
Mohon maaf jika akhir-akhir ini update sedikit tersendat. Author memang sedang sibuk-sibuknya membantu urusan pasca meninggalnya kakak kandung Author beberapa hari yang lalu. Jadi harap maklum adanya. Namun Author akan tetap konsisten untuk melakukan update susulan.
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya 🙏.
---
HYAA..
BLAKK
Angga dan Rendra bergerak cepat melumpuhkan beberapa lawan dibagian belakang vila. Mereka harus bergegas menuju ke lantai 2 sebelum Bu Sonia dipindahkan ketempat lain jika Pablo telah mengetahui akan adanya penyerangan tersebut.
Tiga lawan dengan mudah dihempaskan oleh Angga dan Rendra. Segera mereka berlari lagi meniti anak tangga menuju ke lantai 2.
Ditangga, Angga dan Rendra kembali menghadapi pasukan lawan yang bergegas turun.
Datang dua orang lawan dihadapan Angga. Tanpa menunggu, Angga segera menyerang. Kombinasi pukulan dan tendangan ditambah kelincahan Angga sungguh membuat kedua lawannya tak berkutik. Pukulan dan tendangan beruntun yang ia lesakkan ke tubuh lawan hanya dalam hitungan detik mampu menumbangkan dua lawan sekaligus. Bergegas Angga membantu Rendra yang juga sedang menghadapi dua lawan ditangga. Meski Rendra tak sehebat Angga, namun ia cukup mampu mematahkan pertahanan lawan dengan teknik kick-boxing yang tidak bisa dianggap enteng.
Keduanya kembali berlari menanjak anak tangga untuk semakin mengikis jarak menuju kamar penyekapan Sonia di lantai 2. Dibawah sana 3 pilar tim Gitoca yakni Pak Bagas, Beno, dan Fikri, dibantu pasukan dari Pak Leo masih disiplin menghadapi sisa pasukan lawan.
Tiba didepan kamar yang dimaksud, Angga dihadang oleh 3 lawan yang tersisa. Seorang pria bermata satu dengan belati ditangan segera menyongsong kedatangan Angga. Dilain sisi, seorang pria berkacamata gelap membawa sebuah pedang menghadang laju langkah Rendra. Satu lagi pria lainnya berdiri siaga tepat didepan pintu.
TRANGG
Pedang Angga dan belati pria bermata satu bertemu diudara. Sesaat kemudian mereka cepat menarik senjata masing-masing untuk kemudian mengirim serangan demi serangan berikutnya yang sangat mematikan. Nampaknya penjaga Sonia jauh lebih tangguh daripada pasukan lawan lainnya.
Dua hingga tiga gerakan tusukan lawan dengan cepat berusaha melukai beberapa bagian tubuh Angga. Bukan Angga namanya jika tak mampu berkelit dari serangan secepat apapun. Ia juga sebaliknya membayar tikaman belati itu dengan beberapa kali sabetan pedang yang juga mampu dihindari lawan dengan cukup sempurna.
Dengan satu perhitungan yang matang, Angga melakukan roll kedepan disusul satu tusukan cepat ke arah perut lawan. Lawan terperanjat. Namun dengan segala kelicikan yang dimiliki, lawan tersebut tiba-tiba melemparkan segenggam serbuk seperti tepung kewajah Angga. Spontan Angga memejamkan mata menahan pedih di mata. Lawan cepat mengambil langkah mundur setelah melihat Angga kesulitan melihat untuk beberapa saat.
AHHH
Bersamaan dengan itu Rendra telah mampu mengalahkan lawan yang jauh lebih mudah daripada lawan Angga. Pedang Rendra membelah ganas kulit tubuh lawan sehingga menorehkan luka sayatan yang panjang dari dada hingga ke paha lawannya.
DOORR!!
Dalam detik berikutnya, terdengar tembakan. Pria yang berada didepan pintu kamar, secara brutal mengirimkan peluru panas ke arah Angga.
AHHHH!!
Angga tertembak, tepat didada sebelah kiri. Ia terhuyung menahan badan yang hampir kehilangan kesadarannya.
