Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 35 : Bala bantuan


__ADS_3



Pagi telah datang meski sedikit gelap. Ayam-ayam hutan berkokok nyaring menembus relung-relung bukit, kemudian memantulkannya kembali dalam sosok gema yang menyelinap dibalik perdu dan pepohonan, lalu mengemas menjadi indah kidung pagi.


Di gubuk Gino, terlihat Naya yang sedang membantu melepas ikatan Angga. Baru kali ini Gino, Candra, dan Sisca terlihat kompak terlelap semua. Hari-hari sebelumnya, Angga maupun Naya selalu dipantau dalam penjagaan yang bergilir, sehingga sulit bagi keduanya untuk berbuat sesuatu.


Mungkin tawaran Gino terhadap Angga membuat ketiganya merasa diatas angin dan sangat yakin bahwa Angga akan menyetujui. Oleh karena itulah, mereka menganggap bisa bersantai tidur menyongsong kemenangan sambil menunggu pagi dimana Angga akan memberikan jawaban.


Dengan sangat perlahan Angga mengambil semua belati termasuk pedangnya yang tergeletak begitu saja disamping trio sombong. Angga cepat menyembunyikan empat belati yang ada berikut pedang dibawah gubuk. Sangat aman dan tertutup.


Tujuan Angga adalah ingin memberi pelajaran trio arogan menggunakan tangan kosong. Ia hanya ingin membuat jera tanpa harus menghabisi nyawa. Setelah mereka jera, Angga akan membiarkan mereka hidup di pulau ini dengan syarat tidak boleh mengganggu tim Angga lagi.


"Hei, bangunn. Tawanan kabur noh," Sisca terjaga dari tidur saat sinar matahari mulai merambah wajahnya melalui celah dinding gubuk.


--Ia terkaget saat melihat Angga dan Naya sudah tidak ada didalam gubuk.


Candra dan Gino serentak bangun dan mencari senjata mereka. Namun sayangnya, senjata-senjata itu telah menghilang dari tempatnya.


"Bangsad. Mereka telah mencuri senjata kita!" umpat Candra geram.


Ketiganya segera berlari keluar untuk mencari Angga dan Naya. Harapan mereka, bisa mengejar Angga sebelum berjalan terlalu jauh.


"Sori bikin kalian nyariin. Kita lagi berjemur nih, lima hari ga kena sinar matahari hahaha," Angga terlihat sedang asyik bercengkrama bersama Naya di halaman gubuk.


--Ketiganya tertegun.


"Santuy, Bro. Gue bukan pengecut. Ga bakalan gue kabur dengan licik, selicik cara kalian membokong gue tempo hari.." sindir Angga santai.


"Brengsekk, Lu!!" Candra demikian naik pitam.


--Ia berlari mengirim kepalan tangannya.


TAPP


SETT..


BUKK!!


Mudah saja bagi Angga untuk mengatasi seorang Candra. Dengan satu tangkisan, satu kali menghindar, Angga berhasil membuat Candra terpental menggunakan tendangan kakinya.

__ADS_1


Melihat Candra tak berkutik ditangan Angga, Gino dan Sisca turun membantu. Terlihat ketiganya mengepung Angga dari tiga arah.


Angga mendahului serangan sebelum ia terpojok oleh ketiganya. Kakinya menyapu rendah membuat Sisca terjengkang. Satu kepalan tangannya masuk dengan telak ke bagian ulu hati Candra hingga lawannya terduduk menahan ngilu.


Tersisa Gino, dengan lincah melakukan tendangan melingkar diudara. Angga telah siap, ia merunduk sesaat untuk membuat tendangan Gino menyapu ruang kosong.


Ternyata Gino cukup cerdik. Ia sudah memperkirakan bahwa Angga akan menghindar dengan cara merunduk. Begitu kakinya menginjak tanah, cepat pula ia mengangkat lutut mengejar wajah Angga.


PLAKK


Kedua telapak tangan Angga berusaha menahan gempuran lutut Gino. Tak berhenti disitu, secepat kilat kaki Angga terayun. Tumitnya menumbuk keras tulang kering Gino.


Gino mundur beberapa langkah sambil meringis kesakitan. Kini disampingnya telah berdiri Candra dan Sisca yang siap melakukan formasi serangan balik.


"Tak ada ampun lagi. Kita bunuh aja cecunguk ini, Bro!" Teriak Candra mulai kumat dengan mulut kotornya.


Tanpa disuruhpun, Gino juga berniat menghabisi Angga. Ia tak bisa memberikan kompromi lagi. Angga terlalu membahayakan eksistensi mereka dipulau jika dibiarkan hidup. Yang kuat harus dikalahkan agar bisa menjadi yang terkuat.


"Woii..kucing kurap, kingkong rabies, biawak sangee. Kurang ajar kalian!!" terdengar teriakan Jaka dari kejauhan.


Trio arogan mendelik kaget. Kedatangan Fikri, Jaka, tiga cewek, dan juga Pak Bagas sungguh diluar dugaan. Apa yang dicurigai Gino dari perkataan Angga, kini terbukti.


