
---
Angga tak bergemping atas permintaan Candra. Pedang masih erat berada di genggaman Angga. Sejenak terlihat Gino mengeluarkan dua belati dari balik punggungnya. Pun juga dengan Candra dan Sisca yang mengeluarkan masing-masing satu bilah belati.
"Tuli apa bego lu hah?. Kesiniin pedang lu, anjink!" mulut pedas Candra terus saja menyalak. Angga sedikit tersenyum, kemudian perlahan melangkah maju.
"Kamu mundur dulu, biar aku hadapi orang-orang ini!" bisik Angga kepada Naya sambil terus melangkah dan berhenti beberapa meter didepan Naya.
"Sekali lagi gue pastiin, lu minta apa tadi?" tanya Angga tegas.
"Asli tuli lu, njing. Gue minta pedang lu!" ulang Candra dengan intonasi semakin tinggi.
"Ok. Sesuai request.." Angga menjawab singkat kemudian berkelebat maju mengibaskan pedang ke arah trio arogan yang berdiri sejajar.
Melihat Angga melakukan perlawanan, ketiganya maju pula secara bersamaan.
TRANG..
Pedang Angga ditahan dengan kuat oleh dua buah belati milik Gino. Detik berikutnya terlihat Candra, dua langkah maju mengirim tusukan belati ke bagian perut kanan Angga. Hampir bersamaan dengan Candra, ada Sisca yang juga menyerang menggunakan belati dan mengincar leher kiri Angga.
Posisi Angga cukup sulit. Jika ia menarik pedangnya untuk melayani dua serangan lainnya, maka ia akan dikejar oleh dua belati Gino. Namun jika dia tak menarik pedangnya, tubuhnya akan dalam masalah besar.
Ternyata kemampuan Candra dan Sisca diluar perkiraan Angga. Ia sebelumnya memperkirakan hanya Gino yang mahir beladiri. Namun jika dilihat dari serangan Candra maupun Sisca, juga bagaimana cara tangan mereka menggenggam belati, nampaknya kedua orang tersebut juga bukanlah lawan yang enteng.
Dengan perhitungan yang cermat, Angga cepat menarik pedangnya, namun dengan cepat pula ia kembali menekan Gino menggunakan gerakan menusuk. Gino secara otomatis melangkah mundur untuk menghindar sehingga ia mengurungkan serangan terhadap Angga.
Pedang Angga yang sebelumnya menusuk ke arah Gino tiba-tiba berbelok secepat kilat ke arah Candra. Melihat serangan mendadak, Candra kaget karena sudah terlanjur menjulurkan setengah tangan menuju perut Angga. Mau tidak mau Candra memblokir pergerakan pedang Angga hanya dengan menggunakan satu belati. Candra terguling ke belakang karena menghindari lengsernya pedang Angga yang tak mampu tertahan sempurna oleh belatinya.
Dalam gerakan mendorong kearah Candra, tubuh Angga sedikit miring ke kiri sehingga justru memberikan tumpuan yang kuat untuk kaki kanannya menendang lengan Sisca sebelum belati gadis itu menyentuh lehernya.
Dalam hitungan cepat, tiga orang menerima tekanan mundur dalam waktu hampir bersamaan. Ketiganya terperangah menyaksikan betapa hebatnya Angga.
"Lu..lu..bi..bisa beladiri?!" Candra tergagap. Sisca dan Gino juga terlihat tegang.
"Haha..kebetulan aja tadi itu. Hasil nonton kungpu di tipi," Angga merendah.
"Bangsadd. Gue ga peduli lu bisa beladiri kagak. Kelas teri mo ngelawan kita-kita. Mampus lu bentaran doang.." Candra berteriak kemudian menghambur dengan kalap. Ia tidak percaya jika Angga mampu mengunggulinya.
__ADS_1
Candra dengan brutal menyabetkan belatinya bertubi-tubi. Angga hanya menghindar dengan berbagai gerakan. Terkadang Angga miring ke kiri, ke kanan, menunduk, berjongkong, salto ke belakang, namun masih berusaha menahan diri untuk tidak menyerang Candra.
Angga masih punya hati untuk tidak terlalu frontal. Dalam hati kecilnya ia tak ingin melukai temannya sendiri. Angga juga dapat menilai kemampuan Candra sampai sejauh mana. Jika hanya satu lawan satu seperti itu, sangat mudah bagi Angga untuk mengatasinya.
"Jangan cuma bisa menghindar lu, Brengzek!" Candra semakin tak terkendali.
"Hentikan!!" teriak Gino nyaring. Seketika Candra dan Angga menghentikan pertarungan.
"Gue ada negosiasi bagus buat lu," ucap Gino serius.
"Apa?!" tanya Angga.
"Kita berdamai. Lu serahin tuh cewek ke gua. Dan lu bakal gue bebasin. Lu bisa pergi, dan kami janji ga akan mengganggu lu lagi." Gino memberikan tawaran.
"Wah bro. Gue ga setuju. Gua harus bisa membunuh kunyuk itu dulu, baru kemudian kita gunakan si cewek sebagai pemuas nabsu kita selama disini..hahaha," dengan pongahnya Candra berucap.