Dalam kondisi kritis, Baik Angga maupun Rendra mengambil satu keputusan nekad. Tanpa komando, Angga cepat melemparkan pedang ke arah pria bermata satu yang melempar serbuk. Bersamaan dengan itu, Rendra juga melempar kuat pedangnya ke arah pria pemegang pistol.
ZLASHH
ZLASS
AHHH
__ADS_1
Seperti sebuah keberuntungan ganda, kedua pedang secara telak menancap persis di kedua perut lawan. Keduanya terkapar seketika. Bersamaan dengan itu, Angga pun limbung tak kuasa menahan rasa sakit yang menjalar kuat di area dada kirinya.
"Anggaa!!" teriak Rendra panik.
Namun saat ia melihat Pak Bagas dan lainnya berlari menaiki tangga, Rendra berusaha untuk tenang kembali.
"Pak Bagas, Ben..selamatkan Angga. Dia tertembak. Fikri, ikut gue sebentar ke kamar penyekapan untuk menolong Bu Bos!" ucap Rendra sambil berlari ke arah pintu kamar.
"Kong..Kingkong rabies, Bertahanlah!!" parau suara Beno demi melihat darah mengalir dari dada kiri sahabat terbaiknya.
Berdua dengan Pak Bagas, Beno segera membopong tubuh Angga untuk selekasnya dibawa ke rumah sakit. Nyawa Angga sedang dalam bahaya. Dada kiri adalah letak detak jantung berada.
***
Beberapa kilometer dari vila, tepatnya diperkebunan apel. Terjadi percekcokan antara Pablo dengan Kaaran. Hal itu dipicu oleh laporan seorang pengawal vila yang mengabarkan adanya penyerangan disana.
"Saya tak menyangka jika seorang Kaaran Dirga bersekongkol dengan musuh bebuyutan saya!!" desis Pablo menahan amarahnya.
"Apa yang membuat saya harus sungkan dengan anda?. Selain Pak Leo yang selalu anda teror, anda juga pasangan dari Boron yang harus ditumpas. Meski saya telah mampu menjebloskan Boron ke dalam sel tahanan, namun anda yang masih saja berkeliaran diluar akan sangat berbahaya bagi kami. Anda tak ubahnya seperti Boron, lengkap dengan kelicikan dan segala tipu muslihat yang ada!" ucap Kaaran berapi-api.
"Ho ho ho.. sebenarnya saya belum mengetahui jika Boron yang saya sembunyikan di luar negeri itu telah mampu anda temukan. Saya harus berterimakasih atas informasi ini. Dan artinya, anda telah menyulut api perseteruan yang nyata diantara kubu kita. Hahahaha," dengan pongahnya Pablo justru terkesan menantang.
"Kalian yang telah menyulut api itu dari jauh-jauh hari. Tak layak jika anda justru memutar balikkan fakta yang sebenarnya!!" tepis Kaaran tak terima.
"Hahaha, whatever lah. Terserah anda mau berkata apa. Itu tak penting sama sekali bagi saya!!. Pengawalll, habisi mereka berdua." Perintah Pablo kepada anak buahnya.
Segera, 6 pengawal utama Pablo mengepung Kaaran dan William. Dalam kondisi kritis, keduanya harus berjuang mati-matian menghadapi pengawal-pengawal terbaik Pablo.
Namun bagaimanapun juga, Kaaran dan William bukanlah ahli beladiri seperti Angga. Mereka berdua hanya para pemberani yang tak mudah menyerah dan tak takut berkelahi.
Lambat laun posisi Kaaran dan William semakin terpojok. Beberapa kali Kaaran dan William harus meringis kesakitan saat serangan lawan mampu mengenai tubuh mereka.
"Kaaaran.." teriak Rania melalui ear-tecno.
"Papaaa..om Will.." teriak Zack dan Zoe bersahutan juga dari jalur ear-tecno.
CETARRR!!
Seorang lawan tahu-tahu sudah tumbang dengan luka memar diwajahnya.
