
"Monggo, dinikmati dulu kopinya," Pak Leo mempersilahkan empat pria gagah beracun yakni Angga, Beno, Fikri, dan Pak Bagas untuk menikmati hidangan kopi yang sudah menjadi impian mereka selama 5 bulan ini.
Entah kenapa, kopi begitu identik dengan kaum Adam. Tidak dikota tidak didesa, tidak diwarung tidak dirumah, tidak disawah tidak digunung, mayoritas pria selalu berhubungan erat dengan kopi. Kira-kira kenapa ya?, bantu Author memecahnya misteri kopi ini di kolom komentar yah.
"Mungkin Naya sudah menceritakan siapa Pablo, juga bagaimana upayanya mengguncang perusahaan kami," ucap Pak Leo sesaat setelah ia menyesap kopinya.
"Iya. Mungkin," jawab Beno.
"Kok mungkin sih. Jawaban yang meragukan.." sanggah Pak Leo.
"Nah bapak tadi bilang, 'mungkin Naya..', ya saya jawab mungkin. Bapak juga ragu bertanya hayoo.."
"Kan saya ragu apakah Naya sudah cerita atau belum. Makanya saya bilang, mungkin.." setelah minum kopi bukannya pusing berkurang, justru Pak Leo semakin mumet gara-gara tanggapan Beno yang menjanggalkan.
"Saya juga ragu apakah Naya sudah cerita atau belum. Yang pacarnya Naya kan Angga, bukan saya. Mungkin sudah cerita ke Angga. Tapi tidak ke saya.."
Efek euforia saat bertemu kopi setelah sekian lama terpisahkan oleh ruang dan waktu memang sungguh menganehkan. Dan itu terjadi pada Beno yang mengkonsletkan diri.
Tak ingin terjadi polemik yang berkepanjangan, Angga langsung saja menggunting percekcokan tak asyik antara dua orang tersebut. "Benar, Pak. Naya sudah bercerita. Ternyata ada ya didunia ini orang model Pablo itu. Hidup dengan segala iri dengki dan angan muluknya. Padahal kalau dipikir-pikir, umur manusia itu berapa tahun sih?. Apalagi seumuran Pablo yang mungkin sisa hidupnya tak akan melebihi 20 tahun lagi." Angga menanggapi.
"Mungkin dia berpikir jangka panjang. Untuk masa depan anaknya, keturunannya.." timpal Pak Leo.
"Mungkin, Pak.." Beno nyerocos lagi.
PLAKK
Satu pukulan keras Fikri dibahu Beno agar itu mulut kaleng rombeng berhenti dari kicauannya. "Ya ga gitu juga tapi Pak caranya. Semua orang berpikir untuk masa depan itu wajar. Tapi berbuat jahat demi masa depan itu ga wajar, Pak." ucap Fikri dengan satu tangannya kini yang membekap mulut Beno.
--Beno tentu saja meronta.
--Tangan Fikri bau terasi.
"Itulah manusia. Ga akan pernah ada kata cukup. Hanya orang-orang yang mawas diri dan berhati terpuji yang bisa menempatkan bagaimana kata cukup itu digunakan," tandas Pak Leo berfalsafah.
"Pablo juga berusaha cukup saja lho, Pak. Cuman cukup versi Pablo sedikit berbeza. 'Cukup' memiliki lusinan mobil mewah, 'cukup' 3 saja rumah megah, 'cukup' merebut 1 perusahaan saja, 'cukup' triliunan saja aset dibank, 'cukup' kaya raya saja tapi ga perlu jadi sultan, 'cukup' dada-dada ke pembantu maka semua yang dia minta akan terpenuhi, 'cukup' serakah saja tapi tidak terlalu serakah. Dan cukup-cukup lainnya, Hehehe.." sarkas Beno penuh kelakar.
"Mungkin, Ben.." balas Pak Leo jahil.
Semuanya tertawa mendengar lelucon Beno yang sebenarnya sedikit garing, beserta eyel-eyelan Pak Leo dan Beno yang berlarut-larut. Mereka hanya ingin sejenak tertawa untuk melenturkan otot-otot diwajah yang tadinya sempat kaku gara-gara ulah Sonia yang kelewat batas. Bukan hanya itu, beban penderitaan dipulau selama ini begitu berat, sebagian kegembiraan terampas disana. Baru kali ini mereka menemukan kebahagian kembali. Mampu tertawa dengan lepas.
