Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 24 : Pemuja rahasia


__ADS_3


 


Saat Naya dan Angga masih 'sibuk' berpatroli. Tim sedang repot-repotnya memperbaiki gubuk. Dengan tambahan bambu yang dianyam, mereka melapisi dinding gubuk agar lebih aman dan nyaman. Bagian atap yang sebelumnya hanya jerami juga mereka tambahkan dengan daun kelapa.


"Ben, kok Angga lama ya patrolinya?" Lita terlihat risau. Entah ia merisaukan keselamatan Angga dan Naya, ataukah merisaukan kedekatan antara keduanya. Yang pasti, wajah Lita sedikit murung tidak seperti biasanya.


"Mereka udah gede, Mbak. Apalagi yang bersama Naya itu seorang maestro. Singa aja lari terbirit-birit melihat Angga. Tenanglah..mereka aman," ucap Beno menghibur kerisauan Lita. Namun sebenarnya, hiburan dari Beno adalah sebuah tes terselubung. Beno hanya ingin melihat reaksi Lita setelah mendengar ucapannya. Harusnya wajah risaunya kini menurun. Kecuali Lita merisaukan hal yang satunya lagi.


"Benoo..udah lurus belum nih?" teriak Fikri dari atas atap gubuk. Saat ini Fikri sedang memasang tiang kayu penyangga untuk memperkokoh atap.


Panggilan Fikri dimanfaatkan Beno untuk segera menghindar dari depan Lita. Ia sudah menggenggam jawaban atas kerisauan CEO tersebut.


"Sebentar bro, gue liat dari posisi yang lain dulu," teriak Beno berlari menjauh.


[Flashback On]


POV Lita


Malam ini aku duduk sendiri didalam gubuk. Rata-rata mereka sudah tertidur pulas setelah menghadapi ketegangan tatkala mendapat tamu istimewa yakni sepasang Singa tadi siang. Hanya terdengar senda gurau trio gatoloco yang sedang berjaga diluar.


Sejenak aku menatap wajah cantik Naya yang malam ini kebetulan tidur disebelahku. Dia sangat cantik, nyaris sempurna. Tak salah jika seantero kampus mengidolakan gadis ini. Jika saja aku pria, mungkin aku sudah ikut menjadi penggemar Naya garis keras untuk mendapatkan cintanya.


Entah mengapa aku bingung sendiri dengan gonjang-ganjing yang berkecamuk didalam hatiku. Semakin lama kami tinggal bersama. Semakin lama aku berinteraksi dengan Angga, seperti ada sesuatu yang tertaut jauh didalam sana.


Aku sadar jika usiaku tidak semuda Angga. Mungkin sekarang bukan waktu untukku jatuh cinta atau ingin berpacaran haha-hihi layaknya kaum muda-mudi. Harusnya aku sudah bersuami. Sekarang aku baru sadar jika aku terlalu sibuk memperjuangkan karirku demi menebus masa lalu yang pahit. Aku terlena hingga baru sadar jika aku telah menginjak usia 27 tahun. Usia yang sangat matang dan sedikit telat untuk menggandeng lengan suami ataupun memeluk baby dalam gendongan.


Kembali pada lamunanku tentang Angga. Ada rasa kagum terhadapnya. Kemahirannya olah beladiri sangat mirip dengan ayahku yang selama ini telah menjadi idola satu-satunya dihidupku. Bagiku, ayah adalah segalanya. Dia adalah ayah dan juga ibu bagiku. Dia adalah figur ayah terbaik dalam versiku. Dan aku menemukan sosok semacam itu pada diri seorang Angga.


Namun sekali lagi aku sadar. Gadis cantik disebelahku ini tengah dekat dengan Angga. Dia muda, cantik, baik hati, dan yang terpenting adalah adanya respon positif Angga kepada Naya. Bukan aku pesimis, tapi aku juga wanita seperti Naya. Aku tak bisa membayangkan jika aku diposisi Naya, kemudian ada wanita lain mencuri perhatian Angga.


Tapi kenapa sangat sulit berdamai dengan diriku sendiri. Kadang logikaku tak bisa mencerna tentang apa yang hatiku inginkan. Seperti mendung tengah bergelayut dijiwa.


Aku tak ingin menjadi seperti ini. Berdiri diatas kegamangan. Berenang dilautan kebimbangan. Terbang tak tentu arah. Yaa Allah..bagaimana aku harus bersikap dan mengambil langkah?.