Kaaran memutar kepalanya mencari siapa gerangan penolong yang tiba-tiba muncul tersebut.
"Ka..kk..Kak Ita Yulfi!!" teriak Kaaran hampir tak percaya.
(Ok ya Authornya Kaaran. Janji untuk mengajak ikut serta kesini sudah dipenuhi hehe).
Beberapa meter didepan Kaaran dan William, tengah berdiri seorang wanita cantik berpakaian tempur taktis. Rambut dikuncir kuda. Wajahnya tegas berwibawa. Dia adalah Ita Yulfi. Kakak Kandung dari Kaaran Dirga yang sengaja ditutup beritanya oleh sang Ayah, Dirgantara. Bukan karena Ita hilang dipasar saat kecil, namun karena Ita Yulfi adalah seorang agen rahasia yang bekerja untuk pemerintah dan gabungan beberapa negara tetangga sebagai bentuk upaya penanganan pada kasus-kasus tertentu yang mana hanya bisa ditangani oleh agen khusus.
Berapa jumlah anggota mereka?, dan dimana markasnya?, tak ada satupun yang tahu. Kaaran hanya tahu bahwa kelompok ini dinamai dengan 'Double R atau Red-Rads'. Suatu kelompok yang didirikan bersama oleh beberapa negara melalui sebuah kesepakatan.
__ADS_1
CETARR..
Wanita wow tersebut kembali mengayunkan sebuah cambuk panjang. Satu lagi lawan tumbang dengan mudahnya.
Tersisa 4 kawanan penjahat menghambur bersama. Dengan gerakan yang sulit untuk dilihat oleh mata telanjangg, Ita Yulfi mengirim dua tendangan dan dua pukulan ke arah tubuh lawan. Begitu cepatnya gerakan, tahu-tahu keempat lawan tersebut sudah terjengkang begitu saja ke tanah.
ZAPP
ZAP!!
ZAAAP
ZAPPP..
Membantu Ita, terlihat Kaaran dan William mengirim masing-masing dua tembakan bius berperedam ke arah empat lawan yang belum juga berdiri.
BRUUUMM
Mereka lengah. Pablo kabur bersama satu pengawal yang membawa motor.
William bergegas menuju mobil untuk mengejar Pablo. Namun Kaaran menghalanginya.
"Biarkan dia pergi. Akan ada masanya sendiri bagi Pablo untuk bisa ditangkap ataupun dikalahkan. Yang penting Bu Sonia selamat dulu. Selebihnya, kita pikirkan nanti.."
***
Mobil Kapten Kavka melesat menuju rumah sakit terdekat. Didalamnya tergolek tubuh Angga yang tak sadarkan diri.
Sebelumnya, polisi telah berdatangan ke vila tempat dimana Sonia disekap. Kedatangan mereka tentu karena Karaan yang telah mengirimkan titik koordinat kepada satu sahabatnya di Polda.
Sonia telah ditemukan oleh Rendra dan Fikri didalam kamar penyekapan dalam kondisi meringkuk ketakutan. Ia mengalami depresi tinggi akibat perlakukan kasar dari Pablo dan anak buahnya.
Kapten Kavka, sosok anggota TNI yang sengaja ditempatkan dillingkup kepolisian untuk bekerjasama menjalankan setiap misi rahasia. Beliaulah yang merekrut Ita Yulfi beberapa tahun silam.
"Angga..jangan mati!!. Jangan biarkan aku menjadi jandaaa.." teriak Beno histeris.
"Wadauww!!" cubitan keras Naya memberi peringatan kepada Beno yang bercanda tidak pada tempatnya.
"Ini..inii salahnya Author yang typo nya kebangetan. Anggaa..jangan mati!! Jangan biarkan sahabatmu ini meranaaa.." Beno membela diri, kemudian merevisi kalimatnya.
"Sayang..bertahanlah!!" lirih Naya menahan tangis.
---
To be continued, Tubi tukinyut 🔜
^^^Regards sumange,^^^
^^^DPKBPC @2021^^^
__ADS_1
^^^FigurX Productions^^^
***