Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 22 : Gubuk ditepi air terjun


__ADS_3


---


Kehidupan itu seperti air yang mengalir. Tetap mengalir kemanapun menyesuaikan tempat dimana ia berada.


Kehidupan itu seperti angin yang berhembus. Setiap hari mengalun tanpa henti.


Kehidupan itu seperti harapan. Menyongsong hari esok dengan sejuta cita-cita.


...


Angga dan timnya telah selesai membangun gubuk kayu ditepi air terjun dan sudah menempatinya dalam beberapa hari. Ukuran gubuk yang ke dua ini lebih besar dari gubuk yang didekat pantai. Mereka membuat tempat memasak didalam ruangan agar lebih aman dari gangguan binatang liar, sekaligus nyala api bisa sebagai penghangat tidur. Sedangkan api unggun tetap masih berada diluar sebagai tempat berjaga saja.


"Sudah hampir 20 hari kita di pulau ini," ucap Rena menggoreskan ranting ditanah seolah sedang menghitung. Mereka sedang berada didepan gubuk. Beberapa pria terlihat sedang memancing ikan dikolam air terjun.


"Iya, tapi disini nyaman, Say. Jauh lebih baik dari gubuk pertama kita. Disini air bersih melimpah, ikan juga tinggal panen, daun-daunan untuk sayur dan obat ada banyak ragamnya, mau berburu juga bisa. Apalagi view gubuk kita didekat air terjun sangat indah. Mirip gambar-gambar pada cerita dongeng," Bu Mayang menanggapi ucapan Rena.


Disudut lain, Angga yang sedang menyendiri untuk memancing tiba-tiba didatangi oleh Lita.


"Kenapa ga bergabung dengan yang memancing disana?" tanya Lita.


"Aku lagi pengen menyendiri, Mbak." jawab Angga datar.


"Ya udah, kalau tidak keberatan, biar aku temenin.." lanjut Lita tersenyum. Angga hanya diam tak menjawab.


"Apa rencanamu setelah kembali nanti?" Lita menatap wajah Angga dari sisi samping.


"Simpel aja, Mbak. Skripsi, lulus, cari kerja.." balas Angga dengan nada yang terkesan tidak bersemangat.


"Langsung kerja ditempatku aja. Tanpa tes hehe," ucap Lita memberi tawaran.


"Aku belum berpikir kearah sana. Tapi, terimakasih banyak atas tawarannya. Aku akan memikirkannya." Angga sedikit tersenyum membaluri ucapan terimakasihnya.


"Ehmm.. sori. Apa kamu dan Naya berpacaran?" Lita menatap Angga dengan tajam. Diumurannya sekarang, bukan saatnya ia berkata dengan malu-malu. Lita terbiasa bicara apa adanya tanpa tedeng aling-aling. Seperti pembawaan CEO pada umumnya yang tegas, disiplin, tak bertele-tele.


"Kami belum ada ikatan hubungan. Kenapa, Mbak?" Angga menjawab, namun kemudian keningnya berkerut karena merasa sedikit janggal dengan pertanyaan Lita.


"Hehe gapapa. Naya gadis yang cantik dan anggun. Dia cocok sama kamu, Ngga.." ujar Lita kembali tersenyum.


"Hahaha terimakasih. Saya bahkan belum terpikir untuk menjalin hubungan lebih jauh. Kondisi di pulau ini terlalu menyita konsentrasi." Angga juga tersenyum. Apa yang ia katakan adalah kejujuran. Meski ia cukup dekat dengan Naya, semua anggota tim juga melihat bagaimana kemesraan mereka setiap hari. Namun Angga belum melangkah lebih jauh.


"Asyikk..gue dapet ikan," teriak Jaka dari ujung sana. Semua mendekat ke arahnya, tak terkecuali Angga dan Lita. Dari celah gubuk, sepasang mata mengintip Angga dan Lita yang sedang melangkah bersama menuju Jaka. Ada tatapan kesedihan, harapan, dan tatapan kecemburuan.


Tak berapa lama Beno, dan Fikri juga berhasil mendapatkan ikan. Tiga buah ikan sebesar lengan sudah cukup untuk menu makan siang mereka. Ikan itu berwarna kehitaman. Mirip seperti ikan mujair namun besarnya seperti ikan gurami, bahkan jauh lebih besar.


"Gue sebagai ahli pemberi nama dengan prestasi telah membuat nama untuk tim hebat Jagito Plus, kali ini akan mencoba memberikan nama terbaik untuk ikan tanpa nama ini. Dengan ini gue resmikan bahwa ikan akan diberi nama 'Moza Gura'. Moza diambil dari kata mozair. Dan Gura dari nama Gurami. Gue harap semua suka," Jaka naik keatas sebuah batu besar dan sibuk berpidato.


"Lu turun ato gua sambit pake pancingan nih?" dua puluh hari di pulau geje, namun baru kali ini terlihat Fikri benar-benar marah.


