Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 56 : Serangan Pablo


__ADS_3


18+ WARNING ⚠️. Episode ini mengandung unsur kekerasan. Pembaca dibawah umur atau yang tidak berkenan membaca, silahkan lompat bersama Sonia ke episode selanjutnya. Bijaklah dalam membaca. (Cieee..bareng Sonia 😆🤭).


---


Demi mendengar kekacauan, Angga dan tim segera berlari kearah halaman rumah keluarga Naya. Pak Leo dan Sonia nampak berpelukan dengan wajah panik. Pak Leo berinisiatif untuk melindung Naya, Rena, Sonia, serta para pembantu digudang belakang. Tapi sayangnya Sonia menolak. Ia lebih memilih menemani sang suami di ruang tengah untuk mengamati situasi. Diluar sana Angga, Beno, Fikri, Pak Bagas, Rendra dan juga Lita berlari bersama beberapa pengawal rumah untuk menghadapi bahaya.


Empat buah mobil terparkir sembarangan. Berhamburan pria muncul dari balik pintu mobil masing-masing, terhitung sekitar berjumlah 20 hingga 25 pria.


"Siapa kalian?" Angga dan timnya menghadang.


--Dibelakang mereka juga telah bersiap sekitar 7 orang penjaga rumah.


"Woww..sebuah kejutan. Akhirnya aku bertemu pria muda sok pahlawan yang sudah mengacaukan beberapa rencanaku akhir-akhir ini!" sebuah suara muncul dari pria tambun dengan mengenakan setelan jas rapi.


"Buka cangkang kupingmu lebar-lebar. Akulah Pablo yang kalian cari!!" teriak pria tersebut lantang.


"Pablo..pablo apa yang raportnya merah?" kelakar Beno tanpa memperdulikan wajah-wajah sangar didepan mereka.


"Pablo..Pala Blo'on!!. Wkwkwk," jawab Fikri kemudian tertawa ngakak bersama Beno tanpa mempedulikan tatapan membunuh Pablo dan pasukannya.


"Husss.. becandanya lihat sikon dong lu!!" Angga ngomel dong.


"Hehe maaf om Pablo. Teman-teman saya lagi kena penyakit otelo. Tapi sebentar, Pablo siapa ya?, emang kita nyari Pablo? enggak kan?!"


"Ooh..Om Juan Pablo Montoya ya? Hayoo ngakuu..gosah sungkan-sungkan gitu, hahaha. Tapi kok gendutan yah? Ga kayak di tipi," owalah justru Angga lebih kacau.


--Hahaha. Dasar trio gatoloco.


"Kurang ajar. Kerapatt!. Serang merekaa!!" teriak Pablo marah.


Sekitar 20 orang bergerak serempak. Pablo dan 4 orang pengawal utama terlihat mundur mendekati mobil. Suasana menjadi ricuh. Namun sebenarnya untuk menghadapi 20 orang tersebut cukup Angga dan Pak Bagas saja tak menjadi masalah. Jam terbang duo striker Jagito Plus itu tidak bisa lagi disamakan dengan petarung amatir. Upss..bukan Jagito Plus lagi sekarang. Tanpa Jaka, Pak Herson, Bu Mayang, dan Sisi menjadi Gitoca saja. Gitilici minus one, Gatoloco, dan kita namai duo Pak Bagas dan Lita sebagai Gatalaca. GITOCA yes.


"Saya resmikan nama baru tim menjadi GITOCA," ucap Author disela pertempuran.


"Halahh halah Author, berisikkk!!" teriak Angga dengan wajah merah kuning hijau.


"Selow dikit dong, Ngga. Mau aku coret dari daftar pemain sekuel?".


***



Sebenarnya Angga dan Pak Bagas saja sudah cukup untuk mengatasi 20 orang tersebut. Namun terlihat dua orang dari empat pengawal utama Pablo ikut berjalan untuk bergabung dengan pasukan garis pertama. Angga dan Pak Bagas segera datang menyambut dua orang tersebut dan menyerahkan ke 20 lawan lainnya kepada Lita, Fikri, Beno, Rendra, ditambah 7 pengawal rumah.


Lita dengan tongkat panjangnya terlihat seperti Sukma yang sedang membawa tongkat. Ia berlari menyambut 2 lawan. Seorang pria kulit hitam dan seorang pria bertopi cowboy.

__ADS_1


WUSSS


Pria kulit hitam mengayunkan sebuah katana. Dengan tenang Lita mencondongkan badan kearah belakang sembari mendorong kuat ujung tongkat kearah pria penyerang.


PLANGG


Pria kulit hitam mampu menangkis serangan tongkat Lita. Datang dari sisi kanan Lita, pria bertopi yang juga membawa katana. Dalam gerakan cepat si pria bertopi mengayunkan senjatanya, mengincar bagian depan tubuh Lita.


Lita merunduk untuk menghindari serangan katana dari pria bertopi. Namun pria yang berkulit hitam ikut menyerang. Katana si hitam menyongsong wajah Lita yang bergerak merunduk kebawah.


Diluar dugaan, Lita tiba-tiba menarik wajahnya, membuang tubuhnya berputar setengah salto kebelakang. Bersamaan dengan itu kaki Lita menendang tangan si Hitam. Terlepaslah katana dari genggaman. Menyusul, tangan Lita yang cepat mengayunkan tongkat kearah belakang.


BLAKK


Dalam satu gerakan, dua lawan teratasi. Katana si hitam terpental, sedangkan si topi mengaduh kesakitan saat ia tak siap menerima pukulan tongkat tepat dikepalanya.


