
"Saya rasa kondisi Angga cukup stabil. Denyut nadi dan detak jantungnya masih baik. Nafasnya juga teratur. Jika dilihat dari kronologi kejadian, sepertinya Angga mengalami gegar otak akibat benturan-benturan yang terjadi. Semoga saja hanya gegar otak ringan. Sayangnya kita tak memiliki peralatan medis yang cukup untuk memeriksa lebih lanjut," Pak Herson sebagai dosen patologi dengan titel dokter tentu menguasai bidang ilmu kedokteran. Dibantu Fikri dan Beno sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat. Ketiganya bahu membahu dalam berupaya menyembuhkan Angga yang masih tak sadarkan diri.
"Tapi kapan sadarnya Angga, Pak?" tanya Naya dengan wajah cemas.
"Nay, bapak bukan Tuhan. Yuk bareng-bareng kita berdoa untuk Angga dan keselamatan kita semua.." jawab Pak Herson memberi ketenangan.
Saat tim yang dipimpin Beno datang, kondisi Pak Herson sudah cukup sehat. Dan justru kini Angga yang tergolek tak berdaya.
"Ini sudah 2 hari sejak Angga pingsan. Semoga segera sadar," sambung Beno.
Baru saja Beno selesai berbicara, nampak Angga mulai mengerjapkan matanya.
"Anggaa.." Naya tersenyum bahagia.
"Kepalaku pusing, aku tidur lagi ya.."
POV Angga
Aku seperti sedang berdiri disebuah ruangan serba putih, tanpa ujung, tanpa bertepi. Sejauh mata memandang hanya hamparan warna putih yang terbentang.
Dimana aku berada sekarang?. Ingatanku yang tersisa terakhir kali adalah saat wajahku membentur pohon besar setelah dilempar oleh kongkong rabies itu.
Kucoba berjalan, berlari. Berusaha menembus sekat putih dan mencari tepinya. Namun nihil, aku hanya terus berjalan tanpa arah yang jelas. Hingga aku lelah dan tersungkur diatas tanah yang juga berwarna putih bersih tak bercela.
"Nak Angga.." dalam diamku, sayup terdengar suara yang sepertinya kukenal.
Kuedarkan pandangan kesekeliling. Dan aku menemukan seorang kakek tengah berdiri tak jauh dibelakangku.
"Mbah..mbah Restu?!" mataku terbelalak. Tak percaya dengan kehadiran sosok tua tersebut.
"Iya benar, aku mbak Restu.." jawab kakek itu sambil tersenyum teduh.
"Saya ada dimana ini, Mbah?" tanyaku merasa janggal dengan keadaanku sendiri.
"Kita sedang bertemu didalam dimensi alam bawah sadarmu, Nak.." ucap mbah Restu lagi, namun justru membuatku semakin tak mengerti tentang semua ini.
"Apa yang terjadi?, Kenapa saya bisa nyasar ditempat aneh ini, Mbah?. Dan kenapa juga ada mbah Restu disini?" mbah Restu terus saja kuhujani dengan berbagai pertanyaan demi menemukan jawaban atas segala keanehan yang tengah terjadi.
"Tenangkan dirimu, Nak. Kamu sedang mengalami peristiwa yang membuatmu koma. Mbah kurang tahu pasti apa gerangan penyebabnya, karena mbah tidak bisa melihat pergerakan manusia dari jarak jauh. Hanya saja mbah tiba-tiba merasa ingin menemuimu. Karena itulah akhirnya mbah berkonsentrasi untuk bisa mengunjungimu melalui alam mimpi. Namun sayangnya, hal terjadi diluar sepengatahuan mbah. Saat mbah datang, ternyata keadaanmu sedang koma," ucap mbah Restu.
"Terakhir yang saya alami adalah sedang bertarung dengan seekor kingkong. Saat itu saya sempat membatin karena teringat pesan mbah tentang berbagai kesulitan yang akan saya alami. Namun setelah itu saya tak ingat lagi. Sepertinya saya telah dikalahkan oleh kingkong tersebut hingga menyebabkan saya koma," ungkapku mencoba mengingat apa yang sebelumnya telah terjadi.