"Selow bro," hibur Beno menenangkan.


"Lu ga bisa ngomong yang lebih bermanfaat?. Ato lu cuma lahir buat bisa omong kosong?" bentak Fikri.

__ADS_1


"Eh lu kenapa, Kri?" Angga juga mendekat.


"Gue lagi stress, dan suara lu makin bikin gue stress tau ga!" kembali Fikri menyalak marah.


"Lu tenang dulu bro.." ucap Angga.


Perlahan Fikri jatuh terduduk ditepian kolam. Ia sudah tak peduli jika tanah dibawahnya basah.


"Gue ga pernah nyesel buat berjuang sama lu, Ngga. Gue cuma kepikiran nyokap. Lu inget pas awal dipelabuhan, gue bilang kalo nyokap lagi kurang sehat?. Ini sudah hampir sebulan. Lu tau kalo bokap gue udah lama ga ada, dan sekarang nyokap sakit sendirian dirumah.." Fikri menangis sesenggukan seperti anak kecil. Kerinduan pada sosok Ibu dalam dada Fikri begitu membuncah. Mungkin benar kata orang, seorang pria tidak akan benar-benar menjadi dewasa sebelum ditinggal mati oleh ibunya.


"Bro maafin gue," Jaka mendekat.


"Ga seharusnya gue ngomong ga faedah kek tadi. Gue niatnya cuma pengen ngehibur. Sori banget bro.." imbuh Jaka prihatin.


"Ga ada yang salah. Cuma gue yang salah karena mengajak kalian semua naik sekoci waktu itu.." Angga tertunduk.


"Sudah. Kalian semua tenangkan diri. Jangan ngomong lagi. Ga ada yang patut disalahkan," Pak Herson hadir menengahi.


"Bapak tahu siapa yang sebenarnya bersalah atas semua kejadian di pulau aneh ini," imbuh Pak Herson. Semua kini memandang ke arah dosen kebapakan tersebut.


"Siapa, Pah?" tanya Bu Mayang.


"Author!"



Baru beberapa saat mereka menyiangi ikan ditepi kolam. Dari arah hutan terdengar sedikit keributan. Suara hewan-hewan kecil bersahutan, ranting-ranting patah seperti terinjak benda berat.


Angga dan tim belum menyadari akan datangnya bahaya. Mereka sudah merasakan ketenangan dalam beberapa hari ini saat tinggal di gubuk yang baru.


"Lu kenapa bro?" tanya Beno penasaran.


"Iii..tu..ituu," Jaka tergagap sambil menunjuk kearah dimana dirinya menghadap. Semua orang, kecuali Naya yang sedang berada didalam gubuk segera berbalik badan.


"Aaaaa..." semua tim wanita yang ada disana berteriak. Tim pria juga terlihat mulutnya menganga lebar.


Tepat didepan garis hutan, beberapa meter menuju kolam terlihat sepasang Singa tengah berdiri gagah dan memandang tajam ke arah tim Angga.


Singa bukanlah harimau. Mereka adalah raja rimba yang sebenarnya. Meski terlihat aneh bisa melihat Singa dan sebelumnya Harimau di pulau kecil ini, namun kenyataannya adalah kedua Singa telah berada dihadapan mereka sekarang. Mungkin pulau yang masih orisinil dan tak terjamah tangan kotor manusia yang membuat ekosistem disini menjadi lebih seimbang, lengkap dengan segala keanekaragaman flora dan faunanya.


"Bro.. broo, ini genting bro," bisik Beno disamping Angga.


"Kalian tenang. Jangan melakukan gerakan yang berlebihan. Pak Bagas.. masih mampu?" Angga menenangkan timnya, kemudian beralih dengan bertanya kepada Pak Bagas.


"Hahaha..akhirnya kesempatan tiba, Mas. Saya sudah menunggu lama untuk dilibatkan dalam pertarungan sengit seperti ini. Saat menghadapi Harimau tempo hari, saya sebenarnya juga pingin ikut, tapi sayangnya belum diberi kesempatan," jawab Pak Bagas justru gembira.


Tentu saja Angga mampu menjajaki kemampuan setiap anggota timnya. Beno dan Fikri memang cukup mahir beladiri. Tapi mereka tak cukup mampu untuk mengatasi Pak Bagas. Jika dilihat dari kemampuannya, Pak Bagas sedikit beberapa tingkat saja dibawah kemampuan Angga.


"Beno.. tukerin pedang lu dengan belati Pak Bagas," perintah Angga.


Beberapa saat kemudian Angga dan Pak Bagas terlihat beriring berjalan ke arah pasangan Singa. Melihat kondisi yang sangat genting, Beno mengajak semua tim perlahan bergeser ke depan gubuk dimana Naya sedang berdiri mematung disana dengan wajah yang penuh kerisauan.