"Oya, kalian belum menceritakan tentang dua teman kalian yang hilang itu," Pak Leo mencoba mengingatkan bahasan saat masih di pulau Mawar dan sempat tertunda.
"Mereka bernama Sisi dan Jaka. Awalnya kami bersama. Namun setelah melewati kematian Bu Mayang dan Pak Herson, temperamen Sisi berubah. Dia menjadi individu yang egois dan suka menyalahkan orang lain. Angga dan semuanya dipojokkan oleh Sisi karena dianggap kurang cekatan dalam mencari solusi pulang. Hingga akhirnya Sisi memisahkan diri dari tim untuk mencari solusi pulang sendiri. Sedangkan Jaka mengejar Sisi karena sepertinya dia ada hati ke Sisi," ucap Beno menjelaskan.
"Nah itu dia. Orang yang semacam itulah yang akan berkembang menjadi sosok serupa Pablo. Ia harus segera disadarkan agar tidak sampai berlarut-larut menyimpan benih kekejian dalam hatinya. Jika sudah bertahun-tahun mengakar dalam dirinya, akan susah diperbaiki, seperti Pablo.." Pak Leo berpendapat.
__ADS_1
"Itu yang akan saya upayakan, Pak. Setelah semua urusan disini beres, saya akan kesana lagi untuk menemui mereka. Sekaligus juga untuk memenuhi janji saya kepada mbak Sukma," balas Angga serius.
"Kamu memang berbeda dalam menyikapi berbagai permasalahan. Saya salut sama kamu," puji Pak Leo pada Angga.
"Hehe biasa aja, Pak. Hanya mengikuti naluri manusiawi," sanggah Angga santun.
"Ehmm..tapi begini, Nak. Bapak ingin minta tolong sesuatu. Ada sebuah permintaan yang bapak ragu, apakah kamu akan bersedia melakukannya.." ucap Pak Leo.
"Kuberi satu permintaan, monggo!" Canda Angga mencatut iklan jadul 67 pakdhe jin.
"Setelah menilai bagaimana sepak terjangmu dalam memimpin tim. Juga bagaimana kepiawaianmu dalam beladiri. Bapak ingin minta tolong kamu untuk membantu bapak dalam menghadapi Pablo dan pasukannya. Yaa memang disini kami memiliki pengawal. Tapi kami memerlukan figur yang benar-benar terampil, mengingat Pablo sangat licik serta berbahaya. Dia juga memiliki pasukan pilih tanding yang tidak mudah untuk dikalahkan. Tanpa bantuanmu, sepertinya bapak pesimis bisa mempertahankan perusahaan lebih lama lagi." Pak Leo mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Tentu saja saya bersedia, Pak. Bukankah sudah pernah saya sampaikan bahwa saya harus memberikan pelajaran pada Pablo karena telah membunuh dosen saya?!. Tapi saya tidak bisa memaksakan hal ini pada teman-teman. Ini hanya keputusan saya pribadi," jawab Angga antusias.
"Gue jelas bakal ikut. Kalau bisa semua anggota tim harus ikut. Semakin banyak pasukan kita, semakin besar peluang kita untuk bisa membekuk Pablo," Fikri menyodorkan diri dengan penuh semangat.
"Emang ada track record tentang trio gatoloco yang berangkat tak lengkap. Enakhh aja. Gue ikut!" Beno tak mau ketinggalan.
"Saya ga ikut mas Angga, maaf.." Pak Bagas terlihat murung.
"Gapapa, Pak. Tidak ada paksaan untuk ikut," tandas Angga tanpa memiliki perasaan tersinggung karena ketidaksertaan Pak Bagas untuk misi menumpas Pablo.
"Saya tidak bisa ikut karena terlanjut janji kepada anak saya untuk membantu rekan bisnisnya yang menghadapi masalah," ungkap Pak Bagas masih dalam kondisi murung tak enak hati.
"Ada CEO lain yang juga menghadapi masalah ternyata. Siapa beliau, Pak?. Apa perlu kita ikut membantu sekalian?" Pak Leo penasaran sekaligus menawarkan diri untuk membantu.
"Sepertinya tidak perlu, Pak. Dia sudah banyak dibantu pria hebat. Biarkan saya dan Lita saja yang turun gelanggang," tampik Pak Bagas.
"Namanya, Leo Purnadeva.." Pak Bagas menahan senyum.
"Lho..itu kan nama saya. Hahaha, baru kali ini CEO kena prank. Bisa aja Pak Bagas bikin drama," Pak Leo terbahak.