__ADS_1
"Kingkong?!. Kamu ada dimana sebelum koma?," kening mbah Restu berkerut.
"Sejak sore itu kapal feri berangkat. Saya sudah tidak pulang lagi mbah. Karena suatu hal, akhirnya saya bersama beberapa teman menyelamatkan diri menggunakan sekoci dan terdampar di sebuah pulau kecil yang sayapun tak tahu dimana letak pulau itu,"
"Di sekoci itu segala kesulitan bermula. Setelahnya, berbagai kesulitan saya hadapi hingga menghadapi kingkong yang saya ceritakan tadi. Ternyata yang mbah Restu sampaikan saat itu benar-benar terjadi." kujelaskan segala yang terjadi pada mbah Restu. Kini aku merasa bahwa mbah Restu bukanlah orang sembarangan.
--Bahkan akalku masih belum bisa mencerna, bagaimana ia bisa menemuiku saat ini.
"Iya, Nak. Saat ini kamu sedang koma. Kalimat mudahnya, kamu sedang sekarat diantara hidup dan mati. Secara kebetulan mbah menemuimu dalam keadaanmu yang seperti ini. Waktu mbah tidak banyak, kemampuan mbah terbatas. Pesan mbah buat kamu, niatkanlah yang kuat dihati untuk kembali sadar dari kondisimu. Jika nanti telah kembali ke dunia nyata, teruslah berjuang sepenuh hati. Ingatlah apa yang mbah dulu katakan pertama kali, kamu kelak akan menjadi pemimpin yang sukses. Gapailah angan itu untuk menjadi nyata. Ikutilah kata hati, yakni hati yang murni dan bersih, bukan hati yang dipenuhi penyakit hati." Nasehat mbah Restu.
"Baik, Mbah. Saya akan melakukan apa yang mbah sampaikan," jawabku santun.
"Keadaanmu koma ini belum akhir dari segalanya. Bahkan masih ada kesulitan yang lebih besar lagi nanti. Bersiaplah, Nak Angga. Satu lagi, nanti..saat hidupmu telah tenang kembali, datanglah menemui mbah Restu di Biwian, bagaimanapun caranya!" lanjut mbah Restu.
"Untuk keperluan apa mbah kalau boleh tahu?" tanyaku penasaran.
"Datang saja nanti. Maaf mbah harus kembali sekarang. Assalamualaykum," belum sempat aku berterima kasih, mbah Restu sudah menghilang.
--Tubuhnya berpendar seperti cahaya yang kemudian menyurut dan menyisakan ruang kosong putih seperti semula.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawabku membalas salam mbah Restu.
POV Angga off
Kembali ke POV Author
--Jemari tangannya erat menggenggam telapak tangan Angga.
Nampak yang lainnya juga duduk disekitar Angga dengan sedih. Wajah-wajah sedih tergambar dirona muka mereka.
Tiba-tiba jemari Angga bergerak pelan. Naya bisa merasakan gerakan itu dalam genggamannya. Wajahnya meremang senang.
"Angga.." panggil Naya memastikan.
"Ehmm..Nay, kamu kenapa menangis?" perlahan Angga membuka mata. Perlahan pula tangan Angga terulur, mencoba menghapus airmata dipipi Naya dengan jempolnya.
"Uuh..menyebalkan. Begitu sadar malah mesrah-mesrahan..hadeuhh," Sisi memutar bola matanya.
"Lu mau gue pegang juga pipinya, Sis?" tanya Angga dengan suara yang masih lemah.
"No..no..no. Tidak usah, dan terimakasih. Gue masih sayang ama nyawa gue. Bisa dilibas abis tar gue ama bini lu itu!" Sisi menggeleng cepat.
"Apaan sih lu, Sis?!" sembur Naya jengkel.
