anggota tim lainnya.
"Haha..kka..mu aaa..nak bb.bbaik, Jaka. Mes..ki ka..dang nye..belin. Taap..tapi istri.ku sed..ang menung..gu di..suur..ga. Ka..kalian jaga di..di..ri yah. Jang..ngan teng..kar. Tetap..lah kom.kom..pak," suara Pak Herson semakin melemah.
Semua menangis. Bahkan Sukma dan pasukannya juga tak luput dari airmata melihat kondisi Pak Herson.
"Ang..ga, sele..sai kan misi ini. Aa..aa.ku...."
Pak Herson tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Kematian terlanjur datang menjemput sang dosen. Justru mungkin ia merasa bahagia karena akan segera menemui istrinya. Sang Romeo menyusul Julietnya. Hidup dan mati tetap bersama.
"Pakk..Pak Hersooon!!" Angga mengguncang tubuh dosen tersebut, berharap ini hanya sebuah canda.
Suara tangis dan raungan pilu bersahutan dipesisir pantai Mawar. Jiwa-jiwa yang terluka karena kepergian Bu Mayang, kini semakin terluka dengan meninggalnya Pak Herson.
Dipemukiman Putri CEO, semua terlihat murung. Setelah sebelumnya mereka menguburkan jasad Pak Herson didekat makam istrinya, dekat gubuk air terjun, mereka bersepakat untuk sementara waktu tinggal di pemukiman yang dipimpin Sukma.
__ADS_1
"Sekarang apalagi yang akan lu katakan, Hahh?!. Lu cuma bisa ngomong. Terbukti, apa yang gue khawatirin kembali terjadi.." sembur Sisi dengan berderai airmata.
"Udah dong, Sis. Lu tenangin diri lu," Rena mencoba menghibur.
"Kalian sama aja. Otak kalian udah dicuci oleh Angga dengan segala ambisi dan kesombongan yang sok hebat dengan ilmu beladirinya!" bukannya mengendur, Sisi justru semakin histeris mengucapkan kalimat-kalimat yang tak pantas diucapkan.
"Ok stop, Sis. Sekarang apa yang lu mau?. Kalau lu ingin pulang, dan udah ga percaya lagi dengan tim ini, SILAHKAN!!. Lu sahabat gue, tapi kalo lu ga bisa diterima sebagai sahabat, silahkan memisahkan diri dari tim, SAAT INI JUGA!!" Naya mendelik marah.
"Ooh..jadi lu mulai ngebelain cowok lu yang ambisius dan sok paling bener sendiri itu. Bahkan menyisihkan sahabat lu sendiri?. Ok, Nay. Tanpa lu minta pun, gue udah muak dengan tim taman kanak-kanak ini!" Sisi beranjak berdiri dan melangkah.
"Sisi. Jaga ucapan lu!!" Rena ikut membentak.
"Tunggu. Ok, gue yang salah. Tapi tolong lu jangan memutuskan keluar dari tim. Itu sangat berbahaya.." Angga angkat bicara.
--Bagaimanapun juga Sisi hanyalah seorang wanita yang lemah.
--Diluar sana begitu banyak bahaya yang akan mengincar.
"Sori..gue udah ga bisa jalan bareng kalian. Gue akan temukan cara sendiri agar bisa kembali pulang," Sisi masih bersikeras dengan pendiriannya.
"Lu inget pesan Pak Herson?. Kita ga boleh bertengkar. Tetap kompak," Fikri ikut berbicara, berusaha menahan kemauan wanita keras kepala tersebut.
Tanpa memperdulikan bujukan teman-temannya, Sisi berlari keluar pemukiman.
"Sis..Sisi, tungguu!!" Jaka berlari mengejar.
Beno hendak berdiri untuk ikut mengejar. Namun tangan Lita menahannya.
"Biarkan mereka, Mas. Hidup itu pilihan." Ucap Pak Bagas tegas.
--Sebelumnya, ia hanya sebagai pendengar karena mengingat kapasitasnya yang hanya sebagai orang rendahan dikampus.
--Namun kematian Pak Herson membuat Pak Bagas bangkit dan merasa bahwa dialah kini yang dituakan didalam tim, serta sebagai pengganti bapak bagi semuanya.
"Bener Pak Bagas sih. Tar juga dia kembali kalau udah bosen diluar. Kayak ga tau Sisi aja kita," timpal Rena masih dengan nada jengkel.
Naya hanya terdiam berusaha meredam amarahnya. Tak hanya Naya, seluruhnya juga berpendapat sama. Angga adalah pimpinan mereka. Apapun keputusan yang diambil, maka tim harus ikut dan tak perlu banyak omong. Toh kenyataannya Angga yang lebih memiliki pengalaman untuk hidup di alam liar daripada mereka.
"Kalian tenang saja. Aku akan mengutus beberapa orang yang akan memantau mereka dari jauh. Biarkan mereka mencoba hidup sendiri diluar sana. Kami akan berusaha melindungi tanpa mereka ketahui," ucap Sukma memberikan solusi.
"Jujur gue pusing menghadapi ini semua. Bukan kemauan gue juga untuk berlama-lama dipulau ini. Siapa juga ya ga mau pulang?!" ungkap Angga tatkala sisa 7 orang anggota tim tengah berbicara bersama didalam pondok.
"Sudah 1 minggu Sisi dan Jaka pergi. Dan gue merasa bersalah terhadap mereka," lanjut Angga penuh kegundahan.
"Seperti yang saya bilang, Mas. Hidup adalah pilihan. Mereka bebas menentukan jalan hidup mereka sendiri," ucap Pak Bagas bijak.