"Yaelah Pak Bro Bagas, mulai mewarisi tingkah konyol Pak Herson. Ampun dah," Fikri menepuk jidat.
--Angga dan Beno hanya bisa terpingkal-pingkal melihat aksi Pak Bagas yang sukses berat nge-prank semua orang.
"Jelasnya gue dan Lita ikut dong, Broo. Secara gitu kan, kita adalah tim yang harus tetap solid. Sisa 7 orang anggota tim harus saling dukung, kompak, dan ehmm..saling cinta hahaha," Pak Bagas mulai terdengar bocor alus, menggunakan bahasa gaul layaknya Pak Herson waktu itu.
"Hahaha..gue jadi merasa terhura, Pak Bro. Tapi kalau boleh usul, biarkan Naya sama Rena digaris belakang saja, bagian P3K.." Angga berucap dalam keadaan masih terbahak akibat ulah lucu Pak Bagas.
"Bukan usul itu, tapi titah komandan siap kami ikuti dan laksanakan," sambut Pak Leo yang langsung membuat Angga menghentikan tawa karena kaget campur malu.
"Yahh jangan gitu juga, Pak. Siapa saya sampai Pak Leo patuh sama saya?. Tidak pantas, Pak." Tepis Angga sungkan.
"Siapa kamu?. Calon menantu kan?! Hahaha.." tawa Pak Leo kali ini sukses membuat wajah Angga berubah merah kuning hijau.
"Permisi, Pak.." diambang pintu rumah muncul Rendra.
__ADS_1
"Halo Ren, masuk aja!" pinta Pak Leo pada asistennya.
"Ini Rendra, asisten pribadi saya yang tadi juga ikut berangkat ke pulau Mawar," Pak Leo memperkenalkan sosok tampan dihadapannya.
"Pesanan Pak Leo sudah saya siapkan," Rendra beranjak menyorongkan 6 buah goodybag.
"Ini ada 6 buah handphone lengkap dengan simcardnya. Silahkan dibagi rata. Sebelum kalian berpencar pulang kerumah masing-masing, kita akan saling bertukar nomor untuk mempermudah komunikasi kedepannya," ucap Pak Leo.
Semua tersenyum senang. Meski sebenarnya tak enak menerima pemberian itu, namun tolakan mereka tak akan didengarkan oleh Pak Leo. Maka, daripada berdebat, mereka memilih untuk menerimanya tanpa banyak tanya.
"Terimakasih, Pak.." ujar Angga mewakili yang lainnya.
"Gausah sungkan. Anggap saja ini pemberian mertua untuk menantu dan teman-temannya," lagi-lagi ucapan Pak Leo membuat wajah Angga merah kuning hijau, dan sekarang ditambah biru.
Tak main-main Pak Leo dalam memberikan handphone, 6 buah handphone android keluaran terbaru yang bisa dibuka dan dilipat seperti kotak pensil, lengkap dengan fitur-fiturnya terbaik. Begitu juga dengan simcard yang berisi pulsa melimpah dan kuota unlimited 1 tahun penuh.
Angga mengutak-atik sejenak handphonenya, "Ini kok serba mewah gini, Pak?" tanya Angga karena takjub sekaligus tak enak hati.
"Misi kali ini tak mudah. Kita perlu alat komunikasi yang bisa diandalkan," sahut Pak Leo.
Setelah bermalam sehari dirumah Naya. Hari ini semua anggota tim akan berpencar untuk pulang menemui anggota keluarga masing-masing agar kembali tenang.
Mereka bersepakat untuk kembali berkumpul dikediaman Pak Leo dalam beberapa hari kedepan. Mengenai teknis pelaksanaannya akan aktif dikomunikasikan menggunakan handphone yang kini masing-masing telah memiliki.
Bagaimana dengan Sonia?.
Sejak kemarin ia tak berani muncul dihadapan tim Angga. Entah karena malu atau benci, yang jelas komunikasi tim Angga dengan Sonia masih terkendala.
"Semua sepakat untuk mendukung misi ini?" tanya Angga memastikan kesanggupan timnya.
"Udah gue bilang, gue ga bisa ikut.." Pak Bagas kembali bercanda.
"Halah halah halah. Pak Bagas, preketek!!" sembur Beno.
---
Cerita masih panjang. Jangan kemana-mana, silahkan tunggu episode berikutnya 🔜
^^^Salam semvak,^^^
^^^DPKBPC @2021^^^
^^^FigurX^^^
...👍 ✅...
__ADS_1
...😷 ❌...
***