"Kalian ga bisa seenaknya sendiri. Ini negara hukum. Sedikit saja kalian melecehkan gue, tak segan-segan akan gue laporin ke polisi!" ancam Naya.
"Hahaa..dewi kampus, ini pulau kecil. Tak ada penghuni selain kita. Dan yang perlu lu tau, disini adalah rimba. Dan yang berlaku adalah hukum rimba. Kita ga tau ada tim penyelamat yang bakal datang atau ga. Jadi, kita berpikir simpel saja lah. Yang dibutuhkan disini hanya makan, sekz, kencing, boker. Selesai. Jadi lu tinggal nunggu teman lu itu mati. Setelah itu lu akan bahagia dengan kami..hahaha," Candra terus saja berkoar tanpa henti.
"Tutup mulut lu!" bisik Gino pelan kepada Candra. Ucapan Candra yang terlalu banyak omong kosong dikhawatirkan Gino akan merusak rencana berdamai dengan Angga.
Diluar dugaan, Angga justru seolah memberikan peluang atas usulan Gino tersebut.
"Lu sepertinya cukup cerdas daripada dua teman brutal lu itu. Berikan gue waktu sejenak buat ngobrol dengan Naya agar bisa memutuskan," jawab Angga sedikit berbisik, seolah tak ingin Naya mendengarnya. Gino menyeringai senang, kemudian memberikan anggukan kepada Angga.
Angga berjalan mundur ke tempat dimana Naya berdiri. Isyarat matanya seperti mengatakan kepada Naya untuk tetap tenang dan jangan takut.
"Dengarkan aku, Nay. Kamu yang diincar mereka. Aku akan menghambat mereka. Jika kondisi sangat genting, gunakan pistol untuk menembak ke bagian yang tidak akan menyebabkan kematian. Kamu masih menyimpan pistol itu kan?" ucap Angga sedikit tegang. Entah mengapa, saat menghadapi singa sekalipun ia bisa sangat tenang. Namun saat ada hal yang menyangkut keselamatan Naya, cukup membuat Angga tegang.
"Aku masih menyimpannya dibalik jaketku. Kamu hati-hati ya, Ngga.." wajah Naya merebak. Airmata sudah hampir jatuh mengalir membasahi pipinya yang seindah pualam.
"Kamu juga hati-hati," Angga sejenak menggenggam tangan Naya, kemudian berlalu kembali menemui Gino Cs.
"Apa lu udah memutuskannya?" tanya Gino dengan tatapan mengintimidasi.
Angga tak menjawab, namun segera berkelebat menghunus pedangnya. Gino sedikit kaget namun segera menguasai keadaan. Ia menghindar ke samping untuk menghindari terjangan pedang.
Dengan cepat pula Gino melakukan tendangan ke sisi samping perut, namun ditangkis oleh Angga menggunakan tangan lainnya yang tak menggenggam pedang.
__ADS_1
Ternyata itu hanya tendangan tipuan. Kini justru belati kanan Gino meluncur cepat ke arah bahu kiri Angga.
CRASHH..
Kecepatan Gino membuat Angga terkejut. Ia tak cukup waktu untuk menghindar. Bahu kirinya yang sempat terluka karena cakar singa, kini kembali tergores belati Gino, meski tak terlalu dalam.
Dalam keterkejutannya yang ada, Angga dengan respon cepat juga kembali mengayunkan pedang.
CRASHH
Pedang itu menggores dibagian paha kiri Gino. Sejenak keduanya mundur mengatur napas.
Angga memperkirakan, kemampuan Gino setara dengan Pak Bagas. Meski tak sehebat Angga, namun cukup mampu memberikan perlawanan yang sengit.
Melihat Gino terluka, Sisca maju untuk membantu. Kini dihadapan Angga berdiri dua orang dengan tiga belati ditangan.
Keduanya bergerak bersama ke arah Angga. Dalam gerakan yang cepat mereka saling menyerang dan menghindar. Sisca ternyata juga cukup lumayan kemampuannya. Mungkin ia bisa disetarakan dengan kemampuan Beno dan Fikri.
"Anggaaa.." teriak Naya yang ternyata sedang ditarik paksa oleh Candra.
Angga kembali tegang. Dikala ia harus menghadapi dua serangan, dia juga harus berpikir bagaimana menyelamatkan Naya. Meski Naya membawa pistol, tapi bagaimanapun juga Naya adalah wanita biasa, bukan petarung terlatih. Naya tak memiliki keahlian sama sekali memegang senjata api.
BUKKK..
Dalam kondisi konsentrasi terpecah, Gino melakukan tendangan ke arah punggung Angga. Tak pelak Angga langsung tersungkur ke tanah. Pedang di tangan Angga terlempar ketika ia membutuhkan kedua tangannya untuk melindungi wajahnya dari benturan. Angga segera berbalik badan dan bersiap untuk berdiri. Namun Gino sudah siaga didepan Angga dengan kedua belatinya.
"Anggaaa!!" Naya histeris. Ia panik melihat Gino sedang berdiri persis didepan Angga yang masih tergeletak ditanah.
---
---
Sepertinya, ini adalah akhir dari hidup Angga dan Naya. Cinta sejati terkubur sampai mati 😔.
WARNING ⚠️
Jangan baca lanjutannya !!
__ADS_1
***