Singa dengan tegap berjalan menyusuri rerumputan. Tatapan membunuh sangat terlihat dari mata mereka. Dalam satu aba-aba, Angga dan Pak Bagas berlari menyongsong. Singa juga terlihat mempercepat langkah dan kemudian terlihat berlari.

__ADS_1


Angga sedikit berlari menyerong untuk memberikan ruang pertempuran yang cukup bagi Pak Bagas. Beberapa detik kemudian Singa jantan melompat ke arah Angga. Namun Angga sudah cukup siap. Ia berlari cepat dan melakukan gerakan menjatuhkan diri, berharap ujung pedangnya mampu menggores bagian bawah sang Singa jantan. Sayangnya, raja rimba sangat menguasai keadaan. Melihat Angga menghindar dibawah lompatannya, ia segera menjulurkan dua kaki belakangnya diudara.


CRASHH..


bukan pedang Angga yang mengenai Singa. Justru lengan kiri Angga tergores kuku-kuku Singa yang begitu tajam.


"Anggaa!" teriak panik Naya diseberang sana.


Melihat situasi tidak menguntungkan jika melakukan pertempuran dibawah, Angga segera berdiri.


"Gunakan pertempuran atas, Pak!" teriak Angga pada Pak Bagas tanpa menghiraukan luka dilengannya yang mulai mengeluarkan darah segar.


AOOMM.


Singa jantan berbalik badan dan mengaum keras. Kembali ia berlari ke arah Angga yang sedang berdiri siaga.


Memanfaatkan bebatuan yang menonjol, Angga berjingkat naik laksana tupai ke atas beberapa batu sehingga sekarang posisinya lebih tinggi dari lompatan Singa.


Saat Singa jantan kembali melompat, Angga juga ikut melompat dari bebatuan. Dua kakinya menendang keras bagian atas kepala sang Singa. Menggunakan tumpuan tolak dari tendangan, Angga melakukan salto diudara sambil mengayunkan pedang.


SRETTT..


Pedang Angga mampu menggores paha atas Singa Jantan meski tidak terlalu dalam.


AOOHMM..


Singa kembali mengaum. Kini auman itu jauh lebih keras dari sebelumnya.


Beralih kepada Pak Bagas yang sedang berhadapan dengan Singa betina. Singa betina berlari menuju Pak Bagas, namun dibanding Singa Jantan, ia jauh lebih lamban dalam gerakan.


Mengingat pesan Angga, kaki Pak Bagas menginjak sebuah batang pohon untuk memberikan dorongan ke atas bagi tubuhnya. Singa betina dan Pak Bagas bertemu diudara. Pak Bagas menyabetkan pedang dengan arah diagonal dari samping kiri atas menuju kanan bawah.


Saat tiba ditanah, terlihat satu sayatan panjang dibagian tengkuk Singa betina.


Terlihat dari tatapan Singa betina, ada sedikit rasa takut terhadap keganasan Pak Bagas.


Pada posisi Angga, kini Angga sedang berlari mendaki sebuah pohon. Gerakannya sangat cepat dan lincah seolah monyet. Dibawah sana Singa terus melompat seakan ingin meraih tubuh Angga.


Dalam sedikit ketidakwaspadaan Singa jantan, Angga cepat melompat turun dan kini hinggap menunggangi tubuh Singa jantan.


Secepat kilat Angga memukulkan gagang pedangnya ke batok kepala sang Singa. Tak berhenti disitu, Angga juga menghunuskan pedangnya untuk melukai bagian kepala Singa jantan. Tubuh Singa jantan jauh lebih besar daripada Harimau muda yang tempo hari disembelih Angga. Tangan Angga cukup kesulitan untuk melingkari leher Singa. Ia menjadi kesulitan untuk mengulangi cara menyembelih seperti yang ia lakukan kepada Kambing gunung serta Harimau kala itu.


Mendapatkan beberapa luka dikepalanya, Singa jantan mengguncangkan tubuh agar bisa menjatuhkan Angga.


Dalam satu hentakan kuat, Angga berhasil terlepas dari atas tubuh Singa Jantan. Tubuh Angga terpelanting ke tanah dengan keras.


Singa jantan sedikit berlari menghampiri pasangannya yang sepertinya sedikit takut kepada Pak Bagas. Tanpa disangka, kedua Singa tersebut berbalik badan dan berlari menjauh kedalam hutan. Secara naluri sepertinya mereka tahu bahwa Angga dan Pak Bagas bukanlah lawan yang bisa dengan mudah mereka kalahkan. Kedua Singa cukup sportif dan memilih menghindar dengan membawa beberapa luka meski tak terlalu serius.


"Gilaaa..kalian luar biasaa!!" teriak Jaka dari kejauhan.


Naya segera berlari menyusul Angga. Ia sangat khawatir pada luka dilengan pria idolanya itu. Pak Bagas hanya tersenyum teduh, kemudian berlalu ke arah gubuk, memberikan kesempatan waktu bagi Angga dan Naya.


__ADS_1



__ADS_2