
by
Pagi hari di pemukiman Putri CEO terjadi kegemparan. Terdengar suara yang membuat semua yang tinggal disana terkejut. Tapi yang jelas buka suara Fikri seperti tempo hari dengan 'Eureka' nya.
Dua buah helikopter nampak berputar-putar rendah diatas pemukiman. Sesaat kemudian terlihat mulai mendarat ditanah lapang milik Putri CEO.
Dari salah satu helikopter nampak turun seorang pria berpakaian jas lengkap dengan kemeja dan dasi didalamnya. Meski terlihat berumur, pria tersebut masih menampakkan ketampanannya. Tak hanya tampan, ia terlihat begitu karismatik dan teduh. Dibelakangnya turut serta beberapa orang yang mengawal pria tersebut. Seorang pria muda juga terlihat berjalan mendampingi sang pria berumur.
"Papaa.." Naya berlari menyambut rombongan yang datang.
Pria berumur tersebut adalah Pak Leo, ayah dari Inaya Sari Dewi. Wajahnya terlihat sangat bahagia saat melihat putri semata wayangnya ternyata masih hidup.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Pak Leo setelah ia melepas rindu dengan memeluk erat Naya.
"Ceritanya sangat-sangat panjang, Pa. Mari kita duduk dulu digubuk sambil melepas lelah dan bercerita," ajak Naya.
***
"Perkenalkan, Pa. Ini Pak Bagas, beliau komponen kampus yang ikut acara ke pulau Biwian. Disebelahnya itu mbak Lita putrinya Pak Bagas.."
"Eh stop stop. Bu Lita, apa kabar?. Sebuah kebetulan kita bisa bertemu disini," Pak Leo memotong ucapan Naya.
--Nampaknya ia telah mengenal Lita sebelumnya.
"Bu Lita ini CEO dari sebuah perusahaan yang selalu bekerjasama baik dengan perusahaan Papa. Beliau adalah CEO wanita termuda di Indonesia," ungkap Pak Leo ceria.
"Syukurlah kalau Papa dan mbak Lita sudah saling kenal. Berikutnya, ini Rena. Tentu Papa masih inget pada sahabatku yang satu ini. Yang duduk disebelah Rena itu adalah Fikri calon suami Rena.."
"Nayaaa..apaan sih, ish!" Rena mendelik sewot.
"Ooh..jadi lu ga mau, Ren?" pancing Naya.
"Ah gue..a..anu..itu.." respon Rena justru membuat semuanya terpingkal.
--Hanya Fikri yang merasa melambung ke awang-awang.
"Yang disebelah Fikri itu Beno, calon menantunya Pak Bagas.."
"Oww jadi Bu Lita masih punya adik cewek lagi ya dibawahnya?, calonnya Beno itu," tanya Pak Leo sedikit bingung.
Lita hanya menoleh kesana-kemari tanpa bisa menjawab pertanyaan Pak Leo yang mak jleb. Dalam hati ia hanya mampu merutuki ucapan Naya yang telah membuatnya salah tingkah.
"Yang paling ujung itu Angga, teman kuliah juga. Dia yang memimpin dan melindungi kami selama disini," lanjut Naya.
__ADS_1
"Bentar.. bentar. Tatapanmu itu lho, Nak?!. Tidak wajar. Apa dia calon menantu Papa?" pertanyaan yang terlalu to the point tanpa tedeng aling-aling terlontar begitu saja dari mulut sang Papa.
"Anu, Pa. Aku..itu.."
"Rasain lu, Nay. Megap-megap juga kan..hahaha," Rena tertawa penuh kemenangan.
"Ish udah aah. Selanjutnya ini mbak Sukma. Beliau kepala suku di pemukiman ini. Beliau dan pasukannya berjuluk 'Putri CEO'. Mereka yang selalu membantu kami selama dipulau," cepat Naya berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Wahh..Putri CEO. Kayak kamu dong, Nak. Hehe, kalau Bu Lita malah lebih keren. Ratu CEO..hahaha," selera humor Pak Leo ternyata cukup tinggi.
--Kalau lama terdampar dipulau, mungkin dia bisa lebih konyol seperti Pak Herson.
***
"Ternyata Pablo sudah melangkah sejauh ini. Dan sekarang dia sudah menggunakan cara terang-terangan. Ini tak bisa dibiarkan. Ayo kita segera kembali ke rumah. Pembahasan selanjutnya kita bicarakan disana saja," ucap Pak Leo setelah tahu penyebab dari semua kekacauan yang dialami Naya serta teman-temannya.
"Saya juga tak bisa diam begitu saja, Pak. Saya harus menuntut balas kematian dosen saya.." ujar Angga menimpali.
Meski balas dendam itu bukanlah hal yang baik, namun Angga tak bisa menerima begitu saja tindakan keji yang dilakukan Pablo. Ia hanya ingin memastikan bahwa Pablo mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya. Entah itu menggunakan tangannya sendiri, ataupun oleh tangan hukum.
"Sebenarnya saya ingin ikut membantu disana. Tapi warga disini juga membutuhkan pemimpin. Dan lagi saya juga harus bisa menemukan keberadaan dua teman kalian yang hilang itu," tandas Sukma.
"Mbak Sukma tetaplah disini bersama warga. Saya titip Sisi dan Jaka semoga diketemukan. Jika sudah ketemu, mohon rawat mereka. Saya akan menjemputnya sekaligus datang untuk menghadapi suku Lampard," Sukma berusaha mematuhi apa yang disampaikan Angga.
