
Hari ke tujuh dari sakitnya Jaka dan Lita. Kini mereka sudah sehat seperti sediakala. Sukma dan pasukannya juga sudah berpamitan 1 jam yang lalu untuk kembali ke markas mereka. Baik tim Angga maupun tim Sukma berjanji akan rajin saling mengunjungi satu sama lain sebagai bentuk rasa persaudaraan.
"Kri, jadwal lu ama Rena jaga pos pagi ini. Tar siang giliran shift gue ama Naya," ucap Angga kepada Fikri yang sedang asyik berenang dikolam air terjun.
"Iya abis ni berangkat. Gue keringin badan dulu," jawab Fikri ceria.
"Bro..lu perhatiin kolam kecil yang kepisah ini. Jika ada kondisi bahaya yang terdeteksi oleh kami dari atas sana, maka kami akan mengirimkan kabar dengan cara melempar batu ke kolam kecil. Besarnya batu tergantung dari besarnya bahaya," ucap Fikri memberi ide.
"Ide yang maknyus. Kita bagi bahaya menjadi tiga kategori. Batu kerikil yang dilempar berulang-ulang mewakili bahaya kecil, misalnya kabut tebal, cuaca mendung cenderung buruk, binatang buas dibawah ukuran tubuh kita, dan sejenisnya. Batu sebesar kepalan tangan artinya bahaya bersifat sedang, misalnya cuaca buruk rawan badai, binatang buas selevel singa, dan sejenisnya. Batu sebesar kepala manusia atau lebih besar lagi menandakan bahaya besar, misalkan banjir bandang, tanah longsor, hewan buas diatas level singa, serangan suku, dan semacamnya." Terang Angga menjelaskan kepada semua anggota tim sebagai lanjutan dari ide Fikri sebelumnya.
Dua puluh menit kemudian sudah terlihat Fikri dan Rena melambaikan tangan dari atas sana. Untuk mengisi kejenuhan, Fikri sengaja membawa beberapa potong kecil bambu yang nantinya akan ia raut tipis-tipis kemudian dianyam menjadi keranjang. Minimnya perkakas rumah tangga membuat Fikri berpikir keras untuk memanfaatkan apa yang ada sebagai bahan hasta karya. Itulah salah satu hobi pria dengan IP tertinggi dijurusan Angga tersebut.
"Eh tau ga, Kri.."
"Ga tau!!"
"Yee..belum juga ngomong!!" Rena belum-belum sudah manyun prematur gara-gara Fikri.
"Lah..kan lu tanya 'tau ga?'. Kan gue ga tau, Non.." Fikri membela diri.
"Dengerin dulu napaa. Kecepatan respon lu kebangetan dan tidak pada tempatnya. Lu kira ini cerdas cermat ya dulu-duluan jawab gitu?!. Harusnya lu mikir maksud gue itu apa. Bukannya langsung aja jawab tanpa mikir. Biar obrolan itu nyambung. Ada umpan-balik yang padat. Komunikasi jadi enak, bukan eneg. Siapa tahu juga yang mo gue omongin itu penting, kan jadi tertunda info pentingnya. Apalagi kondisi kayak gini, bahaya dimana-mana, bisa jadi kan ada bahaya apa gitu. Kalaupun ga penting-penting amat ya setidaknya lu kasih jeda lah, biar gue kelarin dulu. Bukannya..."
"Wooss.. stop stoppp. Napas lu ga abis, ngomong segitu banyaknya?"
"Hahahaha.." keduanya tergelak bersama.
"Mo cerita apaan sih lu ah?!. Jadi kemana-mana deh ngomongnya hahaha," Fikri masih tergelak.
"Itu sohib lu, komandan peleton. Naya bilang abis ditembak.." ujar Rena to the point.
"Seriusan?!" Fikri terhenyak.
"Iya lah. Masa gue ngarang-ngarang cerita seh. Yang bener aja!" jawab Rena sedikit sensi.
"Haha..kemajuan pesat tuh anak. Trus diterima?" Fikri lagi-lagi bertanya.
"Jelas diterima donk. Secara kan Naya udah segitu banget care-nya ke Angga. Ngebet banget malah. Lu juga pasti sering liat lah gimana mesrahnya mereka meski belum jadian," cerocos Rena yang entah kenapa ia hari ini begitu suka berpanjang-panjang kalimat saat berbicara.
--Sepertinya keadaan mereka yang hanya berdua membuat Rena sangat leluasa berkata loss dol tanpa rem.
--Menunjukkan bagaimana tingkat kenyamanannya saat bersama Fikri.
--Cieee ciee.
"Giliran lu sekarang yang nembak, Kri!" tegur Author ikut campur.
__ADS_1
"Huss..tar dulu. Belom sampe disitu episodenya!!" Tampik Fikri sewot.
"Tar dulu apanya maksud lu?. Lu abis ngomong ama siapa sih?!. Dipuncak sini kan kita cuma berdua. Ish jadi serem kan.." Rena menggosok-gosok lengannya yang merinding disko.
"Hehe kagak. Ga ada apa-apa. Lupakan!!. Gue cuma monolog bikin puisi," Fikri nyengir kuda.
--Matanya menatap jalangg kearah Author.
BLOKK
BLOKKK
BLOK..
"Eh..Fikri..Krii, gawat!!" Rena menepuk keras punggul Fikri dengan tiba-tiba hingga membuat si empunya punggung spontan terbatuk-batuk.
"Uhukkk. Lu kenapa sih?!"
"Ituu liat!!" Rena menunjuk ke suatu tempat dibawah Sana.