__ADS_1
"Eh sudah..sudah. Kasihan yang sakit itu terganggu sama ulah kalian," tegur Pak Herson.
"Gimana, Bro. Apa yang lu keluhkan?" tanya Beno penuh perhatian layaknya saudara.
"Kepalaku pusing, aku tidur lagi ya.."
"Anggaa!!"
Disudut luar gubuk, terlihat Lita tercenung seorang diri. Pikirannya melayang pada memori saat tadi Naya dan Angga menunjukkan kemesraan. Meski kedua insan dimabuk asmara tersebut belum saling mengikat hubungan, namun segala yang mereka lakukan adalah jalan terang menuju kearah sana.
"Aku paham, dan aku tak mau lagi menginginkan Angga. Aku baru sadar sekarang. Yang kudapat dari tatapan mata Naya untuk Angga adalah tatapan kasih. Namun berbeda dengan apa yang kurasakan. Aku melihat Angga dalam konteks kekaguman, bukan cinta. Justru aku ingin mendukung mereka. Aku ingin melihat orang yang kukagumi mendapatkan kebahagiaan. Dan sekarang, aku merasakan sesuatu yang lain terhadap Beno. Entah sejak kapan aku memiliki perasaan ini. Tapi yang pasti, ini sangat berbeda dengan kekagumanku kepada Angga. Mungkin ini seperti yang telah Naya rasakan.." lamun Lita.
"Yaa..aku sadar umurku sudah tidak muda lagi. Umurku juga diatas mereka. Sepertinya aku sudah terlambat untuk belajar mencintai," Lita masih dalam lamunannya.
"Kata siapa terlambat?!. Bahkan ini adalah usia yang matang untuk memulai sebuah hubungan!" Beno tiba-tiba saja muncul didekat Lita.
--Dan anehnya pula, Beno seperti bisa membaca keresahan Lita.
"Eh kamu, Ben. Kamu bisa baca pikiran orang?" Lita tergagap.
"Hahaha..ini salah satu kelebihanku," Beno terkekeh.
"Kelebihan membaca pikiran?" ulang Lita lagi.
"Engga laah. Kelebihan dalam hal mengamati gerak tubuh, tatapan mata, reaksi verbal dan non verbal. Kemudian menarik kesimpulan dari dari hasil pengamatan. Dan hasilnya, seperti yang baru saja aku sampaikan tadi.." jawab Beno.
"Kamu itu cantik, mapan, pandai, pintar beladiri, pintar memasak. Tapi masih bingung dalam menghadapi cinta. Dengarkan aku, ya memang Angga dan Naya adalah pasangan yang tepat. Tapi kamu jangan mengabaikan gejala alam. Ada pasangan yang tepat untukmu dan terabaikan begitu saja," Beno berbicara seolah ia berusia lebih tua daripada Lita.
--Kalimatnya sarat makna, penuh keseriusan.
--Jauh dari kesan slengean Beno pada umumnya.
"Terabaikan?!, maksud kamu?" Lita masih berusaha menebak tentang apa yang dimaksudkan Beno.
"Ok. Aku ga mau bertele-tele. Perlu kami tau, saat aku ditahan wanita suku, aku selalu berdoa. Memohon pertolongan-Nya. Hingga aku berjanji, jika datang pria menolongku maka akan aku jadikan saudara. Dan jika datang wanita menolongku, maka aku akan menjadikannya istri." Tegas Beno tak mau berkepanjangan.
"Hihihi..kayak sayembara pangeran kerajaan aja kamu," Lita tertawa canggung.
"Seriusan ini. Kamu tau kan yang muncul di tempat wanita suku itu siapa?. Angga yang memang sudah seperti saudara bagiku. Dan.." Beno menggantung ucapannya.
--Lita yang cerdas tentu bisa menangkap arah pembicaraan tersebut.
__ADS_1
Bersambung ke episode berikutnya 🔜
...--Hargailah orang lain seperti menghargai dirimu sendiri--...