"Siapa itu suku Lapar?. Dan apa yang terjadi dengan dua teman kalian itu?" Pak Leo merasa penasaran.
"Lampard, Paa. Bukan Lapar,"
"Iya..Lempar. Suku Lempar,"
"Udahlah, Paa. Yang jelas mereka suku jahat. Dan untuk Sisi serta Jaka, nanti Naya dijelaskan dirumah saja," potong Naya frustasi.
--Berbicara dengan orangtua memang harus sabar.
"Berikan kami waktu setengah jam lagi. Saya perlu menemui teman lainnya," pinta Angga yang justru membuat Pak Leo heran.
"Teman mana lagi yang harus mereka tunggu," batin Pak Leo.
Sejenak Angga berlari ketengah lapangan. Melingkarkan jari kelingkingnya, kemudian meniup kelingking tersebut sehingga terbentuk satu lengkingan nyaring. Beberapa kali ia mengulangi cara yang sama.
Tak seberapa lama, muncullah 2 ekor singa dari balik rerimbunan hutan. Sontak Pak Leo dan seluruh pengawalnya terkejut.
Perlahan Angga dan kedua hewan itu bertemu. Dengan lembut ia membelai kepala sang hewan, kemudian mengajaknya untuk mendekati semua orang.
Reflek Pak Leo dan pengawalnya sedikit mundur karena takut. Namun tangan Naya yang menahannya membuat ia tak jadi melangkah.
__ADS_1
Menggunakan gerakan isyarat merangkul bahu Sukma, Angga seolah ingin memberitahukan bahwa kalangan Putri CEO adalah sahabatnya. Kedua singa sepertinya memahami itu. Keduanya merendahkan tubuh dan merunduk.
Angga kembali berjalan sembari melepaskan kalung tali berbandul cincin perak dari lehernya. Sejenak ia tersenyum dan mengalungkannya ke leher singa jantan.
Pak Bagas ikut bergerak. Memanfaatkan tali tambang dari busur panah, ia kalungkan belatinya keleher singa betina.
"Aduh bapak, jangan belati atuh. Berat itu, kasihan. Pakai ini aja," Lita beranjak melepas cincin monel bermata blue-sapphire yang selama ini nangkring manja dijari manisnya.
Pak Leo ternganga. Ia terpukau pada kemampuan Angga dan Pak Bagas yang mampu membuat singa tunduk.
"Hebat sekali calon menantuku itu," bisik Pak Leo pada anaknya.
"Iish Papa godain mulu ish. Tapi itu baru sekedar komunikasi dengan hewan lho, Pa. Papa belum lihat bagaimana dia bisa membunuh harimau dengan mudah, atau bahkan membunuh singa itu sendiri jika mereka bermusuhan. Itulah mengapa Angga dipercaya sebagai pemimpin tim. Semua bahaya selama disini bisa teratasi oleh kemampuan Angga," puji Naya juga sambil berbisik kepada ayahnya.
--Pak Leo hanya bisa manggut-manggut geleng-geleng, terpana pada kehebatan seorang Angga.
***
Helikopter mengudara dengan membawa 7 anggota tim yang berbulan-bulan telah tersiksa di pulau Mawar. Dalam diam, tatapan mereka masih menyapu hamparan hijau hutan dibawah sana. Berbagai sketsa kejadian saat berjuang kembali berkelebat melintasi pikiran.
Tetes airmata duka mengalir tatkala mengingat Pak Herson dan Bu Mayang yang tak bisa ikut berbahagia menyambut tim penyelamat.
"Apa sejauh ini tidak ada tim penyelamat dari pemerintah yang bergerak mencari kami, Pa?" tanya Naya merasa aneh.
"Papa dan beberapa orangtua dari kalian berikut pihak kampus sudah seringkali berkomunikasi dengan pihak yang berwajib dan juga tim SAR. Beberapa kali juga telah dilakukan pencarian baik dari jalur laut dan udara. Tapi siapa yang akan menyangka bahwa pulau sekecil itu menjadi persinggahan dari kalian. Pulau itu sangat kecil. Hanya berdiameter belasan kilometer saja. Semua tak menyangka ada kehidupan disana," jawab Pak Leo merasa menyesal karena telah melewatkan pencarian ke pulau Mawar.
"Sejauh ini, pemerintah hanya menganggap pulau tersebut sebagai sekumpulan tanah kecil yang menyembul ditengah lautan tanpa ada kemanfaatan lebih yang bisa didapatkan disana. Di negara ini, ada banyak pulau-pulau berukuran mini yang tak difungsikan. Seandainya kita bisa beli satu aja, pasti akan sangat menyenangkan." Lanjut Pak Leo panjang lebar.
--Tapi sayangnya, tak ada satupun yang mendengarkan.
--Semuanya tertidur karena letih.
Waktu terus berjalan. Didepan sana sudah terlihat gerbang rumah Naya dengan pagar yang panjang dan luas mirip pagar kabupaten.
"Welcome home buat kalian para pejuang," lirih Pak Leo sebelum beranjak membangunkan seluruh hadirin hadirot yang masih ngiler menikmati alam mimpi.
---
*Isi bahasan dalam novel ini pada umumnya, dan episode ini pada khususnya hanyalah pemikiran penulis yang bersifat fiktif, sebagai hiburan semata. Tidak mewakili keadaan yang sebenarnya. Dimohon bijak dalam membaca serta menyimpulkan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
To be tukinyut ke next episode 🔜
^^^DPKBPC @2021^^^
^^^FigurX Productions^^^
__ADS_1
***