Lita kembali berdiri, membalikkan arah ayunan tongkat kedepan.


BUKK


Tongkat itu menumbuk tengkuk pria hitam yang sudah tidak memegang senjata. Ia terkapar pingsan namun tidak mati.


Lita sejenak meletakkan tongkat ditanah. Menggunakan katana si hitam, kini ia bersiap meladeni permainan katana pria bertopi.


TRAANG..


TRANG


BUKK


"AUWWW"


Lita dengan gerakan cepat menendang tongkat baseball yang tertanam diantara dua kaki pria bertopi. Saat pria itu mengaduh, terlepas konsentrasinya, Lita melompat mengayunkan katana ke leher lawannya.


SLASHH


Pria itu tumbang dengan darah menyembur dari bagian lehernya.


DORR!!


Salah satu pengawal utama Pablo melepaskan tembakan diudara demi memberikan peringatan. Sejenak tim Angga menghentikan pertarungan. Namun saat melihat Angga dan Pak Bagas yang terus berjalan dengan yakin, merekapun kembali fokus pada pertarungan masing-masing. Bukannya mengendur, Angga dan Pak Bagas justru semakin mendekati dua pengawal utama tersebut.


"Petarung sejati, hempaskan senjata apimu dan bertarunglah secara jantan!" ucap Angga mengintimidasi.


"Gunakan pedangmu, belatimu. Jangan hanya bisa bersembunyi dibelakang senjata api seperti seorang pengecut!!" imbuh Pakdhe Bagas memanas-manasi.


Mendengar itu, jatuhlah harga diri mereka. Serta merta mereka melempar pistol jauh-jauh.

__ADS_1


"Gue bukan pengecut!!" bantah salah satu pria berambut gondrong.


--Satu pengawal lainnya mengangguk sependapat.


--Sebaliknya Pablo melotot marah melihat dua pengawal utamanya dapat dikecoh Angga dengan mudah menggunakan pancingan sederhana.


Pria gondrong langsung mengambil posisi menghadap kearah Pak Bagas. Ditangannya tergenggam sebuah pedang panjang.


Pengawal satunya lagi mendekati Angga. Pria berjaket kulit tersebut nampak mengambil dua buah belati setelah melemparkan jauh pistolnya.


"Hahaha..gue tau kalian cukup sportif," decak Angga.


Beralih pada Fikri, Beno, Rendra, juga para penjaga rumah. Mereka sedang dalam pertempuran sengit. Dari segi jumlah, memang lawan lebih unggul. Namun dalam hal keahlian, Fikri maupun Beno tidak bisa dianggap enteng. Apalagi kehadiran Rendra yang ternyata kemampuannya sebanding dengan Beno, semakin menambah kekuatan tim.


Satu persatu pasukan lawan dapat dilumpuhkan. Lita yang telah menyelesaikan dua lawannya kini juga membantu dibarisan Beno dan Fikri.


Kembali pada posisi Angga dan Pak Bagas. Pria berambut gondrong dengan pedang ditangan langsung bergerak cepat memburu kearah Pak Bagas. Ujung pedangnya yang lebih runcing dari hasil rautan pensil 2B siap menghujam bagian perut Pak Bagas. Dengan lincah Pak Bagas berkelit.


TRANGG..


Suara pedang bertemu pedang terdengar. Dari posisi samping, Pak Bagas mengirimkan tendangan kebagian sisi kiri tubuh lawan. Namun pengawal utama Pablo memiliki kemampuan cukup tinggi dibanding pasukan yang melawan Beno Cs. Tulang kering bertemu tulang kering. Keduanya meringis sakit.


Pak Bagas memainkan pedangnya menyerang setiap titik ditubuh pria gondrong. Begitu juga dengan si gondrong yang mencari celah dari setiap bagian tubuh Pak Bagas. Mereka saling berpacu untuk dapat mengungguli satu sama lain. Hingga saat ini kedudukan keduanya masih seimbang.


Angga membuka baju bagian atas yang koyak tersapu pedang lawan. Dalam gerakan, ia memberi tanda kepada lawannya yang berjaket kulit untuk menggunakan tangan kosong. Dengan percaya diri Angga menancapkan pedangnya ketanah. Tubuh atletis yang sedang bertelanjangk dada itu berjalan mendekati lawannya kembali. Lelehkan keringat ditubuhnya begitu terlihat seksie saat kilap peluh terpapar cahaya matahari.


Dari jauh Pablo menelan ludah (ga pakai saliva-saliva-an), tatapannya tajam kearah Angga. Namun tatapan itu diartikan lain oleh Angga. Tiba-tiba Angga bergidik ngeri karena mengira Pablo sedang menikmati pemandangan tubuhnya.


"Iih. Galak-galak homo.." desis Angga.


"Waitt. Itu bagus banget buat judul novel berikutnya!!" potong Author.


"Haistt.." tak mau ikut-ikutan memutar bola matanya malas seperti umumnya di novel-novel, Angga memilih memutar bola vantatnya ngebor.


Udah ah. Geser ke next episode 🔜


😁😁


---


*Mumpung Author belum terkenal, banyak-banyaklah like dan komen. Nanti kalau Author sudah terkenal, susah lho balas komen satu-satu..😆😆


#sombong_amat


^^^Salam semvak,^^^


^^^DPKBPC @2021^^^

__ADS_1


^^^FigurX Productions^^^


***


__ADS_2