Nun jauh disana, diantara rerimbunan hutan terlihat puluhan manusia berpakaian hitam sedang menyisir setiap jengkal area yang mereka lalui.
"Bukannya itu pakaian para penjahat yang di kapal feri?!" Fikri mendelik ngeri.
"Gue mikirnya juga gitu!"
BLUNG..
Angga terkesiap. Dua batu sebesar helm dijatuhkan oleh Fikri dari atas bukit. Sejenak Angga mendongak dan melihat Fikri melambaikan tangan dengan panik. Sebentar kemudian Fikri dan Rena terlihat berlarian menuruni bukit.
"Naya, Sisi, mbak Lita, Pak Herson..kalian cepat naik ke pos bukit demi keselamatan. Biarkan Fikri turun membantu. Yang lain bersiap dengan semua senjata!!" teriak Angga tegang.
"Aku tetap disini membantu," bantah Lita.
"Saya juga tetap disini. Saya bukan pengecut!" Pak Herson juga tetap bertahan.
"Ya sudah terserah kalian," Angga tak bisa memaksa.
"Woy, Ngga. Cepat naik semua. Jangan ada yang melawan!!" Teriak Fikri mengerahkan suaranya ketika mencapai setengah bukit.
Demi mendengar teriakan Fikri, semua bergegas naik. Mereka belum tahu apa bentuk bahaya yang datang. Namun Fikri jauh lebih tahu, karena dia yang melihat secara langsung. Mau tidak mau, mereka menuruti perkataan Fikri.
"Ben..kita blokir jalan setapak dulu. Jangan sampai jalan itu dilihat musuh," Angga bergegas menggeser bebatuan besar menutup jalur masuk tanjakan.
--Beno dan Pak Bagas datang membantu dengan membawa ranting dan dedaunan.
__ADS_1
"Ayo cepat naik.." ucap Angga setelah berhasil menutup celah jalur masuk.
Jika diperhatikan, jalur masuk itu terlihat seperti setumpuk reruntuhan batu dengan ranting dan daun yang berserakan. Tak akan ada yang menyangka terdapat jalan setapak dibelakangnya, kecuali ada yang penasaran kemudian merangkak keatas tumpukan batu-batu tersebut untuk melihat sisi belakangnya. Namun itupun juga kecil kemungkinan, karena pola pikir mereka akan otomatis menganggap tim Angga tak akan melalui jalan yang tidak normal.
"Ada bahaya apa, Kri?" tanya Angga begitu mereka sampai di puncak bukit.
"Tuh liat sendiri.." Fikri menunjuk kearah hutan dimana terdapat puluhan manusia berpakaian gelap yang sedang berjalan perlahan dengan menyisir area.
"Mereka para penjahat itu!!" Angga terbelalak.
"Waduw waduww..makin ruwet aja ini. Berbagai kesulitan udah kita lalui, eh makin gede nih sekarang kesulitannya..warbiasahh," Jaka menggaruk-garuk kepalanya yang memang berketombe.
"Babang Author ga ada bosen-bosennya ngasih kita kesulitan mulu. Sekali-kali kek dikasih cerita indah. Kisah cinta misalnya, kan manis tuh. Ato mungkin diselipin acara outbound, macem flying fox, kayak gitu-gitu. Ato yang gampang aja deh, kasih tebak-tebakan. Biar rada selow kita maennya, kagak keringetan mulu, iya kan?. Kalau kayak gini kan seneng di author, susah buat kita. Dia mah enak tinggal ketik-ketik doang sambil nyeruput kopi. Nah kita..lari-larian, diserang hewan ganas, berperang, apalagi coba susahnya kita?, buanyak ga keitung. Lagipula..."
"Sssttt..stop!!" lagi-lagi Rena ngeslong remnya.
--Bicara panjang seperti kereta api.
--Dan lagi-lagi Fikri yang harus jadi tukang stopnya.
"Makanya itu gue suruh kalian naik aja. Mereka berbahaya. Kita perlu mengatur strategi untuk bisa menghadapi," ucap Fikri dengan wajah penuh kekalutan.
"Semua mundur. Jangan terlihat mencolok diatas bukit. Para pria tolong segera membuat rumah kayu sederhana. Sepertinya kita akan bertahan disini tidak hanya hari ini," perintah Angga risau.
"Fikri dan Rena, kalian tetap memantau pergerakan mereka. Namun bersembunyilah agar tak terlihat dari sana," imbuh Angga yang kemudian segera berlari kebelakang membantu persiapan membuat tempat berteduh secepat mungkin.
"Kita tak membawa bekal makanan sedikitpun. Ini akan menjadi masalah.." ujar Angga resah.
"Hanya ada aliran sungai menuju air terjun. Semoga ada ikan disana," Pak Bagas menimpali.
"Apa rencana kita sekarang?" tanya Pak Herson.
"Sementara kita mencari bahan makanan sambil kita amati pergerakan mereka," balas Angga dengan kening berkerut, memikirkan solusi terbaik untuk mereka.
Yah..pasukan Pablo telah mendarat di pulau Mawar setelah melihat sekoci Gino yang diletakkan secara sembarangan di tepi pantai. Meski rencana awal mereka hanya untuk mendapatkan Naya, kini mereka mendapatkan perintah untuk menangkap ataupun menghabisi semua orang yang telah menyelamatkan Naya.
Keadaan semakin rumit dan sulit. Bagaimana nasib mereka selanjutnya?
Silahkan simak di episode berikutnya 🔜
Yuk ramaikan channel YouTube Author.
"Genthilut Channel".
__ADS_1
Channel kumpulan puisi karya Author.
***