Aku terus hanyut dalam lamunanku dengan tubuh bersandar pada pilar gubuk. Tak lama akupun tertidur karena letih.


[Flashback off]


Kembali ke POV Author

__ADS_1


 



 


"Jak, tanam yang dalam ya. Yang kokoh. Jangan sampai sebentar rusak karena dorongan hewan." teriak Pak Herson pada Jaka yang sedang memasang tiang bambu sebagai poros pagar.


Saat itu sebagian lain dari tim sedang membuat pagar keliling gubuk. Dengan tiang poros bambu utuh, dipadu dengan tulang pagar berbahan kayu yang disusun saling silang, terbentuklah satu set pagar yang cukup kuat. Minimal hewan akan enggan menerobos. Karena secara naluri, hewan akan memilih medan yang lapang tanpa hambatan, daripada harus bersibuk ria menjebol pagar tanpa ada alasan yang jelas. Pun jika mereka berniat memangsa manusia, butuh waktu bagi mereka untuk bisa merobohkannya, sehingga cukup memberi waktu pula bagi tim untuk mengetahui akan datangnya ancaman bahaya. Lalu bagaimana dengan gangguan manusia?, tentu saja pagar kayu tak akan ampuh menahan serangan makhluk paling berakal, yakni manusia. Jurus yang ampuh untuk mengatasi serbuan manusia adalah dengan menghadapinya. Atau menggunakan opsi ke dua, pergi menghindari mereka.


Pagar itu memiliki ketinggian 2 meter dengan celah saling silang kayu yang cukup sempit. Setiap meternya diperkuat oleh poros bambu. Tentunya itu akan cukup kuat sebagai benteng pertahanan awal dari gangguan hewan buas. Bagaimana dengan ular atau serangga melata lainnya?. Dibelakang pagar dibuat parit ganda. Parit pertama adalah parit yang dibuat agak dalam dan sedikit lebar. Parit itu akan berisi air. Sedangkan parit kedua yang lebih dekat ke arah gubuk adalah parit dengan baluran garam kristal. Bukan mereka melakukan preventif yang berlebihan, namun lebih pada sebuah upaya manusiawi, mengingat hutan tersebut cukup luas dan memiliki hewan yang beranekaragam.


Tim wanita juga terlihat sibuk didalam gubuk. Mereka tengah memasak hidangan makan siang. Sebelumnya, Pak Bagas dan Jaka sempat mendapatkan beberapa ayam hutan saat mereka sedang mencari kayu untuk bahan pagar.


Rena dan Sisi juga menemukan bayam liar dibelakang gubuk. Maka, lengkaplah kiranya menu makan siang hari itu dengan ayam bakar, bayam rebus, serta ubi jalar. Terdapat pula satu tandan pisang, juga kelapa muda sebagai pelengkap.


"Bayamnya jangan terlalu lama direbus. Nilai gizinya bisa menurun," ucap Lita sebagai chef rimba andalan tim memberikan instruksi.


"Bro, lu udah longgar belom?" tanya Beno pada Fikri saat mereka tengah rehat dari kegiatan.


"Santai seperti dipantai, selouw kayak dipulauw.." jawab Fikri sambil merebahkan tubuhnya direrumputan.


"Gue mo bahas sesuatu," ucap Beno lagi.


"Yaa kan gue ati-ati bro. Khawatir lu lagi badmood kek kemarin pas lu semprot si Jaka.." sambung Beno.


"Haha lu bener juga, ga tau kenapa, semakin lama disini, kok gue semakin labil gini," Fikri terkekeh heran pada dirinya sendiri.


"Ya wajar sih bro kalo kita keinget bonyok dirumah. Ga salah juga kalau lu jadi uring-uringan.." imbuh Beno.


"Heii..kalian, ayo masuk. Makanan sudah siap," teriak Sisi dari depan gubuk. Beno dan Fikri sigap berlari memasuki gubuk. Sejenak melupakan obrolan yang sempat digagas Beno.


"Kita ga nunggu Angga sama Naya dulu nih?. Kasihan mereka pasti juga belum makan," tanya Mayang memunculkan jiwa keibuannya.


"Kita sedang kerja keras, Mah. Setelah ini juga masih dilanjut kerjaannya. Kita butuh energi. Sisihkan saja jatah mereka berdua," ucap Pak Herson bijak.


"Ga ah. Aku makannya nanti aja nunggu mereka. Lagian aku juga belum terlalu lapar, Pah. Mereka juga sedang kerja keras berpatroli," Mayang menolak.