"Tapi ada Pak Bagas, Bro. Gue sungkan.." Candra mulai mengkeret tak percaya diri.


"Rimba bro rimba. Lupakan urusan kampus. Kalo lu bukan pemenang, maka lu yang akan mati!" bentak Gino gusar melihat Candra yang tiba-tiba melempem seperti kerupuk kesiram air segentong.


"Taa..**..tapi mereka bawa senjata lengkap. Pedang, belati, panah. Mo bikin gol bunuh diri lu?!" Sisca turut angkat bicara.


--Nada suaranya mulai terdengar gemetar.


"Bangsatt..gue ga liat kalo mereka bawa gituan. Lariii Bro. Kita ngehindar dulu sambil nyusun rencana buat bunuh semua anjink itu!" perintah Gino dijawab dengan kaki-kaki mereka yang secepat kancil terbirit membelah kabut yang mulai menipis.


"Kejarr!!" teriak Fikri memberi komando.


--dari arah lain Angga dan Naya juga terlihat berlari mengejar Gino Cs.


Lima menit mereka berkejaran diantara rimbunnya hutan belantara. Tingginya semak dan kepadatan pepohonan cukup menghambat laju pengejaran.


AUMMM


Langkah Angga dan yang lainnya terhenti. Sepuluh meter didepan sana terlihat dua singa yang beberapa saat yang telah lalu pernah menyerang tim Angga. Singa-singa itu berdiri dengan gagah menghadang pelarian Gino bersaudara.

__ADS_1


Hati Gino berkeping. Candra sudah ngompol dicelana. Sedangkan Sisca meraung dalam tangisan pilu. Tanpa senjata, mereka tak ada apa-apanya dihadapan raja rimba. Memang benar apa kata salah seorang pembaca, hukum rimba yang akan membalas kecongkakan Gino Cs. Bahkan bukan sekedar hukum rimba, justru rajanya rimba yang datang.


Tak perlu menunggu lama, para singa menyerang dengan buas. Cakar dan taringnya mencabik tanpa bisa dicegah. Angga dan tim hanya bisa melihat dengan terpana. Dalam hitungan menit, tubuh Gino bersaudara sudah koyak tak beraturan. Nyawa mereka beterbangan menggapai nirwana. Semudah itu jika Tuhan telah murka.


Setelah menyelesaikan aksinya, kedua singa sejenak mendekat ke arah Angga. Beberapa detik merundukkan tubuh, kemudian berlalu pergi tanpa suara.


Semua terkesima. Kedua singa tersebut sepertinya patuh kepada Angga dan Pak Bagas. Mereka datang sebagai prajurit pembela, sebagai bala bantuan tak terencana. Kekalahan mereka dari pihak Angga waktu itu membuat mereka takluk dan takut. Seolah mengakui raja rimba yang baru telah tiba.



"Jadi Beno disekap oleh para wanita itu, Kri?" tanya Angga setelah mereka selesai menguburkan mayat Gino bersaudara. Meski mereka bermusuhan, Angga tetap memiliki empati untuk memperlakukan tubuh tanpa nyawa itu dengan layak.


"Begitulah yang dilihat Pak Herson. Apa mereka benar-benar ada?. Gue khawatir Pak Herson cuma ngehalu doang," Jaka berusaha menjawab pertanyaan Angga ketika melihat Fikri yang tengah sibuk membuat api untuk memanggang daging.


"Mereka beneran ada. Gue denger sendiri dari Gino. Mereka pernah berhadapan dengan suku wanita itu.." mata Angga menerawang jauh, seolah mengirimkan pesan telepati kepada Beno agar tak gentar dan bersabar menunggu pertolongan tiba.


"Ehh tapi gue ga abis pikir. Itu singa tadi..astagaaa. Kok bisa-bisanya ngebantu kita. Ini bukan mimpi kan?" Jaka kembali berkata.


"Itulah sportifitas Singa, Mas. Mereka layak disebut raja rimba karena keberaniannya. Tapi mereka juga layak disebut raja rimba karena kepatuhannya. Beruntunglah kita yang sudah mampu menundukkan mereka disaat yang tepat. Fino dan kedua saudaranya pantas mendapatkan ganjaran itu." Pak Bagas menanggapi.


"Gino, Pak. Bukan Fino!" tegur Lita merasa tak enak dengan yang lain.


--Pak Bagas boleh tangguh dan lincah.


--Tapi daya ingat tetaplah mengikuti usia.


"Sudah..sudah. sebaiknya kita segera makan, harus secepatnya bergerak mencari Beno," potong Angga.


--Semua tersenyum dan mengangguk.


--Semua senang karena sang pimpinan telak hadir kembali.


"Eh, Ren. Gimana lukanya, masih berasa cekot-cekot ga?. Sini gue bantu olesin lagi ramuannya.." Fikri sejenak menoleh kearah Rena.


"Ishh..malu-maluin. Gue bisa olesin sendiri ah!" Rena melotot galak, namun pipinya memerah.


"Modus, Lu. Hahaha.." cibir Sisi terbahak.


Bersambung ke episode 36🔜


***

__ADS_1


__ADS_2