"Lagian ya. Bukan salah lu kok, Ngga. Gue udah ngobrol berdua ama Naya. Emang Sisi aja yang kebangetan. Justru dia sendiri yang merusak persahabatan kita. Sejak dia pergi, gue udah sepakat dengan Naya untuk merelakan Sisi. Bener Pak Bagas, semua punya jalan hidup sendiri-sendiri," Rena tak ingin hanya diam melihat kerisauan Angga.
"Lu jangan down gitu. Ga ada yang salah dari lu. Justru lu adalah orang yang paling penting dan berjasa banyak bagi tim. Bukan lu yang berkehendak agar Bu Mayang meninggal. Bukan lu juga yang meminta penjahat itu membunuh Pak Herson. Semua serba memiliki keterkaitan. Sejak kita dipersiapkan Pak Rektor untuk berangkat ke Biwian, sejak itu pula takdir petualangan kita di alam liar terbentuk. Kalau emang Sisi ga mau idup menderita seperti ini, harusnya dia menolak saja saat ditunjuk untuk berangkat ke Biwian. Dengan dia menerima, maka itu adalah resiko bagi dia sendiri, seperti yang kita alami masing-masing disini dengan segala konsekuensinya sesuai keputusan yang kita ambil masing-masing." Beno berusaha menghibur sahabatnya.
"Yang penting sekarang. Kita bertujuh harus bener-bener solid. Jangan lagi ada yang bertengkar dan memisahkan diri," lanjut Naya lembut.
"Gue ama Beno jelas tetap menjaga panji bendera kebanggaan tim gatoloco, gitu kan Ben?" sambut Fikri dan dijawab anggukan cepat oleh Beno.
__ADS_1
"Gue sama Naya juga akan selalu ngedukung lu, Ngga.." ucap Rena lagi.
"Saya sebagai camernya mas Beno ga mungkin memisahkan diri hehe," Pak Bagas berkelakar, mencoba meredakan ketegangan.
"Iissh.. apaan sih bapak ini..iiih," Lita tiba-tiba merajuk manja.
--Seumur-umur tinggal dipulau, baru kali ini tim melihat Lita kolokan seperti itu serta bermanja-manja terhadap ayahnya.
"Hahaha..Top banget buat Pak Bagas. Hidupp camer!!" Beno mengangkat tangannya tinggi keudara.
--Lita semakin manyun dibuatnya.
"Eh..gue tiba-tiba punya ide." Angga menunjukkan wajah cerahnya.
--Tak seperti sebelumnya yang murung, bingung, kusut seperti semvak dalam sarung.
"Apaan bro?" tanya Fikri antusias.
"Kita tanyakan arah pulau Biwian kepada mbak Sukma. Lalu kita bikin perahu kayu buat kesana," ucap Angga penuh semangat.
"Iyaa betul. Kenapa kita ga kepikiran ide ini dari dulu yah," Beno sumringah wajahnya.
"Kalau begitu, Rena tolong lu bilang pada mbak Sukma untuk menjemput Sisi. Kita harus mengajaknya turut pulang bersama," pinta Angga.
--Rasa jengkel terhadap Sisi perlahan mulai terkikis oleh keceriaan tatkala ditemukan peluang untuk pulang.
"Mas Angga maaf. Pasukanku kehilangan jejak Sisi dan Jaka," ucap Sukma merasa bersalah.
"Hilang, Mbak?" Beno kaget.
"Iya. Tadi Sisi dan Jaka sempat diganggu oleh kawanan serigala. Demi menyelamatkan mereka, akhirnya pasukan memancing serigala agar mendekat kepada pasukan dan menjauhi Sisi. Tapi sayang, saat pasukan tengah disibukkan oleh Serigala, ternyata Sisi dan Jaka pergi. Setelah berhasil melumpuhkan serigala, pasukan pun kembali mencari keberadaan dua orang itu. Tapi sayangnya mereka tidak ditemukan, seperti menghilang ditelan bumi," lanjut Sukma memberikan penjelasan.
"Nah. Sempurna!!. Gue justru nunggu saat-saat seperti ini. Sejujurnya gue kurang setuju jika Sisi dikawal pasukan Putri CEO. Keenakan dia malah. Biarkan dia berjuang dan merasakan apa yang sudah menjadi pilihan dia. Toh sudah ada Jaka yang merasa mampu untuk melindunginya, kan?!. So, buat apa kita berpusing-pusing buat orang yang tak mau berpusing-pusing bareng kita. Biarkan aja dia pusing sendiri dengan segala keputusannya." Bukan iba terhadap Sisi, sebaliknya Rena merasa ini adalah jalan yang paling tepat bagi masa depan Sisi.
"Tapi, bukankah Sisi temen kuliah kalian juga.." sela Lita.
"Iya, sebelum dia sendiri yang memutuskan hubungan pertemanan ini," sambung Naya yang masih merasa kesal dengan tingkah Sisi.
--
Bagaimana ya dengan nasib Sisi ini?. Bagaimana juga dengan kelanjutan rencana kepulangan tim dari pulau Mawar?
Jalan masih panjang, perjalanan belum usai.
Bersambung ke next episode 🔜
^^^DPKBPC @2021^^^
^^^FigurX Productions^^^
***
Terimakasih buat yang sudah dan akan memberikan like, komen, vote, favo, dsb. Author doakan semoga semakin berlimpah rizkinya, lancar pekerjaannya, berkah hartanya, sehat diri dan keluarganya. Aamiin.
__ADS_1
***