"Pak, Bu. Kita bikin ringan aja. Hanya masalah waktu makan ini. Bebas aja sih, yang mau makan silahkan, yang belum mau makan juga silahkan. Ga ada unsur intimidasi atau apapun. Ini murni panggilan perut, hehe.." ucap Jaka ikut menanggapi.


"Beuhh, Jack. Ini kali kedua lu ngomong bener selama di pulau ini.." seloroh Beno demi mendengar ucapan Jaka yang serius.

__ADS_1


"Lu kira gue badut gitu, cuma bisa ngebanyol doang?. Gue juga punya sisi sentimentil tau!" jawab Jaka sedikit sewot.


"Ini kuah bayam. Baiknya dimakan dibawah 5 jam setelah dimasak untuk mempertahankan gizi yang terkandung didalamnya. Jika lebih dari 5 jam baiknya tidak dimakan karena ada sebagian zat yang justru berubah merugikan tubuh. Jadi pendapat saya, makanlah selagi bayamnya masih segar. Nanti Angga dan Naya bisa kita masakkan lagi bayam yang baru," chef Lita angkat bicara. Kalau sudah menyangkut makanan, entah kenapa dia yang selalu lebih paham. Padahal jelas-jelas dia adalah CEO yang super sibuk. Tapi pengetahuan dan kemampuannya dalam hal kuliner sungguh luar biasa.


Setelah obrolan sebelumnya dengan Lita, sesekali Beno memperhatikan gerak-gerik Lita. Ia seperti sedang mencari korelasi dari setiap ucapan Lita, respon verbal dan non verbal, serta kemampuan Lita. Sebentar Beno berpikir, sebentar kemudian ia kembali melihat kearah Lita. Sebentar juga mulutnya terlihat komat-kamit sendiri.


Fikri yang melihat gelagat aneh dari Beno yang komat-kamit sendiri, menjadi was-was. Ia khawatir Beno beranjak gila akibat tekanan mental di pulau. Atau bisa jadi Beno diganggu makhluk halus pulau dan kemudian kesurupan.


"Bro..broo. lu ga papa kan?" Fikri mencolek bahu sahabatnya.


"Apa lu monyet?. Puncak gunung adalah ribuan kilometer. Belok sedikit ada kandang ayam. Set dah ingus lu meler. Kemudian berlari kehutan, lalu ke pantai naik odong-odong.." Beno membelalak sadis. Dari mulutnya terlontar rancau yang ngelantur dan tak jelas.


"Waah..dia kerasukan nih bener. Yah yahh gimana donk?!" Fikri bingung sendiri melihat tingkah Beno.


"Benoo..Benn. Sadar dong lu!" Jaka juga mendekat kemudian memeriksa suhu tubuh Beno dengan meraba keningnya.


"Woyy setan alas berbulu kalkun. Tangan lu bau semvak. Stop ish ish jangan pegang dulu. Kumohon pecahkan saja kepala lu. Biar gue isi kepala lu dengan semvak gue. Tapi hei hei..tunggu dulu. Terbanglah tinggi ke angkasa, memetik jambu..hahaha," Beno semakin kacau. Ucapannya bahkan tidak ada juntrungannya sama sekali.


"Kok bisa gini??. Pak..Pak Herson, gimana nihh," Rena beserta para wanita mulai melipir menjauhi Beno. Wajah mereka terlihat ketakutan.


"Biar saya tangani," Pak Herson bergegas mendekati Beno yang sekarang terlihat sibuk mencium keteknya sendiri.


"Siapa kamu?" tanya Pak Herson.


"Lah..sama teman sendiri lupa. Gue adalah burung nuri setengah monster. Penguasa lobang hidungnya," Beno menunjuk ke arah Jaka. Spontan Jaka langsung menutup rapat-rapat hidungnya.


"Makan, makan apa yang ada ingusnya hayo??" Beno semakin parah badai.


"Woi..kamu siapa?" Pak Herson mengulang pertanyaannya namun dengan intonasi lebih tinggi.


"Gue..pus meong bersayap karena lagi banyak-banyaknya. Tentara terbaik dari Ratu Syahrini. Paling suka sama burger, tapi jangan dikasih bumbu kacang yes. Sama kuah gule aja," jawab Beno kemana-mana.


"Mau jujur atau saya buka aib nilai mu semester lalu?" ancam Pak Herson.


"Hehe..ampun, Pak. Jangan diceritain. Saya cuma becanda," Beno cengengesan.


"Benoooo!!"


 


__ADS_1


 


__ADS_2